Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PENGORBANAN SEORANG IBU DAN JEJAK YANG TERTINGGAL
Malam-malam setelah panggilan telepon beracun dari Sheila berjalan bagaikan mimpi buruk yang panjang. Setiap detik terasa menusuk dada Kirana. Ketika ia memandang Aris yang tertidur pulas di sampingnya, di bawah pendar redup lampu kamar, air mata Kirana menetes tanpa suara. Pria tegap itu kini bernapas dengan tenang, gurat kecemasan di wajahnya yang dulu selalu hadir akibat pengkhianatan masa lalu telah sirna. Aris percaya padanya. Aris telah menyerahkan seluruh jiwanya untuk membangun kembali benteng rumah tangga ini.
Namun justru karena kepercaya itulah, Kirana tidak bisa membiarkan nama Aris hancur. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika media nasional memberitakan kebenaran medis Aris. Kebanggaan pria itu, kehormatan Pratama Corp, dan yang paling memilukan: jiwa Leo dan Maya yang masih begitu bersih dan polos. Anak-anak itu sangat memuja Aris sebagai ayah kandung mereka. Jika mereka tahu status biologis yang sebenarnya melalui kekejaman persidangan Sheila, luka psikologis itu tak akan pernah sembuh.
Batas waktu tujuh hari itu terus merambat turun seperti pasir dalam jam kaca.
Pagi hari kelima, Kediaman Pratama dipenuhi tawa riang. Maya berlarian di koridor lantai dua mengenakan gaun merah muda favoritnya, sementara Leo sibuk memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas sekolahnya.
"Ibu! Lihat, Maya bisa pakai sepatu sendiri!" seru bocah kecil itu gembira, melompat ke arah Kirana yang sedang berdiri bergeming di ambang pintu kamar.
Kirana berlutut perlahan. Dengan jemari yang gemetar, ia memeluk Maya begitu erat, membenamkan wajahnya di leher mungil anak itu, menghirup aroma bedak bayi yang khas. "Anak pintar... Anak kesayangan Ibu," bisik Kirana, suaranya bergetar menahan tangis yang membendung di tenggorokan.
"Ibu kenapa? Kok meluk Maya kencang banget?" tanya Maya, matanya yang bulat dan bening menatap wajah Kirana dengan lugu.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu cuma... sangat menyayangi Maya dan Mas Leo," jawab Kirana, memaksa senyuman paling manis terpancar dari bibirnya yang pucat.
Leo melangkah mendekat, memperhatikan ibunya dengan tatapan dewasa melampaui usianya. "Ibu pucat sekali dari kemarin. Ibu jangan sakit, ya. Kalau Ibu sakit, Papa suka bingung dan sedih."
Kalimat polos Leo bagaikan sembilu yang menyayat dada Kirana. Ia mengusap kepala putra sulungnya itu, merapikan poni rambutnya dengan kasih sayang yang meluap. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan kalian? jerit hatinya. Tapi bagaimana bisa aku membiarkan wanita jahat itu menghancurkan hidup kalian?
Aris turun dari tangga utama, rapi dalam setelan jas abu-abu gelap. Pria itu menyunggingkan senyum hangat begitu melihat pemandangan di depannya. "Ada apa ini? Pagi-pagi sudah pelukan bertiga tanpa Papa?"
Maya tertawa geli dan berlari memeluk kaki ayahnya. Aris membungkuk, mengangkat Maya ke dalam gendongannya, lalu menghampiri Kirana. Ia mendaratkan kecupan hangat di kening Kirana. "Kamu kelihatan masih lelah, Kirana. Jangan terlalu memaksakan diri mengurus rumah, ya. Biarkan Pak Wijaya dan para pelayan yang urus sisanya."
Kirana menatap mata cokelat Aris yang teduh. Di dalam kedalaman iris mata itu, tidak ada lagi jejak keangkuhan atau dinginnya pria yang dulu menghinanya di hari pertama pernikahan mereka. Yang ada hanya cinta yang murni.
"Mas Aris..." bisik Kirana lirih.
"Ya, Sayang?"
"Jika... jika suatu hari aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah atau kecewa... bisakah kamu mengingat bahwa semua yang kulakukan adalah demi kebahagiaanmu, Leo, dan Maya?"
Aris mengerutkan dahi, dahinya berkerut tipis oleh rasa heran. Tawa di wajahnya memudar perlahan, digantikan oleh kecemasan. Ia meletakkan Maya ke lantai, lalu memegang kedua bahu Kirana dengan lembut. "Kenapa bicara seperti itu, Kirana? Apa yang terjadi? Apakah ada seseorang yang mengganggumu lagi? Raymond Wijaya?"
