menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JARAK YANG MEMISAHKAN
Pesawat dari Bandara Haneda, Tokyo, mendarat dengan guncangan pelan di Bandara Zurich, Swiss.
Suara roda menyentuh aspal, disusul sorakan kecil dari penumpang. 14 jam perjalanan. Transit sekali. Dari musim gugur Tokyo yang masih ada wangi daun kering, kini Akira disambut udara dingin menusuk tulang dan langit abu-abu khas Eropa yang mendung.
Napasnya langsung mengepul begitu pintu pesawat dibuka. Uap putih keluar dari mulutnya.
"Selamat datang di Swiss," ucap petugas bandara dengan logat berat.
Akira mengangguk kaku sambil menarik kopernya. Rodanya berisik di lantai bandara yang licin. _Tak... tak... tak..._ Jantungnya masih berdebar kencang. 6 jam yang lalu ia masih berciuman di balik jaket dengan Yuki di ruang tunggu Haneda. Hangat. Ada wangi shampoo Yuki. Sekarang, ia sendiri. Dikelilingi orang asing dengan bahasa yang asing.
Di sepanjang jalan menuju pengambilan bagasi, Akira terus menunduk. Ia takut kalau tiba-tiba menangis di tempat umum.
Begitu HP dinyalakan, _tintin... tintin... notifikasi langsung membludak.
_89 Pesan. 12 Panggilan Tak Terjawab. Semua dari Yuki.
Layarnya penuh nama Yuki. Nama yang paling ia rindukan.
Pesan paling atas jam 3 sore waktu Tokyo:
`Akira... kamu udah mendarat belum? Jawab ya. Aku khawatir. Aku sayang kamu.`
Ada juga foto. Foto Yuki di kamar, memeluk bantal, dengan caption: `Tempat tidur ini dingin tanpa kamu.`
Jari Akira gemetar mengetik:
`Aku baru mendarat. Maaf telat balas. Aku juga kangen.`
Detik itu juga, layar HP bergetar hebat. Panggilan video masuk.
Foto Yuki. Dengan mata sembab, rambut diikat asal, dan background kamar Tokyo yang masih terang.
Akira menarik napas panjang. Dadanya sesak. Lalu mengangkat.
Wajah Yuki langsung memenuhi layar. Di belakangnya, cahaya matahari sore masuk dari jendela, menguningkan dinding kamarnya. Ada boneka kelinci yang dulu Akira belikan. Sementara di belakang Akira, langit Zurich sudah mendung dan jam di dinding bandara menunjukkan pukul 8 pagi. Dingin. Sepi.
Mereka terdiam 3 detik. Hanya suara napas. Hanya saling menatap. Seolah tak percaya.
"Akira..." suara Yuki pecah, serak. Matanya berkaca-kaca. "Beneran... kamu udah sampai ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan."
"Iya. Udah sampai." Akira tersenyum kaku. Suaranya serak juga. Ia memutar kamera, menunjukkan asrama kecilnya. Dinding putih, kasur single, meja belajar berantakan, jendela kecil yang menghadap taman kosong. "Ini kamarku. Kecil ya? Kosong banget."
Yuki mengangguk sambil menghapus air mata dengan punggung tangan. Bibirnya bergetar. "Walaupun kecil... asal ada kamu, nggak apa-apa. Yang penting kamu aman."
Tapi keduanya tahu. Yang "nggak apa-apa" itu bohong besar.
Di luar jendela Akira, salju tipis mulai turun. Butiran putih jatuh pelan.
Di luar jendela Yuki, lampu jalan Tokyo mulai menyala satu per satu, oranye.
Beda 7 jam. Jarak yang kejam.
Saat Yuki istirahat photoshoot jam 7 malam, studio ramai dan panas lampu, keringat bercucuran, Akira masih duduk di kelas jam 12 siang yang sepi dan dingin.
Saat Akira makan malam jam 8 malam di kantin dingin sambil menggenggam cangkir kopi, Yuki sudah meringkuk di selimut jam 3 pagi, memeluk HP.
Hari pertama LDR dimulai dengan canggung, rindu, dan satu janji kecil di tengah suara noise panggilan:
"Setiap hari jam 10 malam Tokyo \= jam 3 sore Zurich. 15 menit aja. Kita janji ya. Apapun yang terjadi."
Yuki mengangguk cepat. Ia mengangkat pergelangan tangannya. Gelang couple itu berkilau kena lampu kamar. Gelang hitam.
Akira juga mengangkat tangannya. Gelang putih yang sama.
"Semangat, Yuki. Jaga diri baik-baik."
"Semangat, Akira. Makan yang teratur ya."
_Tut._ Panggilan ditutup.
Akira menatap layar yang sudah hitam. 10.000 km memisahkan Tokyo dan Zurich.
