NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Kembali ke Kandang Macan

Hawa dingin dari AC sentral PT Arunika Jaya langsung menusuk kulit Fajar begitu ia mendorong pintu putar kaca itu. Marmer putih di lobi Sudirman CBD ini masih sama megahnya, pantulan lampu kristalnya masih sama menyilaukannya, tapi astaga... udara di sini terasa mencekik. Sebulan menghirup debu jalanan Kaltim rasanya jauh lebih melegakan daripada aura horor yang menguar dari setiap sudut ruangan ini.

Fajar menghela napas panjang, membenarkan kerah jas navy-nya. Nggak ada lagi jas biru kebesaran ala anak magang atau dasi yang diikat miring. Setelannya kini pas di badan, kemeja putihnya dibiarkan terbuka dua kancing di bagian atas, santai namun mematikan. Sepatu pantofelnya berderap mantap.

Ia bisa merasakan ujung mata beberapa karyawan mencuri pandang ke arahnya. Iya, ini gue. Fajar si anak bawang yang dulu sering kalian gosipin, batinnya menyeringai tipis, menikmati rasa percaya diri yang kini mengakar kuat di dadanya.

"Buset... ini mata gue yang siwer atau emang ada oppa Korea nyasar kemari?"

Fajar menoleh. Bayu berdiri mematung di dekat mesin absensi. Mulut sohibnya itu mangap setengah, nyaris numpahin es kopi susu di tangannya saking syoknya.

Fajar tertawa pelan. "Biasa aja kali matanya, Bay. Tuh iler awas netes, kasihan OB ngepelnya."

Bayu langsung tersadar dan meninju bahu Fajar, matanya melotot heboh. "Gila lu, Jar! Sebulan di pedalaman bukannya buluk malah glowing begini! Gosipnya lu tembus target 400 persen, ya?! Anak-anak lantai tiga pada heboh kegirangan, woi!"

"Rezeki anak soleh, Bro," kekeh Fajar santai. Namun, senyumnya perlahan pudar saat ia mengedarkan pandangan. Karyawan lewat dengan langkah terseret, wajah ditekuk kuyu, dan kantung mata sehitam aspal. "Eh, tapi ini kantor kenapa auranya kayak rumah duka? Pada tegang amat mukanya."

Raut ceria Bayu seketika lenyap. Ia menarik lengan Fajar sedikit menjauh dari keramaian.

"Kacau, Jar," bisik Bayu ngeri, merinding sendiri. "Sejak lu pergi, pusat makin sinting. Pak Dirut lagi mode tyrant gila-gilaan. Anak R&D sampai nginep bawa sleeping bag di kolong meja gara-gara dikejar deadline rilis chip baru."

Fajar mengerutkan kening. Deadline dadakan? "Bukannya riset produk sekelas itu butuh quality control berbulan-bulan?"

"Nah, itu dia masalahnya!" Bayu makin merendahkan suaranya, melirik kanan-kiri. "Kata anak legal, ada kompetitor yang mau curi start. Pak Dirut panik parah. Dan yang paling kasihan... Bu Kirana, Jar. Beliau yang jadi tameng di depan, nahan amukan dari atas, ngurusin operasional dari bawah. Lu berani nemuin pacar lu sekarang? Hawanya lagi sedingin nitrogen cair."

Rahang Fajar mengeras. Jantungnya berdesir memikirkan Kirana. "Gue justru pulang buat ngelelehin nitrogen cair itu, Bay. Udah ya, gue naik dulu. Nanti siang gue traktir makan di kantin."

Meninggalkan Bayu yang masih cengo, Fajar melangkah menuju lift eksekutif. Kartu akses ditempel, pintu baja terbuka, dan melesatlah ia ke lantai tempat para "Dewa" bertahta.

Lantai direksi. Sunyi senyap. Fajar menelan ludah, mengatur detak jantungnya yang mulai berpacu saat menyusuri karpet tebal menuju meja sekretaris direksi.

