Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Tiga bulan berlalu semenjak insiden belanja besar-besaran di mall mewah waktu itu. Kehidupan pernikahan bisnis antara Raelyn dan Alvarez berjalan dengan dinamika yang cukup unik.
Raelyn benar-benar menjadi gadis penurut untuk sementara waktu. Dia rela menahan diri, merelakan hobi balapan liarnya yang menantang maut, serta rutinitas nongkrong dan minum di klub malam elit bersama teman-temannya.
Semua pengorbanan itu dia lakukan demi satu tujuan: Alvarez. Raelyn masih sangat membutuhkan bantuan otak jenius suaminya untuk menyelesaikan revisi skripsinya yang super rumit.
Walaupun hubungan mereka semakin dekat dan sering diwarnai debaran aneh, keduanya masih tetap konsisten tidur pisah ranjang sesuai kesepakatan awal.
Suatu pagi, Raelyn terbangun dari tidurnya dengan malas. Hari ini dia sedang tidak ada jadwal kelas di kampus. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan rumah sudah sepi karena Alvarez dipastikan sudah berangkat ke kantor.
Raelyn turun ke lantai bawah dengan perut yang mulai bernyanyi keroncongan. Begitu sampai di dapur, dia menatap hidangan rumahan yang sudah disiapkan oleh Asisten Rumah Tangga (ART). Tiba-tiba saja lidahnya merasa bosan.
"Duh, bosan banget makan masakan begini terus. Gue lagi pengen makan pasta deh," gumam Raelyn pada diri sendiri.
Masalahnya adalah, seumur hidupnya Raelyn belum pernah memasak. Dia bahkan tidak pernah menyentuh peralatan dapur sama sekali. Namun, dengan sifat keras kepala dan rasa percaya dirinya yang setinggi langit, hari itu Raelyn berinisiatif untuk memasak pasta sendiri. Dia ingin mencoba.
Melihat Raelyn yang mulai mengubek-ubek lemari dapur, salah satu ART langsung menghampirinya dengan wajah cemas.
"Non Raelyn... biar saya buatkan saja pastanya. Non mau pasta apa? Biar saya yang masak," tawar si bibi cemas.
Raelyn langsung menggelengkan kepala dengan tegas. "Gak usah, Bi! Biar aku sendiri aja yang coba. Santai, aku bisa kok!" tolak Raelyn ngeyel.
Alhasil, petaka pun dimulai. Baru saja mulai memotong beberapa bahan pelengkap, jari tangan Raelyn tergores pisau dapur yang tajam. Darah segar langsung keluar.
Namun, bagi seorang Raelyn yang sudah terbiasa jatuh bangun dari motor sport di arena balap, luka sayatan pisau itu hanyalah luka kecil yang tidak ada apa-apanya. Dia mengabaikannya dan lanjut memasak.
Hal yang tidak terduga justru terjadi setelah itu. Sifat tidak sabaran Raelyn membuatnya menyalakan api kompor terlalu besar. Dia sedang merebus spageti di dalam panci. Karena ditinggal sebentar, air rebusan spageti itu mendadak mendidih hebat dan membludak keluar dari panci.
"Eh, eh! Kok luber?!" Raelyn panik setengah mati.
Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengangkat panci tersebut dengan tangan kosong. Dia lupa bahwa gagang panci itu terbuat dari besi yang mengantarkan panas.
"AAAKHH! PANAS!"
PYARRR! BUK!
Refleks karena rasa panas yang menyengat, Raelyn langsung melepaskan panci tersebut. Panci berisi air mendidih dan spageti itu jatuh menghantam lantai marmer dengan keras. Sialnya, air panas yang membludak itu menciprat cukup banyak mengenai kaki dan pergelangan tangannya.
"AWWW!" teriak Raelyn kesakitan, langsung terduduk di lantai sembari memegangi kakinya yang melepuh kemerahan.
Mendengar teriakan histeris dari arah dapur, seluruh ART di dalam rumah langsung berlarian panik. Bahkan para penjaga dan bodyguard badan tegap yang ditugaskan khusus di depan pintu ikut masuk dengan wajah tegang.
"Non Raelyn! Ya ampun, kok bisa sampai begini!" seru kepala pelayan panik.
"Ayo Non, kita ke rumah sakit sekarang! Saya siapkan mobilnya!" ucap salah satu bodyguard sigap, bersiap untuk membopong Raelyn.
"Gak usah! Gak usah ke rumah sakit! Aku gak apa-apa, ini cuma kena cipratan dikit doang!" tolak Raelyn keras kepala, menahan perih di kakinya yang mulai melepuh.
Karena Raelyn bersikeras menolak dibantu ke rumah sakit, sang kepala penjaga rumah tidak mau mengambil risiko. Dia tahu betul bagaimana marahnya Alvarez jika terjadi sesuatu pada sang istri muda. Penjaga itu langsung merogoh ponselnya dan menelepon jalur privat Alvarez saat itu juga.
