Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.
Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.
Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.
Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?
Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar dari Jauh
Pagi itu, Almeera sedang duduk tenang di meja makan ketika ponsel di samping piringnya berdering nyaring. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk dari Papa.
Seketika seulas senyum bahagia langsung terbit di wajah Almeera.
"Papa telepon, Ma," ucap Almeera bersemangat.
Mama yang sedang sibuk menyiapkan menu sarapan di depan kompor langsung menoleh sambil tersenyum ramah. "Oh ya? Angkat aja langsung, Meera."
Almeera dengan cepat menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut. "Assalamu'alaikum, Papa," ucap Almeera riang.
"Wa'alaikumussalam, Anak Gadis Papa. Kamu sudah sarapan belum pagi ini?" tanya Papa hangat dari seberang telepon.
"Ini lagi di meja makan, Pa, tapi belum selesai makannya," jawab Almeera jujur.
Papa langsung tertawa kecil mendengar jawaban putrinya. "Ya sudah, diselesaikan dulu makannya. Jangan sampai lupa makan siang."
"Iya, Papa," sahut Almeera patuh.
Sudah beberapa minggu belakangan ini Papa memang harus berada di luar negeri untuk mengurus urusan pekerjaan kantornya. Tuntutan profesi itu mengharuskan Papa tinggal di sana dalam jangka waktu yang cukup lama. Kondisi ini membuat Almeera dan Mama hanya bisa melepas rasa rindu melalui sambungan telepon seperti hari ini.
"Papa kapan rencana mau pulang ke Indonesia?" tanya Almeera menyuarakan rasa kangennya.
"Nanti kalau semua urusan pekerjaan di sini sudah selesai beres, Papa pasti langsung pulang kok," jawab Papa menenangkan.
"Masih lama banget ya, Pa?" tanya Almeera sedikit lemas.
"Mungkin sekitar beberapa minggu lagi, Meera. Doakan aja ya semoga semuanya lancar," jawab Papa.
Almeera mengangguk pelan meskipun Papa tidak bisa melihatnya. "Iya, Pa, Meera selalu doakan. Papa juga jangan sampai terlalu capek kerja di sana ya."
Papa tersenyum mendengar perhatian putrinya. "Iya, terima kasih ya, Sayang. Kamu juga jangan terlalu mencemaskan kondisi Papa di sini. Yang paling penting sekarang kamu fokus sama kuliah kamu dulu."
"Iya, Papa," jawab Almeera patuh.
"Bagaimana jalannya kuliah kamu akhir akhir ini?" tanya Papa perhatian.
"Alhamdulillah lancar dan baik kok, Pa. Sekarang Meera lagi berjuang keras belajar buat jadi anak yang lebih rajin lagi," jawab Almeera bangga menceritakan komitmen barunya.
"Luar biasa, Papa senang banget mendengarnya. Pertahankan terus ya, Meera," ucap Papa tulus merasa bangga.
Almeera tersenyum manis. "Iya, Pa. Papa juga jangan sampai lupa buat selalu menjaga kesehatan di sana ya."
"Iya, pasti. Kamu dan Mama juga harus saling menjaga di rumah," jawab Papa.
Setelah mengobrol santai selama beberapa menit, Papa akhirnya berpamitan karena harus segera menghadiri agenda rapat kantor. "Meera, Papa harus izin pergi dulu sebentar ya. Ada urusan pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan hari ini."
"Iya, Papa, siap. Hati hati di jalan ya, Pa," jawab Almeera ramah.
"Iya, terima kasih. Assalamu'alaikum," ucap Papa menutup obrolan.
"Wa'alaikumussalam," jawab Almeera tersenyum. Panggilan telepon itu pun berakhir.
Almeera menatap layar ponselnya selama beberapa saat dengan perasaan lega. Meskipun posisi Papa saat ini sedang berada sangat jauh di belahan bumi lain, setidaknya kecanggihan teknologi hari ini masih bisa membuat hubungan komunikasi mereka berjalan dengan lancar.
Mama kemudian berjalan mendekat lalu mengambil posisi duduk tepat di hadapan Almeera. "Papa hari ini masih banyak banget ya urusan pekerjaannya di luar negeri, Meera?"
