Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — Danang di Regol (Revisi)
“Aku nggak minta bantuan, Ras. Aku cuma minta waktu.”
Danang berdiri di luar regol, tepat di garis ubin yang memisahkan jalan dari halaman dalem. Sepatunya tidak melewati garis itu. Jumat sore, langit Yogya kuning pucat, dan daun sawo kecik di sisi gerbang bergerak-gerak ditiup angin yang membawa bau tanah kering.
Raras berdiri di dalam, satu tangan memegang daun pintu regol. Mbok Jinem baru saja berbisik di dapur, dan sejak itu jempolnya menekan ruas jari telunjuk sampai kuku memutih.
“Waktu untuk apa, Mas?”
“Sepuluh menit. Kalau kamu bilang pergi, aku pergi.”
“Sepuluh menit cukup untuk apa, Mas?”
“Untuk bilang apa yang belum pernah kubilang. Setelah itu terserah kamu.”
“Kamu naik bus dari Semarang?”
“Kereta. Bus kemarin cukup.” Ia tersenyum tipis, tidak sampai ke mata. “Kamu bilang pintunya tidak dikunci. Aku ke sini untuk membuktikan aku nggak akan masuk sendiri.”
Raras melihat kemejanya yang kusut di bagian siku, tas ransel di punggungnya, dan jam tangan yang tidak lagi ada di pergelangan kirinya. Tenggorokannya mengencang. Ia membuka daun pintu satu lagi.
“Masuklah, Mas. Sampai bangku batu di bawah pohon itu saja.”
“Aku boleh?”
“Aku yang mengizinkan.”
Mereka duduk berjauhan, bangku batu di antara mereka cukup untuk dua orang lagi. Mbok Jinem datang membawa teh manis dalam dua gelas, meletakkannya tanpa suara, lalu pergi dengan langkah yang sengaja dilambatkan.
“Mbok Jinem masih ingat gulaku dua sendok,” kata Danang.
“Beliau ingat semua orang yang pernah duduk di sini.”
Danang memegang gelas dengan dua tangan, tetapi tidak meminumnya. Uap teh naik dan menyentuh dagunya.
“Aku mau minta maaf, Ras.”
“Silakan.”
“Bukan karena Bapak. Bukan karena kontrak.” Suaranya serak. “Senin malam itu, surat itu sudah kutulis tiga hari sebelumnya. Aku duduk di mobil, menulis, lalu menyimpannya di jok. Aku tahu persis apa yang kulakukan.”
“Aku tahu, Mas.”
“Aku pikir kamu akan mengerti. Aku pikir kamu selalu mengerti.” Danang tertawa getir. “Itu yang paling memalukan. Aku menjadikan kebaikanmu sebagai alasan.”
Raras meremas ujung kain di pangkuannya. Matanya panas, dan ia menunggu sampai panas itu surut sebelum bicara.
“Kenapa waktu itu, Mas? Aku nggak minta kamu membela diri. Aku cuma ingin dengar sekali, tanpa Bapak.”
“Karena aku capek jadi anaknya Pak Surya.” Danang menunduk. “Setiap kali orang menyapaku, mereka menyapa nama Bapak. Setiap kali kamu menang, aku ikut diingat sebagai suami Raden Roro. Aku mau jadi orang yang berdiri sendiri, dan aku salah memilih jalannya.”
“Salah memilih, atau salah menghitung?”
“Dua-duanya.” Ia mengangkat wajah. “Aku sadar waktu menulisnya, Ras. Itu yang tidak bisa kubantah.”
“Aku dengar, Mas. Dan aku perlu mendengarnya sendiri, dari mulutmu, bukan dari cerita orang lain.”
Hening. Seekor burung gereja mendarat di tepi pendapa dan terbang lagi.
“Ngapunten, Ras (Maaf, Ras),” kata Danang akhirnya. “Aku belum selesai.”
“Teruskan, Mas. Aku di sini.”
“Pak Hartono kasih waktu sampai Selasa depan. Lima puluh karung bercap. Aku tahu aku tidak bisa minta cap itu.”
“Memang tidak bisa.”
“Syaratnya?”
“Sama untuk semua orang, Mas. Tunai, jaminan bank, atau antre di barisan biasa.”
“Aku antre.” Danang mengangguk cepat. “Aku nggak minta didahulukan.”
“Pak Hadi akan mencatat namamu di baris paling bawah. Dan menawarimu teh.”
“Teh manis?”
“Dua sendok.”
Danang tertawa, lalu tawanya patah di tengah. Ia mengusap muka dengan telapak tangan, kasar. Raras memalingkan wajah ke daun sawo kecik, memberinya waktu.
Danang membuka ranselnya, mengeluarkan amplop cokelat tipis.
“Cicilan berikutnya. Aku nggak minta kamu menganggapnya apa-apa.”
“Kuhitung dulu.”
“Hitunglah.”
Raras menghitung lembar demi lembar di pangkuannya, jarinya tidak gemetar karena ia sengaja menahannya. Setelah selesai, ia berdiri, masuk ke pendapa, dan kembali membawa buku tanda terima dengan pulpen.
“Tanda tangani di sini, Mas. Aku yang menulis jumlahnya.”
“Kamu tetap menulis tanda terima.”
“Supaya kita sama-sama tenang kalau nanti ada yang bertanya.”
Danang menandatangani. Tulisan tangannya miring ke kanan, masih sama. Raras merobek lembarnya dan menyimpannya di buku.
“Ras.” Danang meletakkan pulpen. “Aku mau minta satu lagi, dan aku tahu ini tidak pantas.”
“Katakan.”
“Jangan teruskan sidangnya.”
Raras diam. Daun sawo kecik jatuh ke bangku di antara mereka, dan ia membiarkannya di situ.
