NovelToon NovelToon
Selir Figuran Bertahan Hidup

Selir Figuran Bertahan Hidup

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Zhao Xinyue sadar dirinya bukan villain utama, bukan heroine, melainkan selir berpangkat rendah yang di novel asli mati karena tanpa sengaja melihat rahasia kaisar. Begitu sadar, targetnya cuma satu. "Aku tidak ingin naik pangkat. Aku cuma ingin hidup sampai akhir cerita."
Masalahnya... Semakin dia berusaha tidak mencolok, semakin banyak orang memperhatikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Angin musim gugur yang mulai berhembus membawa udara dingin ke seluruh penjuru ibu kota, menggugurkan daun-daun kering di pelataran Taman Kekaisaran. Namun, bagi Shen Yu, hawa dingin yang sesungguhnya bukan berasal dari pergantian musim, melainkan dari bayangan kuda hitam besar yang kini mendengus kasar tepat di depannya.

Gadis itu menelan ludah, memandangi hewan tunggangan setinggi hampir dua meter itu dengan tatapan ngeri.

"Nona, tegakkan punggung Anda. Kuda kekaisaran bisa merasakan keraguan penunggangnya," bisik Xiu'er dari pinggir arena latihan, tangannya mengepal memberi semangat.

Shen Yu merutuki nasibnya di dalam hati. Sejak titah Li Jingchen malam itu, hidupnya berubah menjadi jadwal pelatihan militer dadakan. Sang Kaisar benar-benar tidak main-main dengan ucapannya untuk membawa Shen Yu ke Festival Perburuan Musim Gugur. Setiap sore, ia dipaksa mengenakan pakaian berkuda yang ringkas dan berlatih di arena tertutup yang dijaga ketat oleh Pasukan Bayangan.

Saat Shen Yu bersiap memijakkan kakinya ke pijakan, Kasim Su muncul dari balik gerbang arena. Langkah pria paruh baya itu tergesa-gesa, namun wajahnya memancarkan kelegaan yang sulit disembunyikan.

Kasim Su mendekat, menunduk hormat sebelum menyodorkan sebuah kantong kain kecil ke tangan Shen Yu.

"Pesan dari wilayah utara, Selir Shen," bisik Kasim Su sedemikian pelan hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya.

Jantung Shen Yu berdegup kencang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka tali kantong tersebut. Di dalamnya, terdapat sebuah tusuk konde kayu usang berukir bunga melati—barang peninggalan almarhumah ibu kandung tubuh ini, yang selalu disimpan oleh ayahnya di perbatasan.

"Pasukan Bayangan telah kembali sebelum fajar menyingsing," Kasim Su melanjutkan laporannya dengan suara datar. "Keluarga Anda telah diamankan di sebuah kediaman rahasia di pinggiran ibu kota. Semuanya selamat tanpa kurang satu pun. Tidak ada jejak yang ditinggalkan di pusat logistik milik Perdana Menteri."

Embusan napas panjang yang sarat akan rasa syukur lolos dari bibir Shen Yu. Beban seberat gunung yang menghimpit dadanya selama beberapa hari terakhir akhirnya terangkat. Li Jingchen menepati janjinya. Pria itu benar-benar menggerakkan pasukan rahasianya hanya untuk menyelamatkan keluarga seorang selir tingkat enam.

"Sampaikan... sampaikan rasa terima kasihku yang tak terhingga pada Yang Mulia," bisik Shen Yu, matanya sedikit berkaca-kaca saat ia menggenggam tusuk konde kayu itu erat-erat.

Kasim Su tersenyum tipis. "Yang Mulia berkata, ucapan terima kasih baru akan diterima jika Anda berhasil menunggangi kuda itu tanpa terjatuh hari ini."

Shen Yu langsung menatap kuda hitam di depannya dengan tatapan memelas. Keselamatan keluarganya telah terjamin, namun sepertinya nyawanya sendiri masih terancam oleh hewan buas berbulu mengkilap ini.

Di waktu yang sama, puluhan li dari arena berkuda, udara di Paviliun Anggrek Putih terasa sangat mencekam.

Su Wan duduk mematung di balik meja riasnya. Wajahnya yang biasa setenang permukaan danau kini pucat pasi, menatap selembar kertas tipis yang baru saja diselundupkan oleh dayang kepercayaannya. Surat itu dikirim langsung dari kediaman ayahnya, Perdana Menteri Su.

Pusat logistik utara diserang fajar tadi. Penjaga dibantai tanpa suara. Tawanan menghilang.

Tangan Su Wan yang memegang kertas itu bergetar pelan. Ia meremasnya hingga hancur, lalu melemparkannya ke dalam perapian kecil di sudut ruangan. Lidah api dengan cepat melahap bukti kegagalan besar keluarganya tersebut.

