Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAH MEMILIH SUAMI
Langit masih terlihat hitam kebiruan, Aluna dan Arya terlihat sedang meminum air yang di tuangkan lewat guci tanah liat. Entah yang keberapa kali mereka meminum air. Aluna menatap seluruh tubuhnya yang penuh kemerahan. Sedangkan tubuh Arya terlihat bersih, Hanya ada sedikit luka cakaran pada pundaknya.
"Belum pagi?" Bingung Aluna, Arya tersenyum. "Belum, Ini masih subuh." Ujarnya tersenyum. "Ayo, Lanjut lagi." Arya kembali memeluk Aluna, Gadis itu menggigit bibirnya kesal. "Yang mulia, Apa benar ini cara membuat anak!" Teriaknya kesal. Arya mengangguk dan menatapnya bingung. "Kenapa banyak sekali, Kita sudah melakukannya lebih dari 5 kali. Mana anaknya!" Kesal Aluna, Arya tertawa pelan.
"Bodoh, Belum jadi." Arya mengetuk pelan kening istrinya. "Kita belum tidur yang mulia, Besok aku kan harus kembali menyulam." Arya cemberut. "Kau istirahat saja, Biar aku yang bekerja." Aluna menoleh kesal. "Tidak mau, Aku ingin belajar menjahit dan menyulam!" Kekehnya.
"Baik-baik, Tapi jangan sampai kelelahan."Bujuk Arya, Aluna mengangguk. "Kita harus melakukan berapa kali, Biar bisa segera punya anak?" Tanya gadis itu, Arya tersenyum simpul. "Lebih dari 10 kali dalam sehari, Apa kau sanggup?" Tanya Arya, Wajah Aluna memucat. "Aku tidak jadi ingin punya anak!" Kesalnya, Arya mengigit pipi Aluna gemas. "Kau tidak bisa asal menolak, Kau yang meminta tadi. Kau sudah berjanji tidak akan berhenti di tengah jalan." Ucap Arya, Aluna cemberut dan memunggungi Arya.
"Aluna, Mengapa kau membelakangi-ku?" Tanya Arya heran, Aluna tak menoleh. "Baiklah, Ayo kita tidur saja. Mendekat lah Aluna, Jika kau tidur seperti itu, Kau akan kedinginan." Bujuk Arya, Aluna berbalik dengan wajah cemberut, Tubuhnya ia tutupi dengan selimut hingga sedada. Arya tersenyum, Dan memeluk istrinya itu dengan gemas. "Maafkan aku Aluna, Aku membuatmu menangis tadi." Aluna menatap Arya, Lalu mengangguk.
"Aku tidak marah, Hanya tidak kuat lagi." Cemberut aluna, Arya tersenyum. "Baik-baik, Sekarang istrirahat-lah. Tidak bangun pagi juga tidak apa-apa. Aku yang akan bilang pada kakek Lin ." Ucap Arya, Aluna mengangguk.
"Jangan katakan pada siapapun apa yang kita lakukan semalam, Oke?" Aluna mengangguk, Mereka tertidur dengan saling mendekap. Hanya Aluna yang tertidur, Sedangkan Arya terlihat masih terjaga hingga pagi.
****
Ibu suri tersenyum menatap 2 selir baru yang baru saja di angkat olehnya untuk baskara. Pagi ini, Kedua selir itu harus menuangkan teh untuk ibu suri. Zephira hadir mendampingi ibu suri.
"Salam ibu suri." Selir yena dan selir Luna menunduk hormat. Ibu suri tersenyum, "Bangunlah." Ucapnya, Kedua selir itu tersenyum anggun.
"Aku ingin, Kalian menuangkan teh untuk-ku." perintah ibu suri. "Baik ibu." Keduanya kembali menunduk. Pertama, Yena maju dan menuangkan teh pada gelas porselen. Tangannya gemetar Tetapi tak tumpah.
"Silahkan ibu suri." Yena menyerahkan gelas itu dengan sedikit menunduk. "Bagus sekali yena."Puji ibu suri. Lalu berikutnya, Luna. Gadis itu terlihat tenang. Menuangkan teh tanpa gemetar sedikit pun. Lalu memberikannya pada ibu suri dan Zephira.
"Silahkan, Ibu suri. Dan permaisuri." Ucap Luna, Ibu suri tersenyum. Zephira menerimanya dengan senyuman sombong.
Emm...cukup tau diri— Zephira.
"Terima kasih, Adik." Senyum Zephira, Luna mengangguk. Kedua gadis itu kembali duduk di sebelah Zephira.
"Zephira, Mulai sekarang. Berbagi tugaslah dengan mereka. Bagilah waktu baskara untuk mereka. Pastikan bahwa baskara harus memiliki seorang anak secepatnya." Zephira menunduk patuh. "Baik ibu." Setelah selesai, Ibu suri meninggalkan ruangan.
Senyum Zephira langsung menghilang. "Kau, Berani sekali tak menuangkan teh untuk permaisuri, Berlutut sekarang!" teriak Lena Pelayan Zephira, Pada yena.
