Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bergabungnya Ely
Keesokan paginya, Trio Gubuk dibangunkan oleh aroma lezat dari ikan bakar. Cheeta dan Rheno terbangun duluan. Mereka berdua tersentak kaget melihat Ely tengah sibuk membakar ikan hasil tangkapannya sendiri.
“Pagi!” sapa Cheeta.
Seperti biasa, Rheno hanya diam seribu bahasa.
“Bersyukurlah kalian. Seorang bangsawan rela menyiapkan makanan untuk kalian. Sebentar lagi matang,” ucap Ely, berusaha keras menahan gengsinya.
“Siap, Yang Mulia!” sahut Cheeta pasrah. Sebenarnya, ia belum terbiasa dengan situasi canggung seperti ini.
Bergabungnya Ely ke dalam tim menjadi tantangan tersendiri bagi perjalanan mereka. Pasalnya, mereka bertiga adalah gelandangan, sementara Ely adalah seorang bangsawan. Proses adaptasi jelas tidak akan mudah. Ditambah lagi, karakter mereka bertiga—kecuali Leo—paling antipati dan tidak betah bersikap sok elegan.
“Terima kasih ... ,” ucap Ely dengan suara pelan, namun terdengar sangat jelas.
Sontak, ucapan itu membuat Cheeta dan Rheno terdiam sejenak. Bagi seorang Elf yang sejak awal merasa superior dari ras lain, mengucapkan kalimat seperti itu adalah hal yang sangat sulit.
Karena tidak langsung mendapat jawaban, Ely mulai panik. Ia merasa ucapannya terdengar aneh di telinga mereka.
“Wajar, kan! Aku berterima kasih! Sebagai bangsawan, aku memang harus tahu cara berterima kasih! Bersyukurlah karena aku diajarkan tata krama seperti itu!” seru Ely, berusaha meralat ucapannya dengan cepat.
“Pokoknya, terima kasih karena telah mengizinkan aku bergabung dan menyuguhkan hidangan semalam yang enak!” lanjut Ely dengan nada suara yang sengaja meninggi.
Cheeta dan Rheno menatap tajam ke arah Ely. Di dalam benak masing-masing, mereka kompak membatin: Cara bicaranya yang tidak berterus terang ini mirip sekali dengan Altur. Hanya saja, Elf ini jauh lebih parah.
Namun, mengingat mereka bisa beradaptasi dengan cepat saat bersama Altur, menghadapi Ely mungkin tidak akan sesulit yang dibayangkan. Cheeta dan Rheno pun membalas ucapan terima kasih Ely dengan senyuman hangat, lalu melangkah mendekat untuk bergabung di dekat api unggun.
“Huaaa ... !”
Leo mendadak terbangun sambil menguap lebar. Suara panik Ely barusan sukses mengusik tidurnya.
“Pagi Cheeta, Rheno. Huaaa ... ,” Leo menguap untuk kedua kalinya. “Pagi, Ely!”
“Pagi, Leo,” jawab Ely ramah.
Mendengar itu, Cheeta dan Rheno langsung terdiam. Keduanya kompak menyipitkan mata, memandang Ely dengan penuh kecurigaan. Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Elf yang kemarin bersikeras ingin dipanggil dengan nama sepanjang kode binter itu, sekarang tiba-tiba melunak begitu saja.
Melihat tatapan menyelidik dari kedua orang itu, Ely mulai merasa salah tingkah. Beruntung, sifat serakah Leo langsung datang mencairkan suasana.
“Wah! Sarapan!” seru Leo sigap. Ia langsung bergerak maju dan hendak menyambar satu tusuk ikan.
Plak!
“Belum matang, dasar bodoh!” semprot Cheeta dengan nada gusar. Ia kesal karena Leo tiba-tiba bikin kaget, lalu langsung membuat kerusuhan.
Leo terpaksa menancapkan kembali ikan yang diambilnya tadi. Ia mundur dengan wajah kecewa dan air liur yang mulai menetes di sudut bibir.
Melihat tatapan penuh damba dari Leo ke arah ikan bakar, Ely refleks tersenyum. Ia kini mengerti alasan mengapa Cheeta dan Rheno memberikan nama "Leo" padanya. Nama itu disematkan pastinya bukan karena ia gagah atau kuat, melainkan karena ia terlihat persis seperti seekor kucing yang kelaparan.
Merasa diperhatikan, Leo menoleh ke arah Ely.
“Kamu makin cantik kalau tersenyum,” ucap Leo begitu saja, polos mengeluarkan isi hatinya sebelum kembali memandangi ikan bakar.
Blush! Wajah Ely langsung memerah padam mendengarnya. Entah mengapa, pertahanannya selalu runtuh menghadapi pujian spontan dari Leo.
Di sisi lain, Cheeta dan Rheno kembali menyipitkan mata mereka dalam-dalam. Kecurigaan mereka kini naik ke tingkat maksimal. Sebuah kalimat yang sama kembali terlintas di dalam hati mereka: Sepertinya, si Elf sudah kenyang duluan tanpa perlu makan ikan.
Setelah sarapan pagi, mereka segera melanjutkan perjalanan untuk mencari pemukiman atau peradaban terdekat.
Mereka sudah berjalan kaki selama berjam-jam. Suasana penuh drama tadi pagi kini telah berubah drastis. Cheeta, Leo, dan Rheno sekarang sudah terbiasa memanggil sang Elf dengan sebutan Ely.
