Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minyak Kuyang
Subuh menjelang. Tubuh Dayang Sari menyatu kembali dengan lemas.
Di bibirnya masih ada bercak darah. Matanya tampak sayu.
Arkan menutup jendela dengan tangan gemetar. Ia tidak berteriak. Tidak juga bicara.
Ia hanya menatap Dayang Sari yang ambruk di lantai.
“Dayang...” bisiknya. Suaranya pecah.
Dayang Sari membuka mata. Air mata darah jatuh di sudut pipinya.
“Arkan... aku... aku bunuh anak orang...” isaknya. “Aku nggak bisa menahan. Kutukan itu lebih kuat dari aku.”
Arkan memeluknya erat. “Shhh... bukan salah kamu. Kita cari cara. Kita putus kutukan ini.”
Tetapi di dalam hatinya, Arkan tahu. Kalau begini terus, satu kampung akan mati.
Dan Dayang yang akan jadi kambing hitam dalam kejadian yang mengerikan.
Dayang Sari hanya tertunduk lemah.
Saat siang harinya - Kegaduhan baru terjadi.
Berita bayi menunggal dengan ubun-ubun berlubang dan darahnya kering menyebar dengan cepat.
“ANAK PAK JUHRI MATI! UBUN-UBUNNYA BERLUBANG!”
Warga langsung berkumpul di balai.
Pak Taslim mukanya merah. “Ini sudah lima! Kemarin Uhung, bayinya, sekarang anak Juhri! Siapa pelakunya?!”
Pak Thamrin berbisik ke Pak Taslim. “Ingat nggak? Dulu nenek moyang bilang... Kuyang itu butuh minyak. Minyak dari kelenjar rahim wanita dan juga darah melahirkan. Buat melepaskan kepalanya saat ingin menjadi Kuyang.”
Semua terdiam. Deru nafas mereka terasa berat.
“Kalau kita temukan minyak itu... kita bakar. Kuyangnya nggak bisa balik lagi ke badannya.”
Mata Pak Taslim menyipit. “Rumah siapa yang paling tertutup? Yang paling jarang dikunjungi?”
Serentak semua saling pandang, dan mencari tahu. Ingin curiga, tetapi belum ada bukti yang cukup kuat.
****
Arkan merasakan tubuhnya gemetar. "Minyak Kuyang?" gumamnya dengan suara yang pelan. Ia mendengar perbincangan para warga, dan membuatnya merasa sangat penasaran.
"Apakah minyak itu yang menjadi rahasianya?" gumamnya lagi.
Dengan nafas yang memburu, ia langsung beranjak dari duduknya. "Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus mencari keberadaan minyak Kuyang tersebut," ucapnya dengan tegas, sembari mengepalkan tangannya.
Malam semakin larut. Arkan mengendap-endap masuk ke dalam rumah Betang milik Damang Jaya, saat Dayang tertidur kelelahan.
Ia mulai mengobrak-abrik laci, lemari, bawah tikar, dan semua tempat yang ia rasa dapat dicurigai.
Dengan nekad, ia menyusup ke dalam kamar Damang Jaya.
Di balik foto Damang Jaya, ia menemukan kotak kayu kecil.
Di dalamnya terdapat botol kaca kecil. Isinya cairan berwarna kental. Baunya anyir dan amis, serta mengandung minyak kelapa.
"Hah!" Arkan merasa gugup saat melihatnya. Dengan tangan gemetar, ia mengambilnya. "Ini minyak Kuyang." ucapnya dengan dada yang bergemuruh.
BRAAAK!
Pintu kamar terbuka. Dayang Sari berdiri di ambang pintu. Matanya sudah berwarna merah.
“Kembalikan itu!” teriaknya. “Kalau itu hancur, aku mati Arkan! Aku nggak bisa balik ke badan!”
Arkan maju. “Justru karena itu! Biar kutukan ini berhenti! Biar kamu bebas!”
"Jangan!' teriak Dayang Sari. Mereka terlibat tarik-tarikan. Botol itu hampir jatuh.
Tiba-tiba...
DUG!
Dayang Sari memegangi kepalanya. Dari mulutnya keluar suara lain.
“BERANI KAU SENTUH MILIKKU!” suara serak dan terasa berat.
Itu suara Induk Jarum.
Suara tersebut menghantarkan angin yang cukup kuat, hingga membuat Arkan terpental.
Botol terjatuh ke lantai... tapi tidak pecah. Kemudian menggelinding ke bawah kolong.
Dayang Sari berteriak, lalu kabur menembus jendela lagi. Kali ini lebih cepat, dan ia terlihat lebih buas.
Arkan mengejar ke luar. Ia merangkak ke bawah kolong, dan berebut kembali dengan Dayang Sari yang sudah di susupi oleh Induk Jarum.
Minyak Kutang berwarna merah itu seperti hidup, dan mereka kembali berebut.
