NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Malam semakin larut, kediaman Wen telah hening sepenuhnya. Tanpa diketahui siapa pun apalagi Feng Wu, sesosok bayangan hitam bergerak lincah di antara pepohonan dan atap paviliun, sosok itu tak menyisakan jejak maupun suara.

Dan ternyata sosok itu adalah Pangeran Ketiga. Ia tidak bisa menahan rasa penasarannya. Tanpa perintah khusus, tanpa alasan yang jelas, kakinya justru membawanya ke kediaman Wen, tepat ke arah paviliun tempat Feng Wu tinggal. Dengan gerakan senyap, ia melompat dan mendarat di dahan pohon tertinggi yang berada tepat disamping kamar gadis itu tempat yang sempurna untuk mengawasi tanpa diketahui.

Jendela kamar Feng Wu sedikit terbuka, membiarkan cahaya rembulan masuk menyinari ruangan itu. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka.

Feng Wu keluar. Rambutnya basah dan terurai panjang di punggungnya, jatuh berkilauan terkena cahaya bulan. Wajahnya bersih tanpa setetes pun riasan, tidak ada bedak, tidak ada lipstik, hanya wajah aslinya yang murni dan polos.

Pangeran Ketiga terpaku di tempatnya, napasnya tertahan.

Di bawah cahaya rembulan, kulitnya tampak seputih porselen, bersinar alami seakan memancarkan cahaya sendiri. Matanya jernih dan bening, bibirnya berwarna merah muda alami, dan seluruh wajahnya tampak begitu murni, begitu cantik jauh lebih memukau dibandingkan saat ia mengenakan gaun dan riasan di pesta istana tadi malam.

"Tidak mungkin... "batin Pangeran ketiga terpesona.

"Bagaimana bisa seorang wanita begitu cantik tanpa hiasan apa pun? Seakan ia adalah seorang dewi yang turun ke bumi"

Ia tak pernah melihat wanita yang begitu alami, begitu bersinar tanpa perlu apa pun. Dan justru kesederhanaan itulah yang membuat hatinya berdebar tak terkendali.

Namun di detik berikutnya, tatapan kagum itu berubah menjadi kekaguman yang lebih dalam.

Feng Wu tiba-tiba berhenti bergerak, ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah jendela terbuka, tepat ke dahan pohon tempat Pangeran Ketiga bersembunyi. Matanya yang jernih seketika berubah tajam dan waspada.

"Siapa di sana? Keluar!" suaranya rendah namun tegas, tak ada sedikit pun rasa takut.

Sebelum Pangeran Ketiga sempat bergerak atau menjelaskan, tangan Feng Wu bergerak secepat kilat dan tanpa melihat ke arahnya secara langsung, ia melempar sesuatu dengan kekuatan dan ketepatan yang luar biasa.

#WUSSS!

Tiga buah senjata lempar berbentuk jarum tajam melesat menembus udara, tepat mengarah ke titik-titik vital di mana tubuh Pangeran Ketiga berada. Ia terpaksa mundur dengan cepat, menghindari serangan itu. Jarum-jarum itu menancap dalam ke batang pohon di sebelah tempatnya berdiri, bergetar karena kekuatan lemparan itu.

Feng Wu berdiri di ambang jendela, menatap lurus ke arah bayangan yang baru saja menghindari serangannya. Wajahnya tenang namun dingin, tanpa rasa takut sedikit pun.

"Pangeran Ketiga," ucapnya pasti, seakan sudah tahu siapa yang bersembunyi di sana. "Jika kau memiliki urusan denganku, datanglah di siang hari secara terhormat. Jangan mengintai gadis di malam hari, itu bukan tindakan seorang Pangeran yang terhormat."

Ia melanjutkan dengan tegas, suaranya tak meninggi namun terdengar jelas di telinga pria itu.

"Aku tidak suka diintai. Sekarang pergilah. Jika kau masih di sana dalam hitungan ketiga berikutnya, serangan berikutnya tidak akan lagi meleset."

Pangeran Ketiga berdiri di dahan lain yang lebih rendah, menatap gadis itu dengan perasaan campur aduk, kagum, malu, dan justru semakin tertarik. Ia tidak menyangka bahwa Feng Wu memiliki indera setajam itu, berani, dan bahkan melempar senjata dengan keahlian yang luar biasa.

"Kau benar-benar berbeda, Feng Wu," bisiknya pelan, lalu dengan satu gerakan, ia menghilang ke dalam kegelapan malam pergi tanpa menoleh, karena ia tahu ia telah kalah malam ini.

