Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Perjalanan Dinas ke Sidoarjo dan Aksi Nyeleneh di Mobil Dinas
Matahari perlahan naik, memancarkan terik yang cukup menyengat di atas jalanan tol yang menghubungkan Surabaya dan Sidoarjo. Arus kendaraan tampak cukup padat pagi itu — truk-truk kontainer besar berjalan berdampingan dengan bus, sementara deretan mobil pribadi berkejaran di lajur kiri dan kanan. Di dalam sebuah sedan hitam mewah ber-AC dingin milik perusahaan Vanesha Group, suasana terasa jauh lebih tenang, meski ketegangan kecil tetap menggelayut di hati sang pengawal pribadi.
Dika duduk di balik kemudi dengan tangan menggenggam setir kulit hitam itu erat-erat. Seragam satpam rapi melekat di tubuhnya, lengkap dengan lencana logam yang berkilat setiap kali terkena pantulan cahaya matahari dari luar kaca mobil. Di sebelah kursi kemudi, Vanesha duduk anggun sambil memangku sebuah tablet tipis, sesekali jemarinya menyentuh layar untuk memeriksa daftar agenda rapat dan laporan keuangan cabang.
Sejak tadi, tidak ada suara selain deru mesin mobil yang halus dan alunan musik instrumental lembut dari radio lokal. Namun, keheningan itu justru membuat Dika merasa salah tingkah sendiri. Pikirannya melayang kembali ke kejadian pagi tadi di ruangan CEO — di mana ia nyaris menumpahkan tahu pentol di atas laporan audit pajak penting. Membayangkan hal itu saja sudah membuatnya bergidik ngeri. Kalau saja Vanesha tidak tertawa saat itu, mungkin nasibnya sekarang sudah berbeda: bukan lagi duduk di mobil mewah ber-AC sejuk, melainkan berdiri di pinggir jalan tol sambil melambaikan tangan minta tumpangan truk muatan bata merah.
"Kamu kenapa dari tadi mendesah terus?" tanya Vanesha mendadak, suaranya memecah lamunan Dika. Wanita itu menoleh, menatap Dika dengan sebelah alis terangkat dan tatapan menyelidik. "Ada yang salah sama jalanan di depan? Atau ban mobilnya kerasa mau copot lagi kayak bayangan ketakutan kamu?"
Dika langsung tersentak kaget. Tangannya nyaris terpeleset dari setir. Dengan refleks kilat, dia memasang senyum paling manis yang dia punya, berusaha menutupi groginya setengah mati.
"Eh? Nggak ada apa-apa kok, Nona Bos!" jawab Dika cepat dengan nada riang yang sengaja dibuat-buat. "Saya cuma lagi meresapi indahnya pemandangan pinggir jalan tol Sidoarjo ini. Hijau royo-royo, penuh debu truk, dan sesekali diselingi aroma khas pabrik kerupuk. Sungguh panorama alam yang sangat menyejukkan jiwa seorang prajurit sejati."
Vanesha mendengus pelan, lalu menggelengkan kepalanya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. "Pemandangan tol dibilang hijau royo-royo. Mata kamu itu yang hijau karena kurang tidur semalem, kan?" tanya Vanesha dengan nada menyelidik namun terdengar sangat santai. "Jelasin ke saya, semalem habis ngapain sampai pagi matanya kelihatan ngantuk gitu?"
Dika melirik sekilas ke arah Vanesha dari balik kaca spion tengah, lalu kembali fokus ke jalanan tol di depan. "Mana ada kurang tidur, Nona Bos. Saya kan prajurit tangguh yang terbiasa siaga dua puluh empat jam. Semalem itu saya cuma merenungkan nasib... siapa tahu ada pangeran berkuda putih yang mau nyulik saya buat dijadiin menantu juragan tanah," jawab Dika ngawur tanpa dosa.
"Menantu juragan tanah?" tanya Vanesha dengan nada mengejek, meski tawaran senyum di bibirnya makin melebar. "Pangeran berkuda putih yang mana dulu nih? Kalau kelakuan kamu masih kayak badut pasar malam begini, yang ada juragan tanahnya malah ngusir kamu pakai sapu ijuk."
"Wah, jangan salah, Nona Bos!" jawab Dika tidak terima, kepalanya menggeleng tegas. "Ganteng-ganteng begini, daya tarik saya itu setara sama magnet kulkas. Kuat, lengket, dan susah dilepas kalau sudah nempel. Kalau nggak percaya, tanyain tuh sama emak saya di kampung."
"Emak kamu pasti geleng-geleng kepala kalau tahu anak laki-lakinya di kantor orang malah ngajak bosnya debat kusir di dalam mobil dinas," sahut Vanesha telak, membuat Dika seketika bungkam seribu bahasa sambil cengangas-cengenges salah tingkah.
Percakapan ringan itu mencairkan suasana di dalam kabin sedan mewah tersebut. Jarak tempuh dari pusat kota Surabaya menuju kawasan industri di Sidoarjo yang biasanya terasa membosankan kini mendadak terasa lebih hidup. Di sepanjang perjalanan, Dika sesekali melirik Vanesha yang kembali fokus membaca dokumen di tabletnya. Kali ini, tidak ada lagi garis kerut di kening wanita itu. Wajahnya tampak rileks, memancarkan kecantikan alami yang membuat siapa pun yang melihatnya akan terpesona tanpa sadar.
