NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Sangkar Emas (2)

Sejak percakapannya dengan Dante kemarin, Ara memilih tidak membahas lagi soal keluar mansion. Bukan karena ia menerima keputusan pria itu. Justru sebaliknya. Ia masih kesal. Hanya saja, Ara tahu percuma berdebat dengan Dante jika pria itu sudah mengatakan satu kata yang tidak bisa digeser sedikit pun.

Pagi itu, Ara sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca ketika Luca datang membawa secangkir teh.

Ara menutup novelnya. “Luca.”

“Ya, Nyonya?” sahut Luca menghentikan langkahnya.

“Tuan sudah berangkat?" tanya Ara memastikan.

"Belum Nyonya. Tuan masih ada di ruang kerja." Jeda. Luca menatap nyonyanya seolah ada pertanyaan besar di wajahnya yang belum terjawab.

"Oooh," gumam Ara terkesiap. Ia pikir Dante sudah berangkat ke kantor. Karena waktu ia bangun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Dante di rumah ini. Ia sengaja turun ke lantai bawah untuk bermalas-malasan. Tetapi juga tidak ada yang menegurnya. Kenapa? Apakah Dante merasa bersalah? Tidak mungkin--ia menjawab pertanyaan yang ia ajukan sendiri. Hal yang paling mungkin, alasan Dante masih rumah, Dante sedang teralihkan oleh urusan lain yang membuatnya harus tinggal.

"Tuan sebentar lagi mungkin keluar dari ruang kerja," timpal Luca lagi.

Ara mengangguk lemah. Ia menunggu Luca meninggalkannya, baru ia lari kembali ke kamar. Ia bergegas mandi. Sedari bangun, ia belum mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Luca sudah ada di dalam kamar. Ia duduk di salah satu tepi ranjang dan menunggu Ara.

Mereka berdua sepertinya sudah bisa menebak ke mana arah percakapan mereka akan dimulai.

“Kudengar dari Luca, kau mencariku." Dante membuka mulut dengan kaku.

"Aku hanya bertanya. Bukan mencari," jawab Ara sembari berjalan ke walking closet. Ia berdiri di depan cermin dan menyisir rambutnya.

Dante menghampirinya. "Kau masih marah?"

Ara menggeleng. "Tidak," katanya lirih. "Mana berani," sindirnya tanpa menoleh. Dari pantulan cermin, ia tahu Dante sudah berdiri tepat di belakangnya.

Dante menarik nafas. "Lain kali aku tidak ingin mendengar laporan kau mogok makan cuma gara-gara masalah kecil seperti kemarin."

Ara menghentikan menyisir rambutnya sebentar. Dari cermin, ia menatap Dante heran. "Aku tidak akan mati hanya karena tidak makan setengah hari."

Dante memicingkan mata. "Jangan coba-coba menentang ku, Ara!"

Ara mengabaikan ucapan Dante. Ia menyisir rambutnya lagi. Ia lalu membubuhkan skincare. Ia hendak memakai lipstik. Tapi lipstik itu diambil dari tangannya.

“Aku tidak suka melihatmu memakai warna ini." Dante menutup lipstik itu dan memasukkan ke saku bajunya. "Aku akan membantumu membuangnya."

Ara mendengus. Ia mengambil lipstik lain dan menunjukkannya pada Dante. "Kalau warna pink muda ini?"

"Itu lebih baik." Dante merespon dengan nada dingin yang kikuk.

Ara ingin memoleskannya. Tapi Dante mengambilnya lagi. Salah satu jemari Dante menyentuh ujung batang lipstik itu, kemudian ia memoleskan jari yang sama ke bibir Ara.

"Bukan begitu cara menggunakannya," protes Ara.

Tapi Dante tak menggubris. Ia memasukkan lipstik itu kembali ke laci lemari.

"Kita turun, sudah waktunya sarapan." Kata-kata itu seharusnya diucapkan dengan nada mengajak bukan nada memerintah. Tapi bagi seorang Dante bagaimana bisa melakukannya. Ia terbiasa memerintah dan berada di atas. Tipe yang biasa mengatur dan merencanakan segalanya. Sementara dirinya hanya seekor semut kecil di tangannya.

