Johan Pranata, CEO tampan yang belum di karuniahi seorang anak dari pernikahannya yang sudah tujuh tahun. Keadaan sang istri yang tidak memungkinkan untuk mengandung karena penyakit yang di deritanya, membuat Johan harus mencari wanita yang mau mengandung benih anaknya.
Semua itu Johan lakukan hanya karena tuntutan sang Ibu. Karena dia harus melahirkan pewaris dari bisnis dan juga perusahaannya.
Lestari sang Ibu menemukan wanita yang tepat, yaitu Lilian. Karena perusahaan sang ayah mengalami kebangkrutan akhirnya Lilian mau menerima tawaran dari Lestari.
Lilian akhirnya menikah secara diam-diam dan tersembunyi dengan Johan. Tapi semenjak itu hidup Lilian menjadi susah, karena Johan banyak mengatur hidupnya.
Bertemu setiap hari dengan Johan membuat Lilian menaruh rasa kepadanya.Lalu, apakah Johan juga menaruh rasa terhadap Lilian? Atau dia tetap setia dengan istrinya? Simak ya😉😉😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna afrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Hamil Lagi
MARI BUDAYAKAN LIKE SEBELUM MEMBACA😊😊
JANGAN LUPA BERIKAN KOMENTAR YANG MEMBANGUN🙏🏻🙏🏻😊
❤HAPPY READING❤
"Maafkan aku sudah membuatmu menderita seperti ini." Johan mencium tangan Lilian cukup lama, tapi dia langsung melepaskan tangan Lilian saat terdengar suara seseorang yang membuka pintu.
Krekk..
"Johan," panggil Lestari.
"Ibu," sahut Johan.
Lestari masuk bersama Stevia dengan beberapa buah di tangannya.
"Bagaimana keadaan Lilian?" tanya Lestari.
"Dia tertidur setelah dokter Lexo memberikan obat pada infusnya tadi."
"Apakah Lilian tidak bisa hamil setelah operasi ini?" tanya Stevia membuat Lestari keheranan. Baru saja datang, keadaan Lilian juga masih terbaring lemah, dia sudah membicarakan tentang kehamilan lagi.
"Kata dokter tidak mereka hanya membersihkan rahimnya, tanpa pembedahan. Karena usia kandungannya juga masih terbilang sangat muda, jadi tidak perlu menunggu sampai dua tahun. Kalau untuk hamil kembali butuh waktu dua bulan sampai Lilian benar - benar pulih total." Stevia hanya manggut - manggut mendengar penjelasan panjang lebar dari Johan.
"Johan, kamu sekarang hanya perlu fokus untuk kesembuhan Lilian. Dan kamu Stevia, baru saja Lilian keguguran, sekarang kamu membahas tentang hamil lagi. Kamu harusnya memberi semangat untuk Lilian, masalah hamil lagi bisa kita bicarakan nanti." Stevia terperangah saat Lestari begitu membela Lilian dibanding dengan dirinya. Padahal sebelumnya yang menyarankan ini semua adalah Lestari, bukan Stevia.
"Iya, Bu. Maafkan aku," ucap Stevia sendu.
"Johan, kamu pulang dulu, bersihkan dirimu biar Ibu dan Stevia yang menjaga Lilian di sini." Lestari tidak tega melihat wajah putra semata wayangnya begitu lusuh dan terlihat berantakan.
"Tidak, Bu. Aku akan menunggu sampai Lilian benar - benar sadar dulu." Johan sangat enggan meninggalkan Lilian, membuat hati Stevia menangis pilu.
"Mas, kamu sarapan dulu ya. Aku sudah bawakan kamu sarapan dari rumah." Stevia mendekati Johan, membujuknya agar mau memakan sarapan yang telah dibawanya.
"Nanti saja, aku belum lapar." Wajah Stevia menjadi masam karena Johan menolak untuk sarapan. Stevia merasa cemburu karena Johan hanya memikirkan Lilian untuk saat ini. Nampak sekali dari wajah dan sikap Johan kalau dia sangat mengkhawatirkan keadaan Lilian sekarang.
"Mas, kamu ini belum makan sejak tadi malam. Nanti kalau kamu sakit bagaimana kamu bisa menjaga Lilian." Nampaknya usaha Stevia kali berhasil. Johan mengangkat tubuhnya, dia berjalan ke sofa yang ada di sudut ruang rawat tersebut.
"Aku bawakan kamu nasi uduk sama tempe penyet kesukaan kamu. Aku suapin ya," ucap Stevia sambil membuka kotak makan yang ia bawa.
Stevia menyodorkan sendok yang berisi nasi ke mulut Johan, namun sayangnya Johan hanya diam. Tatapan Johan terlihat kosong, dia tidak menanggapi perlakuan Stevia.
"Mas, buka mulut kamu," ucap Stevia yang sedikit kesal kepada suaminya.
"Biar aku makan sendiri." Johan mengambil sendok yang ada di tangan Stevia, membuat wanita itu menatap Johan dengan tidak percaya.
