Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Kedekatan Januar dan Sarah
Pukul 10 malam Cakra dan Rani tiba di terminal desa Suka Makmur. Mereka turun dari bus untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Namun, di tengah langkah tiba-tiba Rani memekik sambil memegangi perutnya.
"Aduh, Mas, perutku sakit," keluh Rani dengan wajah meringis. Cakra yang memimpin jalan pun lantas menoleh, dia tampak acuh tak acuh dengan rasa sakit yang diderita istrinya.
"Tahan dulu, sebentar lagi kan kita sampai rumah," balas Cakra yang menenteng tas.
Rani mencoba memaksakan diri untuk berjalan seperti apa kata Cakra, tetapi tiba-tiba rasanya ada yang merembes dari balik roknya. Mata Rani langsung terbelalak saat melihat daraah mengalir ke kakinya.
"Mas!" teriak Rani, karena Cakra sudah kembali berjalan.
"Apalagi sih?" sewot Cakra, sebab kendaraan ke rumah mereka sudah jarang yang beroperasi, jika Rani terus-menerus beralasan yang ada mereka bisa menginap di terminal.
"Ada daarah," ujar Rani dengan wajah pucat pasi.
Mendengar itu baru Cakra merasa panik. Dia menghampiri Rani dan melihat cairan itu sudah jatuh ke bawah. Ternyata dia masih memiliki sisi nurani untuk istri dan anaknya hingga tanpa pikir panjang Cakra pun langsung berteriak meminta tolong.
Orang-orang yang ada di sana langsung berbondong-bondong mengerubungi Rani, lalu memberikan saran untuk membawa ibu hamil itu ke fasilitas kesehatan terdekat.
Sedangkan ibu Rani yang berada di kota tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dia kepikiran Rani, sebab sejak tiba di rumah dia tidak melihat batang hidung Rani maupun Cakra. Merasa penasaran, akhirnya ibu Rani mencoba mengetuk kamar putrinya.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Ran, Rani!" panggil wanita tersebut. Namun, sama sekali tak ada sahutan. Kamar itu gelap dan hening.
"Mereka pasti sudah tidur. Harusnya aku mengeceknya dari tadi, ya sudah biarlah besok sarapan juga mereka pasti keluar," gumam ibu Rani, sama sekali tak kepikiran jika anak dan menantunya telah kabur. Dengan perasaan yang tak tenang wanita itu kembali ke kamar dan mencoba untuk tidur lagi.
****
Pagi dengan pemandangan yang tak biasa di rumah Juragan Marta. Saat Biyakta ingin pergi ke gudang, dia berpapasan dengan Januar yang tak sendirian, melainkan sang adik bersama dengan Sarah—wanita yang beberapa hari lalu mencoba tebar pesona padanya.
"Pagi, Mas," sapa Januar lebih dulu dengan seutas senyum.
"Pagi," balas Biyakta singkat. Di sampingnya Diyah sedikit mengerutkan alisnya, mencerna situasi yang tengah dia hadapi saat ini, antara Januar dan Sarah.
"Mas tidak ikut sarapan?" tanya Januar yang melihat Biyakta sudah rapi.
"Iya, Mas, sepertinya sudah ingin pergi kerja ya," timpal Sarah berusaha ikut nimbrung.
"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Nanti Diyah juga pasti kirim makanan ke gudang," jawab Biyakta sambil menoleh ke arah istrinya. Diyah mengangguk sambil mengulum senyum.
"Kamu sendiri gimana, Jan? Apa mau sarapan bareng Sarah?" tanya Diyah yang melihat keduanya jadi cukup akrab.
"Iya, Mbak Diyah, aku dan Januar mau cari sarapan di luar, sekalian quality time," jawab Sarah sambil menggandeng tangan Januar tanpa sungkan. Januar yang belum terbiasa sempat ingin menepis, tapi niatnya tak terealisasi karena sadar akan tatapan Biyakta.
"Kalau begitu aku duluan," pungkas Biyakta segera pamit. Dia menghampiri motornya yang sudah dipanasi, lalu mencium pipi Diyah di depan keduanya.
Sarah mengeratkan gigi, karena merasa Biyakta sengaja mengumbar kemesraan. Namun, demi lancarnya jalan untuk masuk ke keluarga Kusuma, dia segera mengubah mimik wajahnya.
Berusaha terlihat semanis mungkin di depan Januar.
"Mas, kita juga pergi yuk?" ajak Sarah dengan suaranya yang dibuat selembut mungkin. Januar yang selalu tanpa ekspresi itu pun mengangguk.
Dari tempatnya berdiri Diyah merasa ada yang aneh. Kedekatan mereka seakan tak terjalin alami.
"Apa Januar juga dijodohkan ya?" gumam Diyah mencoba menerka.
****
Hari ini Arumi benar-benar bahagia, karena Diyah berjanji akan kirim uang lagi. Dengan senyum yang merekah wanita itu menyalakan TV dan duduk bersandar di kursi panjang.
"Mila!" panggil Arumi, merasa punya asisten rumah tangga.
Sarmila yang sedang mencuci pakaian di kamar mandi tak langsung menyahut, Arumi semakin mengeraskan suaranya, dan baru lah Sarmila mendengarnya. Dia langsung bergegas cuci tangan dan menghampiri Arumi.
"Ada apa, Bu?"
"Budek ya kamu?"
"Aku lagi cuci baju, Bu, jadi nggak terlalu denger," jawab Sarmila apa adanya, apalagi ruangan menuju kamar mandi ada sekat.
"Buatin minuman dulu gih, terus pijet kaki saya," titah Arumi yang membuat wajah Sarmila langsung berkerut.
Dia tidak menyangka jika Arumi benar-benar ibu kandung kakak tirinya, karena sifat Arumi dan Diyah seperti langit dan bumi.
"Kenapa bengong sih Mila? Saya capek juga karena ngurusin kepulangan kamu, jadi sudah sepatutnya kamu nurut perintah saya. Cepet, saya udah telepon Diyah!"
Sarmila yang tak mau menanggung resiko pun akhirnya hanya bisa pasrah dengan sikap Arumi padanya. Apalagi Diva sedang sekolah, jadi tidak ada yang membelanya.
"Iya, Bu," ujar Sarmila.
Namun, baru saja menyajikan minuman dan ingin memijat kaki Arumi. Tiba-tiba pintu dibuka dengan keras, seorang pria yang Sarmila kenali sebagai suami Arumi pulang dengan wajah teler seperti orang mabuk.
"Arumi!" panggilnya berteriak.
Arumi yang tahu jika suaminya baru pulang judi pun langsung bergegas masuk ke dalam kamar. Karena pria itu pasti akan minta uang padanya. Jika tidak diberi, bisa-bisa Arumi jadi samsak tinju.
"Bu, itu Bapak—" Belum selesai ucapan Sarmila, Arumi sudah berlari dan mengunci kamarnya.
"Arumi, aku minta uang!" teriaknya lagi, tapi yang dia lihat justru hanya ada Sarmila yang berwajah panik.
"Heh, bukannya kamu adik Si Diyah? Ngapain di sini? Mau maling?" serunya sambil mencengkram baju Sarmila.
si pecudang arumi semogah cepat dapat karma,,,,
Sarimi semogah habis ini kamu sadar kalau dyah bukan lah saingan tapi seorang kakak yang benar2 tulus sama adik...drkogah otak mu waras habis ini sarimi