Dika menyadari satu hal: di balik julukan 'CEO Cantik Galak' yang ditakuti oleh seluruh jajaran manajer perusahaan, Vanesha sebenarnya menyimpan sisi lembut yang jarang ditunjukkan ke orang lain. Dan fakta bahwa dirinya dipercaya untuk mendampingi wanita itu secara khusus membuat ada rasa hangat yang menyelimuti dadanya — sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar gaji bulanan atau pujian basa-basi.
"Kita sudah mau keluar pintu tol Sidoarjo, Kapten Dika," ucap Vanesha tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet. "Lima belas menit lagi kita sampai di pabrik cabang utama. Siapkan mentalmu, karena di sana nanti kita bakal disambut sama jajaran direksi cabang yang sukanya nanya-nanya laporan operasional yang rumit."
"Siap laksanakan, Nona Bos!" jawab Dika mantap sambil memutar kemudi ke lajur kiri untuk keluar dari gerbang tol. "Kalau mereka nanya soal angka-angka laporan yang bikin pusing kepala, tinggal serahin ke saya. Nanti saya jawab pakai rumus matematika silat betawi: kalau nggak bisa dihitung, ya dibikin santai saja!"
Vanesha langsung tertawa renyah mendengar jawaban konyol itu. "Bisa-bisa perusahaan saya bangkrut kalau semua masalah diselesaiin pakai jurus silat kamu," ucap Vanesha.
Tak lama kemudian, mobil sedan hitam itu memasuki gerbang besar berukuran rapi dengan plang nama bertuliskan PT Vanesha Group Cabang Sidoarjo. Kompleks pabrik itu tampak luas, bersih, dan sibuk. Puluhan pegawai berhelm proyek tampak berjalan mondar-mandir di area gudang logistik, sementara beberapa orang manajer cabang berjas rapi sudah berdiri berjajar di depan lobi utama gedung kantor, menunggu kedatangan sang pemilik perusahaan dengan wajah tegang.
Begitu mobil berhenti tepat di depan lobi, Dika dengan sigap mematikan mesin, melepas sabuk pengamannya, lalu buru-buru turun dari kursi pengemudi. Dengan gerakan cepat ala ajudan presiden yang baru turun dari helikopter, dia memutari bagian depan mobil, lalu membuka pintu sebelah kanan tempat Vanesha duduk.
"Silakan turun, Nona Bos," ucap Dika sambil membungkuk sedikit dan merentangkan tangan kirinya bak pelayan hotel bintang lima profesional.
Vanesha menatap Dika dengan tatapan setengah geli, lalu melangkah keluar dari mobil dengan anggun. Blazer abu-abunya bergesek lembut tertiup angin pagi kawasan industri. Kehadiran mereka berdua langsung menarik perhatian seluruh jajaran manajer cabang yang sejak tadi menunggu.
"Selamat pagi, Ibu Vanesha!" sapa pimpinan cabang — seorang pria paruh baya berkacamata tebal bernama Pak Hartono — sambil membungkuk hormat. "Kami sangat terhormat atas kunjungan mendadak Ibu ke cabang Sidoarjo hari ini."
"Pagi, Pak Hartono," jawab Vanesha dengan suara tegas dan wibawa yang langsung kembali seketika dia berdiri di hadapan para bawahannya. "Mari kita langsung ke ruang rapat lantai dua. Saya ingin memeriksa laporan produksi kuartal ini."
"Baik, Bu. Silakan lewat sebelah sini," ucap Pak Hartono sambil berjalan di depan.
Dika mengekor tepat di belakang Vanesha dengan langkah tegap, memasang wajah paling sangar dan waspada yang dia miliki, seolah-olah di sekitar pabrik kerupuk itu ada pasukan musuh yang siap menyerang kapan saja. Beberapa pegawai pabrik yang melihat gaya berjalan Dika sempat berbisik-bisik sambil menahan tawa, tapi Dika sama sekali tidak peduli. Bagi seorang prajurit pengawal pribadi, menjaga wibawa bos adalah harga mati — meskipun sesekali harus tampil sedikit konyol demi mencairkan suasana.
Ruang rapat lantai dua berukuran cukup besar dengan meja kayu panjang di tengahnya. Begitu Vanesha duduk di kursi utama ujung meja, suasana langsung berubah hening. Pak Hartono dan tiga orang manajer lainnya mulai memaparkan data produksi menggunakan proyektor besar di hadapan mereka.
Dika berdiri tegak di sudut ruangan, tepat di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah halaman pabrik. Matanya mengawasi setiap gerak-gerik orang di dalam ruangan itu dengan cermat, memastikan tidak ada hal mencurigakan yang terjadi. Sesekali, telinganya menangkap istilah-istilah bisnis yang rumit seperti logistik rantai pasok, efisiensi anggaran, hingga target ekspor produk.