Ely pun mulai terbiasa dan menyatu dengan mereka. Kini, tim mereka setidaknya memiliki kombinasi orang-orang rasional yang beranggotakan Cheeta dan Ely.
“Hei, Tuan Pro! Apakah kamu sudah siap untuk menyerah dengan instingmu itu?” sindir Cheeta sambil melirik tajam. “Cepat akui saja kalau kita ini sebenarnya tersesat!” lanjut Cheeta ketus.
“Menyedihkan! Oh, sangat menyedihkan! Benar-benar singa Madagaskar!” gerutu Ely ikut menimpali. “Apa-apaan itu tadi! Kita masa berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh memutar botol? Dasar pemimpin gadungan!” berondong Ely kesal.
“Kecantikanmu luntur, Ely. Walaupun kamu masih tetap cantik, tapi kenapa, sih?” sahut Leo tiba-tiba. “Kenapa kamu sekarang jadi akrab sekali dengan Cheeta?” ucap Leo dengan nada kecewa bercampur cemburu.
“Mungkin karena kami sama-sama perempuan, dan sama-sama orang paling waras di tempat ini!” sahut Cheeta bangga. “Benar begitu, kan, Ely?” tanya Cheeta kemudian.
Cheeta menoleh ke arah Ely. Namun, respons dari sang Elf mendadak membuat Cheeta sedikit khawatir. Ely hanya menjawab dengan suara yang teramat pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Hei, Ely! Kamu baik-baik saja?” tanya Cheeta, nadanya terdengar sangat khawatir.
“Aku baik-baik saja! Iya, benar, aku sama sekali tidak apa-apa!” sahut Ely dengan nada yang terdengar panik dan gugup.
Merasakan suasananya menjadi canggung, Ely buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Woy, Tuan Pro! Karena semua ini adalah salahmu, maka makan siang hari ini menjadi tanggung jawabmu!” ucap Ely ketus, berusaha sok lugas demi menjaga harga dirinya yang setinggi langit.
“Hah ... ,” keluh Leo lemas.
“Ide yang bagus!” dukung Cheeta penuh semangat. “Bagaimana, Tuan Pro?” lanjutnya menantang.
“Baik, baik!” sahut Leo terpaksa. “Kalian berdua istirahat saja dulu di sini. Aku akan pergi menangkap sesuatu untuk dimakan. Ayo, Rheno!” seru Leo sembari memberi kode kepada Rheno yang selalu setia mengikutinya dari belakang.
Di dalam hati, Cheeta merasa sangat senang dengan kehadiran Ely di dalam tim ini. Berkat adanya sang Elf, dominasi orang waras akhirnya bisa seimbang untuk meredam kekonyolan duo Leo dan Rheno selama ini.
Namun, tentu saja, Leo tetaplah Leo. Saat proses berburu dimulai, Leo hanya berdiri diam sambil mengawasi dengan gaya sok keren, sementara Rheno-lah yang sibuk bergerak ke sana kemari untuk menangkap hewan buruan mereka.
Satu jam kemudian, Leo dan Rheno kembali dengan kondisi tubuh yang tampak berantakan, terutama Leo. Di tangan mereka, terlihat beberapa ekor kelinci dan ikan hasil buruan. Leo pun langsung duduk terkapar untuk beristirahat dengan raut wajah yang sangat jengkel.
Tugas kini berpindah tangan kepada sang koki, Cheeta. Ia mulai memasak dibantu oleh Ely, serta Rheno yang bertugas menyalakan api unggun.
Cheeta yang merasa penasaran dengan gelagat aneh Leo akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Rheno.
“Hei, Rheno! Sebenarnya apa yang gagal didapatkan oleh Leo?” tanya Cheeta. Ia sudah sangat hafal jika Leo cemberut seperti itu, artinya ada sesuatu yang sangat diinginkannya namun gagal diraih.
Rheno pun akhirnya angkat bicara. “Waktu berburu tadi, dia bersikeras ingin menangkap seekor buaya. Namun, buaya itu menyadari keberadaan kami dan langsung masuk menceburkan diri ke dalam air,” jawab Rheno datar.
“Lalu, di mana letak masalahnya?” ucap Cheeta semakin bingung. Menangkap kelinci dan ikan saja harusnya sudah lebih dari cukup.
“Dia bilang, dia ingin menjahili kalian berdua. Katanya, perempuan itu biasanya paling takut sama buaya darat,” jelas Rheno tanpa ekspresi. “Dia frustrasi karena buaya itu malah masuk ke dalam air.”
“Kenapa?” tanya Cheeta yang keningnya kian berkerut karena semakin bingung dengan jalan pikiran ketuanya.
“Kata Leo, kalau buayanya sudah masuk ke dalam air, namanya bukan buaya darat lagi,” jawab Rheno polos.
Ely yang sejak tadi diam-diam mendengarkan percakapan mereka, tiba-tiba saja tidak bisa menahan diri lagi.
“Huahahaha ... ! Haha ... !”
Ely tertawa terbahak-bahak dengan sangat lepas. Ia tertawa begitu lama dan bebas setelah mendengar alasan konyol bin ajaib dari Leo.
Suara tawa lepas dari sang Elf seketika membuat Leo, Cheeta, dan Rheno tertegun. Mereka bertiga perlahan tersenyum lega. Menyaksikan tawa itu seolah-olah membuat seluruh masalah dan beban berat hidup mereka menguap hilang seketika.
Suasana tersesat di hutan itu membaik dengan sangat cepat. Dan kini, Ely benar-benar telah menyatu seutuhnya dengan mereka.
Bersambung