“Su Yang, apa sebenarnya hubunganmu dengan Tetua Lan?”
“Dia hanya pelangganku.”
“Pelanggan?!” Tang Hu membelalak. “Lalu sepuluh wanita cantik yang datang mencarimu itu?”
“Pelanggan juga.”
Dahulu, Su Yang hanyalah murid pelataran luar yang diremehkan. Namun, setelah jiwa seorang kultivator legendaris terbangun dalam tubuhnya, segalanya berubah.
Dengan teknik kultivasi yang tak tertandingi dan pesona yang sulit ditolak, ia membuat para wanita di Sekte Bunga Mendalam mulai memperebutkan perhatiannya.
“Su Yang! Kalau kau membutuhkan sesuatu, datanglah kepadaku!”
“Aku juga! Jangan lupakan aku!”
Su Yang hanya tersenyum.
“Tenang saja. Akan ada cukup banyak kesempatan bagi kalian untuk mengenalku.”
Di tengah rayuan, kecemburuan, dan rahasia masa lalunya, Su Yang kembali menapaki jalan menuju keabadian. Namun kali ini, perjalanan kultivasinya mungkin akan jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan.
🙏🙏🙏❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangi Suci, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Sang Tetua Menunggu di Depan Pintu
“Dia benar-benar menyembuhkan kakiku!”
Qi Yue berlari melintasi tempat latihan tanpa sedikit pun pincang.
Di sampingnya berjalan seorang wanita cantik dengan wajah dingin. Para murid segera membungkuk ketika mengenalinya.
“Hormat Tetua Lan!”
Tetua Lan merupakan kepala bagian kesehatan pelataran luar. Ia telah menangani banyak murid sakit dan terluka selama bertahun-tahun.
Namun, kali ini ia datang bukan untuk mengobati seseorang.
Ia ingin menemui Su Yang.
“Kau yang menangani Qi Yue kemarin?” tanyanya begitu tiba di depan papan Pijat Surgawi.
“Benar.”
“Bagaimana caranya?”
“Itu urusan pribadi antara pelanggan dan aku.”
Wajah Tetua Lan mengeras.
“Aku bertanggung jawab atas kesehatan seluruh murid pelataran luar. Qi Yue juga berada dalam pengawasanku.”
“Lalu?”
Jawaban singkat itu membuat beberapa murid di sekitar mereka menahan napas.
Tetua Lan menatap Su Yang tajam.
“Berani sekali kau berbicara seperti itu kepada seorang tetua!”
Su Yang tidak bergeming.
Ia justru mengamati cara wanita itu berdiri. Berat tubuhnya lebih banyak bertumpu pada satu kaki, dan setiap kali bergerak, otot di sekitar pinggangnya tampak menegang.
“Kalau begitu, silakan mencari tabib yang lebih berpengalaman untuk menangani nyeri tajam yang kau rasakan setiap kali duduk.”
Tetua Lan membeku.
Qi Yue langsung menoleh kepadanya.
“Lihat, Kak Lan! Kakak Seperguruan Su bahkan tahu penyakitmu hanya dengan melihat!”
“Qi Yue!”
Tetua Lan menahan malu sekaligus amarah.
Sudah beberapa hari ia tidak dapat duduk untuk berkultivasi. Nyeri di bagian bawah tubuhnya semakin parah, tetapi ia belum berhasil menemukan penyebabnya.
Bahkan seorang murid yang selama ini dianggap tidak berguna justru mampu mengenali gejalanya dalam sekejap.
“Aku tidak membutuhkan bantuanmu,” katanya dingin.
Ia menarik Qi Yue pergi.
Su Yang tidak mengejar.
Ia hanya memandang punggung wanita itu sambil bergumam, “Paling lama besok.”
Malam itu, Tetua Lan berbaring tengkurap di tempat tinggalnya.
Ia tidak bisa duduk.
Setiap kali mencoba, rasa sakit tajam menusuk tubuhnya hingga keringat dingin mengalir.
“Ini semakin buruk....”
Sebagai tabib, ia memahami bahwa gejala yang terus memburuk tidak boleh dibiarkan. Namun, ia juga tidak mampu menerima kenyataan bahwa seorang murid pelataran luar mungkin mengetahui sesuatu yang luput dari pemeriksaannya.
Wajah Su Yang kembali muncul dalam benaknya.
“Anak kurang ajar itu....”
Ia membalikkan badan sedikit.
Rasa sakit mendadak menyerang.
“AAAH!”
Tubuhnya menegang. Nyeri itu terus meningkat sampai kesadarannya perlahan menghilang.
Ketika terbangun keesokan pagi, jubah dan alas tidurnya basah. Ia kehilangan kendali atas tubuhnya ketika pingsan.
Wajah Tetua Lan memerah karena malu, tetapi kali ini rasa takut jauh lebih kuat daripada harga dirinya.
Jika serangan berikutnya lebih parah, ia mungkin tidak akan bangun lagi.
Su Yang....
Ia segera membersihkan diri dan bergegas keluar.
“Su Yang! Keluar!”
Ketukan keras mengguncang pintu tempat tinggal Su Yang.
Tang Hu membukanya dengan wajah tegang.
“T-Tetua Lan?”
“Panggil Su Yang.”
“Dia sudah pergi.”
“Ke mana?”
