Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*20
Hari terasa sangat cepat berlalu. Sejak kejadian di kantin waktu itu, tidak banyak yang berubah. Namun, bagi Asha maupun Irza, udara yang mereka hirup bisa sedikit lebih ringan. Entah karena apa, mereka juga tidak terlalu memahami akan semua itu. Yang jelas, mereka bisa lebih bisa menjalani hari dengan sedikit lebih tenang.
Gosip tentang mereka tidak berkurang. Tapi mereka sudah mulai terbiasa. Telinga itu seakan sudah kebal akan gosip-gosip yang sedang lewat masuk tanpa permisi.
Seperti waktu yang berlalu, takdir pertunangan pun langsung terjadi. Malam itu, pertemuan dua keluarga berlangsung. Mereka tidak terlalu banyak membahas hal-hal yang tidak penting. Bahkan, pertemuan itu langsung menentukan tanggal pernikahan untuk kedua anak mereka.
"Karena niat baik tidak perlu di tunda terlalu lama, bagaimana kalau pernikahan anak-anak kita ini dilangsungkan dua minggu lagi?" Papa Irza mengusulkan.
"Dua minggu?" Papa Asha pula ikut bicara.
"Iya. Dua minggu sudah cukup kok untuk melakukan persiapan," ucap mama Irza pula. Sepertinya, mereka ingin cepat-cepat menerima menantu.
"Kalian tenang saja. Pernikahan anak kita gak akan dilangsungkan secara sederhana kok. Dua minggu sudah cukup untuk kita menyiapkan acara besar."
"Tapi ... bukan itu maksudnya."
"Apa jangan-jangan, dua minggu terlalu lama buat kalian?" Papa Irza bicara dengan nada penuh selidik.
"Ah, bukan." Papa Asha berucap cepat. "Kalau kalian bilang dua minggu cukup, maka kami ikut saja. Dalam waktu dua minggu, kita akan menyiapkan semuanya."
Kedua orang tua Irza pun tersenyum lebar.
"Baik. Kita siapkan sebaik mungkin pernikahan anak kita dalam waktu dua minggu."
Pertemuan dua keluarga akhirnya mencapai kesepakatan. Dua minggu, itu adalah waktu yang paling singkat sebenarnya. Tapi teruntuk Irza, waktu itu cukup lama.
"Dua minggu, Ma? Kenapa gak satu minggu aja?"
Sang mama tersenyum menggoda. "Dua minggu lama banget ya, Za? Sabar dong Irza. Mama tahu kamu udah nunggu lebih dari sepuluh tahun. Tapi, masa gak sabaran sih nunggu hanya dua minggu aja lagi."
"Bu-- bukan gitu, Ma. Han-- hanya saja ... dua minggu itu .... "
"Terlalu lama?" Papanya pula angkat bicara.
"Nggak. Bukan gitu. Aduh ... mama papa kok godain aku mulu sih. Aku kan cuma nanya aja. Gak maksud apa-apa. Gak bilang kalo dua minggu itu lama juga."
Irza sedikit merona. Karena nyatanya, bagi Irza, dua minggu memang terasa sangat lama. Ia ingin segera meresmikan Asha sebagai istrinya. Wanita yang menjadi milik dia sepenuhnya dengan diikatkan oleh hukum yang sah.
Sementara itu, Sha juga sedang bicara dengan kedua orang tuanya saat ini. Ekspresinya tentu saja jauh berbeda dengan apa yang Irza perlihatkan. Bahkan, ekspresi Sha berbanding terbalik dengan ekspresi Irza yang bahagia dan menunggu dengan perasaan tak sabar.
"Apa? Dua minggu, Ma? Kenapa cepat banget? Kenapa gak empat atau lima bulan? Atau paling nggak, lebih dari dua bulan dong Ma .... "
"Ya ampun, Sha. Dua minggu itu mereka yang tetapkan. Bahkan, mereka pikir, itu waktu yang lebih dari cukup untuk melakukan persiapan. Mereka bahkan bilang, dua minggu adalah waktu yang lama, Asha."
Sha melepas napas berat. "Hah ... bagi mereka. Tapi bagi aku, nggak. Dua minggu adalah waktu yang sangat singkat."