"A...ampuni aku permaisuri, Aku tidak tahu." Sujudnya, Matanya berkaca-kaca. Semakin di lihat, Zephira semakin kesal. "Apa kau tahu, Sifat sok polos mu ini benar-benar membuatku marah!" Zephira mencengkram wajah yena dengan kasar.
Luna dan pelayannya menonton hal itu, Dia menutup mulutnya dengan ujung hanfu, Diam-diam ia tersenyum senang. "Yang mulia, Sebaiknya kita pergi dari sini." Bisik lili, Pelayan Luna.
"Permaisuri, Aku pamit." Luna menunduk hormat, Setelah Zephira mengibaskan tangannya tanpa menoleh, Akhirnya Luna pergi dengan wajah yang tetap tenang bersama pelayannya.
"Putri yena kasihan sekali, Baru saja dua hari menjadi selir, Sudah berhadapan dengan yang mulia permaisuri." Ucap lili, Luna tersenyum. "Di istana ini, Jika kita tidak menindas, Maka kita yang akan di tindas." Ucap Luna, tak lama baskara terlihat berjalan di ujung lorong paviliun menuju ke arah mereka.
"Putri, Ada yang mulia!" Ucap lili, Keduanya segera menunduk dengan wajah tegang. "Salam yang mulia." Tunduk selir Luna, Baskara mengangguk. "Apa kalian melihat yena?" Tanya baskara. Luna terlihat gugup.
"Dia masih berada di paviliun Cendana." Baskara menatapnya bingung. "Bukankah ibu suri sudah kembali ke dalam kediamannya? Mengapa yena masih berada di sana?" Bingung baskara. Luna menunduk takut, Tetapi matanya menggelap.
"Sepertinya, Yang mulia permaisuri tak menyukai selir yena yang mulia, Dia—." Belum sempat Luna berbicara, Baskara terlihat mengibaskan ujung hanfu-nya dengan kesal. Lalu pergi begitu saja menuju paviliun Cendana. Setelah kepergian baskara, Luna tersenyum simpul.
"Yang mulia, Mengapa anda memberitahu yang mulia putra mahkota soal selir yena, Bagaimana jika yang mulia mulai mengasihaninya. Posisi anda akan sulit." Ucap lili tak habis pikir. Luna tersenyum. "Tenang saja, Aku tau apa yang harus aku lakukan." Senyum Luna, Lalu gadis itu kembali berjalan menuju kediamannya. Paviliun Melati. Tempat para selir.
Setelah berjalan dengan cepat, Suara teriakan seseorang membuat baskara semakin mempercepat langkahnya.
"Ampuni aku yang mulia!". tangis yena, Tubuhnya di baringkan ke sebuah bangku kayu panjang, Lalu tubuhnya di pukul oleh kayu tebal oleh dua orang pelayan. Dan di hadapannya, Ada Zephira yang duduk sambil memakan buah anggur.
"Karna kau tidak patuh, Kau pantas aku hukum, Kencangkan pukulannya!" Teriak Zephira, Yena semakin menangis. "Yang mulia, Selir yena sungguh tidak tahu, Tolong ampuni dia." Mohon Ayu, Pelayan yena.
"ZEPHIRA!"
Zephira menegang, Baskara berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin. Ia membenarkan ekspresinya. Lalu tersenyum. "Baskara, Kau mendatangiku?" Zephira hampir saja menyentuh lengan pria itu, Tetapi ia segera menepisnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya baskara, Zephira berkeringat dingin. " Selir yena tak menghormati-ku. Dia...Tidak menuangkan teh untuk-ku." Ucap Zephira.
"Yang mulia, Selir tidak tahu. Selir tidak sengaja." Tangis yena, Punggungnya terlihat berdarah. Baskara menggertak giginya. "Zephira, Gadis itu adalah bangsawan tingkat 1, Jika ayahnya tau kau melakukan hal ini. Bagaimana jika ayahnya mengkritik tingkah-mu." Bisik baskara tepat di depan telinga Zephira. Gadis itu tertegun sebentar.
Ia tak berpikir panjang, Karna cemburu ia melakukan sesuatu tanpa berpikir. "Yang mulia permaisuri tidak patuh dan melakukan hal tidak pantas pada selir. Gajinya di tahan selama 3 bulan." Perintah baskara. "Baik yang mulia." Zephira terpaksa menerimanya. Hukuman ini termasuk ringan.
"Yena, Kau tidak apa-apa?" Tanya baskara, Pria itu membantu yena bangun. Wajah gadis itu terlihat pucat. Tak lama, Ia jatuh pingsan.
"Panggilkan tabib!" Teriak baskara, ayu segera berlari dengan cepat. Baskara menggendong selir yena menuju paviliun Melati. Sebelum pergi, Baskara menatap Zephira dengan wajah muak. Setelah itu pergi begitu saja.
Kedua tangan Zephira mengepal, Tubuhnya jatuh terduduk di lantai. Bahkan selir baru pun lebih di pentingkan di bandingkan dirinya. Apakah pilihannya menikahi baskara itu salah?
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