“Dia tidak mengatakan apa-apa.”
Tetua Lan mendengus kesal.
Qi Yue, yang ikut bersamanya, segera menyela, “Mungkin Kakak Seperguruan Su sedang berada di tempat latihan.”
Mereka bergegas ke sana.
Namun, Su Yang tidak terlihat. Papan Pijat Surgawi pun tidak ada.
“Di mana dia?” tanya Tetua Lan kepada para murid.
Tidak seorang pun mengetahui jawabannya.
Tetua Lan menarik napas panjang.
“Siapa pun yang menemukan Su Yang dan membawanya kepadaku akan mendapat seratus Poin Prestasi!”
Kerumunan langsung gempar.
Seratus poin setara dengan hadiah misi berisiko tinggi. Untuk mencari seorang murid yang wajahnya dikenal hampir seluruh pelataran luar, hadiah itu terasa terlalu besar untuk dilewatkan.
Dalam sekejap, tempat latihan hampir kosong.
Para murid berpencar mencari Su Yang.
Qi Yue turut membantu, sementara Tetua Lan memeriksa tempat-tempat yang mungkin didatanginya.
Namun, orang yang mereka cari sama sekali tidak mengetahui kegaduhan tersebut.
Su Yang sedang duduk di sudut Perpustakaan Mendalam.
Tumpukan buku dan gulungan memenuhi lantai di sekitarnya. Sejak pagi, ia membaca catatan sejarah, kisah kuno, dan berbagai informasi tentang dunia tempatnya terlahir kembali.
Semakin banyak membaca, semakin dalam kerutan di dahinya.
Istana Dewa Bulan tidak tercatat.
Kuil Surgawi hanya muncul sebagai legenda samar.
Tanah Para Dewa, tempat yang dahulu begitu dikenal dalam kehidupannya, bahkan tidak memiliki keterangan yang jelas.
“Aneh....”
Ia menutup sebuah buku.
Banyak hal di dunia ini masih familier baginya. Tahapan kultivasinya sama. Bunga Yang Murni pun memiliki sifat yang dikenalnya.
Namun, ia tidak dapat menemukan wilayah tempatnya berada sekarang dalam ingatannya.
Benua Timur? Sejak kapan tempat ini ada?
Dalam kehidupan sebelumnya, ia telah mengunjungi Empat Dunia yang berada dalam satu alam semesta. Seandainya ia terlahir kembali di salah satunya, ia seharusnya mampu mengenalinya.
“Berapa lama sebenarnya waktu berlalu sejak aku dikurung di Tebing Hukuman Abadi?”
Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban.
Su Yang menatap tumpukan buku di hadapannya.
Jika ingin menemukan orang-orang dari kehidupan sebelumnya, ia harus meninggalkan sekte dan menjelajahi dunia.
Tetapi bukan sekarang.
Dengan kekuatannya saat ini, binatang buas biasa pun dapat mengancam nyawanya. Bertemu ahli kultivasi yang lebih tinggi hanya akan membuatnya mati untuk kedua kali.
Ia harus memperkuat diri terlebih dahulu.
“Bunga Yang Murni....”
Su Yang mengetuk sampul buku dengan jarinya.
Begitu mendapatkannya, ia dapat mulai membangun fondasi kultivasi yang sesuai dengan pengetahuannya.
Ia kembali membaca sampai matahari mulai terbenam.
Setelah merapikan buku-buku yang dipinjam, Su Yang meninggalkan perpustakaan dan berjalan pulang.
Di depan tempat tinggalnya, seorang wanita berdiri dengan kedua tangan terlipat.
Wajahnya terlihat sangat tidak senang.
“SU YANG!”
Su Yang berhenti.
Tetua Lan menghampirinya dengan langkah cepat.
“Ke mana saja kau seharian?! Kau tahu berapa lama aku menunggu? Berani sekali seorang murid pelataran luar membuat seorang tetua berdiri di depan pintunya sampai sore!”
Su Yang menatapnya, lalu tersenyum.
“Salam, Tetua Lan. Ada urusan apa seorang tetua terhormat mencari murid pelataran luar sepertiku?”
Tetua Lan menggertakkan gigi.
Ia ingin membalas sindiran itu, tetapi nyeri yang kembali muncul membuatnya menahan diri.
“Hmph! Kita tidak bisa membicarakannya di luar. Masuk.”
“Tentu.”
Su Yang membuka pintu dan mempersilakannya lewat.
Tetua Lan melangkah masuk dengan kepala tegak, berusaha mempertahankan wibawanya.
Namun, Su Yang sudah mengetahui alasan kedatangannya.
Wanita yang kemarin menolak bantuan itu akhirnya datang sendiri.
Dan kali ini, ia tidak memiliki kehendak untuk pergi begitu saja.
......................
Bersambung...
udah tahu wajahnya saja bisa membuat para lelaki iri hati malah dengan sengaja mengajak semua wanita di rumah makan untuk bergabung dengan dia🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semoga dalam beberapa hari dekat ini akan ada lebih banyak atensi dan juga apresiasi untuk semua karyamu👍👍👍
karena sebelum ini ada beberapa novel yang seperti dihapus karena mungkin terdapat adegan yang tergolong vulgar
Aku berharap ini akan terus berlanjut sampai ceritanya benar-benar tamat