Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: TK Internasional
Kita mungkin akan bertemu lagi.
Kalimat Rayhan Harto semalam masih muncul di kepala Keira ketika mobil ojek online yang ia tumpangi berhenti tidak jauh dari deretan sekolah internasional di Jakarta Selatan.
Ia turun sambil merapikan tote bag berisi sampel kain. Pagi itu ia hanya perlu mengambil beberapa bahan dari vendor kecil di dekat area sekolah, lalu langsung menuju kantor D.N. Seharusnya itu urusan sederhana. Datang, ambil barang, pergi.
Namun ketika ia melewati pagar tinggi sebuah TK Internasional, langkahnya melambat.
Di balik pagar, halaman sekolah tampak cerah. Ada perosotan warna kuning, ayunan kecil, dan beberapa anak berseragam rapi yang berlarian sebelum kelas dimulai. Suara tawa mereka ringan, bercampur panggilan guru yang mengingatkan agar tidak berlari terlalu jauh.
Keira hampir terus berjalan.
Lalu ia melihat buntalan kecil.
Benda itu tidak lagi menggantung di punggung Genki, tetapi diletakkan di samping pot tanaman dekat bangku taman. Kain lusuh itu terlalu mudah dikenali, apalagi di antara tas sekolah mahal bergambar karakter lucu dan botol minum impor.
Genki berdiri tidak jauh dari sana.
Anak kecil itu memakai seragam sekolah putih biru, rambutnya disisir rapi, sepatunya bersih. Kalau hanya dilihat sekilas, ia tampak seperti anak keluarga kaya lain di sekolah itu. Tetapi kedua tangannya menggenggam ujung baju, dan matanya menatap lantai.
Di depannya, tiga anak berdiri melingkar.
"Kamu bohong," kata salah satu anak laki-laki bertubuh lebih tinggi. "Kalau punya Mama, kenapa Mama kamu nggak pernah jemput?"
Genki mengangkat wajah. "Genki punya Mama."
"Mana?"
"Ada."
"Kalau ada, panggil sini."
Anak perempuan di sampingnya ikut tertawa kecil. "Mama aku tiap hari antar. Mama kamu mana?"
Wajah Genki berubah merah. Ia menggigit bibir, sama seperti saat mengikat buntalan di Vila Biru. Hanya saja kali ini, ia tidak sedang mencoba pergi. Ia seperti sedang mencoba tetap berdiri.
"Genki punya Mama," ulangnya.
"Nggak ada," balas anak laki-laki itu cepat. "Kata susterku, kamu cuma punya Papa. Papa kamu sibuk terus. Mama kamu nggak ada."
Keira merasakan sesuatu mengeras di dadanya.
Ia tahu ini bukan pertengkaran orang dewasa. Mereka hanya anak-anak, mungkin mengulang kata yang didengar dari rumah. Tapi bagi Genki, setiap kata jatuh tepat di tempat paling sakit.
Seorang guru tampak sedang bicara dengan orang tua murid di gerbang lain, belum menyadari keributan kecil itu.
Keira tidak menunggu lebih lama.
Ia berhenti di gerbang tamu dan memberi tahu satpam bahwa seorang anak hampir menangis di halaman. Satpam sempat ragu, lalu segera memanggil guru piket. Guru muda itu menoleh ke arah yang ditunjuk Keira, wajahnya berubah cemas, kemudian membuka akses agar Keira masuk bersamanya.
"Genki."
Suara itu membuat Genki menoleh.
Matanya yang tadi keras langsung membesar. Bibirnya terbuka sedikit, seolah ia takut salah lihat.
"Kak Kei?"
Keira berjalan mendekat, lalu berjongkok di sampingnya. Ia tidak langsung memeluk. Ia hanya menatap wajah Genki dan bertanya pelan, "Genki baik-baik saja?"
Genki mengangguk cepat.
Terlalu cepat.
Matanya sudah penuh air.
Anak laki-laki yang tadi mengejek menatap Keira dari atas ke bawah. "Kakak siapa?"
Keira menoleh kepadanya. Senyumnya tetap lembut, tapi suaranya jelas. "Kakak yang kenal Genki."
"Dia bilang punya Mama."
"Memang punya."
Genki membeku.
Tiga anak itu juga terdiam sebentar.
Keira menatap mereka satu per satu. Ia tidak meninggikan suara. Tidak perlu. Anak-anak lebih mudah mengerti nada tenang daripada bentakan yang membuat mereka hanya takut tanpa paham.
"Setiap anak punya cerita keluarga yang berbeda," kata Keira. "Ada yang diantar Mama, ada yang diantar Papa, ada yang diantar Oma, Opa, Om, Tante, atau sopir. Bukan berarti anak itu boleh diejek."
Anak perempuan tadi menunduk.