Ara tak membantah. Ia juga tak menolak. Ia mengikuti langkah Wayne menuju ke ruang makan. Sarapan sudah tersedia dia atas meja. Mereka menikmati makanan dalam sunyi. Tidak ada yang bicara. Hanya terdengar bunyi alat makan yang tak sengaja berdenting sesekali.

"Jika kau masih ingin membeli buku, kau bisa pergi denganku pagi ini." Dante bersuara setelah menyesap kopinya.

Ara mengangkat kedua alisnya. "Kau mengijinkanku keluar?"

"Tentu. Kau bukan tahanan disini. Kau istriku."

Ara tak percaya tetapi ia tidak akan membuang kesempatan ini.

"Aku akan mengedropmu di pusat perbelanjaan. Luca akan menemanimu. Nanti pulangnya aku akan mengirim sopir untuk menjemputmu." Dante menjelaskan apa yang bisa ia tawarkan sebagai kompromi pada istrinya.

"Aku akan bersiap-siap." Ara mengunyah potongan terakhir roti kejunya. Ia kembali ke kamar untuk mengambil tas. Ia tidak akan melewatkan kesempatan emas yang diberikan Dante ini. Ia akan memanfaatkannya dengan baik menjadi bagian yang mendukung rencana pelarian ketiganya.

Ara menahan napas. Ia mengatakan pada dirinya ia tidak boleh bertindak ceroboh dan gegabah. Jika tidak, ia pulang bakal menemukan Dante yang keras dan tak berperasaan yang bakal tega mencari seribu satu cara menghukumnya. Ia mulai tahu kenapa pria ini disebut mafia. Kekejaman hatinya sungguh tidak ada seorangpun bisa memikirkannya.

“Dante. Aku sudah siap." Ara berdiri di depan meja makan.

Dante menatap istrinya dengan cara yang paling absurb menurut Ara. Entahlah mungkin itu hanya pikiran Ara saja.

Luca sudah berdiri di depan pintu mobil dan membukakan pintu untuk nyonya dan tuannya.

Di dalam mobil, Ara memperhatikan Dante yang sama sekali tidak melihatnya. Ia lebih sibuk dengan tabletnya dan agenda-agenda rapat. Luca dan suaminya saling bertukar informasi. Meskipun ia tidak paham, ia ikut mendengarkan.

Begitu tiba di pusat perbelanjaan dekat kantor, pembicaraan mereka berdua baru berhenti. Luca turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Ara.

"Terimakasih," kata Ara tulus. Ia berjalan mendahului masuk ke pusat perbelanjaan. Ia pergi ke beberapa tenant buku.

Di dalam tenant buku, ia sering berputar-putar dari satu rak ke rak lain sebelum mengambil 3-5 novel best seller yang ingin ia baca. Luca awalnya masih mengikuti langkah nyonya nya dari satu rak berpindah ke rak lain. Tapi lama-kelamaan ia tak sanggup. Ketika masuk ke tenant ketiga, Luca menunggu nyonya nya dekat kasir. Kasir itu ada di dekat pintu masuk. Luca kira pintu itu satu-satunya jalan keluar masuk pengunjung. Tapi justru itulah kesalahannya. Karena di tenant itu masih ada satu pintu lain.

Ara awalnya masih berputar dari satu rak ke rak lain sambil mengamati apa yang dilakukan Luca. Begitu Luca tidak lagi memperhatikan, ia segera menyusup pergi. Ia lari ke pusat pembelian tiket pesawat kapal kereta. Ia membeli beberapa tiket dengan tujuan berbeda dan armada tak sama untuk besok. Ia membayar tiket-tiket itu dengan uang cash. Ia menghindari kemungkinan Dante menemukan akal-akalannya ini lebih cepat. Setidaknya biarkan ia menjalankan rencana pelariannya dulu. Biarkan ia bisa menghilang dari Dante dan lepas dari mansion itu.

Ia menjejalkan tiketnya ke dalam tas dan buru-buru kembali ke tenant buku ketiga. Ia mengambil acak tiga buku dari rak paling belakang yang ia lewati dan pergi ke kasir. Untunglah Luca tidak berinisiatif mencarinya.

Itu tenant terakhir yang ia kunjungi. Setelah itu, mereka pulang. Luca mengantar nyonya nya pulang ke mansion dulu, baru ia kembali ke sisi Dante.

