Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.
Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.
Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.
Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Satria Kusuma
"Tadi itu apa?" tanya adikku begitu gadis itu menjauh.
"Apanya, Bi?"
"Kayaknya sekarang gue paham kenapa lo buru-buru banget datang pas kedai baru buka." Senyumnya melebar sampai ke telinga. "Kakakku sayang, jangan-jangan akhirnya lo nemu juga?"
"Nemu apa, bocah?"
"Cinta sejati lo."
"Lo udah gila? Inget gue siapa nggak, Bianca? Gue Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta. Gue nggak punya waktu buat hal konyol begitu."
"Bohongin aja terus, Kak, gue suka kok." Dia melirik gadis itu sekali lagi. "Udah deh, ngomong aja. Ngapain lo manggil gue ke sini?"
"Gue punya misi buat lo."
"Nah, sekarang lo pakai bahasa gue. Ada apa?"
Aku menoleh ke sekeliling untuk memastikan tak ada yang mendengar, padahal aku tahu cuma ada kami berdua di sini. Kebiasaan lama susah hilang.
"Nggak ada apa-apa. Cuma ada kiriman kokain besar yang mau masuk, dan gue mau pastiin yang nerimanya orang yang bener-bener gue percaya. Jadi gue kirim Rendra, dan gue mau lo berangkat bareng dia."
Aku melihat dia tampak tak nyaman, dan itu membuatku heran.
"Ada masalah, Bi?"
"Ya nggak lah. Semua bakal beres sesuai prosedur, atau gue bukan Bianca Kusuma. Tapi coba bilang, kenapa lo kasih misi ini ke gue?"
"Lo kan selalu ngeluh jatah lo di mafia kecil. Selama gue masih Don, semuanya bakal beda, walau gue harus ngelawan beberapa orang buat itu. Perempuan bakal punya kuasa di keluarga kita."
Sandwich dan kopi kami datang, dan lagi-lagi aku mendapati diriku menatap gadis itu waktu dia berlalu.
Laras Pradipta, putri seorang anggota afiliasi mafia, gadis miskin yang baru sembilan belas tahun. Aku tak tahu kenapa dia harus bekerja. Kalau keluarganya kesulitan uang atau semacamnya, aku tak pernah mau menyelidiki, karena itu berarti membuka pintu bagi sesuatu yang tak ingin kupikirkan. Sampai obrolanku dengan ayahku bulan lalu.
Sial. Aku tidak yakin Bianca benar, aku tidak yakin gadis ini cinta sejatiku. Tapi kenyataannya, supaya tetap memimpin 'Ndrangheta aku harus menikah sebelum umur tiga puluh, dan itu tinggal enam bulan lagi. Itu membuatku tak sempat banyak berpikir. Lagi pula aku tak mau menikah dengan sembarang perempuan. Dia harus setidaknya menarik, dan kalau ada satu hal yang Laras punya, itu adalah daya tarik.
"Siapa namanya?"
"Mau tahu buat apa, Bianca?" kataku sambil memutar mata dan kembali menekuni sandwichku.
"Cepetan ngomong." Kesabaran jelas bukan kebajikan keluarga Kusuma.
"Laras Pradipta."
"Tunggu, Laras Pradipta?" Bia bertanya dengan senyum lebar. "Lo wajib ngobrol sama bapaknya."
"Hah? Maksud lo apa, Bianca?"
"Sat, lo harus nikah paling lambat enam bulan lagi, dan bapaknya itu punya utang gede di kasino kita. Siapa tahu bisa ada kesepakatan buat dia."
Mungkin memberi Bianca tanggung jawab atas keuangan kasino memang langkah yang bagus. Jangan-jangan dia ingat tiap penunggak?
"Lo tahu gue benci perjodohan, Bi. Walau itu tradisi mafia, gue muak sama omong kosong itu."
"Semoga lo inget itu pas lo serahin tangan gue ke bajingan mana pun." Dia memutar mata.
"Lo tahu lo dijodohin sama siapa, dan lo harus berhenti menunda-nunda. Itu bakal terjadi dan gue nggak bisa mencegahnya. Perjanjian itu dibuat bapak kita, gue nggak punya kendali."
"Kita bahas lagi nanti, Kak, tapi nggak sekarang. Fokus ke cewek itu. Memang kita punya pilihan apa? Semua cewek yang naksir lo dan hampir nyungsep di kaki lo, lo cuma mau tidurin, nggak lebih."
"Pertama, jaga mulut. Kedua, lo tahu di pernikahan mafia mempelai perempuan harus perawan, bukan salah satu cewek gatel yang hobi nempel ke gue. Sayangnya gue nggak berhasil memberantas tradisi seprai sialan itu, pembuktian keperawanan lewat darah di seprai. Tapi andai pun nggak ada tradisi bodoh itu, gue tetap nggak mau nikah sama cewek sembarangan yang cuma mau duit dan status."
