✦ JERAT TIGA SISI ✦
"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"
Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.
Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.
Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.
Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.
Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat di Atas Langit
Di dalam kabin helikopter tempur eksekutif Prayoga Group yang bergemuruh konstan membelah langit malam, atmosfer terasa pekat layaknya ruang komando perang. Lampu indikator merah dan hijau dari panel navigasi menerangi wajah tegang Baskara dan Farhan yang mengeras.
Baskara mengenakan headset taktis dengan mikrofon yang terhubung langsung ke tim penembak jitu dan kapten kapal armada patroli laut miliknya di bawah sana.
Di tengah kabin yang berguncang kecil, sebuah meja digital portabel menampilkan proyeksi 3D dari kapal cepat Gavin yang sedang melaju kencang membelah Laut Utara. Layar itu menyajikan data kecepatan, arah angin, dan perkiraan tinggi gelombang ombak secara real-time.
"Gavin melaju ekstrem dengan kecepatan 45 knot menuju titik buta radar sipil di gugusan kepulauan terluar," ujar Baskara. Suara baritonnya terdengar dingin, terstruktur, dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Jika aku memerintahkan tim taktis menembak langsung ke arah mesin kapalnya, guncangan masif bisa membuat lambung kapal terbalik di tengah ombak seganas ini. Azira dalam kondisi terikat di dalam. Dia bisa tenggelam sebelum kita mencapainya."
Farhan memajukan tubuhnya, menatap tajam grafik proyeksi digital tersebut. Sebagai seorang dokter yang memahami anatomi tubuh sekaligus gangguan psikologis Gavin yang obsesif, ia menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Jangan pernah menembak kapalnya secara langsung dari luar," potong Farhan tegas.
"Gavin sedang berada dalam kondisi hyper-vigilant—waspada tingkat tinggi akibat delusi masa kecilnya. Jika dia merasa diserang secara fisik dari luar, respons psikologisnya yang tidak stabil akan refleks menggunakan Azira sebagai perisai hidup dari peluru kita. Kita harus memecah fokus batinnya terlebih dahulu dari dalam kabin."
Baskara melirik Farhan sekilas melalui sudut matanya yang tajam. "Apa rencanamu, Dokter?"
Farhan menyentuh layar digital portabel, menunjuk tepat ke bagian haluan depan kaca kemudi kapal Gavin.
"Kita gunakan taktik psikologis dan hambatan visual total. Helikopter tempur ini memiliki lampu sorot high-intensity Strobe. Jika kita mengubah mode lampu sorot yang semula statis menjadi kilatan cahaya berkedip ekstrem langsung ke kaca depan kabin kemudinya secara konstan, mata Gavin akan mengalami photoflash blindness—kebutaan retina sesaat selama 10 hingga 15 detik. Dia tidak akan bisa membaca radar maupun melihat arah datangnya gelombang ombak."
Baskara langsung menangkap arah pemikiran cerdas Farhan. Siasat itu sangat brilian dan minim risiko bagi korban. "Dan di saat dia kehilangan orientasi visualnya, laju kapal akan melambat drastis karena refleks tangannya akan melepas tuas gas untuk melindungi matanya."
"Tepat," sambung Farhan dengan anggukan cepat.
"Tapi itu belum cukup untuk meruntuhkan pertahanannya. Begitu kapal melambat, dua kapal patroli bawah milikmu harus menembakkan acoustic hailing device—meriam gelombang suara frekuensi rendah. Suara itu tidak akan menghancurkan kaca atau melukai fisik, tapi langsung menyerang telinga bagian dalam Gavin, merusak sistem keseimbangan tubuhnya secara instan. Dia akan refleks melepaskan pisau komandonya demi menutup kedua telinganya sendiri."
Angkasa menyeringai tipis—sebuah seringai mematikan yang sarat akan kepuasan taktis yang mutlak. Kerja sama dengan Farhan malam ini ternyata melesat jauh di luar ekspektasinya. Pria berjas putih ini tidak hanya mengandalkan perasaan emosional, melainkan juga otak yang sangat tajam di bawah tekanan maut.
"Siasat yang sangat menakjubkan, Dokter Farhan," ucap Baskara sembari menekan tombol interkom taktis pada headset-nya.
