NovelToon NovelToon
Kelas Tambahan Untuk CEO

Kelas Tambahan Untuk CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO

Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.

Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.

Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan dari Tanah Minang

Empat bulan kemudian.

Luka-luka fisik dan batin telah sepenuhnya sembuh. Suasana di rumah keluarga Kian kini dipenuhi kehangatan yang tak pernah ada sebelumnya. Rosa tak lagi memandang Maya sebagai wanita biasa, melainkan sebagai putri kandungnya sendiri yang amat ia banggakan dan kasihi.

Pagi itu, sebuah amplop tebal berwarna merah marun dengan ukiran motif Ukiran Daun Pukuk Rabung khas Minangkabau tiba di meja makan Kian. Lembar undangan beraroma wangi bunga melati itu tertulis dengan tinta emas yang indah.

"Baralek Gadang (Resepsi Pernikahan):

Dika & Hani "

Tempat: Nagari Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Kian tersenyum lebar membaca undangan tersebut, lalu menatap Maya dan ibunya yang sedang menikmati teh pagi.

"Undangan dari Dika dan Hani sudah sampai," ujar Kian berbinar. "Pernikahan mereka akan digelar di kampung halaman ibu Hani, di Batipuh, Tanah Datar. Jauh di Kepulauan Sumatera."

Maya menangkupkan kedua tangannya di dada, matanya berkaca-kaca bahagia. "Akhirnya... Hani menemukan kedamaian dan cinta sejatunya di sana, bersama Pak Dika."

"Kita harus datang," sahut Rosa tegas seraya tersenyum hangat menatap Maya. "Ibu juga ingin ikut. Ibu ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada Hani dan Dika atas semua perubahan baik ini. Kita akan terbang menyeberangi pulau bersama-sama.

Perjalanan menyeberangi Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera membawa Kian, Maya, dan Rosa menikmati pesona alam yang memukau. Dari Bandara Minangkabau di Padang, perjalanan dilanjutkan menelusuri lekuk jalanan perbukitan yang hijau, melintasi Lembah Anai yang megah, hingga akhirnya tiba di Nagari Batipuh, Kabupaten Tanah Datar.

Udara dingin khas dataran tinggi Minangkabau menyambut mereka. Nagari Batipuh berdiri anggun dengan latar belakang Gunung Marapi yang berdiri kokoh membiru di kejauhan. Hamparan sawah berundak-undak dan deretan Rumah Gadang berpuncak gonjong yang megah menjadikan tempat itu bak lukisan alam yang bernyawa.

Lokasi pesta digelar di pelataran Rumah Gadang milik keluarga besar ibu Hani. Suasana meriah dengan dentuman alunan Salawat Badar dan keharmonisan musik Tanduk Gandang Tasa membahana melingkupi udara desa.

Ketika Kian, Maya, dan Rosa melangkah masuk ke area pelaminan, langkah mereka terhenti oleh rasa haru yang luar biasa.

Di atas pelaminan kayu berukir emas yang megah, berdiri sosok Dika dan Hani. Dika tampak begitu gagah dan berwibawa mengenakan pakaian adat Minang Sutan berwarna merah tua lengkap dengan Saluak di kepalanya. Sementara Hani... wanita yang dulu terbiasa dengan gaun pesta terbuka ala barat, kini tampil sangat anggun dan memesona mengenakan Suntiang emas yang bertingkat megah di atas kepalanya, dipadu baju kurung beludru merah berbenang emas.

Tak ada lagi sisa kepalsuan atau keangkuhan pada diri Hani. Yang ada hanyalah pancaran kebahagiaan yang tulus dan kesederhanaan yang menawan.

"Maya! Kian! Tante Rosa!" pekik Hani bahagia.

Dengan mengabaikan beratnya suntiang di kepalanya, Hani melangkah turun dari pelaminan, berlari kecil menyambut mereka. Ia langsung berhambur memeluk Maya erat-erat. Kedua wanita itu saling berpelukan, meneteskan air mata bahagia di tengah riuhnya pesta adat.

"Terima kasih sudah datang sejauh ini... dari Jawa ke Sumatera hanya untukku, Maya," bisik Hani dengan suara pecah oleh haru.

"Aku tidak akan pernah melewatkan hari bahagiamu, Hani," balas Maya lembut, mengusap punggung Hani. "Kamu terlihat sangat cantik dan bersinar hari ini."

