NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Disucikan dalam Pelukan Rida dan Cinta

Udara malam di ndalem Pondok Pesantren Al-Hikmah terasa jauh lebih hangat daripada malam-malam sebelumnya. Suara desau angin malam yang menggesek dedaunan pohon mangga di halaman belakang berpadu dengan alunan lembut ayat-ayat suci Al-Qur'an yang berasa dari musala pesantren. Jam dinding antik di ruang keluarga menunjukkan pukul sepuluh malam. Suasana di kompleks pesantren sudah berangsur tenang, menyisakan keheningan yang menenangkan jiwa.

Di dalam kamar pengantin mereka yang berukuran luas dengan nuansa putih bersih dan dekorasi kayu jati klasik, lampu tidur berpijar kekuningan memancarkan cahaya temaram yang romantis.

Malam ini bukanlah malam biasa bagi Revan dan Nayara Zayna Az-Zahra. Setelah melewati hari-hari yang penuh dengan teror mengerikan di kampus mulai dari skandal foto mading hingga insiden mencekam di parkiran basement akibat ulah nekat Jessica badai besar itu akhirnya mereda. Pihak keamanan kampus dan kepolisian telah bergerak cepat mengamankan Jessica setelah malam kejadian itu, memastikan bahwa tidak ada lagi ancaman yang bisa menyentuh keselamatan sang istri.

Nayara duduk di tepi ranjang berseprai putih gading. Ia mengenakan gamis malam berbahan satin halus berwarna champagne berbalut renda tipis di bagian lengan, dipadu dengan selendang kerudung transparan yang menutupi rambut panjangnya yang tergerai indah. Jantungnya berdegup kencang, suaranya seolah tercekat di tenggorokan.

Ingatan tentang malam beberapa minggu lalu ketika ia sempat merasa ketakutan dan mendorong Revan secara refleks sempat berkelebat di benaknya. Namun, ketakutan itu kini telah lenyap tak bersisa. Teror dari Jessica telah membuka matanya lebar-lebar: di dunia yang kejam ini, satu-satunya tempat berlindung paling aman bagi jiwanya adalah di dalam dekapan suaminya sendiri pria yang telah mempertaruhkan segalanya demi melindunginya.

Pintu kamar mandi perlahan terbuka, memecah keheningan. Revan melangkah keluar dengan mengenakan celana kain panjang hitam longgar dan kemeja tidur katun putih tipis yang belum dikancingkan sempurna. Rambut hitamnya yang setengah basah dibiarkan berantakan natural, memancarkan aura maskulin yang begitu kuat dan memesona.

Melihat sosok istrinya yang duduk menunduk malu di tepi ranjang, langkah Revan terhenti sejenak. Manik matanya menatap lekat-lekat lekuk tubuh Nayara yang tampak begitu anggun dan rapuh di waktu bersamaan. Ada gelombang cinta yang teramat besar dan rasa hormat yang mendalam menghantam dadanya.

Revan berjalan mendekat dengan langkah pelan namun pasti. Aroma sabun mandi bercampur wangi gaharu yang khas langsung menyeruak, memenuhi indra penciuman Nayara.

Begitu Revan duduk di tepi ranjang tepat di sampingnya, kasur empuk itu sedikit berderit pelan. Nayara spontan menundukkan pandangannya, pipinya merona merah hingga ke leher, sementara napasnya mulai tidak beraturan.

Revan tersenyum lembut. Ia mengulurkan tangan kanannya, dengan sangat hati-hati menyentuh dagu Nayara, lalu mengangkat wajah gadis itu perlahan agar menatap manik matanya.

"Hei..." bisik Revan dengan suara baritonnya yang lembut, begitu dalam dan menghanyutkan. "Masih memikirkan kejadian di basement kemarin, Zawjati?"

Nayara menggeleng pelan, manik matanya berkaca-kaca menatap kesungguhan dan ketulusan yang terpancar dari sorot mata suaminya. "Tidak, Mas... Aku tidak memikirkan itu lagi. Aku hanya... merasa semua ini begitu nyata. Kita akhirnya melewati badai itu bersama-sama."

"Dan badai itu sudah berakhir, Nay," potong Revan dengan nada bicara yang begitu mantap dan menenangkan. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup lembut puncak kepala Nayara yang tertutup kain tipis. "Mulai hari ini, tidak ada lagi ketakutan. Tidak ada lagi bayangan kelam. Yang ada hanya aku, kamu, dan ridanya Allah yang membersamai rumah tangga kita."