"Iya, katanya kerjaannya padat banget, Ma. Semoga aja semua urusannya bisa cepat selesai beres," ucap Almeera penuh harap.
"Aamiin, semoga saja," jawab Mama tulus.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya dengan tenang, Almeera bergegas merapikan pakaian kuliahnya lalu berpamitan untuk berangkat menuju kampus. Hari itu, jadwal kelasnya cukup bersahabat karena dia hanya memiliki dua mata kuliah saja.
Begitu menginjakkan kaki di area koridor kampus, Almeera langsung berpas pasan bertemu dengan Eliza yang berjalan dari arah berlawanan.
"Meera!" panggil Eliza melambaikan tangan.
"Eh, Eliza. Iya, ada apa?" sahut Almeera menghampiri sahabatnya.
"Tadi pas di dekat gerbang depan aku sekilas melihat kamu lagi asyik teleponan sama seseorang. Ngobrol sama siapa emangnya pagi pagi begini, Meer?" tanya Eliza penasaran kepo.
"Oh, itu tadi habis ditelepon sama Papa," jawab Almeera menjelaskan dengan jujur.
"Papa kamu sampai hari ini masih berada di luar negeri ya?" tanya Eliza lagi memastikan cerita Almeera yang dulu.
"Iya, bener, Liz. Masih sibuk mengurus urusan pekerjaan kantornya di sana," jawab Almeera mangut mangut.
"Wah, semoga semua urusan pekerjaan Papa kamu di sana bisa cepat selesai dengan sukses ya, Meera," ucap Eliza mendoakan tulus.
"Aamiin, makasih banyak ya atas doanya, Eliza sayang," jawab Almeera tersenyum manis. Mereka berdua kemudian berjalan beriringan melangkah masuk ke dalam ruang kelas kelas pertama.
Aktivitas perkuliahan hari itu berjalan normal seperti biasanya. Begitu jam kelas pertama resmi selesai ditutup oleh dosen, Almeera dan Eliza langsung melangkah pergi berjalan menuju ke kantin kampus untuk menikmati makan siang bersama.
Saat mereka berdua sedang asyik duduk santai menyantap makanan di meja pojok, tiba tiba ada dua orang mahasiswa cowok yang berjalan kompak datang dari arah koridor belakang. Salah satu dari kedua cowok itu sudah sangat akrab di mata mereka.
Orang itu adalah Rafael. Namun di samping Rafael, tampak ada seorang mahasiswa cowok baru yang penampilannya kasual dan belum pernah Almeera ajak bicara sebelumnya.
Eliza yang menyadari kehadiran mereka langsung melambaikan tangannya ramah. "Kak Rafael!" panggil Eliza dengan suara sedikit keras agar terdengar.
Kak Rafael refleks menolehkan wajahnya cepat ke arah sumber suara. "Oh, ternyata kalian berdua," ucap Kak Rafael tersenyum ramah menghampiri meja mereka.
Kak Rafael kemudian bergerak menoleh ke samping untuk menunjuk ke arah cowok yang berdiri di sebelahnya. "Eh iya, kenalkan dulu. Ini namanya Daffa."
Daffa langsung memamerkan senyuman ramahnya yang paling manis ke arah mereka berdua. "Halo semuanya," ucap Daffa membuka perkenalan diri.
"Eh, halo juga, Ka Daffa," jawab Eliza ramah dengan pembawaannya yang supel.
Almeera ikut melemparkan senyuman sopannya yang paling manis. "Halo, Ka Daffa," sapa Almeera formal.
Daffa tampak mengamati wajah Almeera selama beberapa detik sebelum matanya membelalak mengenali sesuatu. "Loh... kamu ini Almeera, kan?" tanya Daffa memastikan tebakannya.
Almeera seketika langsung dibuat sedikit terkejut mendengar cowok asing itu bisa mengetahui nama lengkapnya. "Eh? Iya, bener nama saya Almeera. Tapi kok Ka Daffa bisa tahu nama saya dari mana emangnya?" tanya Almeera keheranan.
Rafael yang berdiri di samping Daffa langsung tertawa kecil melihat kepanikan wajah Almeera. "Hahaha, jangan panik dulu, Meera. Nama kamu itu kemarin sempat tidak sengaja disebut pas kita lagi sibuk urus evaluasi barang pas kegiatan bakti sosial akhir pekan kemarin kok."