Di tempat lain, tepatnya di gedung pencakar langit pusat kota, Alvarez sedang memimpin rapat pleno tahunan yang sangat krusial bersama seluruh jajaran direksi dan investor asing. Suasana di dalam ruang rapat begitu tegang. Alvarez sedang mendengarkan presentasi dari salah satu direktur dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
Tiba-tiba, ponsel di atas meja rapat bergetar nyaring. Layarnya menampilkan nama kepala penjaga rumahnya. Alvarez mengernyitkan dahi. Biasanya, penjaga rumah tidak akan pernah menelepon di jam kerja kecuali ada situasi yang teramat darurat.
Tanpa mempedulikan tatapan bingung dari puluhan peserta rapat, Alvarez langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat agar presentasi dihentikan. Dia menempelkan ponselnya ke telinga.
"Ada apa?" tanya Alvarez dingin.
"Lapor,Tuan Muda! Nyonya Raelyn baru saja kecelakaan di dapur saat mencoba memasak. Kakinya terkena cipratan air panas mendidih dalam jumlah banyak dan tangannya terluka. Nyonya Muda menolak dibawa ke rumah sakit, Pak!" lapor sang penjaga dengan suara bergetar panik.
Mendengar laporan itu, mata Alvarez langsung melebar. Wajahnya yang biasanya tenang tanpa riak mendadak berubah tegang. Jantungnya berdegup kencang karena rasa khawatir yang teramat sangat.
Alvarez langsung berdiri dari kursi kebesarannya.
"Rapat hari ini selesai. Kita jadwalkan ulang minggu depan," ucap Alvarez tegas tanpa meminta persetujuan siapapun.
"Tapi Pak Alvarez, investor dari Jepang baru saja—"
Alvarez tidak mempedulikan protes dari rekan bisnisnya. Dia langsung melangkah lebar keluar dari ruang rapat.
"Bayu! Siapkan mobil, kita pulang sekarang." perintah Alvarez pada Bayu, sekretaris pribadinya yang langsung berlari mengekor di belakang sang bos.
Di dalam mobil, Alvarez terus mengepalkan tangannya kuat-kuat. Pikirannya benar-benar kacau memikirkan seberapa parah luka yang dialami oleh gadis keras kepala itu.
Sesampainya di rumah, Alvarez langsung berlari menuju lantai atas, mengabaikan sapaan dari para pelayan. Dia membuka pintu kamar Raelyn dengan sentakan yang cukup keras.
Namun, pemandangan di dalam kamar justru membuat Alvarez terpaku. Di atas ranjang besar, Raelyn sedang duduk santai bersandarkan bantal. Gadis itu tampak asyik bermain ponsel dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menyuapkan potongan buah mangga ke dalam mulutnya seolah tidak terjadi hal mengerikan apapun sebelumnya.
Alvarez melangkah mendekat dengan napas yang masih memburu karena panik. Dia berdiri di tepi ranjang, menatap Raelyn dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Alvarez, suaranya terdengar agak serak.
Raelyn yang kaget dengan kehadiran Alvarez yang tiba-tiba langsung mendongak. Kunyahan di mulutnya terhenti.
"G-gue gak apa-apa. Kok lo udah pulang jam segini?" tanya Raelyn heran, melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul sebelas siang.
Alvarez sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan balik dari istrinya. Matanya langsung tertuju pada bagian kaki Raelyn yang tertutup selimut.
Pria itu menarik selimut tersebut tanpa permisi, menampilkan kulit kaki Raelyn yang sudah diolesi salep putih namun masih terlihat bercak merah akibat lepuhan air panas.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Alvarez mutlak, bersiap untuk mengangkat tubuh Raelyn.
"Ehh, gak usah! Gue gak apa-apa kok, beneran!" tolak Raelyn, menepis tangan Alvarez dengan cepat.
"Itu kulit kamu kena air panas sampai memerah begitu, kamu masih bilang gak apa-apa?!" nada suara Alvarez meninggi, menunjukkan rasa frustrasinya yang mendalam melihat sifat keras kepala istrinya yang tidak punya tempat.
"Gak apa-apa, Al! Udah dikasih obat sama Bi Asih tadi. Gak usah lebay deh," balas Raelyn santai.
Alvarez kemudian beralih menatap tangan Raelyn. Di sana, jari telunjuk gadis itu sudah terbalut hansaplas, dan kulit pergelangan tangannya juga tampak memerah karena tadi sempat bersentuhan langsung dengan gagang panci yang panas.
"Tangan kamu sampai merah gini..." Alvarez menatap luka itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ada rasa perih yang menjalar di hatinya melihat gadis yang biasanya garang itu terluka seperti ini.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Raelyn. Jangan membantah."
"Gak usah, Al! Gue beneran gak apa-apa. Cuma luka kecil doang, besok juga sembuh!" keukeh Raelyn, sifat ngeyelnya keluar lagi.
