Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Pelukan Aldebaran yang kokoh dan melindungi sama sekali tidak mampu menghalau hawa dingin yang menggerogoti jiwa Amanda. Di dalam kungkungan dada bidang pria itu, isak tangis Amanda semakin tak terkendali, melengking pedih hingga mengiris setiap sudut kamar yang sunyi.
"Kau tidak akan pernah tahu rasanya menjadi aku, Al," erang Amanda di sela napasnya yang tersengal. Jari-jarinya mencengkeram kerah kemeja suaminya dengan kekuatan putus asa yang menyedihkan. "Aku kehilangan segalanya. Seluruh duniaku. Setiap kali aku mencoba berdiri, takdir menendangku jatuh kembali. Dan sekarang... tepat ketika aku mulai menurunkan senjataku, ketika aku mulai menerima kenyataan siapa dirimu untuk Lily... dia malah direnggut dariku."
Amanda mendongak, menatap lurus ke dalam manik kelam Aldebaran dengan sepasang mata yang memancarkan penderitaan tanpa akhir. "Aku membenci hidupku, Al. Sangat membencinya. Napas ini rasanya seperti menelan beling setiap detiknya. Lebih baik aku mati... aku hanya ingin pergi... biarkan aku pergi bersama Lily..."
Tubuh Aldebaran membeku mendengar keputusasaan mutlak dalam suara wanitanya. Kata 'mati' yang diucapkan Amanda bagaikan pedang beracun yang menghunus tepat ke jantung sang Raja Kegelapan. Pria yang tak pernah gentar menghadapi ribuan moncong senjata itu kini dipenuhi ketakutan luar biasa—ketakutan kehilangan untuk selamanya.
Lengannya yang sekeras baja secara naluriah mengerat, merengkuh Amanda semakin dalam ke pelukannya, seolah takut jika ia sedikit saja melonggarkan pelukan, istrinya akan berubah menjadi debu dan menguap dari pandangannya.
"Jangan katakan itu," bisik Aldebaran parau, suaranya bergetar hebat di dasar kerongkongannya. Sang iblis menempelkan keningnya di atas kening Amanda, menatap nanar wajah pucat Ratu-nya. "Kumohon, Amanda... jangan memintaku membiarkanmu pergi. Aku sudah kehilangan separuh jiwaku saat peti Lily ditutup, dan kalau kau pergi... aku akan hancur untuk kedua kalinya. Kau tidak tahu betapa gelapnya duniaku sebelum menemukan kalian."
Ibu jari Aldebaran mengusap kasar air mata yang terus mengalir di pipi istrinya, sentuhannya dipenuhi oleh rasa frustrasi dan obsesi yang gila. "Aku tidak akan memaksamu untuk menjadi istri yang patuh. Kau boleh membenciku seumur hidupmu. Lakukan apa pun yang kau mau di dalam mansion ini. Hancurkan semuanya, maki aku, siksa aku—tapi aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk pergi."
Amanda tertawa sumbang di sela isakannya, sebuah tawa kosong yang lebih menyayat hati daripada tangisannya. Ia menggeleng lemah, meronta pelan melepaskan diri dari dekapan Aldebaran, membiarkan tubuhnya kembali merosot bersandar pada dinding dingin di sudut ruangan.
"Kenapa, Al?" tanya Amanda lirih, pandangannya kembali meredup, menatap hampa ke arah boneka kelinci di pangkuannya. "Kenapa kau harus bersikeras mempertahankanku? Kau penguasa. Kau monster yang mengendalikan dunia. Kau bisa membangun kehidupan yang baru dengan mudah, mencari wanita lain yang lebih sempurna dan tidak hancur sepertiku."
Air mata Amanda jatuh perlahan saat ia kembali menatap mata suaminya. "Tapi aku tidak bisa, Al. Aku tidak sanggup." Suaranya berubah menjadi bisikan yang hancur. "Setiap detik kita berada di ruangan yang sama... setiap kali aku melihat matamu yang segelap malam itu... aku melihat Lily. Cara kalian menatapku sama persis. Bentuk rahang tegasmu, senyum tipismu... semuanya ada pada putriku. Semakin kita bersama, semakin dalam luka ini menganga. Kau hanyalah cerminan hidup dari apa yang baru saja kurelakan ke dalam tanah, Al. Dan aku... aku semakin sekarat melihat itu semua."
Keheningan yang mematikan dan absolut menelan kamar gelap itu seketika.
Kata-kata Amanda adalah sebuah kebenaran brutal yang tidak bisa dibantah. Aldebaran membeku di tempatnya, lututnya masih bertumpu pada lantai karpet, namun seluruh sistem sarafnya seolah dimatikan secara paksa. Sang Raja Mafia menatap wajah wanitanya yang dipenuhi kepedihan tak berujung, menyadari bahwa eksistensinya—kemiripannya dengan darah daging mereka sendiri—kini justru menjadi belati bermata dua yang perlahan membunuh satu-satunya wanita yang ia cintai.
Satu bulan bergulir seperti putaran lambat jarum jam karatan—menyakitkan, stagnan, dan penuh kehati-hatian. Di dalam benteng Mansion Hendrick, luka itu tidak sembuh seketika, namun cangkangnya perlahan mulai mengering.
Aldebaran membuktikan ucapannya. Pria yang tak pernah tunduk pada dunia itu kini bertekuk lutut di hadapan kehancuran Ratu-nya, menolak dengan keras kepala untuk menyerah pada keputusasaan Amanda. Sang Raja Iblis menarik seluruh perhatiannya dari urusan gelap klan, mendelegasikan hampir semua kekuasaannya pada Dante, hanya untuk memastikan ia berada di sisi Amanda dua puluh empat jam penuh.