Sentuhan-sentuhan kecil itu mulai meruntuhkan sisa-sisa kegelisahan di hati Nayara. Revan membawa tubuh istrinya ke dalam dekapannya, mendekap erat tubuh mungil Nayara ke dada bidangnya. Ciuman-ciuman lembut mulai mendarat di pelipis, pipi, hingga turun ke sudut bibir Nayara dengan penuh kelembutan yang teramat sangat, seolah ia sedang menyentuh barang paling berharga di muka bumi.

Suasana malam semakin larut, menghanyutkan keduanya ke dalam arus romansa halal yang membara. Revan, yang selama ini dikenal sebagai pemuda berandalan, kini menyalurkan seluruh sisa-sisa emosi dan cintanya ke dalam bentuk kelembutan mutlak. Sentuhan tangannya berubah semakin intens namun tetap penuh penguasaan, menelusuri lekuk tubuh istrinya dengan kesabaran yang luar biasa, memastikan bahwa Nayara merasa aman, dicintai, dan diinginkan sepenuhnya.

Napas Revan mulai memburu. Suasana yang begitu intim membuat kesadarannya tersapu oleh gelombang gairah yang teramat kuat, membuncah hingga ke ubun-ubun. Ia merebahkan tubuh Nayara secara perlahan di atas kelembutan ranjang, menatap wajah istrinya yang kini tampak merona kemerahan dengan mata setengah terpejam menahan rasa asing yang menggelora.

"Mas..." lirih Nayara lembut, jemarinya mencengkeram erat kemeja putih Revan saat suaminya mencondongkan tubuhnya lebih dekat.

"Aku di sini, Nay... Aku milikmu seutuhnya," bisik Revan tepat di telinga istrinya, sebelum akhirnya bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman panjang yang menghanyutkan seluruh jiwa dan raga.

Di bawah temaram lampu tidur ndalem pesantren, malam itu resmi menjadi malam pengabdian dan penyatuan suci dua jiwa. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi bayangan masa lalu yang menghantui. Yang ada hanyalah alunan napas yang berpadu, detak jantung yang berirama sama, dan rasa syukur yang teramat dalam atas ikatan halal yang telah disatukan oleh Sang Pencipta.

Jajaran sinar matahari fajar merayap naik keesokan harinya, menembus celah-celah ventilasi kayu jati dan memantulkan kehangatan di atas lantai marmer kamar pengantin. Suara azan Subuh yang berkumandang dari menara masjid pesantren membelah udara pagi yang masih diselimuti embun tipis.

Nayara perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya. Kelopak matanya terasa berat namun tubuhnya terasa begitu ringan dan damai. Ia merasakan sepasang lengan yang kuat melingkar hangat di pinggangnya, mendekap tubuhnya erat dari belakang.

Ia menoleh secara perlahan. Di sampingnya, Revan masih terlelap dalam tidurnya. Wajah pemuda itu tampak begitu tenang, damai, dan tanpa beban pemandangan yang sangat langka mengingat betapa kerasnya perjuangan hidup yang telah dilalui suaminya selama ini.

Nayara tersenyum manis. Ia mengangkat tangan kanannya, dengan sangat hati-hati menyentuh dan merapikan beberapa helai rambut hitam yang menutupi dahi suaminya.

Merasa ada gerakan di dekatnya, Revan perlahan membuka matanya. Manik matanya langsung menangkap sosok sang istri yang sedang menatapnya dengan senyuman paling tulus di dunia.

Revan ikut tersenyum. Ia mempererat pelukannya, menarik tubuh Nayara agar semakin menempel di dadanya.

"Pagi, Zawjati..." bisik Revan dengan suara parau khas bangun tidur, sangat lembut dan penuh kehangatan. "Tidurmu nyenyak semalam?"

Nayara merona merah, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. "Sangat nyenyak, Mas..."

Revan terkekeh renyah, mencium puncak kepala istrinya penuh kasih sayang. "Alhamdulillah... Kalau begitu, mari kita bangun, ambil air wudu, dan menyambut pagi ini dengan salat Subuh berjemaah sebagai suami istri yang seutuhnya di hadapan Allah."

"Iya, Mas..." jawab Nayara patuh.

Matahari pagi di Pondok Pesantren Al-Hikmah terbit membawa lembaran baru yang jauh lebih cerah bagi kehidupan Revan dan Nayara Zayna Az-Zahra. Badai masa lalu telah tuntas tersapu bersih, meninggalkan sebuah keluarga kecil yang dibangun di atas fondasi iman, kesabaran, dan cinta suci yang abadi.

1
Alex
sepertinya ini rumah tangga impian setiap org Thor, termasuk aku juga, semua berjalan seimbang atas ridho Allah, apapun slalu ada Allah, insyaallah semua akan berakhir baik,
bawangnya kebanyakan thor
Alex
bahagianya nembus sampai sini thor🥰
Alex
sweet bgtss
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!