Dika ikut melangkah turun, menyalami Kian dengan genggaman tangan pria yang erat dan penuh rasa hormat. Kedua mantan saingan itu kini saling menatap sebagai saudara.

"Terima kasih sudah hadir, Mas Kian, Bu Maya, Nyonya Rosa," ujar Dika tulus dengan gingsul khasnya yang hangat. "Selamat datang di Batipuh, di tanah kelahiran keluarga istri saya."

Rosa melangkah maju, memegang kedua tangan Hani dan Dika. Air mata menetes di pipi wanita paruh baya itu. "Hani, anakku... Maafkan Tante atas segala kesalahan di masa lalu. Tante sangat bahagia melihatmu menemukan pria sebaik dan sejati seperti Dika. Kalian berdua sungguh pasangan yang direstui alam."

Hani mencium tangan Rosa penuh takzim. "Aku yang minta maaf, Tante... Terima kasih sudah memaafkanku.

Malam harinya, setelah riuk pikuk resepsi adat berangsur tenang, acara dilanjutkan dengan syukuran sederhana di tepi halaman Rumah Gadang. Obor-obor bambu menyala hangat, menerangi malam yang dingin di bawah langit Batipuh yang ditaburi ribuan bintang.

Dika dan Hani duduk berdampingan di tangga kayu Rumah Gadang, menikmati hidangan Rendang dan Kue Bika hangat bersama warga lokal. Hani menyandarkan kepalanya di bahu kekar Dika, menikmati ketenangan hidup baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya ketika masih menjadi putri konglomerat di Jakarta.

Sementara itu, tak jauh dari sana, Kian berjalan bergandengan tangan dengan Maya menyusuri pematang sawah di belakang Rumah Gadang. Angin malam Batipuh berembus lembut membawa aroma tanah basah dan wangi dedaunan.

Kian menghentikan langkahnya, melepaskan jasnya dan menyangkutkannya di bahu Maya untuk melindungi wanita itu dari dinginnya malam.

"Indah sekali tempat ini, Kian..." bisik Maya, menatap bayangan Gunung Marapi yang samar di bawah sinar bulan separuh. "Siapa yang menyangka, dari sebuah kelas privat sederhana di Jakarta, jalan takdir membawa kita sampai ke tempat seindah ini di Tanah Minang."

Kian tersenyum manis, memeluk Maya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Maya.

"Perjalanan kita memang penuh badai, Maya," ujar Kian dengan suara berat yang sarat akan kasih sayang. "Kita melewati penghinaan, perbedaan dunia, bencana longsor, bahkan kobaran api... Tapi semua itu ada hanya untuk membuktikan satu hal."

"Apa itu, Kian?" tanya Maya pelan.

"Bahwa tidak ada jurang yang terlalu dalam, tidak ada pulau yang terlalu jauh, dan tidak ada api yang terlalu panas yang sanggup memisahkan dua hati jika Tuhan sudah menetapkannya untuk bersatu," bisik Kian tulus.

Kian memutar tubuh Maya hingga mereka berhadapan. Di bawah sinar rembulan Tanah Datar, Kian menggenggam kedua tangan Maya, menatap lurus ke dalam binar mata wanita yang telah mengubah seluruh hidupnya itu.

"Bulan depan, Maya... di hadapan Ibuku, di hadapan seluruh murid-muridmu, dan di bawah saksi Tuhan... aku akan menjadikanmu istriku secara resmi. Bukan lagi sebagai guru Bahasa-ku... tapi sebagai pemilik seluruh jiwa dan hidupku."

Air mata bahagia menetes pelan di pipi Maya, memantulkan cahaya bulan. Maya mengangguk mantap, menyatukan keningnya dengan kening Kian.

"Nilaimu malam ini... dan untuk selamanya... adalah seribu sempurna, Kian Pratama," bisik Maya penuh cinta.

Di bawah langit malam Nagari Batipuh yang syahdu, di antara keharmonisan kisah Dika-Hani dan keabadian cinta Kian-Maya, dua kisah yang dulu dipenuhi luka kini telah menemukan pelabuhan terindahnya—sebuah akhir yang manis, hangat, dan mengukir bahagia yang tak kan pernah usai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!