*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Belas
# Lima Belas
Ajakan menikah yang keluar dari mulut Leon tidak ada artinya bagi wanita tersebut, lantaran Leon mengatakannya berkali-kali. Seolah kata itu mudah sekali ia ucapkan. Dari situ, Hanum menangkap bahwa Leon hanya main-main.
Apalagi tak ada cinta diantara mereka berdua, oke benar! Bila Leon sangat sayang pada putrinya membuat Hanum sedikit tersentuh. Namun buka berarti mereka harus menikah. Toh Leon tak pernah menyatakan rasa cinta pada dirinya.
Pria itu ingin menikah dengannya hanya untuk menebus dosa di masa lalu, dari pada pernikahan karena sebuah penebus kesalahan. Lebih baik Hanum melajang selamanya.
“Sean, apa kamu senang sekarang?” Leon menatap putrinya yang ada di atas pangkuan Hanum. Mereka berdua kana ke taman hiburan pagi ini.
Sean pun hanya tersenyum, sejak tadi ia menyanyikan lagu anak-anak. Entah sudah habis berapa album. Hanum sampai tak menghitung.
“Dia suka bernyanyi?” ganti Leon melirik ibunda Sean tersebut.
“Ya.”
“Apa lagi yang ia sukai? Tolong ceritakan padaku?” ada nada sendu dari kata yang terlepas dari pria tersebut, Leon menyesal tak menemani Sean sejak lahir ke dunia.
“Dia suka semuanya, menari, menyanyi. Kadang juga meniru gayaku.” Tanpa sadar Hanum mengatakan hal itu dengan senyum. Bila membahas tentang putrinya ia memang selalu bersemangat dan berbinar-binar.
“Itu bukan sifatku, pasti dirimu.”
Hanum melirik sebentar ke arah Leon, kemudian memalingkan wajahnya. Sejak kapan mereka menjadi akrab seperi ini, batin Hanum bergejolak.
Suasana kembali hening, hingga tiba di sebuah gerbang taman hiburan. Sean langsung menjerit, bersorak gembira karena ada sebuah istana terpampang di depannya.
“Mengapa dia terlihat seperti itu, seperti takjub tak pernah ke sini.”
“Aku memang tak pernah membawanya ke sini!” ketus Hanum. Galaknya mulai keluar.
“Ya ampun, maafin Papa ya Sean.” Leon mengusap kepala putrinya.
Leon pun langsung ke loket untuk membeli tiket, tak lupa ke kantin dekat sana. Membeli beberapa camilan untuk Sean.
Dari jauh Hanum melihat pria itu mendekat dengan belanjaan di tangannya. “Beli apa saja itu?”
“Aku tak tahu Sean suka apa, jadi aku beli beberapa varian rasa,” ujar Leon dengan jujur.
“Dia alergi kacang.” Hanum menatap roti selai kacang.
“Serius?”
“Hem!”
“Kalau itu, dia sepertiku!” Leon meletakkan barang-barangnya, kemudian meraih Sean dan memutarnya di udara. Membuat bocah kecil nan lucu itu menjerit karena senang. Kalau begini caranya Hanum bisa luluh lambat laun juga.
Mereka bertiga langsung menuju sebuah wahana yang paling ramah. Menaiki kereta kelinci sambil menikmati pemandangan. Karena tak mungkin mengajak Sean naik rollercoaster. Apalagi masuk rumah hantu, jadi mereka hanya jalan-jalan sambil menikmati suasana yang ada.
“Sean suka?” Leon terus saja mencoba berinteraksi dengan putrinya itu. Si gadis kecil berkepang dua itu juga terlihat nyaman dekat dengan Papanya. Hal ini membuat Hanum tambah bingung, jika mereka terlalu dekat. Maka kedepannya, Sean pasti menanyakan keberadaan Leon. Dan itu membuatnya tak tahu harus menjawab apa.
Usai dari taman bermain, mereka masuk ke terowongan. Di sana mereka melewati jalur penghubung yang menyatukan taman bermain dengan kebun binatang mini.
“Sean sudah pernah lihat zebra?”
“Sudah!”
Leon memicingkan mata, berarti Sean sudah pernah ke kebun binatang sebelumnya.
“Besama siapa, sayang?”
