NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

​Di dalam kabin Honda HR-V abu-abu yang masih menyisakan hawa dingin sisa AC semalam, Regina Anatasya sedang berusaha menaklukkan ritsleting tas ranselnya yang tersangkut serat kain flanel tipis. 

Jarinya yang ramping menarik kepala ritsleting itu perlahan, melepasnya dengan kesabaran yang tipis, lalu menghembuskan napas pendek lewat hidung. 

​"Regina, itu bekalnya ditaruh tegak. Nanti kuahnya merembes ke buku cetakmu yang tebal-tebal itu," ujar Ratna tanpa menoleh. 

Tangannya kokoh menggenggam kemudi, sementara matanya menyipit menatap deretan lampu merah di persimpangan Jalan Ir. H. Djuanda yang tampak enggan berganti hijau.

​Regina tidak langsung menjawab. Ia mendorong kotak bekal plastik berwarna hijau lumut itu ke sudut tas yang paling longgar.

​"Sudah, Ma. Plastiknya rangkap dua," sahut Regina. 

Klik.

Regina menekan tombol pengunci sabuk pengaman berkali-kali, memastikan benda itu benar-benar mengikat tubuhnya dengan pas, lalu merapikan lipatan kerah seragam putih abu-abunya yang sedikit melintir di bagian belakang leher.

​"Kemarin Papa bilang mau ganti oli hari Sabtu. Ini setirnya agak getar kalau berhenti," gumam Regina, matanya beralih menatap dasbor mobil yang berdebu tipis di sudut dekat lubang AC. 

​"Papa mana sempat. Kemarin dia malah sibuk membersihkan kandang burung di belakang sampai sore," Ratna berdecak, lalu menekan pedal gas perlahan saat mobil di depan mereka mulai bergerak maju. 

Brum. 

​Senin pagi pertama di tahun ajaran baru selalu menjadi medan perang yang tidak ramah bagi siapa pun yang membenci keramaian. 

SMAN 1 Bandung, tempat Regina menempuh tahun terakhirnya di kelas 12, terletak di area yang jalurnya selalu padat merayap.

​"Ma, agak kiri sedikit. Angkot di depan mau berhenti mendadak itu," potong Regina cepat.

​"Iya, iya, Mama lihat." Ratna memutar setir dengan gerakan sedikit menyentak.

Sreeet!

Sebuah motor sport hitam—yang tampak tidak terawat dengan beberapa goresan di bodi sampingnya—tiba-tiba memotong jalur dari arah kiri luar, mencoba menyelip di antara moncong mobil Ratna dan bagian belakang angkot yang baru saja mengerem.

​Motor itu oleng sekejap. 

Pengendaranya, seorang laki-laki berjaket jeans belel dengan tudung kepala abu-abu yang ditarik menutupi sebagian helmnya, menurunkan satu kakinya ke aspal untuk menahan keseimbangan agar tidak menghantam spion kanan HR-V milik Ratna.

​"Astaga! Motor itu!" teriak Ratna spontan, tangannya refleks menekan klakson panjang.

​Tiiiiiiin!

Regina tidak berteriak. 

Tubuhnya sedikit condong ke depan, telapak tangannya menempel pada dasbor mobil untuk menahan guncangan ringan dari pengereman mendadak yang dilakukan ibunya. 

Matanya yang tajam menatap lurus ke kaca samping pengemudi motor tersebut.

​"Orang-orang sekarang kalau berkendara seperti tidak punya hari esok," desis Regina pelan. 

Jarinya mencengkram pinggiran dasbor sedikit lebih erat hingga kukunya memutih.

​Laki-laki di atas motor sport itu tampak terengah-engah di balik helmnya yang kacanya sedikit retak di bagian bawah. 

Ia menoleh ke arah kaca depan mobil Ratna. 

Alih-alih marah atau membalas klakson dengan umpatan, ia hanya mengangkat tangan kirinya yang dibalut sarung tangan hitam tanpa jari—membentuk gestur meminta maaf yang sangat kasual dengan dua jari yang ditempelkan di pelipis helm, seperti memberikan hormat santai—lalu mengangguk sekali ke arah Regina.

Regina mengamati gerakan itu tanpa ekspresi. 

Tatapannya tertuju pada ujung jaket jins cowok itu yang robek kecil di bagian siku, menampakkan kaus hitam di dalamnya. 

Cowok itu kemudian memutar tuas gasnya lagi.

​Brum! Brrrum!

​Motor hitam itu melesat cepat, meliuk-liuk di antara sela-sela kendaraan yang padat dan menghilang di belokan menuju arah gerbang sekolah yang sudah mulai terlihat di ujung jalan.

​"Anak sekolah zaman sekarang, perilakunya aneh sekali," gerutu Ratna sambil mengurut dadanya sendiri dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengendalikan setir untuk masuk ke area jalur penurun penumpang di depan gerbang SMAN 1. 

"Kamu jangan dekat-dekat dengan tipe anak yang bawa motor ugal-ugalan seperti itu ya, Gin."

​"Aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang asing, Ma," sahut Regina datar. 

Ia melepaskan sabuk pengamannya dengan satu gerakan klik yang bersih.

