`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19_Permainan Dua Sisi
...BAB 19_Permainan Dua Sisi...
Malam harinya, hening melingkupi apartemen penthouse mewah yang berlokasi di kawasan teratas Jakarta Selatan—sebuah hunian eksklusif berfasilitas keamanan tingkat tinggi yang disiapkan khusus oleh `Julian` dari Australia. Tempat itu adalah tempat perlindungan serba ada bagi Lea, sebuah surga tersembunyi berlantai marmer dingin tempat ia melepas topeng 'Alia' dan kembali menjadi ratu manipulatif yang memegang kendali atas banyak nyawa. Dari dinding kaca setinggi langit-langit penthouse, pendar lampu pencakar langit Jakarta berkerlip indah di bawah naungan langit malam yang pekat.
Lea duduk berselonjor di sofa kulit hitam seraya menggoyangkan gelas berisi jus buah segar. Ia mengenakan gaun malam berbahan sutra merah marun yang membingkai tubuh jenjangnya dengan sempurna. Di atas meja kaca di depannya, dua unit ponsel diletakkan berjejer.
Ponsel pertama adalah unit ponsel berwarna emas khusus nomor lokal Indonesia. Nomor inilah yang dipegang oleh Teo Ozawa, pihak sekolah Ozawa School, serta jaringan rumah sakit untuk urusan penyamarannya sebagai 'Alia'. Sementara ponsel kedua adalah ponsel berlapis titanium hitam berteknologi enkripsi khusus jaringan internasional—ponsel yang menghubungkannya dengan para pria kaya dan berpengaruh yang melayani hatinya di Melbourne.
Ponsel titanium hitam itu bergetar nyaring, menampilkan notifikasi panggilan masuk dari dua nama yang sangat ia kenal: `Julian` dan `Ethan`.
Lea menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan keanggunan beracun. `Permainan diplomasi jarak jauh dimulai`, batinnya seraya mengambil ponsel titanium tersebut. Ia menggeser layar untuk menyambungkan panggilan pertama dari Julian—pria kaya penuh wibawa di Australia yang menyediakan seluruh fasilitas mewah ini, kebutuhan logistik tak terbatas, hingga jaringan hukum VVIP untuk melindunginya selama di Jakarta.
`"Halo, Julian..."` panggil Lea dengan suara lembut, berat, dan sedikit serak yang terdengar begitu lelah namun manis di seberang telepon.
`"Lea? Kamu baru pegang ponsel, sweetheart?"` Suara Julian yang berat dan penuh kekhawatiran tertahan terdengar jernih dari pengeras suara. `"Orang-orangku di Rumah Sakit Medika Sentosa memberi tahu kalau tadi siang ada pergerakan dari intelijen keluarga Ozawa yang mencoba mengacak-acak data perawatan kembaranmu. Tapi kamu tenang saja, jaringan hukum internasional milik keluarga kita sudah menutup rapat semua akses. Gimana kondisi penthouse? Semua fasilitasnya cukup buat kamu?"`
Lea memainkan ujung rambut karamelnya dengan jemari lentik, menghembuskan napas pelan yang sengaja diatur agar terdengar rapuh. `"Tempat tinggalnya sangat nyaman dan aman, Julian... Terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu di hidupku. Tapi Teo Ozawa terus menekanku dan kembaranku di sekolah. Dia... dia mulai curiga dari mana biaya perawatan VVIP untuk Alia berasal."`
`"Teo Ozawa benar-benar bajingan yang tidak tahu diri,"` geram Julian, nada suaranya mengeras dingin dan penuh ancaman mendalam. `"Perlukah aku menurunkan tim hukum dan menekan lini bisnis Ozawa Group di Singapura dan Jakarta besok pagi?"`
`"Jangan dulu, Julian sayang..."` sela Lea cepat, mengubah intonasi suaranya menjadi manja dan penuh gantung harapan. `"Biarkan aku yang menangani pria arogan itu dengan caraku. Kalau kamu turun tangan sekarang, situasi Nenek dan Alia di rumah sakit bisa terancam. Kamu percaya padaku, kan?"`
Hening sejenak melingkupi garis telepon sebelum hembusan napas berat Julian terdengar mengalah. Suara pria Australia itu melunak sepenuhnya.