"Oh... begitu ya ceritanya. Kirain tahu dari mana, hahaha," jawab Almeera mengangguk angguk paham sambil ikut tertawa canggum.
Daffa kemudian tanpa ragu langsung menarik kursi kosong lalu duduk bersama Rafael di satu meja yang sama dengan mereka. "Kalian berdua dari dulu emangnya sering banget ya ke mana mana selalu jalan barengan terus?" tanya Daffa ramah membuka obrolan baru.
Eliza langsung menganggukkan kepalanya tegap. "Iya, bener, Ka. Kita berdua sudah cukup lama bersahabat dekat sejak semester awal kuliah."
Daffa langsung menyahut sambil menepuk pundak Rafael di sampingnya. "Wah, pas banget kalau begitu. Berarti sama kayak hubungan persahabatan aku sama cowok pendiam yang satu ini."
"Loh, Ka Daffa ini emangnya teman sekelas kuliahnya Ka Rafael juga ya?" tanya Eliza penasaran kepo.
"Iya, bener banget, kita berdua ini teman satu angkatan jurusan," ucap Ka Daffa menjelaskan statusnya.
"Bukan cuma sebatas teman jurusan biasa, tapi dia ini statusnya adalah sahabat dekat saya di kampus," tambah Rafael meluruskan dengan nada suara yang sangat tenang dan tulus.
Daffa langsung tersenyum geli mendengar pujian tulus dari sahabatnya itu. "Ih, Rafael. Tolong kalimatnya jangan terlalu dibangga banggakan begitu dong di depan adik tingkat, bikin gua malu tahu," ucap Kak Daffa bercanda.
Rafael kembali tertawa kecil menonton ekspresi canggung sahabatnya itu.
Sementara itu, Almeera diam diam menyimak jalannya obrolan seru di antara kedua cowok tersebut di dalam hatinya. Ia merenung, hari ini dia baru menyadari satu fakta baru ternyata sosok Rafael yang selama ini dia kenal sangat berwibawa dan religius itu juga memiliki seorang sahabat dekat yang kepribadiannya sangat humoris dan supel seperti Daffa.
"Kalau kalian berdua sendiri, hari ini jam kelas kuliahnya beneran sudah resmi selesai semua?" tanya Daffa ramah mengalihkan perhatian ke arah mereka.
"Iya, sudah beres semua kok, Ka, hari ini," jawab Eliza santai.
"Terus setelah dari kantin sini, rencana kalian mau langsung melangkah pergi menuju ke gedung perpustakaan lagi ya?" tebak Rafael memotong dengan senyuman tipisnya yang ramah.
"Iya, bener banget tebakan Ka Rafael," jawab Almeera ramah tersenyum manis.
"Soalnya sampai hari ini masih ada tumpukan tugas kuliah dari dosen yang harus segera kita cicil ketik biar nggak mepet deadline, Ka," tambah Eliza menjelaskan kesibukan mereka.
Daffa tampak mengangguk angguk paham dan kagum mendengarnya. "Wah, luar biasa rajin ya kalian. Oke, siap, tetap semangat ya mengerjakan tugas dosennya!"
"Iya, siap. Terima kasih banyak ya atas semangatnya, Ka Daffa," jawab Eliza ramah.
Tidak lama setelah obrolan seru di kantin itu selesai, Almeera dan Eliza akhirnya berpamitan dengan sopan untuk melanjutkan langkah kaki mereka berjalan menuju ke gedung perpustakaan kampus.
Saat posisi jalan kaki mereka sudah berada berjalan cukup jauh meninggalkan area kantin, Eliza mendadak menyenggol lengan Almeera pelan sambil tertawa kecil. "Meera, dipikir pikir temannya Ka Rafael yang namanya Ka Daffa tadi itu ternyata kepribadiannya asyik dan banyak omong banget ya orangnya."
Almeera ikut tertawa renyah membenarkan ucapan sahabatnya. "Iya, bener banget, Liz. Karakter mereka berdua bener bener kontras banget. Ka Rafael justru pembawaannya kelihatan jauh lebih pendiam dan berwibawa."
