NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Arya Suryanegara, Putra Mahkota

"Siapa sebenarnya kamu, Mas Arya?"

Pertanyaan Andini belum sempat mendapat jawaban malam itu.

Keesokan paginya, seluruh Kota Awan menjawabnya lebih dulu.

Pukul sepuluh tepat, ruang konferensi pers PT Takdir Nusantara Group dipenuhi kamera. Logo emas Takdir berdiri di belakang podium. Para jurnalis bisnis, media daring, stasiun televisi lokal, dan beberapa analis pasar duduk rapat di barisan depan. Semua orang mengira acara itu hanya penjelasan resmi soal penghentian kerja sama dengan Keluarga Permata.

Lalu Dewi Suryanegara naik ke podium.

Ia mengenakan batik hitam-emas dengan potongan modern. Wajahnya tenang, tetapi matanya membuat ruangan otomatis diam.

"Terima kasih sudah hadir," katanya. "Hari ini PT Takdir Nusantara Group akan mengumumkan dua hal."

Kamera menyala.

Di rumah besar Permata, Sinta berdiri di depan televisi. Maryam duduk di sofa, menggenggam tasbih kecil yang biasanya hanya ia pegang saat panik. Om Besar berdiri di belakang mereka, wajahnya suram.

Di klub privat lain, Revan Hadinata menonton dari ponsel. Dodi sudah tidak ada di sampingnya.

Di mobil menuju kantor, Andini melihat siaran langsung dari tablet. Jarinya berhenti di atas layar ketika wajah Dewi muncul.

Dewi melanjutkan, "Pertama, keputusan penghentian kerja sama dengan Keluarga Permata dan entitas terkait bukan keputusan emosional. Ini hasil audit internal atas risiko kontrak, kepatuhan, dan reputasi."

Seorang wartawan mengangkat tangan. "Apakah ini berkaitan dengan rumor perceraian salah satu anggota Keluarga Permata?"

Dewi menatap wartawan itu. "Rumor pribadi tidak pernah menjadi dasar kebijakan korporasi kami."

Ruangan mencatat kalimat itu.

"Kedua," kata Dewi, dan kali ini suaranya menjadi lebih berat, "PT Takdir Nusantara Group perlu meluruskan satu hal yang selama ini sengaja disembunyikan demi alasan strategis."

Layar besar di belakangnya berubah.

Foto Gedung Takdir, struktur kepemilikan, dan sejarah restrukturisasi perusahaan muncul satu per satu. Di bagian akhir, ada satu nama yang selama ini tidak pernah muncul di berita.

Arya Suryanegara.

Dewi berdiri lebih tegak.

"Arya Suryanegara adalah putra sah garis utama Keluarga Suryanegara. Ia adalah ahli waris prioritas keluarga, pendiri strategi restrukturisasi PT Takdir Nusantara Group, dan pengendali aktual yang membangun perusahaan ini dari kondisi hampir bangkrut menjadi konglomerat terbesar di Kota Awan."

Suara klik kamera meledak.

Di rumah Permata, cangkir di tangan Maryam jatuh ke lantai.

PRAK.

Sinta tidak bergerak. Wajahnya putih seperti kertas.

Ahli waris prioritas.

Pengendali aktual.

PT Takdir.

Kata-kata itu menghantamnya satu per satu, terlalu keras untuk dipahami sekaligus.

Om Besar Permata menutup mata. Ia akhirnya mengerti kenapa Arya menolak menolong mereka tanpa sedikit pun takut.

Maryam berdiri dengan lutut goyah. "Tidak mungkin. Tidak mungkin! Dia cuma... dia cuma..."

"Dia cuma apa?" Om Besar bertanya pelan. "Pengemis?"

Maryam tidak menjawab. Napasnya pendek. Beberapa detik kemudian, tubuhnya limbung dan jatuh ke sofa.

Sinta tetap menatap layar.

Di layar, seorang wartawan bertanya dengan suara gemetar, "Apakah benar Pak Arya adalah bagian dari Keluarga Suryanegara yang sama dengan konglomerat nasional itu?"

Dewi menatap kamera.

"Bukan bagian kecil," katanya. "Arya adalah adik saya. Dan bagi banyak orang di keluarga kami, ia adalah orang yang seharusnya memimpin sejak awal."

Di tempat lain, Revan melempar ponselnya ke dinding.

"Sial!"

Layar retak, tetapi suara siaran masih terdengar. Wajah Dewi tetap tenang, seolah sengaja menatap semua orang yang pernah menertawakan adiknya.