`"Aku selalu percaya kamu, Lea sayang. Tempat tinggal dan semua fasilitas VVIP itu milikmu, jadi fokus saja menjaga diri. Tapi ingat, kalau pria itu berani menyentuhmu atau membahayakanmu seujung jari pun, beri tahu aku. Aku akan memastikan dia membayar mahal."`
`"Pasti, Julian. Terima kasih... Kamu memang pahlawanku. Nanti malam aku telepon lagi ya,"` bisik Lea manis sebelum menekan tombol pemutus panggilan.
Tanpa memberikan jeda satu detik pun bagi hatinya untuk merasa bersalah, Lea langsung menerima panggilan kedua dari nomor Melbourne yang sejak tadi menunggunya: `Ethan`.
Pria muda berdarah konglomerat yang royal, emosional, dan selalu berapi-api itu langsung menyerbu begitu panggilan tersambung: `"Lea! Demi Tuhan, dari tadi pagi aku menunggu telepon balasanmu! Kamu di mana sebenarnya?! Kemarin di telepon kamu cuma bilang ada urusan mendadak dan langsung mematikan telepon! Kenapa nomor internasionalmu sulit sekali dihubungi?!"`
Lea terkekeh pelan. Nada suaranya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat dari sosok rapuh di depan Julian menjadi sosok Lea yang angkuh, riang, dan sangat memikat seperti saat ia berada di Melbourne.
`"Ethan, sayang... rileks,"` ujar Lea seraya mengagumi kuku tangannya yang terawat. `"Semua sudah terkendali. Aku ada urusan bisnis keluarga pribadi yang harus kuselesaikan di luar Melbourne sebentar. Kamu tidak perlu repot-repot panik dan menyusul cuma buat urusan sepele begini."`
`"Sepele kamu bilang?! Aku khawatir setengah mati sama kamu, Lea!"` dengus Ethan di ujung telepon, walau nada bicaranya jelas terdengar lega luar biasa hanya karena mendengar tawa riang gadis itu. `"Awas ya kalau kamu berani bohong padaku lagi. Besok aku kirimkan hadiah balasan buat kamu ke tempatmu."`
`"Terserah kamu, Ethan sayang. Yang penting kamu fokus saja dengan urusanmu di sana. Muaah!"` ucap Lea riang sebelum mematikan sambungan.
Lea meletakkan ponsel titaniumnya kembali ke atas meja kaca. Tatapannya berubah dingin, menusuk, dan tak tersentuh. Ponsel emas bernomor Indonesia yang berada di sebelahnya tetap sepi—nomor khusus penyamaran yang menjadi alat pemukul utamanya untuk menghancurkan Teo Ozawa. `Julian` dan `Ethan` adalah dua benteng pertahanan terbaiknya dari luar negeri: Julian memegang kendali atas perlindungan hukum VVIP dan tempat tinggal mewah, sementara Ethan memegang akses logistik tak terbatas dari Australia.
Keesokan harinya di Ozawa School, suasana menyambut kedatangan Lea jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Tidak ada lagi tatapan menghina dari murid-murid kaya, tidak ada lagi bisikan ejekan di sudut koridor, dan tidak ada lagi yang berani berdiri menghalangi jalan saat 'Alia' melangkah lewat. Berita tentang `Sheila`—cewek paling berpengaruh di sekolah yang mendadak kehilangan seluruh investasi keluarganya dari Ozawa Group hanya dalam kurun waktu lima belas detik kemarin—telah menyebar bagai wabah ketakutan yang merontokkan keberanian semua orang. Murid-murid paham betul aturan baru yang tak tertulis: siapa pun yang berani mengusik Alia, Teo Ozawa sendiri yang akan menghancurkan hidup mereka tanpa ampun.
Saat Lea melangkah anggun menaiki tangga menuju lantai dua dan tiba di depan pintu kelas 11-A, sosok tinggi Teo Ozawa sudah berdiri menunggu di sana. Pria yang biasanya memimpin geng tiran sekolah itu mengenakan seragam rapi dengan aura yang amat dominan dan berbahaya. Namun, matanya terlihat sedikit memerah dan lingkaran hitam membingkai bawah iris obsidiannya—tanda jelas bahwa sang tiran tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Ego tingginya terus membusuk dari dalam, digulung gila oleh rasa cemburu, kebingungan akan sosok 'sponsor' kaya di balik Alia, serta obsesi gelap untuk kembali menguasai gadis yang dulunya begitu mudah ia permainkan.