Jari-jari Sinta sedang menari brutal di atas keyboard. Kacamata anti-radiasinya melorot sedikit di pangkal hidung. Tiga cangkir kopi kosong berjejer tragis di mejanya.

"Permisi, Mbak Sekretaris paling galak tapi paling efisien se-Jakarta. Ada waktu buat tamu dari udik?" sapa Fajar, bersandar santai di partisi.

Sinta berhenti mengetik. Ia mendongak, matanya sedikit melebar dari balik lensa melihat transformasi drastis Fajar, sebelum kembali ke setelan pabrik—datar. Tapi, ujung bibirnya berkedut menahan senyum.

"Selamat datang kembali di pusat, Mas Kepala Cabang. Laporan kinerjamu sukses bikin satu jajaran direksi kicep pas rapat pleno kemarin," pujinya tulus.

Fajar mengedipkan sebelah mata. "Berkat didikan mantanku di mari, kan?" godanya, merujuk pada kekonyolannya dulu saat masih naksir Sinta.

Sinta memutar bola mata malas, tapi raut wajahnya cepat berubah prihatin. Ia melirik pintu kayu jati raksasa di belakangnya. "Masuklah. Beliau lagi butuh banget 'pengalih perhatian'. Belum makan nasi dari kemarin siang, cuma hidup dari kopi sama rapat maraton."

Dada Fajar terasa diremas. "Makasih, Sin."

Ceklek. Fajar masuk tanpa mengetuk dan—dengan nekat—langsung memutar slot kunci dari dalam. Suara kuncian itu menggema di ruangan yang biasanya rapi, namun kini berantakan parah. Gulungan cetak biru, draf marketing, dan tablet berserakan di atas meja. Di balik tumpukan itu, Kirana duduk membelakangi pintu, memijat keras pelipisnya.

"Sinta, udah kubilang cancel rapat jam sepuluh. Kepalaku rasanya mau pecah," gumam Kirana lemas, suaranya parau.

Fajar tak menjawab. Ia melangkah maju. Mendengar derap langkah sepatu pria, Kirana menghentikan pijatannya dan memutar kursi dengan cepat.

Mata elang Kirana membelalak sempurna. Tubuhnya membeku. Di sana, berdiri sosok pria yang selama tiga minggu ini hanya bisa ia dengar suaranya lewat telepon.

"F-Fajar?" panggil Kirana, suaranya bergetar. Takut sosok tegap di depannya ini cuma halusinasi saking lelahnya.

"Bukan Sinta," Fajar tersenyum hangat, menatap langsung ke kedalaman mata wanita itu. Ia melepaskan jasnya, melemparnya asal ke kursi, dan berjalan mendekat. "Katanya nungguin di Jakarta? Yang ditunggu udah dateng, kok malah melongo gitu, Bu Direktur?"

Detik itu juga, dinding es yang mati-matian Kirana bangun hancur lebur tak bersisa. Persetan dengan wibawa. Persetan dengan gelar direktur. Kirana melompat dari kursinya dan berlari menerjang Fajar.

Fajar sigap menangkapnya, merengkuh tubuh ramping itu ke dalam pelukan yang sangat, sangat erat. Wangi parfum musk bercampur kopi langsung memenuhi indra penciumannya.

Kirana membenamkan wajahnya di dada bidang Fajar, tangannya mencengkeram kemeja pria itu dengan gemetar. Air mata yang sejak kemarin ditahannya lolos begitu saja. Dalam dekapan Fajar, teror ayahnya dan beban proyek sialan itu terasa menguap.

"Aku pulang, Na," bisik Fajar lembut, tangannya mengusap punggung Kirana, lalu mengecup puncak kepala wanita itu. "Kerja bagus. Kamu hebat... udah bertahan sejauh ini sendirian."