"Tim Alfa, dengarkan perintahku. Laksanakan skenario Strobe and Sound ke koordinat kapal di bawah sekarang juga. Begitu target kehilangan keseimbangan visual dan fisik, aku sendiri yang akan melakukan fast-roping meluncur turun ke dek belakang kapal."
"Saya ikut turun bersama Anda," potong Farhan tanpa ragu. Ia menatap lurus ke dalam manik mata elang Baskara tanpa ada rasa takut sedikit pun terhadap ketinggian atau gulita malam di bawah sana.
"Aku yang paling tahu struktur saraf Gavin dan membawa obat penenang yang tepat untuk melumpuhkannya tanpa membunuhnya. Kita bawa Azira pulang bersama-sama malam ini."
Baskara menatap Farhan selama beberapa detik, mengukur ketulusan dan tekad murni di mata rivalnya itu.
Akhirnya, sang CEO muda mengangguk pelan. Ia meraih sebuah harness pengaman ekstra dan sepasang sarung tangan taktis, lalu melemparkannya kepada Farhan.
"Pakai ini dengan benar. Jangan sampai mati di bawah sana, Dokter. Tugasmu menyembuhkan lukanya belum selesai."
Di bawah gulita malam Laut Utara dan siraman lampu helikopter yang siap dieksekusi, rencana penyergapan udara-laut yang mencengangkan dimulai.
"Eksekusi sekarang!" perintah Baskara melalui mikrofon taktisnya.
Detik itu juga, taktik mengejutkan yang dirancang oleh Baskara dan Farhan bergulir. Lampu sorot raksasa di bawah perut helikopter tempur Prayoga Group yang semula memancarkan cahaya putih statis mendadak mengubah mode pencahayaannya.
Cahaya itu berubah menjadi kilatan Strobe berfrekuensi tinggi yang sangat ekstrem. Lampu militer itu berkedip ratusan kali dalam satu detik, memapar seluruh ruang dalam kabin kemudi Gavin dengan efek visual yang sangat membutakan.
Di dalam kabin kapal yang melaju liar, Gavin yang sedang fokus mencengkeram kemudi langsung berteriak histeris. Efek photoflash blindness menghantam saraf retinanya seketika.
Dunianya mendadak berubah menjadi putih benderang yang menyiksa, menyisakan bayangan siluet yang pecah di kornea matanya.
"Sialan! Mataku! Aku tidak bisa melihat radar!" raung Gavin gila dengan suara parau. Rasa panik yang luar biasa membuatnya refleks melepas cengkeraman dari tuas gas dan roda setir kemudi untuk menutupi kedua matanya yang terasa sangat perih dan panas.
Sesuai prediksi akurat Farhan, begitu kemudi dilepaskan dalam kecepatan tinggi, kapal cepat itu langsung kehilangan kestabilan di atas air. Lambung kapal menghantam ombak besar dengan posisi miring, menciptakan guncangan masif yang melemparkan tubuh Gavin dengan keras ke sudut dinding kabin hingga kepalanya terbentur.
Azira yang berada di lantai kabin ikut terguling akibat guncangan tersebut. Namun, rasa perih di pergelangan tangannya yang lecet berdarah justru memicu adrenalin keberaniannya.
Ia memanfaatkan momen kacau saat Gavin berteriak buta untuk terus menggesekkan sisa tali nilon tebal di tangannya ke sudut tajam besi penyangga kursi yang sempat patah akibat hantaman ombak tadi. Dengan sekali sentakan kuat yang menguras sisa tenaganya, tali nilon yang mengikat tangannya akhirnya putus total.
Wuuunnggg—!!
Gelombang suara tak kasat mata namun bertekanan tinggi itu menghantam kabin kapal dengan getaran pekat yang bergaung hebat. Suara itu tidak menghancurkan kaca kabin, namun langsung menyerang cairan telinga bagian dalam Gavin, merusak seluruh sistem keseimbangan tubuhnya secara instan.
Gavin mengerang kesakitan yang luar biasa, menjatuhkan dirinya ke lantai sambil memegangi kedua telinganya yang berdenging hebat layaknya mau pecah.
Kepalanya terasa berputar hebat, membuatnya mual dan kehilangan kemampuan untuk sekadar berdiri tegak. Jangankan memegang pisau komando untuk mengancam nyawa Azira, untuk sekadar merangkak pun Gavin sudah tidak mampu lagi.