"Tenang saja, Nak. Semua persiapan, mereka yang lakukan kok. Mereka punya koneksi, mereka punya kuasa, mereka punya uang. Gak akan butuh banyak waktu buat mereka melakukan persiapan. Pernikahan kalian, mama jamin, akan dilangsungkan dengan sangat meriah."
Sontak, Sha langsung menoleh, memberikan sang mama tatapan lekat dengan perasaan yang tak nyaman. "Meriah? Pernikahan itu akan diadakan dengan pesta yang meriah, Ma? Kenapa gak sederhana saja? Kenapa-- "
"Sha." Potong sang papa. "Mereka orang terpandang. Anak mereka adalah pewaris satu-satunya dalam keluarga. Mana mungkin mereka rela melangsungkan pernikahan secara sederhana, Nak. Mereka pastinya ingin memperkenalkan pada dunia, pewaris mereka sudah punya pasangan. Jadi, tentu saja pernikahan itu akan diadakan secara besar-besaran dan juga akan di gelar dengan sangat meriah."
Sha terdiam. Benaknya berusaha mencerna dengan keras apa yang baru saja papanya katakan. Kemudian, benak itu membenarkan perkataan tersebut. Karena sebelumnya, kabar pertunangan saja mereka umumkan di internet. Lalu sekarang, saat pernikahan, tidak mungkin mereka adakan secara sederhana.
"Sha .... " Suara papanya lembut memanggil. Asha langsung menoleh. Pertanyaan berikutnya langsung muncul. "Kamu keberatan?"
Satu pertanyaan yang sesungguhnya tidak perlu ia berikan jawaban lagi. Karena ia yakin, papanya sudah tahu apa jawaban dari pertanyaan tersebut.
Lalu, belum sempat ia menjawab, papanya malah kembali berucap. "Papa tahu kamu keberatan, Sha. Karena pernikahan ini bukan kemauan kamu, kan?"
"Tapi, Sha. Papa sangat berharap kalau kamu bisa menjalani pernikahan ini dengan baik. Lalu, perlahan bisa menerima Irza sebagai pasangan hidup kamu secara perlahan. Papa tahu, itu berat. Bahkan, sangat berat. Tapi, cobalah untuk menilai seseorang dari sisi yang berbeda, Sha. Jangan lihat fisiknya saja. Lihatlah juga hatinya seperti apa."
Asha terdiam sambil menatap manik mata papanya. Iya. Manik mata itu, raut wajah itu, itu sungguh nyata. Sangat-sangat nyata bahwasanya, papanya benar berharap agar pernikahan tersebut terlaksana.
Sha melepas napas berat. Namun, belum sempat ia berucap, sang mama malah angkat bicara. "Sha. Kami selaku orang tua merasa yakin dengan apa yang telah kami pilihkan untukmu. Memang, pilihan kami tidak sempurna menurut pendapat kamu. Tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Tapi-- "
"Mama papa tenang saja. Aku gak akan bikin kalian kecewa. Kan sebelumnya aku udah bilang kalau pernikahan aku dan Irza akan dilaksakan. Aku akan jalani pernikahan ini dengan baik, Ma, Pa. Aku gak akan kecewakan kalian. Percayalah."
Manik mata sang mama terlihat berkaca-kaca.
"Sha. Kami tahu kamu terpaksa. Tapi, terima kasih banyak, Nak. Terima kasih sudah mau memenuhi perjodohan ini."
*
Iya. Dua minggu tidaklah lama. Karena setiap hari dalam dua minggu itu, terlalu banyak persiapan yang datang menyapa Asha. Mulai dari persiapan gaun nikah, hingga gaun resepsi yang datang berturut-turut beberapa hari. Bahkan, perhiasan juga ikut berdatangan ke hadapan Asha sampai gadis itu dibuat pusing karenanya.
"Maaf, mbak. Yang ini pilihan tuan muda. Katanya, mbak suka yang mewah tapi cenderung sederhana," ucap pelayan tersebut dengan sangat sopan.
Sha menaikkan sedikit alisnya.
"Irza ... bilang begitu?"
Pelayan itu mengangguk mantap. "Iya, mbak. Tuan muda pilihkan sendiri semua ini dengan sangat teliti dan hati-hati. Dia juga bilang, sebenarnya, ia ingin pesan sendiri perhiasan untuk calon istrinya. Sayang, waktunya tidak cukup. Takut perhiasannya gak selesai sampai hari pernikahan nanti."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi