NovelToon NovelToon
Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: Aryani Ningrum

Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.

Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.

Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.

Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

Rayyan menoleh ke arah sang istri yang terlihat mencemaskan dirinya. Sungguh Rayyan semakin menyadari kalau cinta wanita yang kini menjalin hubungan lewat pernikahan kontrak dengannya itu sungguh tulus, tidak hanya karena rasa tanggung jawabnya sebagai penerima jaminan.

"Maaf, Mbak. Tiba- tiba badan Rayyan tidak enak. Tapi Rayyan juga ingin makan enak, gimana ini, Mbak?" Rayyan mengubah ekspresi wajahnya dari yang was-was karena yakin jika pelayan wanita yang merupakan adiknya itu akan membuat masalah Rayyan dan juga Laras.

"Kalau mas merasa tidak enak badan, ya sudah kita bungkus semua makanan yang kita pesan dan kita makan di rumah saja. Bagaimana, Mas?" Laras memberi solusi untuk masalah Rayyan. Laras tidak ingin sang suami kambuh lagisakit kepalanya, Laras sekarang overprotektif pada kesehatan Rayyan. Padahal orang yang dikhawatirkan baik-baik saja.

"Boleh juga, Mbak. Dengan begitu Rayyan bisa makan dengan pua di rumah. Kalau di sini Rayyan merasa tidak nyaman," sahut Rayyan dengan seribu satu alasan agar Veo tidak bertemu dengan adiknya yang suka usil juga. Rayyan takut jika Veo akan mengadu pada ibu asuhnya yaitu Velia.

"Baiklah, ayo kita bilang pada kasir kalau makanan kita dibungkus saja." Laras bangkit dari duduknya, dia begitu sabar karena baru saja dudauk dengan nyaman sudah harus berdiri lagi, andai itu bukan Laras mungkin sudah marah pada Rayyan yang merepotkan saja. Tadi ingin makan di restoran mewah, giliran sudah sampai ia minta makan di rumah.

"Laras tidak marah pada Rayyan?" tanya Rayyan dengan ekspresi wajah memelas. Laras yang sedang berdiri didepan kasir hanya diam saja, dia fokus pada kasir yang sedang menghitung jumlah besar harga yang harus ia bayarkan.

"Mbak ... Mbak Laras marah sama Rayyan?" Rayyan menarik-narik baju Laras. Apa yang dilakukan Rayyan sukses membuat sosok gadis yang sedari tadi mengawasi mereka berdua. Gadis itu tersenyum, dia merasa geli sekaligus geram dengan apa yang dilakukan oleh Rayyan pada Laras.

"Mama, jika mama tahu anak sulung mama begitu menyebalkan dan juga natal, pasti mama akan menarik telinga kak Afa saat ini juga. Mama pasti sangat bahagia jika tahu kalau menantu mama begitu cantik dan lembut. Mama juga pasti bangga jika menantu mama juga seorang yang mandiri dan juga hebat!" gumam gadis itu tersenyum geli dan juga gemas.

Beberapa kemudian, gadis itu merapikan penampilannya seraya menentang bungkusan yang berisi makanan yang dipesan oleh Rayyan dan juga Laras.

"Maaf, Nyonya. Ini adalah pesanan Anda. Bisa anda cek terlebih dahulu sebelumnya, apakah sesuai dengan pesanan Anda atau tidak. Dan kami berani jamin uang kembali jika tidak sesuai dengan pesanan Anda, Nyonya."

Veo menyerahkan paper bag yang berisi pesanan makanan yang dipesan Rayyan dan juga Laras. "Tidak, kami percaya pada pelayanan kalian semua. Terimama ini sengaintips dari kami. Maafkan kami yang tidak jadi makan di tempat karena suami saya mendadak merasa tidak enak badan,"jawab Laras seraya mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan memberikannya pada Veo.

Veo lagi-lagi kagum. Pada Laras yang murah hati dan juga dermawan. Sudah cantik, pintar, mandiri dan juga dermawan. Semua kriteria istri idaman sudah Laras dapatkan.

"Terima kasih, Nyonya. Semoga pernikahan Anda terus langgeng hingga nanti maut memisahkan kalian berdua." Veo menerima uang tip dari Laras, karena tidak ingin Laras curiga. Dan uang itu akan ia simpan sebagai kenang-kenangan dari kakak iparnya.

"Terima kasih, Mbak. Ayo mas kita pulang, awas hati-hati," ucap Larasati menuntun Rayyan yang terus melirik ke arah pelayan wanita itu. Seakan mereka berbicara melalui tatapan mata.

"Sudah lunas syarat yang kau ajukan, tiba waktunya kamu pulang ke rumah dan jaga mama baik-baik!" seru Rafael melalui tatapan mata.

Veo mengangguk sambil tersenyum manis. Dia bukanlah pecundang yang suka melanggar janji yang ia ucapkan sendiri.

"Baik, Kak Afa. Aku akan kembali ke London. Semoga kakak bisa segera terbang ke London, kasihan mama yang sudah lama menunggu," ucap Veolia, gadis cantik dengan segudang kehebatan yang diwarisi oleh ibu kandungnya.