Bagaimana mungkin? Ayahnya telah menempatkan puluhan ahli bela diri di sana. Tidak ada yang mengetahui pemindahan ayah Shen Yu selain orang-orang inti faksi Perdana Menteri. Operasi pembebasan sebesar dan sebersih itu hanya bisa dilakukan oleh satu kekuatan di seluruh daratan ini: Pasukan Bayangan milik Kaisar.

Mata Su Wan berkilat tajam. Ingatannya kembali pada percakapannya dengan Shen Yu beberapa hari yang lalu.

Saat itu, Shen Yu terlihat begitu pucat dan ketakutan ketika mendengar keluarganya dipindahkan. Su Wan mengira, ketakutan itu akan memaksa Shen Yu untuk bertekuk lutut dan mematuhi arahannya. Ia mengira Shen Yu adalah bidak cerdas yang tahu kapan harus menyerah.

"Dia membohongiku," gumam Su Wan, suaranya bergetar antara amarah dan ketakjuban yang mengerikan.

Su Wan menyadari kesalahannya. Ketenangan dan kepanikan Shen Yu tempo hari bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah taktik mengulur waktu! Shen Yu sengaja memasang wajah ketakutan agar Su Wan lengah, sementara di balik layar, wanita itu langsung melaporkan segalanya pada Kaisar dan merancang serangan balik yang mematikan.

"Selir Shen... kau benar-benar naga yang bersembunyi di perairan dangkal," desis Su Wan, merapikan gaunnya yang sedikit kusut.

Di dalam dada putri Perdana Menteri itu, rasa hormat yang awalnya murni kini bercampur dengan rasa gentar. Shen Yu bukan sekadar wanita yang pandai mencari celah; Shen Yu adalah satu-satunya orang yang mampu menggerakkan Kaisar Li Jingchen untuk memicu pertumpahan darah secara langsung.

Kini, tanpa keluarga Shen Yu sebagai sandera, faksi Perdana Menteri kehilangan satu-satunya tali kekang yang bisa digunakan untuk mengendalikan selir kesayangan Kaisar tersebut. Festival Perburuan Musim Gugur tinggal menghitung hari, dan Su Wan tahu, ayahnya tidak akan tinggal diam menerima kekalahan ini.

Papan catur telah memanas, dan darah pertama telah ditumpahkan.

Kembali ke arena berkuda, Shen Yu nyaris memekik saat kuda hitam itu mendadak mengangkat kaki depannya sedikit. Tangannya mencengkeram tali kekang dengan panik, matanya terpejam erat menunggu rasa sakit akibat terlempar ke tanah berpasir.

Namun, hantaman itu tidak pernah terjadi.

Sebuah lengan yang kokoh melingkar dari belakang, menahan pinggangnya dengan kuat sekaligus mengambil alih tali kekang dari tangannya yang gemetar. Punggung Shen Yu membentur dada bidang yang terasa sangat familiar. Hawa panas dari tubuh pria itu, berpadu dengan aroma gaharu yang khas, langsung menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

"Kau memegang tali kekang itu seolah sedang mencekik musuhmu," suara bariton Li Jingchen terdengar sangat dekat di telinganya.

Shen Yu membuka mata, menolehkan kepalanya sedikit. Wajah tampan sang Kaisar hanya berjarak satu jengkal darinya. Pria itu telah melompat naik ke atas pelana, duduk tepat di belakangnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Kehadirannya yang mendominasi membuat kuda buas itu seketika tenang dan patuh.

"Yang Mulia," Shen Yu menghela napas lega yang luar biasa. Tubuhnya perlahan rileks, bersandar penuh pada pria di belakangnya. "Hamba sungguh berpikir nyawa hamba akan berakhir di arena ini."

Li Jingchen mendengus pelan. Tangannya yang besar menutupi tangan Shen Yu yang lebih kecil di atas tali kekang.

"Aku tidak repot-repot memusnahkan kamp logistik rubah tua itu semalaman hanya untuk melihatmu mati konyol karena jatuh dari kuda, Shen Yu," balasnya. Nada bicaranya santai, namun kebenaran di baliknya mengandung bobot darah dan nyawa.

Shen Yu terdiam. Hatinya mencelos menyadari skala tindakan pria ini demi dirinya. "Kasim Su telah memberikan laporannya. Hamba... hamba berutang nyawa pada Yang Mulia."

"Kau berutang lebih dari itu," Li Jingchen mencondongkan tubuhnya ke depan. Bibirnya menyapu ringan daun telinga Shen Yu, membuat gadis itu merinding karena sentuhan yang tiba-tiba intim di tempat terbuka. "Rubah tua itu telah kehilangan tawanannya. Dia pasti sudah menyadari bahwa kaulah yang membocorkan rahasianya padaku."

