NovelToon NovelToon
Gadis Galak Milik Tuan Muda

Gadis Galak Milik Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yusriani Yusuf

Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.

Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.

Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang dingin

Tatapan mata Adrian masih tertuju lekat pada Ana, seolah tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang mengintip dari balik kaca jendela Kelas F. Senyum miring cowok itu melebar mendengar tantangan Ana.

"Aku terima taruhannya," bisik Adrian rendah, sebelum akhirnya menegakkan tubuh. "Sampai bertemu nanti sore di parkiran. Jangan coba-coba kabur lewat jalur tikus lagi, karena Luki sudah menjaga setiap sudut gerbang belakang."

Tanpa menunggu balasan dari Ana, Adrian berbalik dan melangkah keluar dari Kelas F dengan gaya angkuh yang khas. Begitu sosoknya menghilang di belokan koridor, Fadil langsung mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya.

"Gila... tensi kalian berdua kalau lagi ngobrol itu berasa kayak mau pecah perang dunia," komentar Fadil sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Ana tidak menyahut. Ia meraih botol susu stroberi pemberian Adrian, membukanya dengan satu sentakan tangan, lalu meminumnya dengan santai. Pikirannya tidak berada pada Adrian, melainkan pada langkah selanjutnya untuk menghancurkan sisa-sisa cengkeraman Dewi dan Jesika di rumah.

Sore harinya, bel pulang sekolah berdering. Sesuai dengan ancaman Adrian, begitu Ana melangkah keluar dari gedung barat, mobil Mazda merah menyala itu sudah terparkir tepat di depannya. Kali ini, Ana tidak berniat menghindar. Tubuhnya butuh tumpangan cepat untuk menyelesaikan urusan rumah.

Di dalam kabin mobil, keheningan sempat mendominasi sebelum akhirnya Adrian memecah kesunyian. "Kudengar hari ini Bimo mencoba menghubungi markas militer pusat untuk membatalkan rekomendasi Jenderal Arya atas namamu dan Adit."

Ana menoleh sedikit, menatap Adrian lewat sudut matanya yang tajam. "Lalu?"

"Tentu saja usahanya sia-sia," Adrian terkekeh pelan, satu tangannya dengan santai mengendalikan kemudi. "Jenderal Arya langsung merobek surat protesnya di depan muka perwakilan Bimo. Posisi kalian berdua di divisi khusus sudah mutlak tidak bisa diganggu gugat. Tapi... apa kamu beneran masih mau tinggal di rumah itu malam ini?"

"Ada beberapa barang milik ibuku yang tertinggal di sana," sahut Ana dingin. "Aku harus mengambilnya sebelum benar-benar angkat kaki."

Begitu mobil Adrian berhenti di depan pagar besi kediaman Pramudia, suasana rumah mewah itu tampak sangat suram. Tidak ada lampu teras yang menyala, seolah mencerminkan kehancuran finansial yang baru saja menghantam mereka akibat keputusan Nyonya Lin semalam.

Ana turun dari mobil tanpa pamit pada Adrian, melangkah mantap masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu, Bimo Pramudia duduk di sofa dengan seragam militer yang kusut, kepalanya tertumpu pada kedua telapak tangan. Di sudut lain, Dewi sedang menangis sesenggukan sambil memegangi tumpukan tagihan pembekuan aset, sementara Jesika duduk termenung dengan tatapan mata kosong dan frustrasi.

Kehadiran Ana seketika memicu atmosfer tegang. Bimo mendongak, matanya memerah penuh amarah dan keputusasaan begitu melihat putri sulungnya berdiri tegak tanpa rasa bersalah.

"Ana!" bentak Bimo, suaranya parau. Ia bangkit berdiri dengan tubuh yang sedikit gemetar. "Puas kamu sekarang?! Gara-gara kelakuan lancangmu di pesta semalam, keluarga Aditama memutuskan hubungan bisnis kita! Nyonya Lin membekukan seluruh investasi Grup Angkasa! Karier militer Papa di ujung tanduk karena Jenderal Arya menekan divisiku! Kamu beneran anak pembawa sial!"

Dewi ikut berdiri, menunjuk Ana dengan histeris. "Kamu monster, Ana! Kamu sengaja ingin melihat kami semua hancur di jalanan, kan?! Lihat adikmu Jesika, dia sampai tidak berani masuk sekolah hari ini karena malu!"

Ana memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjang hitam jasnya, menatap drama picisan itu dengan pandangan yang teramat dingin dan lempeng. Jiwa Panglima Dinda tidak tersentuh sedikit pun oleh makian mereka.

"Yang menghancurkan keluarga ini bukan aku, tapi ketamakan dan kebodohan kalian sendiri," ucap Ana, suaranya datar namun bergema kuat memotong histeria Dewi.

Ana melangkah maju mendekati meja tengah, lalu melempar sebuah dokumen resmi berlambang hukum Kekaisaran yang baru saja ia ambil dari tasnya. Plak. Dokumen itu mendarat tepat di depan Bimo.

"Itu surat pengalihan hak milik atas rumah ini dan seluruh aset warisan dari mendiang ibuku, putri kandung Grup Ronghua," lanjut Ana, nadanya sedingin es. "Kakek Jaya sudah menandatanganinya siang ini. Mulai besok pagi, rumah ini resmi menjadi milikku atas hukum mutlak Kekaisaran."

Bimo melotot sempurna, tangannya gemetar saat membuka lembaran dokumen tersebut. "K-Kau... berani-beraninya kamu merebut rumah ini dari Papa?!"

Ana menyunggingkan senyum miring yang teramat kejam di sudut bibirnya. "Aku tidak merebut, aku hanya mengambil kembali apa yang memang seharusnya menjadi milik ibuku. Jadi, kuperingatkan pada kalian bertiga..."

Ana menatap Dewi dan Jesika bergantian dengan sorot mata membunuh yang membuat bulu kuduk mereka merinding ketakutan.

"Kemas barang-barang kalian malam ini juga. Karena besok pagi, tim keamanan khusus dari Grup Angkasa dan prajurit Jenderal Arya akan datang ke sini untuk menyeret siapa pun yang masih berani mengotori rumahku."

Tanpa menunggu jawaban atau amukan lebih lanjut, Ana berbalik dan melangkah lebar menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan ruang tamu yang kini dipenuhi oleh jeritan histeris Dewi dan keputusasaan mutlak dari Bimo Pramudia yang menyadari bahwa panggung kekuasaannya telah runtuh total.

1
SRIANA
bagus ceritanya, semangat KK.
Syifaa
👍
Syifaa
🙏
Syifaa
👍
imran
Lanjut lagi
yuyusss: 🙏🙏😍😍😍😍
total 1 replies
imran
Makin penasaran
imran
Gregetnya
yuyusss: 😍baguss banget lanjut
total 1 replies
Syifaa
Jangan lupa like
Syifaa
Jangan lupa komen
yuyusss
greget
yuyusss
😍
yuyusss
uhuyy
yuyusss
lanjuttt
Syifaa
Makin seru nggak
imran
Lanjut kak
imran
Baguss banget
Syifaa
Lanjut nggak
Putri Sajak
kak yuk like punya kuh🤭
imran
Bagus
imran
Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!