NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Malam itu hujan turun deras, memukul dinding kaca lantai tertinggi dengan bunyi berirama yang menenangkan sekaligus membuat suasana semakin sunyi. Lampu ruang kerja hanya menyala separuh terang, menyisakan bayangan lembut di wajah Lukas yang sedang duduk diam di tepi jendela. Di atas meja masih tersusun rapi berkas-berkas tentang Bima, tentang aset yang hilang, tentang rencana penyelidikan selanjutnya—namun matanya tak lagi mampu membaca satu baris pun. Pikirannya melayang jauh, terjebak dalam kekacauan perasaan yang sejak beberapa minggu terakhir terus mengganggu setiap saat.

Ia masih ingat betul awal mula perjanjian mereka: dua orang asing yang sepakat berpura-pura menjadi pasangan suami istri demi tujuan yang sama. Ia pikir ia hanya perlu memainkan peran, menjaga sikap, dan menunggu waktu hingga kebenaran terungkap. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara peran dan kenyataan perlahan luntur tanpa disadarinya.

Ia menyadari perubahan itu mulai dari hal-hal kecil. Saat melihat Kirana tersenyum lega setelah berhasil memecahkan satu bagian teka-teki, hatinya terasa hangat dan ingin selalu melihat senyum itu lagi. Saat melihatnya lelah hingga tertidur di meja kerja, ia tidak sekadar merasa kasihan—ia ingin melindunginya, ingin memastikan wanita itu tidak lagi memikul beban sendirian. Saat mendengar suaranya yang tenang namun tegas saat menjelaskan sesuatu, ia merasa ada kekuatan yang mengalir masuk ke dalam dirinya. Dan saat ancaman datang, hal pertama yang terlintas di pikirannya bukanlah keselamatan dirinya sendiri, melainkan keselamatan Kirana.

Ia tidak lagi sekadar berpura-pura mencintai wanita itu. Ia benar-benar mencintainya.

Kesadaran itu datang tiba-tiba, membuatnya bingung sekaligus takut. Selama ini Kirana selalu bersikap jelas tentang batasan mereka: di depan publik mereka adalah suami istri, di balik pintu mereka adalah rekan kerja. Ia tidak pernah memberikan tanda-tanda lain, tidak pernah berbicara tentang perasaan, tidak pernah menyentuhnya lebih dari sekadar kebutuhan berakting. Dan itu membuat Lukas ragu—sangat ragu.

Apakah baginya saya hanya alat? Apakah dia hanya melihat saya sebagai kunci untuk membuka rahasia masa lalu, sebagai pasangan pura-pura yang bisa dipercaya, dan tidak lebih dari itu?

Pertanyaan itu berputar terus di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak. Ia takut jika ia mengungkapkan perasaannya, Kirana akan merasa terganggu. Ia takut wanita itu akan menganggapnya melanggar perjanjian, atau bahkan menganggapnya tidak tahu diri—seorang anak yang dulu dibuang, yang kini baru bisa berdiri tegak berkat bantuannya, berani menaruh harapan lebih dari sekadar kerja sama.

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Lukas segera menegakkan posisi duduk, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Kirana masuk membawa dua cangkir teh hangat, lalu duduk di kursi di sebelahnya. Saat ia meletakkan cangkir di meja, matanya menangkap sorot mata Lukas yang bingung dan tak tenang.

“Kamu belum tidur?” tanyanya pelan. “Biasanya kalau sudah larut seperti ini kamu sudah beristirahat. Ada yang mengganggu pikiranmu?”

Lukas menatap cahaya lampu kota yang terpantul di permukaan teh, berusaha menyusun kata-kata dengan hati-hati. “Banyak hal yang dipikirkan. Tentang Bima, tentang bukti yang belum lengkap… dan tentang kita.”

Kata terakhir itu terucap begitu saja. Kirana terdiam sejenak, mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatapnya dengan tatapan ingin tahu namun tetap tenang.

“Tentang kita?” ulangnya lembut. “Maksudmu soal peran yang harus kita mainkan di depan orang lain?”

Pertanyaan itu seperti menusuk tepat ke keraguan yang selama ini ia simpan. Lukas menarik napas panjang, lalu akhirnya memberanikan diri menatap mata wanita itu lekat-lekat.

“Kirana… bagi kamu, apa saya sebenarnya?” suaranya bergetar sedikit, namun ia berusaha melanjutkan. “Apakah saya hanya rekan kerja? Atau hanya… alat yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan semua ini? Kadang saya bingung—batas antara pura-pura dan kenyataan terasa begitu tipis bagi saya. Saya takut… saya takut saya sudah melangkah terlalu jauh dari apa yang kita sepakati di awal.”

