Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Langkah kaki Zhou Minghao terhenti. Untuk pertama kalinya, raut angkuh di wajah pemuda itu sirna, berganti kebingungan. "Kenapa... kenapa kau masih bisa berdiri?"
Yunche terengah-engah, terbatuk pelan sebelum terkekeh lemah. "Sebab... kalau aku jatuh sekarang... nanti malas berdirinya lagi."
"Itu bukan alasan, bodoh!" bentak Zhou Minghao murka.
Yunche menatapnya lurus. "Kalau begitu... alasan sebenarnya adalah... aku tidak suka kalah begitu saja."
"Kau sudah kalah!"
"Ya, aku tahu aku kalah," angguk Yunche jujur. "Tapi... aku belum menyerah."
Mendengar kalimat itu, dada Gu Qingli terasa begitu sesak. Bukan rasa takut atau marah yang bergejolak, melainkan sebuah perasaan asing yang sulit dilukiskan kata-kata. Pemuda yang selama ini dianggap aneh, pembuat ulah, dan tak berguna itu... terus berdiri tegak menantang kemustahilan.
Gu Qingli melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. "Cukup. Pertarungan selesai."
Zhou Minghao menaikkan alisnya. "Nona Gu, kau mau mencampuri urusan ini?"
"Aku bilang selesai, ya selesai," tegas Gu Qingli dingin.
"Kau ingin melindunginya?"
"Ya."
Yunche yang sedang bersandar pada pedang kayunya mendadak menoleh kaget. "Eh?"
Gu Qingli sendiri sempat tersentak kaget dengan jawaban spontan yang keluar dari mulutnya sendiri. Wajahnya agak memanas, tetapi dengan cepat dia menguasai diri. "Maksudku... dia sudah mencapai batasnya."
Zhou Minghao menyeringai penuh arti. "Pecundang ini benar-benar beruntung mendapat perlindunganmu."
Yunche menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Jangan salah paham, ya. Aku sebenarnya tidak butuh dilindungi kok—"
"Shen Yunche," potong Gu Qingli tajam tanpa menoleh.
"Ya?"
"Diam."
"Baik." Yunche langsung membungkam mulutnya rapat-rapat.
Gu Qingli memalingkan wajahnya yang merona tipis. Beruntung, tidak ada yang menyadari perubahan kecil itu—kecuali satu orang yang memperhatikan dari kejauhan: Xiao Hanzhou.
"Pertunjukan yang cukup menarik."
Suara tenang namun berbobot terdengar. Xiao Hanzhou melangkah anggun menyibak kerumunan, menempatkan dirinya di antara Yunche dan Zhou Minghao.
"Kupikir pertarungan ini sudah lebih dari cukup," ujar Xiao Hanzhou ramah namun menekan.
Zhou Minghao mengerutkan kening. "Siapa kau?"
"Xiao Hanzhou dari Sekte Awan Biru."
Raut wajah Zhou Minghao seketika berubah agak pucat. Nama Xiao Hanzhou bukanlah nama asing—dia adalah salah satu jenius teratas generasi muda di wilayah selatan.
"Perselisihan antara keluarga Shen dan keluarga Zhou adalah urusan para petinggi," lanjut Xiao Hanzhou tenang. "Tidak sepantasnya generasi muda bertindak berlebihan dan merusak hubungan."
Zhou Minghao mengepalkan tangannya rapat-rapat, tetapi dia cukup cerdas untuk tidak memicu perselisihan dengan murid inti Sekte Awan Biru. Dengan dengusan dingin, dia memberi isyarat pada rombongannya untuk mundur.
Xiao Hanzhou lalu berbalik menatap Yunche. "Kau baik-baik saja?"
Yunche menyeringai lebar. "Masih bernapas."
"Baguslah." Xiao Hanzhou lalu mengalihkan pandangannya pada Gu Qingli. "Qingli, ayo pergi. Saatnya kita berlatih."
Gu Qingli ragu-ragu sejenak, melirik ke arah Yunche. Yunche yang tanggap segera melambaikan tangannya santai. "Pergilah. Aku mau istirahat dulu, badanku pegal semua. Besok kita latihan lagi!"
Gu Qingli menatapnya dalam, lalu mengangguk pelan. "Besok."
Xiao Hanzhou mengamati pertukaran pandang itu. Ada kilat dingin tersamar yang berkelebat di matanya.
Malam harinya, di dalam kamar kediaman keluarga Shen.
Yunche meringis kesakitan saat mengoleskan sedikit ramuan mentah ke bahunya yang memar kebiruan. "Aduh... Brengsek juga pukulan si Zhou Minghao itu."
Dia menatap telapak tangannya yang masih gemetar. Perbedaan kekuatan itu terlalu nyata. Jika Zhou Minghao benar-benar berniat membunuh, dia pasti sudah jadi mayat.
"Aku harus jadi lebih kuat," gumamnya mengepalkan tangan.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu mendadak memecah keheningan. Yunche menoleh. "Siapa?"
Tak ada jawaban.
Tok! Tok! Tok!
Yunche bangkit dengan susah payah dan membuka pintu. Namun, lorong di luar tampak sepi dan kosong. Saat hendak menutup pintu kembali, matanya menangkap sebuah botol porselen kecil tergeletak di lantai depan pintu.
Di bawah botol itu, terselip selembar kertas dengan goresan tinta yang rapi dan indah:
[Obat luka dalam dan luar kualitas tinggi.]