"Oke, satu tahun lagi aku akan kembali ke London. Jaga mama baik-baik, hibur hatinya akan tetapi jangan pernah bilang ku pernah bertemu denganku!" balas Rafael alias Rayyan melalui kontak batinnnya.

Laras menenteng paper bag lalu meletakkannya di bagasi mobil, setelah semua masuk ke dalam mobil, Laras perlahan melajukan mobilnya kembali ke rumah mewah dari hasil keringatnya sendiri.

Di dalam mobil kedua orang tua saling berdiam. Rayan memikirkan keadaan wanita yang sudah menyusuinya selama dua tahun itu. Jika mengingat sang ibu, Rayyan ingin secepatnya datang dan memeluk wanita yang sudah mendidiknya dengan begitu baik.

"Mas kenapa diam? Mas baik -baik saja?" Lagi -lagi Laras duluan yang bertanya pada Rayyan karena takut jika terjadi apa-apa dengan Rayyan.

"Tidak apa-apa, Mbak. Rayyan hanya mengantuk saja. Rayyan bolehkan kalau nanti langsung tidur?" tanya Rayyan manja, tetiba nafsu makannya hilang karena mengingat sang ibu.

"Mas Rayyan gak jadi makan? Nanti perut mas lapar lho kalau tidak jadi makan!" sahut Laras yang heran dengan perubahan sikap Rayyan secara tiba-tiba.

Di dalam pikiran Laras terjadi suatu pergolakan. Satu sisi dia kasihan dengan sang suami dan di sisi lain anjuran dokter haruslah ia laksanakan. Semua yang dikatakan oleh dokter yang menangani syaraf otak Rayyan.

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Rayyan. Idenya sedang kalah dengan hati yang berkecamuk merindukan ibu asuhnya.

"Iya, nanti Rayyan makan," sahut Rayyan sedikit ketus karena memang Rayyan dalam keadaan tidak ingin diganggu oleh siapapun.

Laras hanya melirik saja, tidak berani melanjutkan kata-katanya. Dengan hati-hati Laras masuk ke dalam garasi mobilnya. Setelah sampai di rumah, Laras membawa semua makanannya ke dapur agar bisa dipanasi.

Bruk!

Rayyan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk yang tiap hari digunakan tidur Laras. Rayyan menatap ke atas langit-langit kamar Laras.

"Mama ... Bagaimana keadaan mu, Afa sangat rindu dengan mama. Beri kekuatan Rayyan untuk bisa secepatnya menyelesaikan semua urusan yang ada di sini," batin Rayyan di dalam hati.

Tidak berapa lama kemudian, Laras datang membawa baki berisi air putih dan juga makanan yang ia beli tadi di restoran mewah itu.

Ada satu minuman yang ada di atas baki saji milik Laras.

"Itu apa, Mbak? Apakah itu jamu?" tanya Rayyan mendelik melihat sebuah gelas berwarna kuning kehijau-hijauan.

"Iya, emak sudah datang dan meminta Laras untuk memberikan jamu ini untuk mas Rayyan. Kalau untuk Laras sudah Laras minum tadi di bawah," ucap Laras jujur karena memang begitu kejadiannya.

Glek!

"Jamu lagi? Oh tidak ...!"

"Tapi, Mas. Ini kata emak harus dihabisin sama mas Rayyan. Kata emak dia buatkan jamu khusus buat mas. Emak berharap setelah minum jamu ini mas lebih segar dan bisa tidur dengan nyenyak," jelas Laras dengan gamblang.

Rafael hanya bisa pasrah, dia pun memakan makanan yang ia pesan tadi bersama Rafael di restoran mewah itu.

Setelah selesai makan, Rayyan meminum jamu buatan Mak Harti. Untuk berapa lama waktu berikutnya Rayyan mendadak merasakan tubuhnya semakin bugar. Sedangkan Laras membawa kembali baki berisi sisa makanan dan juga gelas kosong.

"Sssh ... Kok jadi panas begini yak!" gumam Laras menaruh piring kotor di atas wastafel.

Hal yang sama juga Rayyan rasakan. Tubuhnya memang terasa lebih bugar, namun desakan dari bawah sana membuat badannya terasa gerah.

"Aduh! Kenapa nih tubuhku, mengapa tiba-tiba terasa gerah begini!" gumam Rayyan melihat angka di remote AC yang menunjukkan angka 21°.

"Sssh ... Gerah!"

Laras yang juga gerah segera balik ke kamar, tujuannya adalah dia ingin segera mandi. Mungkin karena habis makan tubuhnya terasa gerah.

Brak!

"Maaf, Mas. Laras mau mandi! Gerah sekali!" seru Laras yang tidak sengaja membuka pintu kamarnya dengan sedikit kasar karena sudah tidak tahan lagi dengan hawa panas yang ia rasakan.

Rayyan hanya mengangguk sembari mengibaskan kaos yang ia pakai untuk mengurangi rasa gerah yang ia rasakan.

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!