Feng Wu tetap berdiri di sana sampai ia benar-benar merasakan kepergiannya. Baru setelah itu ia menutup jendela, menguncinya rapat, dan kembali ke tempat tidurnya. Namun hatinya tahu jika pria itu belum pergi sepenuhnya. Dan ia harus lebih berhati-hati dari sebelumnya.

Pangeran Ketiga kembali ke istana dalam diam. Di sepanjang jalan, bayangan wajah Feng Wu terus terbayang di benaknya, wajah polos tanpa riasan yang bersinar di bawah cahaya bulan, tatapan matanya yang tajam dan waspada, serta ketegasan suaranya saat mengusirnya. Ia tidak merasa marah atau tersinggung, justru sebaliknya, rasa kagumnya semakin mendalam.

"Dia bukan gadis biasa"batinnya.

"Dia kuat, berani, dan tidak takut pada siapa pun bahkan padaku sekalipun" lanjutnya.

Sesampainya di paviliunnya, ia tidak langsung beristirahat. Ia duduk di kursi kayu jati yang kokoh, menatap ke arah lilin yang menyala redup. Di dadanya, rasa penasaran bercampur dengan rasa ingin melindungi semakin menguat. Ia ingin tahu segalanya tentang Feng Wu. Dan apa yang membuat gadis itu menjadi begitu kuat, namun juga begitu dingin dan tertutup.

Tepat saat tengah malam, sosok hitam muncul dari kegelapan, Pengawal Bayangan yang telah ia perintahkan untuk menyelidiki Feng Wu.

"Yang Mulia," sapanya rendah sambil berlutut. "Saya telah menyelesaikan penyelidikan tentang Nona Feng Wu. Berikut adalah laporannya."

Pangeran Ketiga mengangguk pelan. "Ceritakan semuanya. Jangan ada yang disembunyikan."

Pengawal Bayangan mulai bercerita dengan suara datar namun setiap kata terasa berat:

"Feng Wu adalah putri sah dari Menteri Feng dan Wen Ning. Sejak bayi, Nona Feng diasingkan karena dianggap pembawa malapetaka, tidak hanya itu saja. Kehidupan Nona Feng sangat menderita".

Pangeran Ketiga mengepalkan tangannya erat-erat, urat di pelipisnya menonjol. Ia mulai merasa tidak enak. "Lanjutkan."

"Kemunculan Nona Feng diperbatasan mengejutkan para prajurit, ia berlatih seni bela diri dengan cepat bahkan bisa menyembukan yang mungkin seorang tabib tidak bisa melakukannya."

Pangeran Ketiga terdiam. Matanya yang sedingin es kini perlahan berkabut. Ia membayangkan, gadis yang begitu cantik, cerdas, dan berbakat itu menghabiskan seluruh masa kecilnya dalam penderitaan yang begitu kejam. Ditinggal ibu sejak lahir, dibuang oleh ayah sendiri, disiksa oleh selir yang iri, dan bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga.

"Ternyata hidupnya selama ini tidak mudah, dia bagaikan bangkit dari kematiannya sendiri. Sepertinya masalah yang akhir-akhir ini terjadi di kediaman Feng adalah ulahnya, tapi itu bagus karena ia mulai bangkit dari keterpurukannya" gumam Pangeran Ketiga.

Ia paham sekarang. Ia paham mengapa tatapan matanya begitu dingin dan penuh dendam. Ia paham mengapa ia tidak percaya pada siapa pun dan menginginkan kebebasan di atas segalanya. Dunia pernah menyakitinya begitu dalam, sehingga ia membangun tembok setinggi gunung untuk melindungi hatinya sendiri.

"Selir Yu dari keluarga biasa itu.." gumam Pangeran Ketiga pelan namun penuh amarah yang tertahan. "Dan Menteri Feng... bagaimana bisa seorang ayah begitu kejam pada darah dagingnya sendiri?"

Pengawal Bayangan menunduk, melanjutkan. "Apakah ada tugas lain yang mulia?"

Pangeran Ketiga berdiri perlahan, napasnya teratur namun matanya memancarkan tekad yang baru saja terbentuk.

"Mulai hari ini," ucapnya tegas dan berat. "Kau tetap mengawasi kediaman Feng. Catat setiap kejahatan yang masih mereka lakukan. Dan pastikan... tidak ada satu pun yang berani menyakiti rambut Feng Wu bahkan Menteri Feng sekalipun."

"Baik, Yang Mulia."

Setelah Pengawal Bayangan pergi, Pangeran Ketiga berdiri sendirian di hadapan jendela yang terbuka, menatap ke arah bulan purnama.

"Gadis kecil, sejak kau menyelamatkanku saat itulah aku hanya percaya padamu. Kau benar-benar berbeda dari wanita lain"

1
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!