"Sekarang, Farhan! Turun!" teriak Baskara di atas helikopter.
Pintu geser helikopter tempur terbuka lebar. Angin laut malam yang ganas langsung menderu masuk dengan liar, menerbangkan pakaian mereka.
Baskara menjadi pria pertama yang mencengkeram tali fast-rope. Dengan gerakan terlatih, sangat cepat, dan presisi militer, sang CEO muda meluncur turun dari ketinggian belasan meter, menembus kegelapan malam kabut, dan mendarat dengan sempurna di atas dek belakang kapal Gavin yang bergoyang tidak stabil.
Farhan meluncur menyusul tepat di belakangnya. Meski tubuhnya tidak setangguh Baskara, adrenalin dan rasa khawatir yang membakar dadanya membuat sang dokter berhasil mendarat di dek kapal yang basah tanpa cedera berarti.
Baskara mencabut senjata api taktis dari sarung di pinggangnya, bergerak secepat kilat mendobrak pintu kabin belakang kapal yang terkunci. Dengan satu tembakan tepat sasaran yang menghancurkan engsel pintu, Baskara menendang pembatas besi itu hingga roboh ke lantai.
Di dalam kabin yang remang, bising oleh mesin, dan benderang oleh lampu strobe, baskara menyaksikan Azira yang berhasil memutus talinya sedang mencoba merangkak menjauh dengan tubuh gemetar, sementara Gavin masih terkapar di sudut lantai sambil memegangi kepalanya yang pusing akibat efek meriam suara.
"Azira!" pekik Baskara. Suara dingin dan angkuh yang biasanya melekat pada sang penguasa bisnis itu kini runtuh sepenuhnya, berganti dengan nada penuh kehangatan, kecemasan, dan kelegaan yang luar biasa besar.
Azira mendongak dengan sepasang mata yang berkaca-kaca memerah menatap kedatangan mereka. "Baskara... Farhan..."
Melihat kehadiran dua pria itu, Gavin dengan sisa-sisa kesadaran dan kegilaannya mencoba merangkak, meraih pisau komando yang terjatuh di dekat sudut kaki kursi.
Namun, Baskara bergerak lebih cepat dari kedipan mata. Sepatu pantofel tebalnya menghantam pergelangan tangan Gavin dengan injakan yang sangat keras hingga terdengar bunyi retakan kecil yang disusul teriakan kesakitan dari sang monster delusi.
Farhan segera maju melompati tubuh Gavin, dengan sigap dan presisi seorang dokter menyuntikkan obat penenang dosis tinggi yang sudah ia siapkan sejak di helikopter langsung ke jalur saraf leher Gavin.
Dalam hitungan detik, tubuh Gavin yang semula menegang penuh amarah perlahan melemas, urat-urat di wajahnya mengendur, matanya meredup kalah, dan ia jatuh pingsan tak berdaya di atas lantai kabin yang dingin.
Baskara tidak memedulikan Gavin lagi. Ia langsung menjatuhkan lututnya di hadapan Azira, merengkuh tubuh wanita itu yang dingin dan gemetar ke dalam pelukan hangatnya yang sangat.
Baskara melepas jas mantel hitam besarnya, menyelimuti tubuh lemas Azira, sementara syal krem yang rusak di dalam saku jasnya tetap tersimpan sebagai bukti perjuangan mereka.
Tubuh Azira yang semula terguncang hebat perlahan-lahan mulai tenang di dalam dekapan dada bidang Baskara—tempat di mana ia akhirnya menemukan kembali rasa aman mutlak yang sempat direnggut paksa dari hidupnya.
Farhan berdiri diam di samping mereka, mengembuskan napas lega yang teramat panjang sembari menyeka keringat dingin di dahinya.
Meskipun ada sebersit rasa perih di hatinya melihat Azira menangis di pelukan Baskara, Farhan tersenyum tulus; ia segera berlutut di sisi lain untuk memeriksa memar berdarah di pergelangan tangan wanita sahabatnya itu.
Siasat menakjubkan yang mereka rancang bersama di atas langit telah berhasil mengeksekusi penyelamatan dengan sempurna tanpa ada satu pun peluru yang melukai wanita yang mereka cintai.
Kapal cepat itu pun perlahan melambat, bergoyang tenang di atas permukaan ombak Laut Utara, membawa Azira kembali ke tempat yang semestinya.