NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

​Suasana kantin kantor siang itu cukup riuh, tetapi tidak mengalihkan fokus Luna dari gadis di hadapannya. Luna menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Rania tajam penuh selidik.

​"Nah, sekarang giliran lu cerita, Ran," tagih Luna sambil mengetuk-ngetuk meja. "Kemarin malam kenapa bisa jalan bareng Kenan sampai pulang malam segala?"

​Rania yang sedang mengaduk es tehnya mendadak salah tingkah. Pipinya merona merah secara alami. "Ya... nggak gimana-gimana, Lun. Tadi malam kan Kenan ngantar gue pulang, terus di jalan mampir makan. Eh, malah ketemu mamanya Kenan sama rombongan arisannya."

​"Terus?" pancing Luna melihat mata Rania yang berbinar beda dari biasanya.

​"Tante Retno—mamanya Kenan—malah nyangka gue pacarnya Kenan," bisik Rania pelan, menyembunyikan senyum tipisnya. "Malah teman-teman arisannya juga heboh, terus mamanya bilang setuju banget kalau gue sama Kenan..."

​Luna membelalakkan mata. Ia menangkap pancaran kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan dari raut wajah Rania. Sebuah kesadaran mendadak menghantam kepala Luna.

​"Ran..." Luna memotong pelan, menatap sahabatnya lekat-lekat. "Lu... sebenarnya suka kan sama Kenan?"

​Rania tersentak, refleks membekap mulutnya sendiri. Wajahnya makin memerah padam. "L-Lun, apaan sih! Enggak lah, gue kan—"

​"Gak usah bohong sama gue, Rania," sela Luna lembut tapi tegas. "Gue kenal lu udah lama. Mata lu nggak bisa bohong tiap kali bahas Kenan."

​Rania akhirnya menunduk, menghela napas pasrah. "Gue udah suka sama Kenan sejak kita SMA, Lun. Tapi ya... dia kan cuma ngeliat gue sebagai teman. Apalagi selama ini matanya cuma tertuju ke lu."

​Dada Luna berdesir mendengar pengakuan tulus itu. Rasa bersalahnya menguap, berganti dengan tekad bulat. Ia harus menyelesaikan kesalahpahaman ini dan menyatukan mereka berdua.

​Saat melangkah keluar dari kantin menuju tangga lift, langkah Luna mendadak dihentikan oleh sosok bergaun merah dengan hak tinggi yang mengetuk lantai nyaring.

​Jessi.

​"Aluna, kita perlu bicara," panggil Jessi dingin, bersedekap dada di lorong yang agak sepi.

​Luna menghentikan langkahnya, menatap Jessi santai tanpa rasa gentar sedikit pun. "Bicara soal apa ya, Mbak Jessi?"

​Jessi melangkah mendekat, menatap Luna dengan sorot mata penuh permusuhan. "Lu nggak usah pura-pura polos deh. Lu pikir gue nggak tahu kenapa Lu tinggal di rumah Marko? Gue udah merhatiin cara Marko ngeliat lu belakangan ini. Perhatian dia ke lu itu udah berlebihan!"

​Luna tertawa sumbang, menyilangkan tangan di depan dada. "Terus masalahnya sama Mbak Jessi apa ya?"

​"Sadar diri, Aluna!" gertak Jessi, menurunkan suaranya tajam penuh ancaman. "Lu itu cuma anak sahabatnya yang numpang tinggal! Jangan mimpi tinggi-tinggi mau goda Marko. Kalau sampai lu bikin posisi gue terganggu di kehidupan Marko atau Janitra Group, gue pastikan hidup lu dan karier magang lu hancur!"

​Bukan Luna namanya kalau langsung kuncup karena gertakan. Gadis itu justru maju satu langkah, menatap Jessi tepat di manik matanya dengan senyum meremehkan.

​"Makasih sarannya, Mbak Jessi," balas Luna tenang tapi menohok. "Tapi maaf ya, Om Marko sendiri yang minta aku tinggal di rumahnya. Kalau Mbak merasa terancam... ya berarti usaha Mbak buat narik perhatian Om Marko selama ini memang kurang mempan."

​"Elu—!"

​"Permisi ya, Mbak. Saya masih ada pekerjaan," potong Luna santai lalu melangkah pergi membelakangi Jessi yang berdiri mematung dengan napas memburu menahan emosi.

​Sore harinya di taman belakang kantor, Luna meminta Kenan bertemu secara personal.

​Kenan duduk di kursi kayu dengan raut wajah cemas. "Ada apa, Lun? Kok ngajak ketemu di sini?"

​Luna menarik napas panjang, menatap Kenan tulus. "Ken... aku mau jujur sama kamu. Soal perasaan aku."

​Kenan membisu, firasatnya mulai merasa tidak enak.

​"Aku sayang sama kamu, Ken. Tapi cuma sebatas sahabat," ucap Luna pelan. "Hati aku udah terisi sama orang lain. Aku nggak mau terus-terusan bikin kamu berharap dan memanfaatin kebaikan kamu."

​Kenan menunduk, mengusap tengkuknya pelan. Ada rasa kecewa yang menyelusup, tapi di sisi lain, sebuah beban besar di dadanya seolah terangkat.