Apa yang telah merasukimu, Mas? Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Apa semua ini karena Lilian? Tapi tidak mungkin Mas Johan simpati kepada Lilian, bukankah dia membeci Lilian. Batin Stevia bergejolak menggebu - gebu karena menahan emosi.
"Mas," panggil Stevia.
"Hem." Hanya suara itu yang keluar dari mulut Johan yang masih penuh dengan makanan.
"Kamu ngak ke kantor hari ini?" tanya Stevia.
"Tidak, aku sudah memberikan kabar kepada Dani. Aku sudah menyuruh dia memimpin rapat hari ini." Jelas Johan setelah menelan makanannya.
"Kenapa kamu nga ke kantor? Kan di sini sudah ada aku dan Ibu yang menjaga Lilian." Stevia tidak terima Johan terus saja Johan rela bolos kerja demi menjaga Lilian di rumah sakit.
"Aku yang sudah membuat Lilian jadi seperti ini, jadi aku akan menunggunya sampai dia sadar kembali." Johan menjawab dengan nada suara yang lebih tinggi, sampai Lestari menengok ke arah mereka.
"Kalian ini apa - apaan si? Sudah tau Lilian sedang sakit, tapi kalian malah berdebat di sini. Ini itu rumah sakit, jangan menggangu waktu istirahat Lilian." Lestari memberi nasihat kepada pasangan suami istri yang sudah kehilangan akalnya itu.
Terus aja Bu, terus belain itu si Lilian. Apa kelebihannya, Bu. Dasar Ibu dan anak sama - sama menyebalkan. Stevia mendengus kasar, dia sangat kesal kepada Johan dan juga Lestari.
Di kantornya, Rudi terlihat sangat gelisah. Dia bahkan banyak melamun hari ini, tidak seperti biasanya. Sampai Nadin, sekretaris Rudi menyadari perubahan sikap bosnya tersebut.
"Pak, Bapak tidak apa - apa?" tanya Nadin membuyarkan lamunan Rudi.
"Tidak Nad, saya sedang tidak baik - baik saja." Rudi menjawabnya dengan jujur.
"Emang ada apa, Pak?" tanya Nadin memancing jawaban dari Rudi.
"Kamu pernah ngak, Nad. Mencintai seseorang yang tidak mencintai kamu?" Nadin hampir saja tertawa mendengar pertanyaan Rudi.
"Kalau saya tidak pernah, Pak. Saya pernahnya ditinggal rabi, Pak," jawab Nadin dengan campuran bahasa jawanya, karena memang Nadin asli orang jawa.
"Rabi?" tanya Rudi dengan wajah bingungnya yang khas sampai membuat Nadin terkekeh.
"Nikah Pak maksud saya." Jelas Nadin.
"Oh, bagaimana tanggapan kamu tentang itu?" tanya Rudi lagi.
"Saya mengikhlaskannya, karena mungkin itu jalan yang terbaik untuk saya dan juga untuk dia," jawab Nadin.
"Kamu tidak menyesal dan cemburu?" Johan merasa sekertarisnya aneh.
"Tentu saja tidak Pak, untuk apa menyesal. Dalam mencintai yang sesungguhnya itu, kita bisa merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain." Kata - kata bijak itu keluar dengan apik dari mulut Nadin dengan logat jawa khasnya.
"Kalau dia tidak bahagia dengan orang itu bagaimana?" Nadin semakin terkekeh mendengar pertanyaan Rudi yang semakin lucu baginya.
"Kejar dia, Pak. Kejar sampai ujung dunia, jangan biarkan dia menderita bersama orang lain. Sedangkan kita di sini menunggu untuk bisa membahagiakannya." Rudi terdiam, dia memikirkan ucapan Nadin secara dalam.
"Tapi aku tidak mampu mengejarnya, aku harus bagaimana?" tanya Rudi dengan tatapan kosong.
"Emang kenapa sampai Bapak tidak bisa mengejarnya?" Nadin justru balik bertanya kepada Rudi.
"Dia bagaikan bintang yang tidak akan pernah mampu aku gapai." Nadin terenyuh dengan jawaban Rudi yang cukup dramatis itu.
Nadin tidak pernah menyangka, di balik wajah dingin dan angkuhnya ternyata Rudi bisa bersikap semanis ini. Dulu Nadin pernah membenci Rudi karena sikapnya yang galak. Karena Nadin pernah terkena omelan Rudi saat dirinya terlambat lima menit kala itu.
"Emang siapa wanita yang Bapak sukai itu?" tanya Nadin yang penuh dengan rasa penasaran.
"Dia wanita yang sangat baik, tapi sayang nasibnya tidak baik. Hidupnya tidak terlalu beruntung." Wajah Rudi menjadi sendu mengingat kebidupan pilu Lilian.
Nadin hanya bisa menatap Rudi penuh simpati tanpa bisa memberikan komentar apapun.
Bersambung..
Maaf ya baru update, kemarin mag author kambuh😭😭 jadi tidak bisa nulis.
Quotes by Nadin.
Dalam mencintai yang sesungguhnya itu, kita bisa merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain.
Jangan lupa baca karya author yang lain😊