"Tapi kelihatan jelas banget sih dari cara mereka bercanda tadi, kalau hubungan persahabatan di antara mereka berdua itu beneran sudah dekat dan solid banget," ucap Eliza memberikan penilaiannya.
"Iya, bener kata kamu, Liz," jawab Almeera tersenyum ramah. Mereka berdua pun akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan perpustakaan kampus yang tenang dan sunyi.
Sementara itu, di waktu yang sama, posisi Rafael dan Daffa masih tampak asyik duduk bersantai menghabiskan sisa minuman mereka di kantin. Daffa tiba tiba mencondongkan tubuhnya ke depan menatap wajah sahabatnya itu dengan senyuman penuh selidik.
"Rafael, gua boleh tanya sesuatu? lu hari ini sebenarnya sudah kenal dekat banget ya sama cewe tadi yang namanya Almeera?" tanya Daffa menyelidik penasaran.
Rafael langsung menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat dan tenang untuk meluruskan asumsi sahabatnya. "Nggak, ngaco lu, Daf. Gua sama Almeera murni cuma kenal sebatas kakak tingkat biasa aja kok, karena kebetulan beberapa kali nggak sengaja berpas pasan ketemu di kampus."
Daffa mengangguk angguk puas mendengar penjelasan jujur sahabatnya, namun matanya masih memancarkan binar jail. "Oh, begitu ya ceritanya. Kirain status hubungan kalian berdua diam diam sudah mulai dekat."
"Belum dekat kok, tenang aja," jawab Rafael dengan nada suara yang sangat tenang dan santai tanpa ada kepanikan sedikit pun.
Daffa langsung tertawa renyah setelah mendengar pilihan kata dari mulut sahabatnya itu. "Hahaha! Rafael, Rafael. Tolong pilihan jawaban lu itu diperhatikan dong. Kok lu malah pakai kata 'belum dekat' sih? Berarti di dalam hati lu sebenarnya ada niat tersembunyi ya buat pengin mendekatinya nanti?" tanya Daffa menggoda jail habis habisan.
Rafael langsung menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan datarnya yang khas, namun ada lengkungan senyum tipis di sudut bibirnya. "Memangnya kalau menurut pandangan lu, gua harus memberikan jawaban seperti apa coba, Daffa?" tanya Rafael balik menyudutkan.
"Hahaha! Nggak ada apa apa kok, santai aja kali jangan tegang begitu," jawab Daffa tertawa lepas karena puas berhasil menggoda sahabat pendiamnya itu. Rafael hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya pasrah melihat tingkah jail sahabat dekatnya tersebut. Mereka berdua kemudian memutuskan untuk menyudahi topik tersebut dan kembali beralih fokus mendiskusikan urusan tugas akhir kuliah mereka dengan serius.
Sepanjang sisa hari itu, sama sekali tidak ada lagi pembicaraan tambahan mengenai sosok Almeera dari mulut mereka berdua.
Di dalam ruangan perpustakaan kampus yang sunyi, Almeera tampak sedang sibuk fokus menyelesaikan ketikan tugas kuliahnya bersama Eliza. Namun di sela sela memandangi layar laptop, fokus pikiran Almeera sesekali masih belum bisa lepas dari ingatan tentang kabar Papanya tadi pagi. Di dalam lubuk hatinya, ada segaris rasa cemas dan khawatir yang merayap saat menyadari bahwa Papa tercintanya harus bekerja berjuang sendirian di negeri orang yang sangat jauh dari rumah.
"Eliza," panggilan Almeera lirih memecah keheningan meja belajar mereka.
"Hm? Kenapa emangnya, Meera?" sahut Eliza mendongak dari tumpukan buku referensinya.
"Aku... aku boleh tanya sesuatu nggak sama kamu? Menurut pandangan kamu, kalau salah satu orang tua kita hobi harus bekerja dinas di tempat yang sangat jauh dari rumah, itu wajar nggak sih kalau bikin perasaan kita jadi kepikiran terus hari ini?" tanya Almeera menyuarakan kegelisahan hatinya.
Eliza langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat tulus untuk menenangkan sahabatnya. "Iya, wajar banget kok, Meera. Apalagi kan biasanya posisi Papa kamu selalu ada di rumah menemani kamu sama Mama. Jadi pas beliau mendadak harus pergi jauh, pasti ada rasa kehilangan yang bikin kepikiran."