Andini duduk terpaku di mobil.

Mas Arya.

Lelaki yang semalam minum kopi hitam bersamanya, yang membawa map desainnya dengan hati-hati, yang tersenyum saat ia menebak kebiasaan buruknya, ternyata adalah orang di balik perusahaan yang membuat seluruh Kota Awan berlutut.

Namun yang lebih aneh, ia tidak merasa tertipu.

Ia justru teringat bagaimana Arya menolak memamerkan nama belakangnya.

Di ruang konferensi, Dewi menutup pernyataan. "Mulai hari ini, semua komunikasi strategis yang berkaitan dengan Pak Arya Suryanegara akan melalui kantor hukum resmi. Kami meminta media tidak mengganggu kehidupan pribadi pihak-pihak yang tidak relevan."

Konferensi berakhir, tetapi Kota Awan baru mulai terbakar.

Berita itu menyebar seperti badai.

Menantu miskin yang diusir Keluarga Permata ternyata pewaris Suryanegara.

Pria yang dihina sebagai benalu ternyata membangun Takdir.

Keluarga Permata bukan hanya kehilangan kontrak. Mereka kehilangan laki-laki yang diam-diam menjadi sumber napas bisnis mereka.

Di grup WhatsApp pengusaha Kota Awan, pesan masuk tanpa henti. Orang yang kemarin masih menertawakan gosip perceraian Arya tiba-tiba menghapus komentar lama. Beberapa vendor yang pernah menunda balasan email Takdir langsung mengirim permintaan maaf. Dua bank yang semalam menekan Permata mengubah nada menjadi lebih hati-hati, seolah takut salah menyentuh urusan pribadi pewaris Suryanegara.

Di pos satpam komplek Permata, Rahim melihat berita dari ponsel murahnya. Mulutnya terbuka. Ia teringat pria basah kuyup yang berjalan sendirian di hujan dan masih sempat bertanya kelas anaknya.

"Ya Tuhan," bisiknya. "Pak Arya..."

Sementara itu, Arya tidak berada di konferensi pers.

Ia duduk di kursi belakang sebuah Grab hitam, mengenakan kaus gelap dan jaket biasa. Sopirnya tidak tahu siapa penumpang di belakang. Radio mobil sedang membacakan berita tentang dirinya.

"Gila, Pak," kata sopir itu sambil tertawa. "Ada menantu diusir ternyata bos besar. Kalau saya jadi mertuanya, saya pingsan."

Arya melihat notifikasi berita di ponselnya dan tersenyum tipis. "Mungkin sudah."

Sopir tertawa, tidak sadar ia sedang bercanda dengan orang yang sama.

Ponsel Arya bergetar.

Nama Andini muncul.

Ia mengangkat. "Halo."

Di seberang sana, Andini diam sebentar. "Jadi... hanya Arya, ya?"

Arya menatap jalan Kota Awan yang bergerak lambat. "Kemarin malam itu jawaban yang paling praktis."

"Praktis sekali. Sampai satu kota menjawab sisanya untuk saya."

"Maaf."

"Saya belum bilang marah."

"Berarti masih ada kesempatan."

Andini tertawa pelan, meski suaranya masih gugup. "Kesempatan apa?"

"Makan malam." Arya berhenti sebentar. "Kalau boleh, aku panggil Dini?"

Di seberang, Andini menarik napas kecil. "Biasanya hanya keluarga yang memanggil saya begitu."

"Kalau tidak nyaman, aku tetap Andini."

"Tidak." Suaranya melembut. "Dini tidak apa-apa."

"Baik, Dini. Mau makan malam denganku?"

Andini melihat layar tablet yang masih menampilkan wajah Dewi dan judul berita besar tentang Arya. Ia seharusnya menolak. Lelaki itu terlalu berbahaya, terlalu besar, terlalu penuh rahasia.

Tetapi ia teringat cara Arya berkata, Anda memang tidak rapuh.

"Baik," katanya. "Tapi tempatnya saya yang pilih."

"Adil."

Malam itu, setelah berita berhenti berputar di televisi namun belum berhenti menghantui semua orang, Arya menerima panggilan terenkripsi.

Nomornya tidak muncul.

Suara tua dan berat terdengar setelah sambungan tersambung.

"Arya."

Ekspresi Arya berubah untuk pertama kalinya hari itu.

Prabu Suryanegara.

"Permainanmu di Kota Awan sudah cukup," kata suara itu. "Pulang. Atau aku yang akan menjemputmu."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!