Tapi malam itu, dua orang menatap bulan yang sama... sambil memegang gelang yang sama. Dan sama-sama berbisik, "Sampai jumpa besok jam 10."
*MINGGU-MINGGU BERIKUTNYA: ANTARA RINDU DAN KESIBUKAN*
Hari-hari berjalan cepat, tapi terasa panjang. Seperti satu hari isinya satu minggu.
*Di Zurich, bau alkohol dan kertas jurnal memenuhi laboratorium.*
Udara di sana kering. Suara mesin pendingin berdengung pelan.
*Di sana, Akira fokus mendalami bidang Sains dan Riset Biomedis. Ia mendapat beasiswa penuh.*
Ini bukan karena keberuntungan. Ini hasil begadang 3 tahun di SMA.
Sejak jam 8 pagi ia sudah pakai jas putih. Kacamata. Rambut rapi. Tangannya sibuk memegang pipet, mencatat data, menatap mikroskop sampai mata perih dan punggung pegal.
Dosennya bicara cepat dalam bahasa Jerman. Akira mencatat mati-matian, kadang sampai salah tulis.
Teman sekelasnya sudah pada pulang jam 5, tapi Akira masih di lab sampai jam 9 malam. Karena ia punya alasan untuk pulang cepat: janji jam 10.
Saat istirahat 15 menit, ia lari ke pojok dekat jendela. Di luar salju turun tebal. Napasnya mengepul. Di dalam HPnya, ada pesan dari Yuki.
`Hari ini kerja selesai jam 10 malam. Capek banget. Tapi aku kepikiran kamu terus.`
Akira membalas sambil mengusap wajahnya yang dingin:
`Kamu hebat. Aku bangga. Aku juga lagi berusaha di sini. Kita kuat ya, untuk nanti.`
Kadang mereka tidak sempat video call. Hanya saling kirim voice note 5 detik. Suara Yuki yang mengantuk. Suara Akira yang lelah. Itu cukup untuk membuat mereka bertahan.
*Di Tokyo, suasana studionya berbeda 180 derajat.*
Lampu sorot menyilaukan sampai ke mata. Musik keras menggelegar. Aroma hairspray, bedak, dan keringat bercampur.
Yuki berdiri di atas panggung kecil, berganti pose. Senyum. Senyum. Senyum. Padahal di dalam hatinya kosong.
Tapi pikirannya melayang ke Zurich. Ke Akira yang mungkin sekarang sedang makan siang.
"Cut! Yuki, ekspresinya kurang hidup! Kayak orang putus cinta!" teriak fotografer frustasi.
Semua kru tertawa. Yuki hanya menunduk malu.
Manajer menarik Yuki ke belakang layar, ke ruang makeup yang bau pewangi. "Kamu kenapa? Dari tadi melamun. Salah pose terus."
Yuki akhirnya jujur. Air matanya jatuh. Ia bercerita tentang Akira. Tentang LDR. Tentang takut.
Manajernya menghela napas panjang lalu menepuk bahunya pelan. Suaranya lembut, seperti ibu.
"Yuki. Dengerin aku. Rindu itu wajar. Aku juga pernah. Tapi buktikan. Buktikan di sini kalau kamu hebat. Kerja yang bagus. Nanti pas Akira pulang, buat dia bangga. Buat dia bilang 'itu pacarku, aku bangga banget sama dia'. Jadikan rindu ini tenaga."
Kalimat itu menusuk ke hati Yuki. Malam itu Yuki pulang jam 11. Hujan deras. Ia duduk di kursi belakang taksi, menatap gelang di tangannya dan menangis diam-diam. Tapi setelah itu, ia menghapus air mata dan berjanji pada dirinya sendiri: `Aku harus kuat.`
*RUMAH YANG MENGINGATKAN*
Ketika rindu terlalu sakit sampai dada rasanya mau pecah, Yuki pergi ke satu tempat.
Rumah Akira.
Pintu kayu itu berderit saat dibuka. _Kriiit._ Wangi teh melati dan kayu tua langsung menyambut.
"Ibu..." sapa Yuki pelan, suaranya hampir hilang.
Ibu Akira yang sedang menyiram tanaman langsung berbalik dan langsung memeluknya erat. "Yuki... kamu pasti kangen ya. Masuk, nak. Hangat."
Mereka duduk di ruang tamu. Pemanas ruangan menyala, membuat ruangan hangat. Di meja ada foto Akira kecil pakai seragam SD, giginya ompong.
Yuki sering menginap di sini. Tidur di kamar Akira. Memeluk bantalnya yang masih ada sisa wangi shampoo Akira. Membaca buku catatan kecil yang isinya tulisan tangan Akira: `Yuki, terima kasih sudah selalu ada. Aku sayang kamu.`
Setiap kali di sana, rindu Yuki sedikit reda. Karena rasanya seperti Akira masih ada.