Di tangannya yang kekar, Teo memegang sebuah kotak bekal eksklusif bertingkat dan botol minum termos berbahan stainless steel mahal.
`"Selamat pagi, Alia,"` panggil Teo rendah. Suaranya berat dan mengintimidasi. Pria itu melangkah satu tapak mendekat, mengurung ruang gerak Lea seraya mengangsurkan kotak bekal tersebut. `"Aku menyuruh koki pribadiku menyiapkan sarapan nutrisi tinggi untukmu pagi ini. Makan."`
Lea menghentikan langkah kakinya. Ia menatap kotak bekal mewah itu sekilas, lalu perlahan mengangkat pandangannya untuk menatap langsung ke dalam manik mata tajam sang tiran. Senyum tipis yang amat misterius terukir di bibirnya.
`"Kamu ingat perjanjian taruhan kita, kan, Teo?"` tanya Lea pelan. Suaranya jernih dan tenang, namun menyapu heningnya koridor bagai bilah es. `"Seorang pelayan tidak berhak mengatur apa yang harus dimakan oleh tuannya."`
Teo membeku di tempatnya. Rahangnya mengepal rapat hingga urat-urat di lehernya menegang menahan rasa gila akibat egonya yang dihantam habis-habisan di hadapan murid-murid yang mengintip dari balik jendela. Teo tidak merasa bersalah—ia adalah tiran yang tidak kenal kata maaf. Namun, ketidakmampuannya untuk mendominasi Alia saat ini justru menyulut obsesi beracun di dadanya. Ia membiarkan dirinya terikat perjanjian taruhan ini semata-mata demi memegang kendali kembali dan mengurung gadis ini di bawah ketiaknya.
`"Aku tidak mengaturmu,"` desis Teo dengan nada suara berbahaya, menatap Lea dengan pandangan yang sarat akan kepemilikan. `"Aku hanya memastikan barang yang aku taruhkan tidak ambruk sebelum aku selesai bermain-main dengannya."`
Lea tidak terkecoh sedikit pun oleh gertakan tiran yang berpura-pura tenang itu. Ia melangkah satu tapak mengikis jarak di antara mereka, mendongak menatap tepat pada iris mata obsidian Teo.
`"Kalau begitu, Tuan Tiran,"` bisik Lea halus, jemari lentiknya terulur membenarkan posisi kerah blazer biru tua milik Teo dengan gerakan yang terlihat sangat intim namun sarat akan hinaan mutlak, `"bawakan tas bukuku ke dalam kelas, lalu berdiri di samping mejaku sampai bel pelajaran pertama berbunyi."`
`Reno` dan `Bagas` yang baru tiba di ujung koridor lantai dua mematung kaku. Makanan di tangan Bagas hampir terjatuh. Mereka menyaksikan bagaimana Teo Ozawa—sang predator paling berbahaya di sekolah ini—menggeram pelan dengan mata menyala penuh amarah, namun tangannya tetap terulur mencengkeram tas kain pudar milik Alia. Teo menuruti perintah itu bukan karena ia mendadak jadi pria baik, melainkan karena ia terlalu terobsesi untuk lepas dari permainan yang Lea rancang.
`"Baik, Alia,"` sahut Teo rendah dan penuh ancaman tak kasat mata.
Lea membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam kelas dengan dada terangkat tegak. Di belakangnya, sang tiran sekolah mengekor kaku seraya menyandang tas mudanya, berdiri bagai pemangsa yang terikat rantai di samping meja Lea.
Di dalam hatinya yang paling dalam, Lea berbisik dingin pada bayangan kembarannya di RSJ Bogor: `Lihat, Alia... predator yang dulu menghancurkan hidupmu, sekarang sedang merayap di dalam kandangnya sendiri, mengira dia memegang kendali—padahal dia hanyalah mainan yang sedang kubawa menuju kebinasaan.`