Regina menyampirkan ranselnya di bahu kanan, memegang gagang pintu mobil tanpa langsung membukanya. 

Ia menunggu mobil benar-benar berhenti sejajar dengan trotoar sekolah.

​"Pulang jam berapa nanti?" tanya Ratna.

​"Paling lambat jam tiga sore. Hari pertama biasanya hanya pembagian kelas dan perkenalan wali kelas," jawab Regina sambil membuka pintu mobil. 

"Aku turun dulu, Ma."

​"Hati-hati. Jangan lupa makan siangmu."

​Regina mengangguk kecil, menutup pintu mobil dengan ketukan sedang—bleb—lalu melangkah membelah kerumunan siswa yang mulai memenuhi area halaman depan sekolah.

​Sepatunya mengetuk lantai koridor utama yang masih bersih dari debu. 

Keadaan sekitar sangat bising. Suara tawa yang dipaksakan dari anak-anak kelas 10 yang baru masuk, teriakan saling sapa dari anak-anak kelas 11 yang baru naik kelas, hingga langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa saling beradu di lantai ubin putih. 

Regina melangkah dengan dagu sedikit terangkat, mempertahankan ritme jalannya yang konstan dan lurus tanpa terganggu oleh beberapa pasang mata yang menatapnya.

Di papan pengumuman dekat ruang piket, kerumunan siswa sudah seperti semut yang mengerubuti gula. 

Regina berhenti sekitar tiga langkah dari barisan paling belakang kerumunan itu. 

Ia menolak untuk ikut berdesak-desakan dan membiarkan seragamnya kusut terkena keringat orang lain. 

Ia hanya berdiri tegak, matanya menyapu lembaran kertas ukuran A3 yang ditempel di balik kaca etalase.

​"Eh, Regina! Kamu masuk kelas mana?" seorang siswi berambut dikuncir kuda mendekatinya dengan napas yang agak memburu.

​"Aku belum melihatnya, Shinta," jawab Regina tenang.

​"Kamu pasti masuk IPA 1 atau IPA 2 lagi. Anak-anak peringkat paralel kan biasanya dikunci di sana," kata Shinta sambil menyeka keringat di dahinya dengan tisu yang sudah hancur setengahnya. 

"Aku masuk IPA 4. Jauh sekali dari kelasmu nanti."

​"Semua kelas sama saja," ujar Regina. 

Matanya akhirnya menangkap nama 'Regina Anatasya' di lembar ketiga yang merupakan daftar untuk kelas 12 IPA 2.

Sambil menghembuskan napas panjang, Regina memeriksa barisan nama di bawah namanya sendiri. 

Jari telunjuknya bergerak perlahan di udara, melacak nama-nama yang familiar. 

Tidak ada kejutan besar di sana, hampir sebagian besar adalah teman-teman sekelasnya dari kelas 11 IPA dulu yang terkenal tenang dan tidak banyak ulah.

​"Tapi Gin, kamu tahu tidak?" Shinta berbisik, mendekatkan wajahnya ke telinga Regina hingga bau minyak wangi stroberinya yang menyengat tercium jelas. 

"Tahun ini kelas kita bersebelahan langsung dengan blok IPS. Katanya sekat pembatas koridor tengah dibuka buat akses laboratorium baru."

​Regina menghentikan gerakan matanya di papan pengumuman. 

Saraf di pelipisnya terasa berdenyut halus. 

Blok IPS di SMAN 1 dikenal sebagai wilayah paling bising sepanjang sejarah sekolah berdiri, terutama karena dihuni oleh anak-anak yang hobi membawa gitar ke kelas dan menjadikan meja kayu sebagai instrumen kendang darurat setiap jam pelajaran kosong.

​"Selama mereka tidak melewati batas ubin koridor kelas kita, itu bukan masalahku," kata Regina dingin, lalu membalikkan badannya untuk berjalan menuju tangga arah lantai dua, tempat kelas 12 IPA 2 berada.

Namun, baru saja ia menapakkan kaki di anak tangga pertama, suara tawa keras yang sangat familier terdengar dari arah koridor luar dekat parkiran motor belakang. 

Itu adalah jenis tawa lepas tanpa beban yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang tidak pernah memikirkan nilai ujian akhir semester. 

Regina sempat menoleh sekilas ke arah jendela koridor yang terbuka, menatap ke arah area parkir.

​Di sana, di antara barisan motor yang berjejer rapi, ia melihat sekilas jaket jins belel dengan tudung abu-abu yang basah oleh embun pagi itu sedang disampirkan di atas jok motor sport hitam yang tadi hampir menabrak mobil ibunya. 

Pemiliknya sedang tertawa bersama dua orang lainnya, mengabaikan bel masuk yang mulai berbunyi nyaring di seluruh sudut sekolah.

​Teeeet!

​Regina memutar kembali tubuhnya ke arah tangga, menaiki anak tangga satu demi satu dengan langkah yang dipercepat, berusaha menghapus gangguan kecil itu dari kepalanya sebelum hari pertamanya di kelas 12 IPA 2 benar-benar dimulai.

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!