"Apakah Perdana Menteri akan bergerak di Festival Perburuan nanti?" tanya Shen Yu, kecemasan mulai merayap kembali ke dalam suaranya.

Li Jingchen mengarahkan kuda hitam itu berjalan memutar arena dengan langkah pelan. Posturnya sangat tegap, melindungi Shen Yu dari embusan angin musim gugur yang dingin.

"Perburuan Musim Gugur adalah satu-satunya acara di mana pasukan kekaisaran dan pengawal pribadi para menteri berkumpul di hutan terbuka," jelas Li Jingchen dengan mata menyipit menatap ke arah gerbang arena. "Itu adalah tempat yang sempurna untuk sebuah 'kecelakaan'. Panah nyasar, serangan binatang buas, atau tebing yang runtuh."

Shen Yu menelan ludah. "Jika tempat itu seberbahaya itu, mengapa Yang Mulia memaksa hamba ikut? Hamba bisa diam di Paviliun Teratai Biru dan menyulam dengan tenang."

"Karena kau tidak bisa selamanya bersembunyi di balik kelambu," jawab Li Jingchen tegas. Cengkeramannya di pinggang Shen Yu mengerat. "Mereka telah melihat tanda di lehermu. Mereka tahu keluargamu kini ada di bawah perlindunganku. Jika aku meninggalkanmu di istana saat aku pergi ke hutan perburuan, Selir Gui akan menggunakan setiap celah untuk menghancurkanmu."

Gadis itu terdiam. Li Jingchen benar. Di istana yang dipenuhi serigala lapar ini, tempat paling aman bukanlah paviliun yang terkunci rapat, melainkan tepat berada dalam bayangan sang naga itu sendiri.

"Di Festival nanti," Li Jingchen menghentikan kuda mereka di tengah arena. Ia memutar tubuh Shen Yu agar menghadapnya. Mata gelap sang Kaisar menatap lurus ke kedalaman mata gadis itu, mengunci setiap keraguan yang mungkin tersisa.

"Kau akan menunggangi kuda di sisiku. Kau akan menatap wajah para menteri itu tanpa sedikit pun menundukkan kepalamu," perintah Li Jingchen, nada suaranya mengalun seperti sebuah sumpah. "Biarkan mereka melihat bahwa wanita yang berani menentang Perdana Menteri Su, adalah wanita yang kuberi hak untuk duduk setara denganku."

Jantung Shen Yu berdebar liar, bukan lagi karena ketakutan, melainkan karena getaran perasaan yang tak lagi bisa ia sangkal. Ia menatap wajah keras pria yang telah mengubah seluruh jalan ceritanya itu. Di dunia yang tak dikenalnya ini, Shen Yu menyadari bahwa ia bersedia melangkah ke medan perang, selama pria ini yang memegang tali kekangnya.

1
Aidil Kenzie Zie
sepertinya semenjak ada Shen Yu sang Kaisar lupa sama Selir yg lainnya 🤭🤭🤭🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
selamat Permaisuri Shen🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
semangat Shen Yu 💪🏻💪🏻💪🏻
Aidil Kenzie Zie
Aaa Shen Yu OTW jadi Permaisuri 🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
semakin lama semakin manis sang Kaisar 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Shen Yu kamu sekarang sudah jadi kesayangan Kaisar 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
👍🏻👏🏻👏🏻 Selir Shen
Aidil Kenzie Zie
sepertinya bakalan susah untuk mengelabui Su Wan 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
a a. a Shen Yu si unboxing Kaisar 🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
nggak usah ditipu Kaisar nya Selir Shen wong dia tau kamu pintar tapi masih pura-pura 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
Merdeka 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Shen Yu turut berdukacita 🤭🤭🤭🤭
karena makan buah simalakama 🤭🤭🤭😭😭😭😭
Aidil Kenzie Zie
siap-siap dipenggal Kaisar Selir Shen 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
cerita di novel sama yang kamu jalani beda Shen Yu atau mungkin kamu yang akan dibawa oleh Kaisar untuk naik ke ranjangnya 🫣🫣🫣🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
apa Kaisar nggak takut kalau Shen Yu di bully atau mau di racun lagi
tapi aku penasaran tor itu "Selir" istri Kaisar juga??? atau apa kurang paham 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie: makasih tor soalnya kurang paham
lah ni mau cari selir baru lagi🤔🤔🤔
total 2 replies
Wawan
Hmmmm .....menarik 👍
Aidil Kenzie Zie
kamu sudah jadi kesayangan Kaisar Selir Shen 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
lagian ada aja kelakuan mu Shen
berharap Kaisar jijik ealah malah tetap nempel 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
ha ha ha 🤭🤭🤭turut bahagia atau sedih y atas nasibmu 🤔🤔🤔🤔😭🤣🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
selamat menikmati hidup dibawah hidung Li Jengchen 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!