Yunche mengamati sekeliling lorong sekali lagi. Kosong. Dia lalu membaca tulisan kecil di sudut bawah kertas:
[Jangan terlalu memaksakan diri, bodoh.]
Bibir Yunche perlahan terkembang. Dia mengenali tulisan tangan ini. "Gu Qingli?"
Yunche memandangi botol porselen itu sembari menggenggamnya hangat. Dia melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur, membuka tutup botol dan menghirup aroma herbal segar yang menenangkan.
"Ternyata dia perhatian juga," gumam Yunche. Namun selang beberapa detik, keningnya berkerut. "Tunggu dulu... Kenapa dia mendadak memberiku obat semahal ini? Apa karena merasa bersalah? Atau karena kasihan melihatku babak belur?"
Yunche memikirkan berbagai kemungkinan hingga sebuah pemikiran absurd melintas di kepalanya. Matanya membelalak menatap botol obat itu. "Jangan-jangan... dia mulai menyukaiku?!"
Hening menyelimuti kamar selama beberapa saat.
Yunche mendadak menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ngaco! Mana mungkin!" terkekehnya geli seraya merebahkan diri di kasur.
Namun meski mulutnya menampik, tangannya tetap memeluk botol obat itu erat-erat hingga dia tertidur dengan senyum tipis di wajahnya.
Di tempat lain, di dalam kamar kediaman keluarga Gu.
Gu Qingli duduk menopang dagu di depan meja belajarnya. Sebuah buku terbentang di hadapannya, tetapi tak satu pun kalimat yang dibacanya. Pikirannya terus melayang pada kejadian pagi tadi—bayangan Yunche yang penuh debu, darah, namun tetap berdiri tegak demi hargadirinya.
"Kenapa aku harus kepikiran sampai sejauh ini?" gumam Gu Qingli kesal seraya menutup bukunya keras-keras. "Dia kan cuma rekan latihan."
Namun kata "rekan" itu mendadak terasa hambar dan asing. Gu Qingli menyentuh pipinya yang terasa hangat ketika mengingat botol obat yang diam-diam dia letakkan di depan kamar Yunche.
"Semoga dia tidak berpikiran yang aneh-aneh," bisiknya cemas. Namun sesaat kemudian, dia memukul pelipisnya pelan. "Agh, kenapa juga aku harus pusing memikirkan apa yang dia pikirkan?!"
Gadis itu berdiri dan berjalan gelisah mendekati jendela kamar, menatap jauh ke arah kediaman keluarga Shen yang gelap di kejauhan.
Tanpa disadari oleh mereka berdua, di bawah naungan malam yang sama, dua insan sedang menatap objek yang sama dengan pertanyaan serupa di dalam benak masing-masing: Kenapa aku jadi sepeduli ini?
Keesokan paginya.
Yunche tiba di halaman latihan jauh lebih awal dari biasanya. Dia duduk bersila di atas batu sembari menunggu. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit... tetapi sosok yang ditunggunya tak kunjung muncul.
"Ke mana dia?" gumam Yunche heran.
"Menunggu seseorang?" suara tenang menyela dari belakang.
Yunche menoleh dan menemukan Xiao Hanzhou sedang berdiri anggun. Yunche mengangguk jujur. "Ya, menunggu Gu Qingli."
Xiao Hanzhou tersenyum tipis. "Dia tidak akan datang ke sini hari ini."
"Kenapa?"
"Karena mulai hari ini, dia akan fokus berlatih bersamaku di tempat latihan dalam," ujar Xiao Hanzhou santai.
Yunche tertegun sejenak, lalu manggut-manggut. "Oh, begitu."
"Kau kecewa?" tanya Xiao Hanzhou menguji.
Yunche menggeleng polos. "Tidak juga. Kalau dia memang mau berlatih denganmu, ya tidak masalah."
Yunche lalu berbalik hendak pergi. Namun baru melangkah tiga tindak, dia menghentikan langkah dan menoleh kembali. Dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan botol porselen kecil semalam.
"Xiao Hanzhou."
"Hm?"
Yunche mengangkat botol itu. "Ini obat dari Gu Qingli kemarin. Obatnya sangat manjur. Nanti kalau kau ketemu dia, tolong sampaikan rasa terima kasihku, ya."
Tanpa menunggu balasan, Yunche melambaikan tangan dan berjalan santai meninggalkan halaman.
Xiao Hanzhou berdiri terpaku di tempatnya. Senyum ramah yang selalu terpasang di wajahnya perlahan luntur. Jemarinya meremas kuat di balik jubah. Untuk pertama kalinya, sang jenius dari Sekte Awan Biru itu menyadari satu hal: Shen Yunche mungkin hanyalah pemuda biasa yang lemah, tetapi kehadiran pemuda itu di hati Gu Qingli adalah sesuatu yang tidak bisa lagi dia abaikan.
Sementara itu, di sudut halaman latihan yang tak terlihat oleh siapa pun...
Gu Qingli baru saja melangkah tiba dengan kotak obat baru di tangannya. Matanya menatap punggung Yunche yang makin menjauh meninggalkan lokasi.
Perasaan kecewa yang asing menyusup pelan ke dalam dadanya. Dia datang lebih cepat hari ini, membawa obat pembina tulang yang lebih baik, tetapi Yunche justru sudah melangkah pergi.
apa gk syok tuh thor