Kirana menggeleng cepat, memaksakan kekehan kecil. "Bukan, Mas... Tidak ada apa-apa. Aku cuma... terharu melihat keluarga kita sekarang. Dulu kita memulainya dengan sangat sulit, bukan?"
Aris menghela napas lega, memeluk Kirana erat-erat di hadapan anak-anak. "Masa lalu yang sulit itu sudah berakhir, Kirana. Tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Aku berjanji padamu."
Malam hari ke-enam—malam terakhir sebelum batas waktu yang diberikan Sheila.
Hujan deras mengguyur Jakarta sejak senja. Suara gemuruh petir sesekali menggelegar, memantulkan bayangan kelam di jendela kamar utama. Aris sudah tertidur lelap setelah seharian menghadiri rapat direksi yang melelahkan. Pria itu tertidur dengan satu lengan merangkul pinggang Kirana secara posesif, seolah takut istrinya akan menghilang jika ia melepaskannya.
Di bawah selimut tebal, Kirana menahan napasnya. Airmata mengalir deras tanpa suara membasahi bantal satinnya. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari.
Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Kirana menggeser lengan tegap Aris dari pinggangnya. Ia bergerak tanpa suara, turun dari tempat tidur. Dinginnya lantai kamar menyengat telapak kakinya yang polos.
Ia melangkah ke lemari pakaian, mengambil sebuah tas travel kecil yang hanya diisinya dengan beberapa helai pakaian sederhana—pakaian yang ia bawa saat pertama kali melangkah masuk ke rumah ini sebagai pengantin paksa. Ia tidak membawa perhiasan, harta, atau baju-baju mahal yang dibelikan Aris. Ia datang tanpa membawa apa-apa, dan ia akan pergi tanpa mengambil apa pun.
Di atas meja rias, Kirana meletakkan cincin pernikahan emas putih mereka. Di samping cincin itu, ia meletakkan selembar surat yang ditulisnya dengan air mata yang menetes membasahi kertas.
"Mas Aris yang sangat kucintai,
Saat kamu membaca surat ini, aku mungkin sudah berjalan jauh dari hidupmu dan anak-anak. Maafkan aku... Maafkan aku karena harus melangkah pergi tanpa pamit secara langsung kepadamu.
Jangan carilah aku, Mas. Jangan membenciku, dan tolong... jangan pernah meragukan bahwa cinta yang kuberikan untukmu, Leo, dan Maya adalah hal paling jujur yang pernah ada dalam hidupku.
Ada badai yang tidak bisa kita lawan bersama, Mas. Ada rahasia yang harus tetap terkunci rapat agar kamu tetap bisa berdiri tegak sebagai pahlawan bagi anak-anak kita. Aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu, melainkan justru karena aku terlalu mencintaimu hingga aku rela menjadi jahat di matamu, asal kehormatanmu dan masa depan anak-anak tetap utuh.
Jaga Leo dan Maya untukku. Katakan pada mereka bahwa Ibunya sangat mencintai mereka melebihi nyawanya sendiri.
Terima kasih telah memberiku kesempatan merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh seorang suami sepertimu.
Istrimu, Kirana."
Kirana mengusap air matanya yang terus menetes, merapikan surat itu di bawah cincin nikahnya.
Sebelum melangkah keluar dari kamar utama, Kirana menyempatkan diri melangkah menyusuri lorong dingin menuju kamar anak-anak. Di dalam kamar yang remang itu, ia membungkuk, memeluk dan mencium kening Leo dan Maya yang tertidur pulas satu per satu.
"Ibu sayang kalian... Sangat sayang..." bisik Kirana dengan dada yang sesak oleh rasa sakit yang tak tertahankan.
Dengan langkah kaki yang berat dan jiwa yang hancur berkeping-keping, Kirana melangkah keluar melewati pintu belakang Kediaman Pratama, menghilang di dalam kegelapan malam dan lebatnya hujan deras Jakarta.
Keesokan paginya, matahari terbit membakar awan sisa hujan. Pukul enam pagi, Aris terbangun dari tidurnya. Tangannya secara refleks bergerak mencari tubuh hangat istrinya di samping tempat tidur.
Namun sisi tempat tidur itu dingin dan kosong.
Aris membuka matanya, mengerutkan dahi. "Kirana?" panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Tidak ada jawaban. Aris bangkit berdiri, menyisir rambutnya dengan jemari. Ia mengira Kirana sedang berada di dapur menyiapkan sarapan seperti biasanya. Namun saat ia melangkah menuju meja rias untuk mengambil jam tangannya, matanya tertumbuk pada pendar kilau cincin emas putih yang tergeletak di atas selembar kertas putih.