Alvarez menatap Raelyn lekat-lekat. Menghadapi tingkat keras kepala Raelyn yang sudah mencapai level dewa, Alvarez tahu berdebat tidak akan ada ujungnya. Pria itu mendengus pelan, lalu merogoh ponselnya di saku celana. Dia menekan sebuah nomor privat.
"Halo, Dokter Gunawan. Tolong datang ke rumah saya sekarang juga. Istri saya terluka, luka bakar" ucap Alvarez langsung pada intinya, lalu mematikan telepon sepihak sebelum sang dokter pribadi sempat menjawab.
Alvarez memasukkan kembali ponselnya, lalu melipat kedua tangannya di dada, menatap Raelyn dengan pandangan mengintimidasi.
"Kenapa bisa sampai kayak gini?" tanya Alvarez dengan suara yang terdengar dingin dan serius.
Raelyn mengunyah buah mangganya lagi dengan santai, mencoba bersikap biasa saja untuk menutupi rasa gugupnya ditatap seperti itu.
"Gue mau makan," jawab Raelyn singkat.
"Kan udah dimasakin sama ART di bawah. Kenapa harus menyentuh dapur?" tanya Alvarez lagi.
"Ya gue bosen! Mau makan yang lain, pengen makan pasta," jelas Raelyn.
"Kenapa gak nyuruh pelayan saja buat masakin pasta? Atau kamu tinggal bilang, biar supir yang beli di restoran luar," cecar Alvarez, merasa alasan istrinya sangat tidak masuk akal sehat bisnisnya.
"Ya... cuma pengen coba masak sendiri aja. Emangnya gak boleh?" jawab Raelyn membela diri.
"Tapi nyatanya kamu gak bisa, kan?" balas Alvarez telak.
Raelyn langsung mendengus kesal. Kalimat Alvarez barusan terdengar sangat menyebalkan di telinganya.
"Namanya juga orang lagi coba! Emangnya orang coba-coba itu langsung harus bisa?Bilang aja gak boleh?!" seru Raelyn ngeyel.
"Boleh saja kalau kamu punya kemampuan dasar. Tapi kalau taruhannya keselamatan kamu sampai terluka begini, itu namanya bodoh, Raelyn," jawab Alvarez dingin, seolah meremehkan kemampuan istrinya di dapur.
Raelyn menyipitkan matanya tajam, tidak terima dibilang bodoh. Dia langsung mengalihkan topik pembicaraan untuk menyerang balik suaminya.
"Lo juga kenapa udah pulang jam segini? Biasanya juga lo pulang malam, sibuk sama saham-saham lo yang berharga itu!" ucap Raelyn ketus.
Alvarez memajukan tubuhnya sedikit, menatap tepat ke dalam manik mata Raelyn yang indah.
"Menurut kamu saja kenapa aku pulang?"
Melihat ekspresi Alvarez yang mendadak melunak namun terasa intens, jiwa jahil Raelyn mendadak bangkit untuk mencairkan suasana tegang ini. Dia menyunggingkan senyum licik yang menggoda.
"Lo... lo khawatir ya sama gue?" tanya Raelyn dengan nada suara yang dibuat sejahil mungkin.
Alvarez tidak memalingkan wajahnya. Dia tetap menatap Raelyn dengan pandangan seriusnya.
"Iya, aku khawatir. Khawatir rumah aku kebakaran gara-gara kecerobohan kamu."
Senyum jahil di wajah Raelyn langsung lenyap seketika, digantikan oleh rasa dongkol yang luar biasa.
"Sialan lo! Emangnya gue gila apa sampai mau bakar rumah lo?!" umpat Raelyn kasar, meremas bantal di pangkuannya karena kesal setengah mati dikerjai balik.
"Bisa gak kalau ngomong yang sopan? Dijaga bahasanya," ucap Alvarez dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat serius dan dingin. Tatapan matanya begitu tajam, mengunci pergerakan Raelyn.
Melihat perubahan ekspresi Alvarez yang tiba-tiba menjadi sangat serius dan tegas, Raelyn mendadak menciut. Dia merasakan ada sedikit rasa takut yang menyusup ke hatinya.
Selama tiga bulan mereka tinggal bersama, Alvarez biasanya tidak pernah memprotes atau mempermasalahkan caranya mengumpat atau berkata kasar dengan kata 'lo-gue'.
Namun kali ini, aura Alvarez benar-benar terasa seperti seorang suami kepala keluarga yang sedang mendidik istrinya dengan tegas.
Raelyn menelan ludahnya gugup. Dia buru-buru memalingkan mukanya, melipat kedua tangannya di dada dengan cemberut yang dipaksakan untuk menutupi rasa takut dan debaran jantungnya yang kembali menggila.
"Apaan sih..." gumam Raelyn pelan, tidak berani lagi menatap mata elang milik suaminya.