NovelToon NovelToon
Terbangun Jadi Istri Pei

Terbangun Jadi Istri Pei

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.

Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.

Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.

Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebelas—Sebait Puisi Cinta

Pria itu duduk menyandarkan punggungnya dengan senyum penuh kecongkakan yang terukir jelas di wajahnya, sementara Yueli tetap tenang, mempertahankan ekspresi tanpa cela di hadapan sang ayah dan adiknya.

"Yang Mulia, apakah saya boleh meminta Anda menuliskan sebuah contoh kalimat pendek?" tanya Yueli dengan suara lembut namun tegas.

Shue Hao mengernyit bingung, alisnya bertaut. "Untuk apa? Aku tidak pernah menyalin apa pun."

"Bagaimana jika Anda menuliskannya sekarang di hadapan kami?" balas Yueli menatap lurus. "Saya masih merasa ragu. Bagaimana jika gulungan surat cinta ini sebenarnya bukan tulisan Anda, melainkan upaya seseorang untuk memfitnah dan menjatuhkan nama baik saya?"

Perkataan tajam itu seketika meruntuhkan topeng tenang sang pangeran mahkota. Kemarahan membakar tatapan Shue Hao. Tanpa membuang waktu, ia bergegas memanggil salah seorang pengawalnya, memerintahkan untuk segera membawakan kuas, batu tinta, dan kertas baru.

Wajah sang pangeran terpatri sengit, rahangnya mengeras, dan tatapannya menghunus tajam bak bilah pisau yang siap merobek pertahanan Yueli. Begitu perlengkapan tulis tersaji di atas meja kecil, Shue Hao langsung menyambar kuas dengan kasar, menggoreskannya dengan penuh emosi untuk menuliskan sebait hingga dua bait kalimat demi membuktikan gengsinya di hadapan Jenderal Shen.

Tinta hitam menari di atas kertas putih bersih dengan goresan yang tegas dan terburu-buru, mencerminkan gejolak emosi di dada sang pangeran. Belum sempat Shue Hao merapikan kuasnya, Yueli kembali menyela tanpa memberinya jeda untuk berpikir panjang.

"Yang Mulia, bisakah Anda juga menuliskan kata sabar?" pinta Yueli dengan nada manis yang menyembunyikan siasat tajam.

Awalnya Shue Hao tampak mengernyitkan dahinya, kebingungan dengan permintaan yang terkesan menguji kesabarannya itu. Namun, detik berikutnya, senyum meremehkan kembali terukir di bibirnya. Merasa di atas angin dan ingin segera membungkam wanita di hadapannya, ia mengangguk kecil dan kembali menorehkan kuasnya di atas kertas.

Begitu goresan tinta di atas kertas itu selesai, Yueli menerimanya dengan senyum penuh kemenangan. Ia menatap lekat setiap baris huruf yang baru saja ditorehkan sang pangeran, lalu mengambil selembar kertas kosong di dekatnya. Sembari merapal keyakinan bahwa memori raga ini telah menyatu sempurna dengannya, ia mulai menggerakkan kuas dengan mantap.

Satu kata tertulis, disusul kalimat demi kalimat yang mengalir lancar. Begitu selesai, ia mengangkat kertas itu dan tersenyum puas.

"Yang Mulia, bolehkah saya melihat sekali lagi surat cinta yang Anda tunjukkan malam tadi?" tanya Yueli dengan suara yang tenang namun menusuk.

Suasana di dalam paviliun mendadak berubah semakin hening dan canggung. Jenderal Shen duduk tegak dengan raut wajah kaku tanpa ekspresi, sementara Xuer tampak sangat gelisah di samping sang ayah. Tangannya meremas erat lipatan kain hanfunya, menatap lekat ke arah sang kakak dengan debaran jantung yang tidak tenang. "Kakak..." cicitnya tertahan.

Pertempuran tak kasat mata antara Shue Hao dan Yueli kini mencapai titik didihnya. Merasa tidak ada yang perlu ditakutkan, sang pangeran mahkota melempar gulungan surat lama itu ke hadapan Yueli.