Jantung Aris berdegup kencang secara mendadak. Firasat buruk memukul dadanya dengan sangat keras.
Pria itu menyambar kertas tersebut dan membaca tulisan tangan Kirana. Semakin dalam ia membaca, semakin pucat wajah tegap Aris. Tangannya bergetar hebat hingga kertas itu meremuk dalam genggamannya.
"Tidak... Tidak mungkin!" bentak Aris pada keheningan kamar. "KIRANA!"
Aris berlari keluar kamar tanpa memedulikan penampilannya yang masih berantakan. Ia menerobos turun melewati tangga utama, berteriak memanggil nama istrinya.
"Kirana! Kirana!"
Pak Wijaya yang sedang menginstruksikan pelayan di ruang tengah terkejut melihat Tuan Mudanya berlari seperti orang kesetanan. "Tuan Aris? Ada apa, Tuan?"
"Di mana Kirana?! Di mana istriku?!" bentak Aris dengan mata merah dan napas memburu parau.
Pak Wijaya tersentak bingung. "Nyonya Kirana? Bukankah Nyonya ada di kamar atas? Saya belum melihat Nyonya turun pagi ini..."
Aris mencengkeram kerah baju Pak Wijaya, matanya menyala oleh kepanikan yang teramat sangat. "Periksa seluruh rumah! Periksa kamera CCTV! SEKARANG!"
Seluruh Kediaman Pratama mendadak gempar. Para pelayan berlarian memeriksa setiap sudut rumah, taman, hingga garasi. Namun sosok Kirana tidak ditemukan di mana pun. Tas travel kecilnya telah hilang dari lemari.
Di ruang kontrol CCTV, Aris berdiri membeku menatap layar monitor. Rekaman menunjukkan pukul 02.15 dini hari—terlihat jelas sosok Kirana mengenakan mantel hitam sederhana, berjalan menembus hujan lebat sambil membawa tas kecil, melangkah keluar melewati pintu gerbang samping yang sengaja tidak dikunci.
"Kenapa... Kenapa kamu pergi, Kirana?!" raung Aris, memukul meja kontrol CCTV hingga retak. Airmata pecah mengalir menembus pipi tegap pria angkuh tersebut. "Apa salahku?! Mengapa kamu meninggalkanku lagi di saat aku sudah menyerahkan seluruh hatiku padamu?!"
Leo dan Maya yang baru saja bangun tidur berlari menuju ruang tengah dengan wajah cemas. Maya mulai menangis histeris begitu melihat ayahnya berlutut di lantai sambil terisak.
"Papa... Ibu mana? Kenapa Ibu nggak ada di dapur?" tangis Maya seraya memeluk leher Aris.
Leo berdiri membeku di samping ayahnya, matanya berkaca-kaca. "Pa... Ibu benar-benar pergi? Ibu janji nggak bakal tinggalkan kita..."
Aris merengkuh kedua anaknya ke dalam pelukannya, menangis sejadi-jadinya di hadapan para pelayan. Rumah megah itu kembali terasa dingin, hampa, dan mati tanpa kehadiran Kirana.
Dua jam kemudian, Aris duduk di ruang kerjanya yang dingin. Jasnya tidak terkancing, dasinya kendur. Matanya merah dan penuh dengan guratan frustrasi. Di hadapannya, Pak Wijaya melangkah masuk dengan ragu-ragu, membawa sebuah amplop cokelat yang ditemukan di dalam tas kerja Kirana yang tertinggal di lemari.
"Tuan Aris..." suara Pak Wijaya bergetar. "Saat memeriksa kamar atas, kami menemukan tas bekas milik Nyonya yang terkunci. Di dalamnya... ada dokumen ini. Dokumen dari kurator hukum dan Pengadilan Agama."
Aris mendongak cepat, menyambar amplop cokelat tersebut dari tangan Pak Wijaya. Pria itu merobeknya kasar dan membaca berkas panggilan persidangan serta tuduhan klaim dari Sheila Kusuma.
Mata Aris membelalak lebar saat membaca klausul demi klausul yang tertera di sana.
"Permohonan pembatalan hak wali amanat dan klaim dana abadi oleh Sheila Kusuma, berdasarkan salinan rekam medis ketidaksuburan (infertil) Tuan Aris Pratama dan berkas adopsi rahasia almarhum Hendra Pratama..."
Darah Aris serasa mendidih sekaligus membeku di saat yang bersamaan.
Rekam medis ketidaksuburan? Berkas adopsi rahasia?