​"Pak Marko... kan?" tanya Kenan pelan.

​Luna tidak menjawab, tapi anggukan tipisnya sudah cukup menjadi jawaban.

​Kenan tersenyum tipis, menghembuskan napas lega. "Jujur aku sedih, Lun. Tapi aku juga lega kamu jujur. Makasih ya udah mau terus terang. Kita tetap bersahabat, kan?"

​"Pasti, Ken!" seru Luna tersenyum lega. Pria itu benar-benar dewasa. "Tapi, Ken... kamu tahu nggak? Sebenarnya ada cewek lain yang udah lama banget suka sama kamu secara tulus."

​Kenan berkerut dahi, menatap Luna penasaran. "Hah? Siapa?"

​"Rania," bisik Luna menyunggingkan senyum jahil. "Rania suka sama kamu dari zaman kita SMA."

​"Rania?!" Kenan terbelalak kaget. "Rania sahabat kamu? Nggak mungkin, Lun! Dia kan cuek banget kalau sama aku."

​"Dia pendam sendiri karena dia tahu kamu sukanya sama aku, Ken," jelas Luna. "Cobalah buka mata kamu. Rania itu cantik, anggun, kalem... beda banget sama aku yang petakilan begini."

​Kenan terdiam membisu. Bayangan Rania mendadak berputar di otaknya—sosok Rania yang selalu ada saat mereka nongkrong, Rania yang kemarin malam tersenyum manis saat mamanya heboh, serta kecantikan anggun Rania yang selama ini luput dari perhatiannya hanya karena fokusnya tertambat pada Luna.

​Pikiran Kenan mulai goyah. Biji benih baru pelan-pelan tertanam di hatinya.

​Saat jam pulang kantor tiba, Rania sedang bersiap merapikan tasnya di meja kerja. Tiba-tiba sebuah bayangan tinggi berdiri di depan mejanya.

​"Ran, pulang bareng yuk?" ajak Kenan sambil menyunggingkan senyum hangatnya.

​Rania mendongak, matanya membulat terkejut. "E-eh? Sama kamu, Ken? Bukannya kamu biasa tunggu Luna?"

​"Luna udah duluan tadi," jawab Kenan santai. "Ayo, aku antar kamu. Sekalian jalan cari makan yuk?"

​Dada Rania berdesir hebat. Senyum bahagia yang tak bisa ditahan terkembang di bibirnya. "Boleh, Ken. Bentar ya aku rapikan tas dulu."

​Dari balik kaca jendela ruang sebelah, Luna berdiri memperhatikan Kenan yang menuntun Rania menuju area parkir. Rasa bahagia terpancar jelas dari wajah kedua sahabatnya itu.

​"Satu urusan kelar," gumam Luna tersenyum puas pada dirinya sendiri.

​Kini, pandangan Luna beralih ke lantai atas—ruang kerja eksekutif milik Marko. Senyum jahil kembali terpatri di wajah cantiknya.

​Tanpa ada hambatan dari Kenan lagi, fokus utamanya sekarang adalah satu hal: membongkar topeng gengsi Marko sampai pria matang itu mau bertekuk lutut mengakui perasaannya sendiri.

​Malam harinya di rumah megah Marko.

​Marko sedang duduk di ruang kerjanya, memijat pelipisnya yang pening. Kejadian kemarin malam saat bibirnya hampir menyentuh Luna terus menerus membakar akal sehatnya. Ia sudah bertekad malam ini akan bersikap dingin dan menjaga jarak sejauh mungkin dari Luna demi menghormati Ardi.

​Klek.

​Pintu ruang kerja Marko terbuka tanpa ketukan.

​Luna melangkah masuk. Namun malam ini, gadis itu tidak memakai gaun tidur seksi seperti kemarin. Luna mengenakan gaun malam serba hitam yang sangat elegan dengan bagian punggung terbuka lebar (backless dress), memperlihatkan kulit mulus punggungnya secara gamblang. Rambutnya disanggul ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang menawan.

​Marko tersentak, refleks berdiri dari kursi kerjanya. "Aluna?! Kamu mau ke mana malam-malam pakai baju seperti ini?!"

​Luna menyunggingkan senyum manis yang teramat misterius, melangkah mendekati meja kerja Marko dengan gerakan pelan yang penuh godaan.

​"Ada teman laki-laki aku yang ngajak makan malam di luar, Om," ujar Luna santai, memutarkan badannya sengaja memperlihatkan punggung mulusnya di depan mata Marko. "Bagus kan bajunya?"

​Mata Marko seketika menggelap pekat. Sensasi cemburu dan gairah yang menumpuk dari semalam mendadak meledak hebat di dalam dadanya, menghancurkan seluruh pertahanan yang baru saja ia susun.

​Pria matang itu mengitari meja kerja dengan langkah lebar, membendung jalan Luna dan menguncinya di antara tubuh kokohnya dan tepi meja.

​"Kamu nggak akan pergi ke mana-mana malam ini, Aluna," bisik Marko dengan suara parau yang teramat rendah dan berbahaya.

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!