Gadis itu dengan tenang menerimanya, membentangkan gulungan tersebut, lalu meletakkannya berdampingan dengan kertas tulisan tangan Shue Hao yang baru saja dibuat.

"Yang Mulia, silakan lihat sendiri," ujar Yueli lembut, menunjuk titik-titik perbandingan di atas meja. "Garis kuas, tekanan tangan, dan cara menarik ujung huruf-huruf ini... sangat jelas memperlihatkan bahwa surat cinta yang Anda bawa kemarin sama sekali bukan karya tangan Anda."

Mata Shue Hao membelalak kaget. Tanpa bisa menahan diri, ia buru-buru merebut kedua kertas itu dari hadapan Yueli, menunduk dan mengernyit dalam-dalam, mendapati kenyataan pahit bahwa goresan tangan di surat palsu itu memang jauh berbeda dari gaya menulis aslinya yang baru saja ia tumpahkan dalam emosi."Bagaimana bisa?" pria itu menggertak keras, urat-urat di lehernya menonjol, wajahnya memerah padam sementara tangannya meremas kedua surat di atas meja hingga berkerut. "Kau menipuku!"

Yueli tetap duduk dengan anggun, tatapannya dingin namun tenang. "Tulisan yang baru saya buat tadi adalah murni goresan kuas saya sendiri. Mengingat gaya coretan itu cukup mudah dipelajari, saya dengan senang hati bisa menirunya secara persis di hadapan Anda."

"Tidak mungkin!" sang pangeran mahkota membentak kesal, napasnya memburu.

"Kalau begitu, apakah Anda memiliki dokumen atau surat lain yang ditulis langsung oleh tangan Anda sebagai pembanding?" tanya Yueli tajam.

Pertanyaan itu seketika membuat wajah sang pangeran mahkota terdiam kaku. Wibawanya runtuh seketika; wajahnya yang tadinya merah kini memucat pasi, sementara matanya mulai berkeliaran gelisah ke arah para pengawal yang berjaga di ambang pintu.

"Itu... ada di dalam istana," ucap Shue Hao terbata-bata, mencoba mencari perlindungan di balik benteng kekuasaannya.

"Kalau begitu, apakah saya dizinkan untuk melihatnya langsung?"

Sebelum Shue Hao sempat menjawab, Jenderal Shen langsung menengahi dengan nada memperingatkan, "Yueli, jangan kurang ajar! Istana kekaisaran bukanlah tempat yang bisa kau masuki sesuka hatimu!"

Namun, Yueli justru menganggukkan kepalanya patuh pada sang ayah, lalu tersenyum tipis. "Baiklah kalau begitu, jika Yang Mulia tidak bisa menunjukkannya..."

Dengan gerakan perlahan, ia merogoh lipatan hanfunya dan mengeluarkan dua lembar kertas asli yang ia selamatkan dan sembunyikan semalam sebelum api melahap kamarnya.

"Meski kamar saya habis terbakar, untungnya saya sempat mengamankan bukti surat-surat tulisan tangan Yang Mulia yang asli ini." Yueli menunjuk pada salah satu lembar kertas perkamen tersebut.

Shue Hao mengernyit bingung, lalu matanya membelalak ngeri begitu Yueli membentangkan lembar kedua dan meletakkannya berdampingan.

"Ini... ini sungguh tulisan tangan Anda sendiri, bukan?" ucap Yueli dengan nada penuh kemenangan.

Melihat bukti nyata terpampang di hadapannya dan disaksikan langsung oleh sang jenderal, Shue Hao langsung disergap kepanikan luar biasa. Tanpa pikir panjang, ia melompat maju dan merampas surat itu dari meja—lagi.

Wajah sang pangeran kini terpancang kaku, kehilangan seluruh kata-kata untuk membela diri.

Yueli membuka satu surat lainnya—sebuah gulungan puisi karya asli dari sang pemilik raga yang telah ia simpan sebagai senjata pamungkas. Ia menunjuk tepat pada sebuah kata di baris tengah kertas tersebut.

"Ini adalah tulisan lamaku," ujarnya lembut namun menusuk tajam ke dalam kesadaran sang pangeran.