Di rumah, Ara berjalan melewati koridor panjang yang menghubungkan ruang keluarga dengan perpustakaan. Lantai marmer yang memantulkan cahaya matahari. Lukisan-lukisan mahal tergantung rapi di sepanjang dinding.

Ara keluar menuju taman belakang. Udara siang terasa lebih hangat. Angin menggerakkan dedaunan pohon-pohon besar di sepanjang jalan setapak. Suara air dari kolam terdengar tenang. Beberapa bunga bermekaran di sisi taman. Tempat itu indah. Tidak ada yang bisa menyangkalnya.

Ia duduk-duduk di bangku taman sambil membaca novel yang baru ia beli tadi. Sebenarnya lebih tepat jika ia mengatakan suaminya yang membelikan novel-novel barunya kali ini. Karena bagaimanapun Luca yang membayarkan semua tagihannya. Ia sama sekali tidak merogoh sepeserpun dari koceknya sendiri.

Ia tenggelam dalam cerita novel yang ia baca. Bahkan ia meminta pelayan menyiapkan makan siang di taman. Ia membaca sambil makan. Selama berada di mansion ini, ia sebisa mungkin tidak membuat suaminya gusar. Ia ingat kata-kata Dante pagi. Dante tidak ingin mendengar laporan ia mogok makan. Jadi ia akan memenuhi harapan dan permintaan suaminya itu.

Semua tiket yang ia beli ia sudah amankan dan simpan di bawah kasur. Ia kemudian merapikan kembali sepreinya. Satu-satunya di mansion itu yang bebas dari CCTV adalah kamar Dante, kamar utama mereka. Entahlah itu bisa disebut keberuntungan atau kebetulan.

Menjelang jam kepulangan Dante, Ara baru masuk kembali ke mansion. Ia melewati area belakang menuju koridor. Bagian ini jauh lebih sepi daripada ruang aula utama. Tidak ada dekorasi mahal. Tidak ada lukisan. Hanya dinding putih, lantai sederhana, dan pintu-pintu menuju ruang penyimpanan.

Ara berjalan perlahan. Ia berhenti di depan sebuah pintu yang berada di ujung lorong.

Ia sepertinya telah melewatkan pintu ini.

Ia memandang pintu itu. Tidak ada kamera CCTV juga tepat di atasnya. Ia heran dan bertanya-tanya ruangan apakah ini.

Ara melangkah mendekat. Ia berhenti sekitar satu meter di depannya. Tangannya hampir terangkat ingin memegang handle pintu itu dan membukanya. Namun ia mengurungkan niat. “Bukan urusanku,” batinnya. Ia berbalik dan berjalan pergi.

Tidak seperti bisanya, Dante pulang sedikit lebih malam. Ara berdiri di balkon kamar mereka. Udara malam terasa lebih dingin. Lampu-lampu taman menyala di bawah sana, menciptakan bayangan panjang di antara pepohonan.

Dari lantai atas, mansion itu terlihat semakin besar, luas dan indah.

Ara bersandar pada pagar balkon. Ia memandang gerbang yang terlihat jauh di depan. Tidak ada suara kendaraan. Hanya angin dan suara samar dedaunan.

Ara terdiam lama. Mansion ini adalah mansion ternyaman yang pernah ia tinggali. Tetapi mansion ini juga telah menjadi sangkar emas yang tidak membutuhkan jeruji dan tali kekang untuk menahannya.

Flashback kehidupannya di mansion ini, ia sempat kesal dengan cara pria itu mengendalikan banyak hal. Namun lama-kelamaan ia sudah terbiasa dan beradaptasi serta mencari cara meloloskan diri. Ia ingat kata-kata salah satu gurunya. Lolos dan lulus adalah dua hal yang berbeda. Kamu bisa lolos tetapi belum tentu lulus. Tetapi orang yang lulus pasti lolos.

Ara menatap gerbang dan berkata pelan, “Kalau aku terus begini lama-lama aku sendiri yang lupa bagaimana caranya pergi.”

Ia hendak berbalik masuk saat dilihatnya di sudut balkon, sebuah kamera CCTV. Ia menatapnya, kemudian mendengus.

Ia menuruni anak tangga ke lantai bawah karena melihat mobil Dante telah memasuki halaman. Sebelum benar-benar kabur dari sangkar emas ini, ia masih harus menyambut kedatangan suaminya dan menemani makan malam. Itu bagian dari kesepakatan diantara mereka berdua.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!