"Terserah lo, Kak. Gue cabut dulu. Gue mau kirim pesan ke Rendra soal misi itu, sekalian siap-siap." Dia mengelap mulut lalu berdiri dari meja.
"Lakukan, Bianca, lakukan." Dia sudah mau pergi, tapi kutahan lengannya. "Ingat, adikku, gue sudah ngurus banyak hal buat lo di dalam mafia, supaya lo nggak cuma jadi pajangan di tangan para berengsek itu. Tapi ada hal yang nggak bisa gue ubah, dan gue butuh lo menerimanya, atau semuanya jadi lebih sulit, dan perang nggak boleh datang dari dalam rumah kita sendiri." Dia tidak menjawab, hanya berlalu, dan itu cukup jelas menunjukkan betapa dia membenci gagasan itu.
Setelah dia pergi, aku kembali memandangi Laras sambil bertanya-tanya apakah aku harus menuruti saran adikku. Aku tak pernah setuju perjodohan, meski di mafia itu hal yang sangat lumrah. Tapi apa pilihanku? Tenggatku makin dekat, dan kalau enam bulan lagi aku belum menikah, aku bisa kehilangan jabatan Don, dan itu tidak akan kuterima.
Di mafia kami wajib menikah sebelum umur tiga puluh, entah demi aliansi untuk mendapat lebih banyak kuasa dan perdamaian, atau demi melahirkan pewaris untuk mafia. Dalam kasusku, karena aku tidak berniat menikah demi aliansi, setidaknya aku harus mengamankan pernikahan demi pewaris bagi famiglia kami.
Aku berdiri, menuju kasir dan membayar sarapanku dan sarapan Bianca, lalu meninggalkan tip besar untuk gadis itu. Kupandangi dia sekali lagi, masih memikirkan ide adikku.
Kulihat dia merona karena tatapanku, dan aku merasa puas dengan caranya memandangku. Entah kenapa gadis ini membangkitkan sesuatu yang berbeda dalam diriku, dan yang bisa membangkitkan sisiku yang tenang dan damai itu cuma keluargaku dan gadis ini.
Perbedaan umur kami mengganggu, tak bisa disangkal, tapi bukan masalah besar.
* * *
Keluar dari kedai, aku pergi ke kasino untuk bicara dengan manajernya. Aku mau cari tahu lebih banyak soal utang keluarga Pradipta yang disebut Bianca.
Memang benar kasino dan restoranku tidak lebih dari tempat pencucian uang, tapi di sini bukan tempat berantakan. Kalau ada yang berutang, mereka harus bayar. Kalau tak punya uang, mereka bayar dengan sesuatu yang menguntungkanku, atau bayar dengan nyawa. Harus kuakui, biasanya lebih suka opsi terakhir. Sedikit penyiksaan sesekali bagus untukku, membuat semangatku membara dan mendorongku berbuat lebih banyak.
Aku menjadi Don bukan cuma karena ayahku menunjukku. Aku yang terbaik dan masih yang terbaik, dalam mendapat uang, dalam menyimpan orang-orang berkuasa di sakuku, dalam menagih utang, dan terutama dalam menyiksa. Itu keahlianku. Aku mengendalikan segalanya. Dan apa pun yang mencoba keluar dari kendaliku akan melewati penyiksaan yang meyakinkanku bahwa aku berada di tempat yang tepat, bahwa aku dilahirkan untuk ini.
Begitu masuk ke kasino, kulihat tatapan-tatapan ketakutan. Wajar, aku jarang ke sini. Yang lebih sering datang Bianca atau Rendra, bahkan kadang mereka menugaskan orang lain, tentu orang yang bisa dipercaya. Bagiku tak masalah, tidak pernah ada masalah, setidaknya sampai sekarang.
"Ini daftar yang berutang pada kita, Don." Okta membawakan daftar penunggak seperti yang kuminta, dan di sana tertulis: Hartono Pradipta, salah satu utang tertinggi yang pernah kulihat di sini.
"Kenapa bajingan ini bisa berutang sebanyak itu? Tempat ini sudah jadi kacau? Perlu kutunjukkan apa yang terjadi pada orang yang tidak becus mengurus asetku, Okta?" Aku mencengkeram kerah bajunya dan melihatnya gemetar.
"Ti... tidak, Pak. Hari ini juga kami tagih lagi, dan kalau kali ini mereka tetap tidak bayar, kami pastikan mereka tidak akan pernah berutang lagi di mana pun."
"Utang keluarga Pradipta, aku yang urus, karena ketidakbecusanmu sudah berdampak padaku. Tapi kuharap minggu depan waktu aku ke sini, daftar ini kosong. Mengerti?"
"Ngerti, Pak." Kulepaskan dia dan dia lari keluar dari kantor.
Aku duduk di kursiku, memikirkan ide sialan adikku. Apa aku benar-benar harus sejauh itu? Jalan ini kelihatan berisiko, gadis itu tak bersalah atas masalahku.
* * *