Kirana terisak pelan. "Jangan pergi jauh-jauh lagi... Di sini gila, Fajar. Semuanya salah."

Fajar melonggarkan pelukannya, menangkup kedua pipi Kirana. Lingkaran hitam di matanya dan wajah pucatnya bikin hati Fajar mencelos.

"Aku nggak ke mana-mana lagi. Tapi sebelum kita bahas kantor yang bikin pusing ini, hukuman pertamamu adalah makan siang. Sekarang. Sinta bilang kamu mogok makan. Kamu ini direktur atau anak TK ngambek, hm?" tegur Fajar lembut, ibu jarinya mengusap air mata di pipi Kirana.

Kirana mencebikkan bibirnya, sisi manjanya terekspos. "Aku gak nafsu makan..."

"Gak ada penolakan. Aku udah pesen—"

Tiiiit! Tiiiit!

Suara interkom memecah momen mereka layaknya alarm kebakaran. Kirana tersentak kaget. Jantungnya berdegup brutal. Ia buru-buru melepaskan diri dari Fajar, merapikan rambutnya dengan panik, lalu menekan tombol.

"Iya, Sinta? Ada apa?" Suaranya dipaksa kembali dingin. Refleks pertahanan diri menyala.

Suara Sinta terdengar tegang di seberang sana. "Maaf mengganggu, Bu Kirana. Saya baru saja dapat instruksi langsung dari lantai atas. Bapak Direktur Utama meminta Bapak Fajar untuk segera menghadap ke ruangannya. Sekarang juga. Beliau ingin... evaluasi khusus."

Udara di ruangan itu mendadak turun di bawah titik beku. Darah Kirana berdesir ngeri. Wajahnya kembali pucat pasi. Ia menatap Fajar dengan sorot mata horor. Ayahnya—sang diktator yang sedang lepas kendali—memanggil Fajar secara langsung?

"Evaluasi khusus?" gumam Kirana, napasnya tercekat. "Fajar... Bapak nggak pernah manggil Kepala Cabang langsung kecuali ada agenda tersembunyi! Kamu nggak tahu seberapa bahaya Bapak sekarang. Beliau bisa hancurin karirmu detik ini juga!"

Tapi Fajar? Alih-alih pucat, cowok itu justru tersenyum miring. Matanya memancarkan tekad yang menyala. Ia berjalan santai mengambil jas navy-nya, memakainya kembali dengan gerakan lambat yang karismatik, lalu mengancingkannya sambil menatap lurus ke arah pintu.

"Fajar..." panggil Kirana ngeri.

Fajar menoleh. Ia meraih sebelah tangan Kirana yang dingin dan meremasnya lembut. "Udah aku bilang, kan? Aku balik ke pusat bukan buat sembunyi di balik rok pacarku." Fajar mencondongkan wajahnya, tersenyum menenangkan. "Kalau Sang Raja mau ngecek prajuritnya, masa prajuritnya kabur?"

Ia melepaskan tangan Kirana, memberinya satu kedipan mata andalannya. "Pesenin aku nasi padang pakai rendang, Na. Begitu urusanku sama bos besar kelar, kita makan di sini. Awas kalau dimakan duluan."

Meninggalkan Kirana yang masih mematung dengan jantung mau copot, Fajar memutar kenop pintu dan melangkah keluar dengan dada membusung.

Kandang macan baru saja terbuka, dan ia siap masuk ke dalamnya.

1
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
‎"Surat Cinta Nyasar" — kisah romantis kantor yang bermula dari kesalahan pengiriman surat. Pegawai biasa yang berani menyatakan perasaan justru membuatnya berhadapan dengan Direktur muda yang dingin. Satu kesalahan kecil ternyata bisa membuka pintu kebenaran yang selama ini tertutup. Ringan tapi punya potensi cerita yang menarik! Semangat berkarya Thoorr 🤗
Hamzah: terimakasih dukungannya 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!