Keheningan yang mencekam turun begitu cepat menyelimuti paviliun utama. Yueli tersenyum begitu manis di hadapan Shue Hao yang kini terdiam kaku, jari-jarinya mencengkeram erat surat-surat itu hingga lecek. Di sisi seberang, Shen Xuer tampak menahan napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya bibirnya terukir senyum puas melihat sang pangeran terjebak dalam perangkap kakaknya sendiri. Sementara itu, sang ayah masih duduk dengan tenangnya, mengamati setiap gerak-gerik penuh wibawa dari putrinya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki bergegas memecah kesepian di luar ruangan. Bai Ting datang terengah-engah, menerobos masuk ke ambang pintu paviliun.

"Nona..." seru pelayan itu dengan napas tersengal-sengal.

Bai Ting segera merapat ke sisi Yueli, membisikkan sebuah kalimat pendek dengan suara yang hanya bisa didengar oleh sang nona.

Mata Yueli berbinar tajam, lalu ia mengulang kalimat itu dengan suara yang sengaja ia tinggikan agar memenuhi seluruh ruangan. "Saksi kebakaran telah tertangkap?" tanyanya.

Ia melirik perlahan ke arah wajah sang pangeran mahkota yang seketika tampak semakin kebingungan, alisnya menyatu sempurna menahan kepanikan yang kian tak terkendali.

...----------------...

1
Biyan Narendra
jangan jangan ada kaitannya dgn Xuer..
udah susah makin susah ini mah
Quinza Azalea
terimakasih othor💪
Biyan Narendra
Karma yg tak salah tempat
Ana Dww: Karena bawa alamat asli kak
total 1 replies
Biyan Narendra
Ketika takdir berpihak dengan benar
Ana Dww: 👻 takdir selalu menemukan jalan pulang
total 1 replies
Quinza Azalea
next
Ana Dww: Cuss update kak, sabar lagi direview❣️
total 1 replies
Quinza Azalea
bagus
Quinza Azalea
di tunggu upnya thor💪
Ana Dww: Hai kak ❣️ Harap bersabar malam ini aku up yaa
total 1 replies
Biyan Narendra
Xuer kurang cerdas
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Ana Dww: Orang tamak memang harus dihajar
total 1 replies
Biyan Narendra
Insting tajam seorang Yueli
Ana Dww: harus donggg,
total 1 replies
Biyan Narendra
cinta yg tumbuh karena saling memanfaatkan
Ana Dww: Kita butuh simbiosis mutualisme
total 1 replies
Biyan Narendra
Xuer..
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
Ana Dww: dia mau jadi.......
total 1 replies
Biyan Narendra
Bikin kontrak perjanjian pernikahan segala
🤭🤭🤭🤭
Ana Dww: Biar gak rugi" amat nikah sama orang dengan masa depan 10 selir 🤣🤣🤣
total 1 replies
Biyan Narendra
Udah kayak artis kita ga sih
🤣🤣
Ana Dww: Siapa oiii
total 1 replies
Biyan Narendra
Banyak pertunjukkan drama dari dua wanita saingan Yueli
Ana Dww: Cusss kak, baca selanjutnyaaaa😂 Meski perjalanan kapal ini seperti belum lepas landas. Semoga kalian yang bacakuat buat slowburnnya yaaa...
total 1 replies
Biyan Narendra
bonus vote
Ana Dww: ❣️ Terimakasih banyak atas dukungannya
total 1 replies
Biyan Narendra
Author mau lgi
🤭🤭🤭
Ana Dww: Sabar kakkkk👻👻👻 Ntar aku update pantengin yaaa
total 1 replies
Biyan Narendra
next thor
seruuu
Ana Dww: Siappp kakkk
total 1 replies
Biyan Narendra
next thor
Ana Dww: Hai kak, selamat mampir lagi ke cerita baruku❣️Siappp gass
total 1 replies
Pa Muhsid
uget uget dan ulat burik mulai menampakan wujud nyata untuk berubah jadi siluman rubah
Ana Dww: 🤣Betul Juga
total 3 replies
Arix Zhufa
wanita cerdas...persetan dengan cinta yg penting duit😄
Ana Dww: Pokoknya duiiitttt
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!