Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 7
Setelah lelah bergelut dengan beberapa jalan keluar dari masalah financialnya, akhirnya Rara mencoba saran untuk kembali tinggal dirumah warisan. Ia kini dalam perjalanan menuju kesana.
Ia sampai, tepat pukul 2 siang. Ia menggeser pagar rumah, lalu ia masukkan mobilnya kedepan garasi. Sebelum keluar dari dalam mobil, ia berharap kakaknya sudah pulang kerumahnya.
Rara berjalan menuju depan pintu. Saat ia berada diteras, pintu rumah terbuka. Ternyata itu kakaknya, Nadia.
"oh kamu ra, kakak pikir taksi online," kata Nadia.
"kakak baru mau pulang ?," tanya Rara.
"iya, kamu mau masuk, ini kuncinya ya. Semua kamar sudah kakak kunci," kata Nadia sambil memberikan segerombolan kunci ke adiknya.
Rara menatap kunci yang ia terima. Setiap kunci ada tanda khas masing-masing. Tanda khas itu adalah warna. Tujuannya untuk mempermudah dan mempercepat identifikasi tanpa harus mencoba kunci satu per satu.
"masih ingatkan ra, setiap kunci untuk kamar mana aja," kata Nadia.
"masih kak," jawab Rara dengan mengangguk. Ia pun masuk kedalam rumah.
Ia menatap sekeliling ruangan, luas dan lengang. Suasananya sepi. Ia berjalan pelan menuju kamarnya yang ada dilantai 2.
Ia melangkahkan kaki menapaki tangga untuk sampai ke kamarnya. Setelah sampai depan pintu, ia mencari anak kunci yang tepat untuk membuka pintu. Seingatnya kunci kamarnya diberi tanda warna biru. Ia mencoba memasukkan anak kunci itu ke lubangnya. Ternyata pas. Perlahan ia memutar dan pintu pun terbuka.
Saklar lampu ia tekan. Seketika semua barang dan kondisi dalam kamar langsung terlihat.
Ia membiarkan pintu kamar terbuka. Ia duduk di pinggir kasur dengan menghadap ke arah pintu. Aneh rasanya. Menurutnya ada hal yang sangat berbeda.
Ia merasa tinggal sendirian di apartemen tidak sesepi ini dan senyap. Benar-benar beda. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur sementara kakinya menggantung di pinggir ranjang. Ia menghela napas dan mengarahkan pandangannya ke langit kamar.
Rumah ini adalah rumah dimana ia dibesarkan. Kebahagiaan dan keceriaan dulu sangat terasa di rumah ini. Namun, suasana yang ia rasakan sekarang berbeda. Ia merasakan rasanya sangat kesepian. Tak ada teman, tak ada rasa bahagia dan lebih terasa hampa.
Rara kembali teringat perkataan Nadia. Kakaknya mengatakan, kalau saat ia pergi dari rumah dan meninggalkan ibunya sendiri, ibunya merasa kesepian. Ternyata rasa sepi itu saat ini sedang ia rasakan.
Rasa bersalah, menyesal muncul dilubuk hatinya. Rasanya ia ingin meminta maaf langsung pada ibunya. Namun apalah daya, kata maaf belum sempat terucap, ibunya telah menghembuskan napas terakhir.
Ia mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Mencoba menepis rasa sedihnya yang terpicu dari rasa menyesal dan bersalahnya. Ia kemudian bangkit dan kembali duduk.
Ia mematikan lampu kamar, lalu menutup pintu. Ia melangkah ke lantai bawah menuju pintu depan. Ia langsung mengunci pintu utama setelah sampai di depannya.
"kakak masih nungguin taksi online ?" tanya Rara. Ia kira kakaknya sudah pulang beberapa menit lalu. Tenyata ia masih duduk dikursi teras.
"iya, kata sopirnya jalanan macet parah," jawab Nadia.
"ini kak kuncinya," kata Rara sambil menyerahkan segerombolan kunci yang kemricik.
"kamu aja yang bawa," tolak Nadia.
"kakak aja ya. Soalnya kan kakak yang rumahnya dekat dari sini," jawab Rara. Nadia pun menerima kunci itu.
"kakak bareng aku aja gimana ?" kata Rara menawarkan tumpangan. "bakalan lama kalau kakak nunggu taksi onlinenya sampai, soalnya jam segini barengan sama orang-orang pulang kerja," tambahnya.
"nanti ngerepotin kamu, nggak usah," kata Nadia.
Rara duduk disamping Nadia. Ada suatu hal yang ingin ia sampaikan pada kakaknya. "kak, aku minta maaf soal kejadian tadi malam. Sudah marah sama kakak, sudah membuat kakak nangis," ungkap penyesalannya.
Nadia menatap adiknya yang tampak merasa bersalah. "nggak apa-apa. Udah dilupain aja," jawabnya dengan senyum yang menenangkan.
"makasih ya kak," ungkap Rara. Ia tak kuasa menahan rasa terima kasihnya. Ia pun seketika memeluk Nadia.
"kakak udah batalin taksi onlinenya, jadi kakak bareng kamu aja," kata Nadia.
"baik kak, boleh," jawab Rara bahagia melihat sikap kakaknya mau pulang bersamanya. Mereka pun beranjak dari kursi teras menuju mobil.
Sekitar 300 meter lagi mereka akan sampai tujuan. "kak, aku boleh tanya," tanya Rara, setelah mobil melewati belokan
"tanya apa ra ?" jawab Nadia.
"kalau aku mulai besok tinggal dirumah kakak gimana ?" kata Rara.
"memangnya apartemen kamu kenapa ?" Tanya Nadia.
"Soalnya..." Rara berusaha mencari alasan yang tepat dan meyakinkan.
"aku mau pindah apartemen yang harga sewanya lebih murah," katanya, berharap alasan ini bisa meyakinkan kakaknya.
"kenapa kamu nggak pindah dulu aja ke rumah warisan papa dan mama daripada ditinggalin begitu aja," jawab Nadia.
"rumah warisan itu dijual aja kak, gimana ? Uangnya nanti dijadikan dana darurat. Apalagi kakak kedepannya kan pasti punya anak dan toko kue warisan ibu pasti juga perlu tambah modal," ucap Rara. Ia percaya kali ini kakaknya pasti akan mengijinkan untuk tinggal bersama.
"nanti coba kakak bicarakan dulu sama mas Rio. Kalau kakak sih nggak keberatan kamu tinggal dirumah kakak. Tapi belum tentu dengan mas Rio. Nanti kakak kabarin. Kalau masalah rumah warisan, memang kakak ada rencana untuk rumah itu dijual saja, tapi kakak nggak bisa mutusin sendiri, kakak harus bicara dulu sama kamu. Ternyata kamu juga berpikiran sama, jadi besok kakak akan mulai ngiklanin rumah itu kalau sedang dijual," Jawab Nadia dengan jelas.
Tak terasa hari sudah semakin sore. Setelah kakaknya turun. Rara langsung melajukan mobilnya kambali ke apartemen.