"Bagaimana dengan kendala distribusi jalur darat minggu lalu, Pak Hartono?" tanya Vanesha tajam, matanya menatap lurus ke arah layar presentasi. "Saya dengar ada keterlambatan pengiriman bahan baku ke gudang Surabaya."
Pak Hartono menelan ludah, sedikit gugup menghadapi ketegasan sang CEO muda. "Ah, itu... itu karena ada perbaikan jalan di jalur utama Sidoarjo, Bu. Jadi armada truk kami sempat tertahan macet selama beberapa jam," jawab Pak Hartono.
Sebelum Vanesha sempat merespons lebih lanjut, tiba-tiba perut Dika berbunyi cukup keras dari sudut ruangan.
Kruyuuuuk...
Suara itu terdengar cukup jelas di tengah ruangan rapat yang sunyi senyap. Pak Hartono dan para manajer sontak menoleh ke arah sumber suara dengan wajah kebingungan. Vanesha yang sedang memegang pena seketika menghentikan gerakannya, lalu menoleh perlahan ke arah sudut ruangan tempat Dika berdiri.
Dika langsung memasang muka tanpa dosa. Dia menepuk-nepuk perutnya sendiri dengan santai, lalu tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Maaf, Nona Bos dan Bapak-bapak sekalian," ucap Dika tanpa beban di tengah rapat formal perusahaan. "Sepertinya cacing-cacing di perut saya lagi demo menuntut kenaikan upah pokok. Maklum, tadi pagi sebelum berangkat buru-buru, saya cuma sempat minum kopi pahit bikinan sendiri tanpa sempat nyemil tahu pentol."
Suasana ruang rapat yang tadinya tegang seketika pecah. Pak Hartono dan para manajer langsung tertawa canggung, sementara Vanesha mengusap keningnya pelan, merasa gemas bercampur malu punya pengawal paling tidak tahu tempat dan waktu seperti Dika.
"Kamu ini ya..." ucap Vanesha pelan, meski sudut bibirnya tak kuasa menahan senyum. "Bisa-bisa bikin malu di hadapan direksi cabang."
"Bukannya bikin malu, Nona Bos. Ini namanya strategi diplomasi perut kosong," sahut Dika berbisik balik dengan nada serius yang dibuat-buat. "Biar rapatnya nggak terlalu tegang, jadi diselingi sama efek suara alami dari alam semesta."
Vanesha menggelengkan kepala pelan, tak sanggup lagi mendebat argumen ngawur pengawalnya itu. Dia kembali menoleh ke arah Pak Hartono yang masih tersenyum canggung. "Baiklah, rapat hari ini kita cukupkan sampai di sini. Laporan distribusinya saya terima, tapi tolong pastikan minggu depan tidak ada lagi alasan keterlambatan akibat macet. Cari rute alternatif," ucap Vanesha tegas.
"Baik, Bu! Siap laksanakan!" jawab Pak Hartono serempak bersama para manajer lainnya.
Satu jam kemudian, rangkaian kunjungan kerja di pabrik cabang Sidoarjo itu selesai dengan sukses. Vanesha dan Dika berjalan berdampingan keluar dari gedung kantor menuju area parkir tempat sedan hitam mereka terparkir. Udara siang hari terasa cukup terik, membuat dedaunan di sekitar pabrik tampak terkulai lelah diterpa angin kemarau.
"Huh... akhirnya selesai juga," ucap Vanesha pelan sambil merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin. "Rapat tadi hampir saja bikin saya darah tinggi gara-gara laporan distribusinya berantakan."
"Makanya, kalau stres jangan ditahan-tahan, Nona Bos," jawab Dika santai sambil membukakan pintu mobil untuk Vanesha. "Solusinya gampang: kita cari warung pinggir jalan yang jual es degan dingin sama tahu pentol kuah pedas. Dijamin langsung segar lagi pikiran dan jiwa raga."
Vanesha masuk ke dalam mobil, lalu mendongak menatap Dika dengan tatapan menyelidik. "Kamu dari tadi ngidam tahu pentol mulu ya? Emang di Sidoarjo sini ada warung tahu pentol yang enak?" tanya Vanesha.
"Wah, jangan meremehkan peta kuliner lokal saya," jawab Dika bangga, menutup pintu mobil dengan hati-hati lalu berputar menuju kursi pengemudi. Setelah masuk dan menyalakan mesin serta AC mobil, dia menoleh ke arah Vanesha dengan cengiran lebar. "Nanti saya tunjukin tempat legendaris di dekat alun-alun Sidoarjo. Dijamin rasanya bikin ketagihan sampai lupa jalan pulang ke kantor pusat."
Vanesha tersenyum manis, membiarkan pengawalnya mengambil alih kendali perjalanan pulang. Sedan hitam mewah itu perlahan meninggalkan halaman pabrik, membelah jalanan kota Sidoarjo yang ramai di bawah terik matahari siang — membawa dua orang yang kisah hidupnya kini terajut dalam satu perjalanan panjang yang penuh warna, tawa, dan rasa yang kian hari kian dalam.