Almeera menghela napasnya pendek sambil bersandar lemas di kursi. "Iya, bener banget, Liz. Papa harian ini sudah beberapa minggu tinggal di luar negeri buat urusan kantor."
"Ya yang paling penting dan harus disyukuri hari ini adalah hubungan komunikasi di antara kalian berdua terbukti masih berjalan dengan sangat lancar dan aman, Meera. Kamu harus terus rajin kasih semangat ya lewat chat buat Papa kamu di sana," jawab Eliza memberikan saran bijaknya yang menyejukkan hati.
Almeera langsung tersenyum manis mendengar nasihat hangat sahabat setianya itu. "Iya, bener bener kata kamu, Liz. Terima kasih banyak ya." Almeera pun kembali memantapkan hatinya lalu bergerak fokus menyelesaikan sisa ketikan tugas kuliahnya dengan semangat baru.
Sore hari menjelang malam, Almeera berhasil sampai di rumah dengan selamat. Ia langsung membersihkan diri ke kamar mandi, lalu bergerak membantu Mamanya di dapur untuk menyiapkan hidangan menu makan malam bersama. Di sela sela aktivitas memasak, mereka berdua tampak asyik mengobrol santai mendiskusikan kabar seputar Papa.
"Ma, tadi pagi pas di kampus Meera sempat ditelepon loh sama Papa," ucap Almeera ramah membuka obrolan.
Mama tersenyum tulus mendengarnya. "Iya, bener, Nak. Sore hari tadi sebelum magrib Papa juga sempat menelepon nomor Mama sebentar kok buat mengabarkan kondisinya di sana."
"Semoga aja ya, Ma, semua urusan pekerjaan kantor Papa di luar negeri bisa cepat selesai beres, biar Papa bisa langsung pulang menemani kita lagi di sini," ucap Almeera penuh harap.
"Aamiin, semoga saja doa kamu dikabulkan oleh Allah ya, Meera," jawab Mama penuh kehangatan.
Malam harinya, suasana di luar jendela kamar sudah tampak sangat sunyi, gelap, dan dingin. Almeera sudah duduk tenang di depan meja belajarnya. Ia merogoh tas ranselnya untuk mengambil buku catatan kecil kesayangannya.
Namun uniknya, khusus untuk catatan harian yang mau dia ukir malam ini, Almeera memilih tidak mau menulis tentang perjalanan proses hijrah dirinya sendiri atau tentang interaksi papasannya bersama Rafael tadi siang. Melainkan, dia memantapkan hatinya untuk menulis sebuah kalimat renungan tentang arti kehadiran keluarganya.
Tangannya bergerak lincah menggoreskan tinta pulpen di atas halaman lembar baru yang masih bersih untuk mengukir kalimat yang mendalam:
“Hari ini, aku beneran ngerasa senang dan bersyukur banget karena masih bisa diberikan kesempatan buat mendengar suara Papa lewat sambungan telepon dari jauh.”
Almeera menahan gerakan tangannya sejenak, menarik napas dalam, lalu kembali melanjutkan goresan tintanya:
“Saat ini Papa sedang berjuang keras bekerja sendirian di luar negeri demi mencukupi kebutuhan hidup kami. Jika aku mengingat masa laluku yang dulu, isi pikiranku selalu egois karena terlalu sibuk membuang energi hanya untuk memikirkan urusan kebebasan duniaku sendiri dan mengejar cinta seorang lelaki, sampai sampai aku teledor dan lupa bahwa di rumah ini, sebenarnya ada sosok orang tua yang selalu tulus berkorban menguras sisa tenaga mereka demi membahagiakan keluarganya.”
Almeera membaca ulang deretan kalimat bermakna yang baru selesai dia ukir itu di dalam hatinya. Detik itu juga, ia terdiam membisu meresapi kedewasaan pikirannya sendiri malam ini.