Tapi kali ini Arkan mendapatkannya.
Kuku Dayang Sari tiba-tiba muncul panjang dan runcing.
Craaaassh!
Ia mencakar Kaki Arkan yang berusaha kabur.
Dengan cepat Arkan terpaksa menendang cengkraman tersebut, dan berhasil lolos.
Arkan terus merangkak cepat, dan di kejar oleh Dayang Sari.
Arkan berhasil keluar dari kolong. Lalu berlari kencang masuk ke dalam hutan. Ia tidak tahu mau kemana.
Di belakangnya, Dayang Sari masih mengejar, dan membuat Arkan semakin mempercepat larinya.
Hingga saat hampir tiba di hulu, Dayang Sari merasakan sesuatu menghalanginya masuk, sebab terasa seperti ada pagar yang cukup tinggi dan itu pagar ghaib.
Arkan masih terus berlari dengan menggenggam botol kaca tersebut. hingga sampai ia tersandung akar dan jatuh ke jurang kecil.
"Aaaarrrggh," pekiknya dengan nada kesakitan.
Ia bergelinding, dan akhirnya tiba di dasar jurang.
Saat ia membuka matanya, ia melihat ada sebuah pondok yang susah reot. Atapnya dari daun sagu.
Di dalamnya duduk seorang kakek. Umurnya sekitar seratus tahun lebih. Jenggotnya sudah putih sampai dada. Matanya buta sebelah.
Sosok itu adalah Atok Guro. Orang paling sepuh di kampung. Dia adalah seoeang dukun putih yang sudah lama dikabarkan menghilang tanpa kabar.
“Kau bau darah Kuyang,” kata Atok Guro tanpa menoleh.
Arkan tersentak kaget. “Atok...”
“Duduk.” titahnya pada Arkan.
Arkan menghela nafasnya yang tersengal. Kemudian berjalan sempoyongan, dan naik ke atas gubuk, lalu duduk.
"Atok tinggal sendirian di hutan?" tanya Arkan dengan rasa penasaran.
"Aku hanya mengasingkan diri," jawabnya dengan singkat.
Arkan tampak ragu. Tetapi hatinya tak dapat mengingkari, dan akhirnya menveritakan semuanya. Tentang Dayang. Tentang minyak. Tentang sembilan puluh lima tumbal yang akan di dapatkan oleh kutukan Kuyang.
Atok Guro mengangguk pelan. “Induk Jarum itu tamak. Dia membuat perjanjian dengan iblis sungai. Tiap cicit perempuan harus membayar. Kalau tidak, iblis itu akan mengambil nyawa semua orang di kampung.”
“Lalu cara mutusinnya gimana, Tok?” tanya Arkan dengan rasa putus asa.
Atok Guro menunjuk botol kecil di tangan Arkan. Ternyata Arkan tidak sadar, botol itu ikut terbawa saat jatuh.
“Itu bukan cuma minyak. Itu wadah kutukan. Di dalamnya ada tiga tetes darah Induk Jarum. Selama itu ada, Dayang nggak akan bisa bebas.”
“Lalu?”
“Harus dihancurkan. Tapi bukan di sini. Harus di tempat perjanjian dibuat. Di Batu Belah Gunung Muller. Saat yang tepat adalah saat bulan gelap. Dan minyak Kuyang itu ada tiga jenisnya,"
Arkan menelan ludah. “Tiga? Lalu yang dua lagi?”
Atok Guro menatapnya dengan mata buta sebelahnya. “Kamu harus menemukan dua botol minyak Kuyang lagi. Satu berwarna Kuning, dan satunya lagi berwarna hijau. Jika kau dapat menemukannya, bawa kemari, dan aku akan mencoba membantumu,"
Suasana mendadak hening. Arkan terdiam sejenak. Itu tandanya, jika ia harus kembali ke rumah Damang Jaya untuk menemukan dua minyak Kuyang lainnya.
Di kejauhan terdengar suara jeritan.
Itu suara Dayang Sari. Ia sedang kesakitan, sebab ingin berubah, tetapi minyak Kuyang yang akan digunakannya untuk melepaskan kepalanya sudah di bawa oleh Arkan.
Arkan mengepalkan tangannya. “Ajarin aku Kek. Ajarin aku cara melawan Induk Jarum. Ajarin aku cara menyelamatkan Dayang.”
Atok Guro tersenyum. Giginya tinggal tiga.
“Bagus. Dari sekarang kau muridku. Kita punya waktu dua puluh tujuh hari sampai bulan gelap lagi.”
Ia mengambil mandau tua, garam, dan tujuh lembar daun kelor.
“Pertama, kita buat pagar. Biar Kuyang nggak bisa masuk rumah orang. Kedua... kita cari kelemahan Induk Jarum. Dia takut sama...”
Atok Arkan menunjuk ke aeah mandau tua yang di genggamannya.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