Keheningan menyelimuti ruangan cukup lama. Hanya suara hujan yang masih terdengar deras dari luar. Wajah Kirana tidak lagi tampak tenang seperti biasanya—ada kebingungan, ada rasa haru, dan ada keraguan yang samar terlihat di matanya. Ia membuang muka sejenak menatap jendela, lalu kembali menatap Lukas dengan napas yang terasa berat.

“Saya tidak pernah menganggapmu sebagai alat, Lukas,” jawabnya perlahan namun tegas. “Tidak pernah. Sejak pertama kali saya menemukanmu, saya tahu kamu bukan sekadar kunci rahasia atau pewaris aset. Saya melihat anak yang tegar, yang meski dibuang dan dikhianati tidak pernah berubah menjadi jahat. Saya melihat kebaikan hatimu yang tulus.”

Ia berhenti sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, seolah takut salah bicara.

“Tapi saya… saya sudah terbiasa menutup diri. Selama bertahun-tahun ini saya berjuang sendirian, saya belajar untuk tidak menaruh perasaan pada siapa pun agar tidak menjadi lemah. Saya takut jika saya mulai merasakan hal yang sama seperti kamu, saya akan lupa tujuan awal kita. Saya takut Bima akan memanfaatkan perasaan itu untuk menghancurkan kita berdua. Dan yang paling membuat saya ragu… saya tidak yakin apakah kamu melihat saya sebagai diri saya yang sebenarnya, atau hanya sebagai wanita yang menolongmu saat kamu jatuh.”

Pengakuan itu membuat hati Lukas berdebar kencang. Ternyata bukan hanya dirinya yang merasa bingung. Kirana pun menyimpan keraguan yang sama, menyimpan perasaan yang tak berani ia ungkapkan.

“Saya tidak peduli apa yang kamu berikan pada saya, atau apa yang kamu lakukan untuk saya,” ucap Lukas mantap, tangannya perlahan meraih tangan wanita itu di atas meja—ia lega saat Kirana tidak menarik tangannya menjauh. “Saya mencintaimu karena kamu adalah Kirana. Karena kamu yang berani berdiri di samping saya saat semua orang memandang rendah. Karena kamu yang sabar mengajari saya dan tidak pernah meremehkan ketidaktahuan saya. Karena kamu yang berbagi beban masa lalu yang sama beratnya dengan saya. Bukan karena statusmu, bukan karena kekayaanmu, bukan karena kebaikanmu semata—tapi karena kamu, sebagai manusia.”

Air mata perlahan menetes di pipi Kirana. Selama ini ia selalu tampak kuat, selalu tampak tak tersentuh—namun di balik itu ia hanyalah wanita yang juga butuh tempat untuk bersandar, juga butuh dicintai apa adanya. Ia meremas lembut tangan Lukas, lalu tersenyum tipis—senyum yang paling tulus dan lembut yang pernah dilihat Lukas.

“Saya juga takut, Lukas,” akunya pelan. “Saya takut jika kita terlibat perasaan, kita akan saling menyakiti. Saya takut jika sesuatu terjadi pada salah satu dari kita, yang lain akan hancur. Tapi… saya sadar juga bahwa perasaan ini tidak bisa dipaksakan hilang. Dan kebenaranmu barusan membuat saya berani menghadapi ketakutan itu.”

Mereka berdua diam sejenak, merasakan kehangatan tangan yang saling bertaut, merasakan beban berat keraguan yang perlahan terangkat dari dada masing-masing. Perasaan yang mengganggu itu ternyata bukan kesalahan, bukan pelanggaran pada perjanjian—melainkan jembatan yang menghubungkan mereka lebih erat dari sekadar tujuan bersama.

“Kita tidak perlu terburu-buru,” ucap Lukas akhirnya, tidak ingin membebani wanita itu. “Kita bisa melangkah pelan-pelan. Yang penting kamu tahu perasaanku, dan aku tahu perasaanmu. Sisanya… kita biarkan berjalan sesuai kehendak waktu.”

Kirana mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Lukas. “Terima kasih sudah berani bicara. Dan terima kasih sudah tidak menyerah pada saya.”

Hujan perlahan mereda, menyisakan udara yang segar dan bersih. Di ruangan itu, dua orang yang dulunya berjalan di jalan yang berbeda kini menemukan jalan yang sama—bukan hanya untuk mengungkap kebenaran dan mencari keadilan, tapi juga untuk berbagi hidup dan hati satu sama lain. Masih ada bahaya yang menanti, masih ada musuh yang harus dihadapi, namun kini mereka tahu satu hal pasti: mereka tidak lagi berjalan sendirian, dan perasaan yang mereka miliki adalah kekuatan yang tidak bisa direnggut oleh siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!