Kini, dia mulai tersadar sepenuhnya tentang betapa banyak hal hal indah dan berharga di sekitarnya yang selama beberapa tahun belakangan ini luput dari perhatian mata kepalanya sendiri. Ia mulai belajar membuka mata untuk menghargai ketulusan cinta dari Mama yang tidak pernah bosan mengingatkannya untuk sarapan, menghargai kerja keras Papa yang rela tinggal jauh di negeri orang demi masa depannya, dan tentang esensi bahwa lingkaran keluarga itu mungkin tidak akan pernah berjalan dengan sempurna tanpa ada masalah, namun keluarga akan selalu menjadi satu satunya tempat pulang terbaik yang paling aman di hidupnya.
Almeera mengembus napas leganya dengan sangat damai, lalu segera menutup buku catatannya dengan rapat. Di saat yang bersamaan, ponsel di atas mejanya mendadak bergetar pendek tanda ada pesan chat baru masuk. Almeera meraih hp nya, dan sebuah pesan singkat dari nomor Papa tertera di layar:
“Anak gadis Papa, jam segini kok lampunya belum dimatikan? Tidurnya jangan terlalu larut malam ya hari ini, biar besok pagi segar pas berangkat kuliah.”
Lengkungan senyum manis yang sangat hangat langsung merekah di wajah Almeera malam ini membaca perhatian simpel tersebut. Jemarinya mengetik kalimat balasan pendek dengan cepat:
“Iya, Papa sayang, ini Meera sudah mau langsung tidur kok, tenang aja. Papa juga di sana setelah urusannya beres jangan sampai terlalu capek kerja ya.”
Tidak butuh waktu lama, Papa langsung membalas lagi dengan singkat. “Iya, siap. Kondisi Papa di sini selalu baik baik saja kok, aman. Kamu juga harus selalu jaga diri baik baik ya di rumah.”
Almeera mematikan layar ponselnya lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan perasaan hati yang dipenuhi oleh kehangatan cinta keluarga. Malam ini, dia akhirnya berhasil memahami satu porsi ilmu esensi dari proses memperbaiki diri yang sesungguhnya.
Ternyata, esensi dari sebuah perjalanan hijrah spiritual itu bukan murni cuma berputar pada urusan memutus hubungan atau meninggalkan bayang bayang masa lalu yang pahit dari ingatan saja. Melainkan, proses berubah menjadi lebih baik itu adalah tentang bagaimana cara kita belajar membuka hati untuk lebih menghargai, menghormati, dan menyayangi kehadiran orang orang tulus yang selama ini terbukti selalu setia berdiri mendampingi hidup kita di masa masa sulit.
Dan tanpa pernah disadari sedikit pun oleh Almeera malam ini, di tempat yang berbeda, sosok Rafael hari ini juga sedang sibuk menghabiskan waktu malamnya dengan tenang bersama Daffa di dalam kamar kost nya guna menyelesaikan urusan tugas akhir kuliah mereka.
Dua porsi kehidupan anak manusia yang memiliki karakter berbeda. Dua jengkal perjalanan hijrah spiritual yang berjalan di atas jalurnya masing masing dari nol. Namun secara perlahan lahan, takdir Allah hari ini terbukti sudah mulai merajut beberapa titik lokasi pertemuan tidak sengaja di antara eksistensi mereka berdua.
Rentetan pertemuan yang sering terjadi belakangan ini berjalan nyata muncul murni bukan karena ada salah satu pihak di antara mereka yang secara sengaja merencanakan atau mengejarnya dari belakang. Melainkan, karena skenario kehidupan dari Sang Pencipta memang selalu memiliki caranya sendiri yang unik untuk mempertemukan dua orang asing lewat perantara hal hal yang sangat sederhana di kampus.
Namun khusus untuk urusan masa depan Almeera ke depannya, perjalanan spiritualnya hari ini memang masih terbentang sangat luas, panjang, dan penuh misteri. Dia sendiri sama sekali belum tahu pasti tentang siapa saja sosok manusia baru yang kelak akan diizinkan oleh Allah untuk datang dan tinggal menetap di dalam lingkaran kehidupannya.
Untuk saat ini, Almeera murni hanya mengetahui satu porsi komitmen tegas di dalam jiwanya. Yaitu, sebuah janji tegar bahwa hari ini dan seterusnya, dia hanya ingin fokus menikmati setiap proses perjalanannya dengan damai tanpa ada niat untuk berjalan terburu buru lagi mengikuti hawa nafsu duniawi.