“Om indra,” jawab gadis itu dengan cadelnya.
Setelah mendengar penuturan dari Sean, Leon jadi terlihat lesu. Ia cemburu lantaran bukan orang pertama yang mengajak putri kecilnya itu jalan-jalan ke kebun binatang. Padahal ia sempat senang karena baru pertama kali Sean ke taman hiburan.
Sambil melihat besarnya gajah, panjangnya leher jerapah dan jahilnya para monyet yang mencari kutu teman-temannya. Leon pun kembali mengajak Hanum berdialog.
“Indra itu siapa?”
“Mas Indra, temenku!”
“Hanya temen? Apa pemilik kemeja waktu itu?” Leon mengungkit kejadian tempo hari yang sempat membuatnya uring-uringan beberapa hari. Hinga tak datang menemui Sean sama sekali.
“Ya!”
Leon mendesis, tak percaya. Mana ada teman hingga pakaiannya ada di dalam rumah Hanum. “Apa dia kekasihmu?” cibir Leon dengan nada penuh sindiran.
“Ayolah! Jangan rusak hari bahagia Sean!” tak ingin ribut kembali, Hanum memohon menghentikan debat yang tak akan berujung ini.
Leon hanya mampu menelan ludah lagi, sambil menarik napas dengan berat. Mengapa hatinya sangat merasa cemburu. Apakah ia sebegitu menyukai Hanum? Bukankah ia mendekati Hanum hanya karena rasa bersalah di masa lalu.
Tidak bisa berpikir jernih, Leon mendekat ke kran dekat sana. Ia mencuci wajahnya, agar pikirannya kembali jernih. Dan dari jauh Hanum memperhatikan pria tersebut, menatapnya yang berjalan ke arahnya.
‘Sangat tampan!’ gumamnya yang melihat tubuh tegap itu makin mendekat, sisa air yang ada di dahi serta beberapa tetes di ujung dagunya. Membuat Leon makin mempesona.
‘SIAL!’ Maki Hanum dalam hati, ia merutuki dirinya yang malah terpana dengan pesona Leon. Namun tak bisa dipungkiri, Leon memang pria yang tampan dan penampilannya selalu memukau. Bila saja tidak ada sejarah kelam diantara mereka, Hanum akan jatuh hati pada pria tersebut.
“Ayo kita cari makan!” ajakan Leon barusan membuat Hanum tersadar. Ia lantas mengandeng lengan putrinya.
“Sini, biar Papa gendong!”
Mereka pun pergi ke kafe, masih di kawasan taman bermain. Ketika berada di dalam kafe, samar-samar Hanum dapat mendengar suara-suara lirih di belakang dan sekitarnya.
Mereka semua lagi gibah Leon yang suer tampan itu. ‘Beruntung ya tuh istrinya, anaknya juga cantik banget. Mirip Bapaknya!’
‘Cakep banget bapaknya!’
‘Kalau aku sendiri, udah aku goda tuh laki!’
Banyak sekali suara sumbang yang tertangkap oleh telinga tajam Hanum, dalam hati ia hanya tersenyum miris. Apakah benar ia beruntung? Apa ia menerima ajaka menikah Leon saja?
‘Jangan gila Hanum!’ Hanum kembali mengutuk dirinya dalam hati.
“Makan apa, Hanum?” Leon menyodorkan menu pada wanita yang dari tadi bengong itu.
“Aku mau nasi goreng mozarella!” ucapnya gelagapan.
“Sean mau makan apa?”
“Dia suka ayam goreng,” jawan Hanum lagi.
“Oke!”
Leon lantas memanggil pelayan, kemudian memesan makanan untuk mereka bertiga.
Sambil menunggu, mereka kembali mengobrol.
“Sean suka enggak jalan-jalan kayak gini?” Leon menatap putrinya dengan wajah manis.
Sementara itu Hanum malah terus saja memperhatikan wajah yang serius menatap putrinya itu.
“Suka Pa...!” Sean tersenyum sangat manis. Membuat Leon ingin mencubit pipi Mamanya, eh anaknya.
“Bilang sama Mama, boleh tidak Papa tinggal sama kalian?”
Sean menatap Mamanya, ia tak mengerti Papanya ngomong apa.
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️