*GANGGUAN KECIL DI STUDIO*
"Minggu depan kamu dipasangkan sama Riku untuk campaign parfum baru," kata manajer suatu pagi sambil menyerahkan rundown.
Riku. Model pria tinggi 185cm. Wajahnya seperti pangeran. Senyumnya manis dan terkenal playboy.
"Yuk makan siang bareng, biar chemistry kita kebangun," ajaknya beberapa kali dengan nada menggoda.
Yuki hanya mengangguk sopan. "Maaf, aku ada jadwal lain. Harus telpon keluarga."
Setiap kali Riku mendekat dan mencoba merangkul, Yuki mundur selangkah. Jaga jarak. Profesional. Di dalam tasnya, HP bergetar terus. Nama Akira.
Pulang kerja, ia langsung rebahan di kasur. Buka galeri. Foto Akira pakai jas lab sambil serius. Foto Akira ketiduran di meja dengan buku menutupi wajah. Semua foto yang Ibu Akira kasih diam-diam.
Itu obatnya.
*KEJUTAN DI KAFE*
Hari Minggu. Hujan rintik-rintik di Tokyo. Suasana sendu.
Yuki duduk di kafe Nana. Wangi kopi dan roti panggang baru keluar dari oven. Musik jazz pelan.
Nana sekarang sibuk jadi pemilik kafe. Rambutnya diikat, apronnya penuh tepung. Tapi wajahnya bersinar.
Pintu _kring_. Yasiro masuk dengan payung basah dan membawa kue.
"Eh?" Yuki kaget. "Kamu mau ketemu Nana?"
Yasiro tersenyum canggung. "Iya. Aku bawain ini."
Suasana hening sedetik. Lalu Nana tertawa malu. "Sebenarnya... kami mau nikah bulan depan. Tanggal 20."
Cangkir di tangan Yuki hampir jatuh. "HAAA?! Sungguhan?! Cepet banget!"
Mereka bertiga tertawa. Nana cerita bagaimana Yasiro dulu sering "kebetulan" mampir tiap sore padahal kantornya jauh.
Yasiro cerita bagaimana ia deg-degan saat melamar di atap gedung dengan kembang api.
"Terus kamu sama Akira gimana?" tanya Nana sambil menuang teh.
Yuki menatap luar jendela. Hujan. "Masih LDR. Sulit. Tapi kami ada janji. 15 menit tiap hari. Itu yang bikin aku bertahan."
Malamnya Yuki chat Akira panjang:
`Hujan turun dari tadi. Nana katanya mau nikah bulan depan. Aku seneng. Tapi aku juga sedih. Kapan giliran kita ya?`
3 jam kemudian balasannya datang, pas jam 3 sore Zurich:
`Itu bagus. Aku ikut seneng. Kita juga nanti... ya? Tunggu aku. Aku janji akan pulang dan melamar kamu.`
Yuki membaca pesan itu berkali-kali sampai hafal. Lalu memeluk HP dan tertidur dengan senyum.
*SEBULAN KEMUDIAN: HUJAN BUNGA*
Sebulan berlalu begitu cepat. Hari pernikahan Nana dan Yasiro tiba.
Gedung dihias bunga putih dan lampu gantung kristal. Musik piano pelan mengalun. Wangi mawar di mana-mana.
Yuki datang pakai dress biru muda selutut, bersama Ibu Akira. Di kursi depan ada teman-teman SMA mereka. Semua sudah dewasa.
Saat janji suci diucapkan, semua terdiam. Hanya suara sumpah dan isakan haru dari para tamu.
Yuki menatap sambil menggenggam erat gelang di tangannya. Dadanya sesak.
Lalu tibalah acara pelemparan bunga.
Nana berbalik membelakangi tamu. Satu, dua, tiga... _lempar!_
Semua gadis maju berebut. Teriakan, tawa.
Yuki hanya berdiri di belakang, HP di tangan. Notifikasi masuk: `Akira: Lagi apa? Lagi di pernikahan?`
Tiba-tiba... _duk_. Sesuatu mendarat tepat di tangannya. Wangi mawar segar.
Buket bunga.
Seluruh ruangan menoleh. Lalu tepuk tangan dan sorakan pecah.
"Yuki! Giliran kamu selanjutnya!"
"Yuki pasti nikah tahun depan!"
Wajah Yuki merah padam. Ia menatap buket itu, lalu menatap ke atas langit-langit gedung.
Seolah menembus atap, menembus awan, sampai ke Zurich tempat Akira berada.
Dalam hati ia berbisik dengan air mata, `Akira... aku nangkep bunganya. Denger nggak?`
Malam itu, di kamar sendirian, Yuki meletakkan buket di samping foto Akira di meja.
Ia menggenggam gelang erat-erat. Di luar, hujan masih turun pelan mengetuk jendela.
Jarak jauh. Tapi hati dekat.
Dan janji 15 menit itu... masih mereka pegang.