NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pulang Menembus Malam dan Kata yang Tak Tersampaikan

Angin malam Sidoarjo berhembus pelan, membelai lembut rambut Vanesha yang masih bersandar di dada bidang Dika. Suasana di sekitar mereka kini jauh lebih tenang — keramaian alun-alun perlahan mulai menyusut, menyisakan cahaya lampu lampion yang berpendar lembut di permukaan tanah yang mulai sepi.

Dika membiarkan keheningan itu berlangsung sejenak, kedua tangannya terangkat perlahan lalu melingkar pelan di punggung wanita yang paling ia hargai di dunia ini. Tidak ada kata-kata manis yang meluncur saat itu, hanya detak jantung mereka yang saling menyapa dalam irama yang serasi.

"Sudah agak dingin, Vanesha," ucap Dika lembut, menepuk punggungnya pelan seolah takut mengejutkan. "Mending kita pulang. Nanti kamu masuk angin, saya yang kena tegur sama dewan direksi."

Vanesha mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata Dika yang tampak berbinar di bawah cahaya temaram. Senyum tipis yang tak pernah pudar itu kembali terukir di bibirnya.

"Kamu ini... kalau bercanda pas momen haru, nggak takut dosa?" tanya Vanesha pelan, namun suaranya terdengar hangat dan sayu. "Iya, ayo pulang. Besok pagi masih ada rapat evaluasi cabang."

Mereka berjalan berdampingan menuju tempat parkir mobil, langkah kaki keduanya terasa berat beranjak seolah ada benang tak kasat mata yang menarik mereka untuk tetap berdiri di sana. Sesampainya di depan mobil, Dika membukakan pintu penumpang depan dengan gerakan yang tetap sama — sopan, tulus, dan penuh perhatian.

"Silakan, Vanesha," ucap Dika lembut.

"Terima kasih, Dika," jawab Vanesha pelan sebelum masuk ke dalam kabin yang hangat.

Perjalanan pulang menuju Surabaya berlangsung dalam keheningan yang nyaman. Hanya suara mesin mobil yang halus dan irama musik pelan dari radio yang mengisi kekosongan udara. Dika menyetir dengan tenang, matanya sesekali melirik ke arah Vanesha yang duduk di sebelahnya — menatap keluar jendela melihat deretan lampu jalan yang melesat bergantian.

"Dika..." panggil Vanesha tiba-tiba pelan, tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca jendela.

"Iya?" jawab Dika sigap, matanya tetap fokus ke depan.

"Orang tuamu... mereka baik sekali," ucap Vanesha lirih, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Saya nggak menyangka bisa diterima begitu terbuka. Padahal saya cuma atasanmu, orang yang jauh lebih tinggi kedudukannya dari keluargamu."

Dika tersenyum tipis, memutar setir pelan mengikuti lekukan jalan tol yang sepi. "Itu memang sifat asli mereka, Vanesha. Emak dan Bapak tidak pernah melihat orang dari jabatan atau harta. Mereka cuma melihat dari hati," jawab Dika tenang. "Lagipula... mereka juga sudah tahu kalau kamu bukan sekadar atasan buat saya."

Vanesha terdiam mendengar kalimat itu, pipinya kembali merona samar mesol malam telah menyembunyikannya sebagian. "Maksudmu?" tanyanya pelan, seolah takut mendengar jawabannya.

Dika menghela napas panjang, lalu menoleh sekilas menatap wanita di sampingnya dengan tatapan yang begitu dalam. "Maksud saya... mereka tahu kalau kamu adalah orang yang membuat saya pulang dengan senyum tiap hari. Itu saja," jawab Dika lembut, menahan kata-kata yang sebenarnya ingin ia ucapkan.

Sisa perjalanan berlanjut tanpa banyak percakapan lagi, namun kehangatan tetap terasa menyelimuti kabin mobil itu. Sesampainya di depan gerbang apartemen tempat Vanesha tinggal, Dika mematikan mesin dan turun lebih dulu untuk membukakan pintu.

Vanesha melangkah keluar, berdiri tepat di hadapan Dika di bawah cahaya lampu taman yang remang. Wajahnya tampak begitu tenang, namun ada kerinduan yang tak tersampaikan di matanya.

"Terima kasih sudah mengantar saya, Dika," ucap Vanesha pelan, tangannya terulur menyentuh lengan pria itu sebentar sebelum ditarik kembali. "Hati-hati di jalan pulang ke penginapan."

"Siap, Vanesha," jawab Dika, menahan keinginan untuk meraih tangan itu kembali. "Istirahat yang cukup ya. Jangan begadang cuma buat baca laporan sampai pagi."

Vanesha tersenyum manis, lalu perlahan berbalik melangkah masuk ke dalam gedung apartemen itu. Dika berdiri diam di tempatnya, menatap punggung wanita yang kian menjauh hingga pintu kaca itu tertutup rapat kembali. Hening. Sepi. Hanya dirinya sendiri dan langit malam yang mengawasi dari jauh.

Dika menghela napas panjang, menepuk dadanya pelan seolah menenangkan sesuatu yang bergejolak di sana. "Besok... besok mungkin saya akan berani mengatakannya," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, lalu berbalik kembali menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang yang sepi.

Namun di lantai atas, tepat di balik tirai jendela kamar, Vanesha berdiri diam menatap sosok Dika yang masuk ke dalam mobil dan melaju perlahan menghilang di tikungan jalan. Tangannya menempel di kaca dingin itu, bibirnya bergerak pelan membisikkan satu nama yang tak sempat ia ucapkan saat masih berhadapan dengannya.

"Selamat malam... Dika," bisiknya lirih, lalu membiarkan senyum tipis melebar di wajahnya. "Tunggu saya siap, ya."

Malam itu, dua hati yang saling menemukan berpisah jarak namun tak terpisahkan rasa. Ada janji yang belum terucap, ada pengakuan yang tertahan di ujung lidah — namun keduanya tahu, waktu itu akan tiba. Saat itu tiba, tak ada lagi gelagat atau keraguan yang akan menyelimuti mereka.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!