Perlahan, keuletan yang dibalut obsesi protektif itu membuahkan hasil.
Gundukan selimut di sudut kamar mulai ditinggalkan. Amanda mulai bangkit dari lantai dingin. Ia mau membuka tirai kamarnya, membiarkan seberkas cahaya matahari musim gugur menyapu kulit pucatnya. Ia mulai menyentuh makanan, meski hanya beberapa suap sup hangat yang selalu disuapkan langsung oleh tangan Aldebaran. Dan perlahan, langkah kaki Amanda mulai kembali terdengar menyusuri lorong-lorong sepi mansion, mencari kesibukan di rumah kaca baru yang sengaja Aldebaran bangun khusus untuknya—sebuah taman bunga anggrek yang sunyi dan damai, jauh dari bayang-bayang masa lalu.
Siang itu, Aldebaran berdiri bersandar di kusen pintu rumah kaca, matanya yang tajam menatap lekat siluet istrinya. Amanda mengenakan gaun katun sederhana, rambutnya diikat longgar. Tangannya yang mungil dan sedikit memerah telaten memotong batang-batang kering dari tanaman anggrek. Tidak ada senyum, tidak ada tawa, namun melihat wanita itu bergerak dan bernapas tanpa diiringi isak tangis, sudah merupakan kemenangan luar biasa bagi Aldebaran.
Dia mulai kembali hidup, batin Aldebaran, dadanya bergemuruh oleh rasa lega yang tak terlukiskan.
Namun, pertempuran sesungguhnya bagi Aldebaran selalu datang di malam hari.
Malam adalah saat di mana keheningan menjadi musuh terbesar Amanda. Saat itulah benteng pertahanan yang ia bangun sepanjang hari rentan runtuh, dan pikiran berisiknya mulai meneriakkan memori tentang tawa Lily, senyum Lily, dan dinginnya kaca peti mati.
Malam itu, di dalam kamar raksasa mereka yang temaram, Amanda berbaring miring memunggungi sisi ranjang yang lain. Matanya menatap kosong ke arah jendela, dadanya naik-turun dengan ritme yang tidak stabil. Ia belum menangis, tapi Aldebaran tahu persis tanda-tandanya. Bahu kurus itu mulai menegang, bersiap menahan gelombang ombak duka.
Aldebaran melangkah pelan dari arah kamar mandi, bertelanjang dada dengan handuk melilit pinggangnya, aroma sabun musk segar menguar dari tubuh kekarnya. Ia naik ke atas ranjang king size dengan hati-hati agar kasur tak terlalu berguncang.
Sang mafia bergeser merapat ke punggung Amanda. Dengan gerakan yang telah menjadi rutinitas selama sebulan terakhir, lengan kokohnya yang dihiasi tato merayap melingkari pinggang istrinya, menarik tubuh mungil itu mundur hingga punggung Amanda bersandar sempurna di dada bidangnya yang hangat.
"Tidurlah, Sayang," bisik Aldebaran sangat pelan, suaranya berat dan menenangkan, tepat di dekat telinga Amanda.
Amanda memejamkan mata, tangannya secara insting menggenggam lengan berotot yang mengurungnya. "Di kepalaku berisik sekali, Al," keluhnya parau, suaranya mulai bergetar. "Aku... aku takut menutup mata. Aku takut mimpi itu datang lagi."
Aldebaran mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher istrinya. Ia tahu Amanda mulai mengasosiasikannya dengan perlindungan, meski wanita itu masih membenci kemiripan wajahnya dengan putri mereka.
Maka, Aldebaran mengambil peran sebagai tameng yang menghalau badai di kepala istrinya.
"Dengarkan suaraku, Amanda. Fokus saja pada suaraku," perintah Aldebaran dengan nada absolut namun sarat kelembutan. Jari besarnya mengusap pelan perut Amanda, memberikan ritme yang menenangkan.
Dan di dalam keheningan malam itu, sang monster yang ditakuti seluruh dunia bawah tanah mulai bercerita. Ia tidak menceritakan dongeng atau hal-hal manis. Ia membicarakan hal-hal sepele tentang pekerjaannya yang tidak berdarah, tentang bagaimana Dante menjatuhkan kopi ke kemejanya pagi tadi, atau tentang desain perluasan rumah kaca yang sedang ia rencanakan.
Suara bariton Aldebaran yang dalam, berat, dan bergetar di dasar dadanya mengalun seperti mantra magis. Suara itu terus bergema, perlahan menenggelamkan monster-monster masa lalu yang mencoba merobek pikiran Amanda. Detak jantung Aldebaran yang kuat dan stabil berpadu dengan napas istrinya, menciptakan simfoni kedamaian.
Tak lama, bahu Amanda yang tegang perlahan mengendur. Genggamannya pada lengan Aldebaran melemah. Napasnya menjadi teratur dan panjang, menandakan bahwa ia telah jatuh ke dalam alam mimpi tanpa diiringi oleh isak tangis.
Aldebaran menghentikan ceritanya saat menyadari istrinya telah terlelap damai. Ia sedikit memiringkan kepala, mengecup lembut lekuk leher Amanda yang beraroma vanila, menghirup dalam-dalam aroma kehidupan dari wanita yang menjadi pusat semestanya.
Aku tidak akan pernah melepaskanmu, batin Aldebaran protektif, kelopak matanya perlahan menutup, bersiap berjaga sepanjang malam demi memastikan Ratu-nya tak lagi disentuh oleh mimpi buruk.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