NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Atmosfer di dalam aula utama yang dingin seketika berubah menjadi sangat menegangkan. Ratusan peserta, guru pendamping, serta tamu undangan duduk terpaku di kursi masing-masing. Di atas panggung megah, sorotan lampu spotlight mengarah tepat ke arah ketua panitia yang berdiri di balik podium, memegang sebuah amplop cokelat tebal yang berisi hasil keputusan akhir dewan juri.

Debaran jantung yang liar seolah berpacu dengan suara dentuman drum roll yang bergema lambat dari pengeras suara. Semua orang menahan napas, menanti pengumuman nama-nama pemenang yang akan membawa pulang piala kehormatan."Baiklah, hadirin sekalian!" suara ketua panitia menggema keras lewat mikrofon, memecah keheningan. "Setelah melalui proses penilaian yang sangat ketat dan verifikasi lembar jawaban secara menyeluruh, saatnya kita umumkan para pemenang Olimpiade Sains Tingkat Kota tahun ini!"

Maya meremas jemarinya yang dingin di atas pangkuan. Keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya. Saat panitia mulai membacakan Juara Tiga yang diraih oleh siswa dari SMA Perdana, lalu disusul Juara Dua yang disabet oleh perwakilan dari SMA Garuda warga, nama Lexa maupun Maya belum juga terdengar digaungkan.

Perasaan cemas yang teramat sangat mulai menggerogoti dada Maya. Pikiran-pikiran buruk mendadak menari-nari di dalam kepalanya. "Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau harapanku untuk membanggakan Ibu dan merubah nasib kami sirna begitu saja?" Bayangan wajah ibunya yang lelah bekerja serta tumpukan buku yang ia pelajari hingga larut malam berputar membayangkan kekecewaan. Maya menggigit bibir bawahnya, perlahan menundukkan kepala dalam-dalam, pasrah dan mulai dilanda keputusasaan yang melumpuhkan.

Sangat bertolak belakang dengan kondisi di sudut ruangan lain.Lexa duduk di kursinya dengan posisi tubuh yang sudah bersiap-siap. Senyum angkuh mengembang sempurna di wajah cantiknya. Kepercayaan dirinya berada di puncak tertinggi. Saat piala Juara Tiga dan Juara Dua dibacakan tanpa menyebut namanya, Lexa justru makin yakin bahwa piala tertinggi Juara Pertama adalah hak mutlak miliknya. Jemari terawatnya memoleskan sedikit lip balm, merapikan rok seragam mewahnya, dan melirik sinis ke arah Maya yang menunduk lesu di kejauhan.

"Dan... Juara Pertama Olimpiade Sains Tingkat Kota tahun ini, dengan nilai tertinggi dan uraian analisis paling sempurna... diraih oleh..." Panitia sengaja menggantung kalimatnya, membuat ketegangan di dalam aula mencapai puncaknya.

Lexa menarik napas panjang, memasang senyum paling memukau, dan mengambil ancang-ancang untuk langsung berdiri menaikkan tubuhnya dari kursi.

"...MAYA DARI SMA NUSA BANGSA!"

Suara gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai seketika menggelegar dahsyat memecahkan keheningan aula!

Namun, pada detik yang persis sama saat nama itu digaungkan, Lexa yang sudah terlanjur dipenuhi keangkuhan secara spontan langsung berdiri dari kursinya! Ia mengangkat kepalanya dengan dagu terangkat tinggi, hendak menyunggingkan senyum kemenangan ke arah kamera dan penonton.

Tetapi... keheningan aneh mendadak melingkupi indra pendengarannya. Nama yang baru saja disebutkan oleh ketua panitia bukan namanya.Bukan Lexa. Melainkan Maya.Lexa membeku di tempatnya berdiri, bagaikan patung es di tengah riuhnya tepuk tangan yang membahana. Senyum di wajahnya seketika luntur total, matanya membelalak lebar dalam rasa terkejut yang melumpuhkan. Tatapan orang-orang di sekitarnya, dan kedua orang tuanya tertuju bingung pada posisi berdiri Lexa yang mendadak dan salah sasaran itu.

Di tempatnya duduk, Maya tersentak kaget. Ia mendongak perlahan dengan mata membelalak tak percaya. Air mata haru seketika menetes membasahi pipinya. Ibu Heni dan para guru pendamping dari SMA Nusa Bangsa berdiri dari kursi mereka dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan. Ibu Heni mengacungkan dua jempolnya, melambaikan tangan, dan memberikan isyarat senyum lebar yang sangat hangat agar Maya segera bangkit dan melangkah naik ke atas panggung utama.

Dengan tubuh bergetar hebat dan dada yang bergemuruh oleh rasa syukur yang luar biasa, Maya berdiri. Ia berjalan menyusuri karpet merah menuju panggung, diiringi lampu spotlight yang kini menyorot dirinya sepenuhnya sebagai sang pemenang sejati.Sementara itu, di bawah panggung, pikiran Lexa hancur berkeping-keping dalam labirin penyangkalan. Kepala gadis itu terasa dihantam oleh godam yang sangat besar.

"Nggak mungkin! Ini nggak mungkin terjadi!" jerit Lexa di dalam hatinya, napasnya memburu liar dan tidak teratur.

Lexa yakin seribu persen bahwa seluruh pilihan ganda di lembar jawabannya telah persis dan sesuai dengan kunci jawaban yang ia curi dari berkas papanya. Bagaimana bisa nilainya kalah dari si anak penjual sayur? Apa yang salah? Apakah lembar jawabannya yang bermasalah, ataukah analisis uraian milik Maya yang begitu jenius hingga melampaui skor pilihan ganda kecurangannya?

Melihat Maya kini berdiri anggun di atas panggung tinggi, menerima piala kristal nomor satu yang sangat ia idam-idamkan, disinari lampu penerangan, serta disambut tepuk tangan bangga dari seluruh hadirin termasuk mamanya sendiri yang bertepuk tangan haru rasa sakit yang teramat dahsyat menghantam ulu hati Lexa.

Rasa malu yang tak terbayangkan, kehancuran gengsi di depan puluhan pasang mata, serta rasa iri dan dendam yang membakar menciptakan kobaran api amarah yang tak sanggup lagi ia tahan. Wajah cantik Lexa memerah padam, air mata kemarahan dan kekalahan mulai merebak di pelupuk matanya.

Tanpa memedulikan panggilan panik dari mamanya, tanpa memedulikan tatapan heran dari teman-temannya atau kebingungan papanya yang berdiri di barisan sponsor, Lexa memutar tubuhnya secara kasar.

Dengan napas tersengal dan hati yang hancur berkeping-keping, sang ratu sekolah melangkah lebar-lebar meninggalkan aula yang riuh itu. Ia menerobos pintu kaca besar, berlari kencang keluar menuju halaman gedung yang sepi, meluapkan seluruh rasa sakit, amarah, dan kemurkaannya di bawah teriknya sinar matahari sore yang membakar.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!