Anak laki-laki itu masih mencoba membela diri. "Tapi dia nggak pernah bilang nama Mamanya."
"Mungkin karena itu membuat dia sedih."
Kalimat sederhana itu membuat Genki menunduk. Setetes air mata jatuh ke pipinya.
Keira melihatnya, lalu mengeluarkan tisu dari tas. "Boleh aku bersihkan?"
Genki mengangguk.
Ketika Keira menyeka pipinya, anak itu tiba-tiba memeluk lehernya. Buntalan kecil di dekat pot tanaman terlupakan begitu saja.
"Kak Kei datang," bisiknya.
"Iya, aku datang."
"Genki nggak bohong."
"Aku tahu."
"Genki punya Mama."
Keira menahan napas. Ada kalimat yang seharusnya mudah diucapkan orang dewasa untuk menenangkan anak kecil, tapi terasa berat karena ia tahu betapa kosongnya kata itu bagi Genki.
Ia mengusap punggung kecil itu.
"Genki punya Mama," katanya pelan, cukup terdengar oleh anak-anak di depan mereka. "Walaupun hari ini Mama belum bisa berdiri di sini, bukan berarti Genki boleh disakiti karena itu."
Genki menangis tanpa suara.
Anak-anak yang tadi mengejek saling pandang. Satu per satu wajah mereka berubah canggung. Guru yang akhirnya sadar segera mendekat dengan langkah cepat.
"Ada apa ini?"
Keira berdiri sambil tetap memegang tangan Genki. "Anak-anak sedang salah paham. Saya sudah bicara sedikit. Mungkin Ibu Guru bisa bantu lanjutkan."
Guru itu menatap Genki, lalu anak-anak lain. Wajahnya langsung mengerti separuh masalah. "Darren, Misha, Theo, minta maaf sama Genki."
Anak laki-laki tinggi itu, Darren, menggeser kaki. "Maaf."
"Lihat wajah Genki saat bicara," kata guru itu lebih tegas.
Darren menatap Genki. "Maaf, Genki."
Misha dan Theo ikut meminta maaf dengan suara kecil.
Genki tidak menjawab. Ia hanya bersembunyi di balik Keira, tangan kecilnya tidak lepas dari jari perempuan itu.
Dari seberang jalan, di dalam mobil hitam yang parkir tidak mencolok di bawah bayangan pohon, Rayhan menyaksikan semuanya.
Pagi itu ia sebenarnya hanya ingin memastikan Genki masuk sekolah tanpa drama setelah kejadian kemarin. Biasanya ia tidak turun dari mobil. Genki lebih sulit berpisah kalau melihatnya terlalu lama. Maka Rayhan duduk di kursi belakang, membaca laporan di tablet, sementara Gio berdiri di luar dekat pintu mobil.
Namun sejak Keira muncul di gerbang, laporan itu tidak lagi terbaca.
Rayhan melihat bagaimana perempuan itu masuk tanpa panik. Bagaimana ia berjongkok agar sejajar dengan Genki. Bagaimana ia membela anaknya tanpa mempermalukan anak-anak lain.
Tidak berlebihan.
Tidak mencari perhatian.
Tapi tepat.
"Pak," kata Gio pelan dari luar jendela yang sedikit terbuka. "Itu Nona Keira."
"Saya lihat."
Gio terdiam.
Di halaman sekolah, Genki akhirnya mengambil buntalan kecilnya. Ia memeluknya dengan satu tangan, sementara tangan satunya masih menggenggam Keira.
Guru mencoba membujuk. "Genki, kelas sebentar lagi mulai."
Genki menggeleng.
"Genki mau sama Kak Kei."
Keira berjongkok lagi. "Genki harus masuk kelas. Aku juga harus kerja."
"Nanti Kak Kei hilang."
"Aku tidak hilang. Lihat, aku berdiri di sini sampai Genki masuk kelas."
"Janji?"
"Janji."
Genki menatapnya lama, menimbang dengan cara anak kecil. Lalu ia mengulurkan kelingking.
Keira tersenyum. Ia mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Genki.
"Janji."
Baru setelah itu Genki mau berjalan masuk. Tapi setiap tiga langkah, ia menoleh. Keira tetap berdiri di tempatnya, melambaikan tangan kecil-kecil sampai Genki benar-benar masuk ke gedung kelas.
Ketika punggung kecil itu menghilang di balik pintu, Keira baru menghela napas.
Di seberang jalan, Rayhan menutup tabletnya.
"Gio."
"Ya, Pak?"
"Hubungi Keira."
Gio tidak langsung bertanya, tetapi matanya bergerak sedikit. "Untuk?"
Rayhan melihat ke arah gerbang sekolah, tempat Keira masih berdiri beberapa detik lebih lama daripada yang perlu.
"Saya ingin mengajukan satu permintaan."