Dunia di sekitar Aris serasa runtuh berantakan. Pria itu mencengkeram tepi meja mahoninya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kebenaran yang sangat mengerikan itu kini terhampar telanjang di depan matanya!
Selama ini... ia bukan ayah biologis dari Leo dan Maya? Selama ini... ia mandul? Dan Kakek Hendra menyembunyikan semua itu demi menjaga kehormatan nama Pratama?
Guncangan emosional yang hebat memukul dada Aris hingga ia sesak napas. Ia memegangi dadanya, terengah-engah di tengah reruntuhan harga dirinya sebagai pria. Pria yang selama ini begitu angkuh, yang merasa memegang kendali atas jalan hidupnya, ternyata hidup di atas panggung rekayasa besar!
Namun, di tengah rasa sakit dan kebingungan yang meremukkan jiwanya, sebuah kesadaran mendadak menyengat otaknya bagaikan petir di siang bolong.
Aris teringat kata-kata di surat terakhir Kirana: "Ada rahasia yang harus tetap terkunci rapat agar kamu tetap bisa berdiri tegak sebagai pahlawan bagi anak-anak kita. Aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu, melainkan justru karena aku terlalu mencintaimu hingga aku rela menjadi jahat di matamu..."
Aris teringat telepon rahasia Kirana, perubahan sikap istrinya yang pucat dan penuh kecemasan selama sepekan terakhir, serta kotak kayu jati tanpa kunci yang tersimpan di perpustakaan.
Kirana sudah tahu semuanya!
Kirana telah tahu tentang rekam medis ini! Kirana telah tahu bahwa Sheila mengancam akan membocorkan kebenaran mengerikan ini ke publik dan media jika Kirana tidak melangkah pergi dari rumah ini!
Kirana pergi bukan karena tidak mencintainya. Kirana pergi untuk melindunginya! Kirana mengorbankan kebahagiaannya sendiri, merelakan dirinya dianggap sebagai istri pendusta yang kabur, hanya agar kehormatan Aris sebagai seorang pria dan pahlawan bagi Leo dan Maya tidak hancur tercabik-cabik!
"Ya Tuhan..." bisik Aris parau, matanya terbelalak lebar oleh penyesalan yang teramat sangat. "Kirana... Apa yang sudah kamu lakukan demi aku?"
Cinta seorang ibu tiri... Ketulusan seorang wanita yang dulu pernah dihina dan diragukannya habis-habisan... Wanita muda itu berdiri sendirian pasang badan menahan gempuran racun Sheila, memikul beban kebenaran yang teramat berat di pundaknya yang rapuh, demi melindungi rumah tangga ini!
Airmata Aris kembali menetes deras, namun kali ini bukan karena keputusasaan, melainkan karena kebangkitan jiwa yang mendalam.
Dinding prasangka dan ego pria angkuh itu benar-benar telah rata dengan tanah. Takdir telah menyindirnya dengan sangat tajam: pria tangguh seperti dirinya ternyata dilindungi oleh pengorbanan sunyi seorang wanita yang dulu dianggapnya lemah dan tidak berharga.
Aris berdiri tegak secara mendadak. Matanya yang merah kini memancarkan api keberanian dan tekad yang tak tergoyahkan.
"Pak Wijaya!" panggil Aris dengan suara menggelegar yang menggetarkan ruangan.
"Saya, Tuan!" Pak Wijaya membungkuk siap.
"Panggil seluruh tim pengacara terbaik Pratama Corp! Hubungi Kepolisian Daerah! Lacak keberadaan mobil dan ponsel Kirana detik ini juga!" perintah Aris tegas, menyambar jasnya dan mengenakannya kembali. "Sheila Kusuma pikir dia bisa mengintimidasi istriku dan menghancurkan keluargaku?"
Aris mengepalkan tangannya rapat-rapat, melangkah lebar menuju pintu keluar.
"Dulu Kirana bertaruh nyawa dan kehormatan untuk masuk ke rumah ini dan mencintai anak-anakku," desis Aris dengan ikrar yang tertanam mati di jiwanya. "Sekarang, biarkan aku yang membakar seluruh bumi untuk membawa kembali nyonya rumah yang sebenarnya!"
Akankah Aris berhasil menemukan Kirana sebelum wanita itu menghilang semakin jauh? Dan bagaimanakah Aris akan menghadapi Sheila di Pengadilan Agama untuk membela hak dan takhta cinta Kirana sebagai ibu sejati bagi Leo dan Maya?
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, ada karya baruku juga yang ngga kalah seru juga loh, judulnya Aku tak salah, jangan lupa dibaca dan pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