“Aku sudah bicara dengan Bapak semalam. Aku bilang aku akan mencabut gugatan itu kalau aku bisa. Tapi kamu yang punya hak. Beri aku satu kesempatan, Ras. Bukan untuk kembali. Cuma untuk membuktikan aku bisa jadi orang yang lebih baik dari yang kamu kenal.”
“Mas.”
“Aku bisa menunggu setahun. Dua tahun. Aku nggak akan menuntut apa pun.”
“Mas Danang.” Mbok Jinem muncul di pintu pendapa, tangannya memegang serbet. “Mpun, Mas. Sampun cekap (Sudah, Mas. Sudah cukup). Mbak Raras mboten saget njawab menawi dipeksa (Mbak Raras tidak bisa menjawab kalau dipaksa).”
“Mboten nopo-nopo, Mbok (Tidak apa-apa, Mbok),” kata Raras. “Biar Mas Danang bicara sampai habis.”
Mbok Jinem mengangguk dan menghilang lagi. Raras mendengar langkahnya berhenti tepat di balik pintu, dan ia hampir tersenyum.
“Mas, dengarkan aku.” Raras duduk lebih tegak. Suaranya rendah, tetapi tiap katanya jatuh jelas. “Sidang itu bukan pembalasanku. Senin malam itu Mas yang minta cerai. Aku hanya tidak menjawab dengan diam lagi.”
“Aku menyesal.”
“Aku percaya itu, dan aku sedang belajar memaafkannya. Tapi memaafkan tidak sama dengan kembali.”
“Kenapa?”
“Karena yang Mas sesali sekarang adalah akibatnya. Aku ingin yang Mas sesali adalah aku.”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara lebih lembut. “Itu butuh waktu yang tidak bisa kuberikan sambil jadi istrimu.”
Danang memejamkan mata. Bahunya turun, dan untuk pertama kali sore itu ia tampak lelah, bukan gelisah.
“Apa itu hukuman?”
“Bukan. Hukuman itu kalau aku senang melihatmu begini.” Raras menggeleng. “Aku tidak senang, Mas. Aku hanya tidak mau berbohong supaya kamu nyaman.”
“Kamu masih peduli.”
“Peduli, iya. Menolong tanpa batas, tidak.”
Raras berdiri, masuk ke pendapa, dan keluar lagi membawa dus kardus cokelat tanpa label. Ia meletakkannya di bangku, tepat di depan Danang. Sudut dus itu berdebu tipis, dan di tutupnya masih ada bekas lakban lama.
“Apa ini?”
“Yang kusimpan sejak kamu menutup pintu gudang. Aku menunggu waktu yang tenang, dan sore ini cukup tenang.” Raras mundur satu langkah. “Bukalah di sini, Mas. Jangan di bus.”
Danang mengangkat tutupnya. Di atas tumpukan, ada buku hitam bergaris dan lembar-lembar nota yang tertulis tangan. Ia membaca baris pertama di salah satu nota, dan bibirnya terbuka tanpa suara.
“Atas dhawuh Mbak Raras,” bacanya lirih.
“Itu tulisan Pak Wiryo, Pak Sastro, dan Bu Warsih. Mereka mencatat setiap kali mereka menolong Mas, selalu menyebut nama itu.” Raras memegang sandaran bangku, jemarinya dingin. “Mas tidak pernah membaca dari mana kebaikan itu datang. Mas hanya menerimanya.”
Danang membalik halaman. Tangannya gemetar sampai kertas itu bergesek di jarinya. Ia berhenti pada satu halaman, lalu menutup bukunya sangat hati-hati, seolah takut sesuatu di dalamnya retak.
“Aku nggak tahu,” bisiknya. “Kamu simpan ini lama, dan kamu nggak pernah bilang?”
“Aku menunggu Mas bisa membacanya tanpa marah.”
“Aku marah sama diriku sendiri sekarang.”
“Itu lebih baik dari marah padaku, Mas.”
“Kamu tidak marah?”
“Marah, sedikit. Tapi aku lebih lelah daripada marah.”
“Aku tahu Mas tidak tahu.”
“Kalau aku tahu...”
“Kalau Mas tahu, Mas akan menjadi orang yang lain, dan sore ini kita tidak akan duduk di sini.” Raras tersenyum, matanya berkaca-kaca tetapi tidak ada yang jatuh. “Bawa saja, Mas. Baca sampai habis.”
“Tehnya, Mas,” kata Raras. “Mbok Jinem pasti sedih kalau gelasnya masih penuh.”
“Iya, Ras.”
Danang meminumnya sampai habis. Manisnya pas, dua sendok seperti biasa. Ia menutup dus, memeluknya di dada, lalu berdiri. Ia memandang regol yang terbuka lebar, lalu Raras.
“Aku akan datang ke sidang,” katanya. “Tanpa pengacara. Aku nggak mau ada orang bicara untukku lagi.”
“Eyang ada, Ras?” tanya Danang sebelum mengangkat dus. “Aku nggak lihat beliau.”
“Eyang di pendapa belakang. Beliau tahu Mas datang, dan memilih tidak keluar.”
“Itu juga jawaban, ya?”
“Iya, Mas. Beliau pernah bilang, orang yang mau minta maaf harus berjalan ke pintunya sendiri. Sekarang beliau sedang menunggu kamu mengucapkan hal yang tidak perlu disuruh.”
“Aku sudah mengucapkannya?”
“Sebagian. Sisanya Mas bawa pulang.”
Raras mengangguk. Ia mengantarnya sampai garis ubin, tempat Danang berhenti tanpa diminta. Danang mengeratkan pelukannya pada dus itu, lalu menatap Raras sejenak. Tidak ada lagi yang ia minta.
“Sampai ketemu di sidang, Mas.”
lanjuut
🙏💪