Dominic Kazarov.
Seorang pria tampan, dingin, dan berbahaya. Pemimpin kelompok mafia paling ditakuti, sekaligus pemilik perusahaan raksasa DK Company. Semua orang mengenalnya sebagai monster yang tak memiliki belas kasihan.
Namun semuanya berubah setelah pertemuan keduanya dengan seorang gadis muda yang pernah menolongnya saat ia terluka.
Awalnya hanya rasa penasaran. Lalu berubah menjadi ketertarikan. Hingga perlahan menjelma menjadi obsesi yang memabukkan.
Dominic tidak hanya menginginkan gadis itu berada di sisinya.
Ia menginginkan senyumnya, waktunya, hidupnya... bahkan kebebasannya. Dominic memilih cara yang paling kejam untuk mendapatkannya. Sebuah ancaman berdarah ia berikan dengan melukai salah satu teman gadis itu, memaksa sang gadis untuk menyerahkan dirinya kepada pria yang tak ia kenal.
terjebak dalam dunia mafia yang gelap dan berbahaya, sang gadis harus memilih.
Melawan pria yang terobsesi padanya atau menyerah pada cinta seorang monster kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra_Reinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kemarahan Dominic
"Tuan " Victor meletakkan beberapa lembar foto diatas meja kerja Dominic.
Pengawal bayangan memberikan semua informasi yang didapat dari mengikuti nayara kepadanya.
"Tuan... Hari ini nona melakukan beberapa kegiatan.. Foto pertama diambil saat nona naya bersama pria bernama Bara pergi dan makan di warung pinggir jalan, mereka pulang pukul satu siang tadi, dan beberapa foto lainnya diambil barusan saat nona naya mengikuti balap liar di salah satu jalan raya, pria yang berdiri di samping nona adalah Liam, teman dekat nona naya disana.. Dan setelah nona akan pulang pria bernama bara menemui nona tepat setelah nona naya keluar dari jalan raya, mereka berdua pergi.. Dan..... " Victor ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Dan apa,victor?" Dominic sudah sangat marah mendengar bahwa wanitanya ikut balapan dan apa ini wanitanya bahkan memiliki teman dekat pria lainnya.
"Dan pengawal bayangan tidak bisa mengejar mereka,Bara membawa kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, jadi pengawal kita kehilangan jejak mereka... Maaf tuan" Victor menunduk,saat ini dia seperti sedang berada di tepi jurang amarah tuannya,suasana yang tadi nya tenang sekarang terasa begitu mencekam.nafasnya seakan tercekat melihat bagaimana wajah tuannya sudah merah padam.
Victor meremas kuat foto yang berada di tangannya hingga remuk.. Kemarahannya sekarang akhirnya muncul.
"Brengsek! Bajingan itu lagi-lagi mendekati wanitaku. "
Victor meninju meja kerja yang terbuat dari marmer itu hingga retak,darah mulai keluar dari sela jarinya.
"Tuan,Tangan anda~" Ucapan Victor terhenti saat Dominic lebih dulu memotong ucapannya.
"Keluar... Tinggalkan aku sendiri"
Dominic menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya membiarkan darah yang terus menetes membasahi karpet mahal di bawahnya.
Victor mengangguk,berjalan keluar dari ruang kerja tersebut.dia tahu jika ia tetap bersikeras,bukan tidak mungkin ia yang akan menjadi bahan kemarahan tuannya.
"Bajingan! Aku akan menghancurkanmu bocah tengik. Dan naya tunggu aku, Aku akan menangkapmu dan mengurung mu disangkar emas yang sudah aku persiapkan untukmu, kau tidak akan bisa lari dariku. Kau milikku naya, hanya milikku"
"Arrrggghhh" Dominic mengamuk menghancurkan setiap benda di dalam ruang kerjanya.
****
Matahari menelusuk masuk melalui celah kamar nayara, ia terbangun kala sinar matahari mengenai wajah nya, ia berdiri dengan perlahan lalu berjalan dengan mata yang masih setengah tertutup lalu bersiap-siap. setelah selesai sarapan,naya membuka pintu rumah dan sudah menemukan Sean yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Bara... Lo udah lama nunggu?"
"Ya begitulah"
"Kenapa lo nggak manggil gue, gue kan bisa lebih cepat"
"Santai aja, gue udah terbiasa menunggu kok, udah siap ya?"
Nayara keluar dari rumah dan mengunci pintu "udah nih,ayo berangkat"
"Oke"
***
"Nih helm nya, makasih ya udah jemput dan antar gue sekolah" Nayara menyerahkan helm tersebut.
"Sama-sama"
Tidak lama setelah mereka datang, Kenzo,yasa dan gio juga baru tiba dan berhenti tepat di parkiran tempat mereka biasa memarkirkan motornya.
"Cieee... Cieeee..... Udah mulai deket nih.. Roman romannya bakal ada yang bakal go public nih, iya nggak nyet". Yasa berbicara sambil menepuk kuat lengan gio.
"Sakit bangke,lo mukul nggak kira-kira banget sih" Gio mengelus kuat lengannya nya yang dipukul oleh yasa tadi.
"Lo nya aja yang lemah nyet"
"Nyat nyet nyat nyet... Muka lo tuh mirip monyet, sembarangan aja kalau manggil orang lo"
"Eeiitsss muka gue itu nggak mirip monyet ya tapi mirip justin bieber, lo nggak lihat bagaimana ketampanan gue mampu memikat para gadis di sekolah ini" Yasa tersenyum sambil menepuk pelan dadanya dengan bangga.
"Cihhh.... Najis banget... Nggak ada mirip-miripnya lo sama dia bangke".
Nayara dan kenzo tertawa melihat perdebatan yasa dan gio, sedangkan bara hanya diam dengan wajah datar.
"Menurut gue lo nggak mirip dia deh yas, lo itu lebih mirip buaya darat sih kata gue mah" Nayara menimpali perdebatan mereka.
"Sialan lo" Yasa langsung memasang wajah cemberut.
"Nggak cocok tau nggak muka lo dibikin kek gitu, merinding gue liatnya" Gio langsung bergidik.
"Tau ah! Bukannya belain temen malah ikut ngatain lo, udah ah gue ngambek" Yasa berjalan pergi lebih dulu meninggalkan mereka.
"Lah dia ngambek njirrr...tungguin gue bangke" Gio mengejar langkah yasa yang berjalan di Koridor sekolah.
"gue masuk dulu ya" Kenzo sedikit merasa canggung karena hanya tinggal mereka bertiga saja.
Bara hanya mengangguk.
Kenzo sudah pergi menyusul kedua temannya.
"Ayo masuk, bentar lagi bell bunyi nih" Nayara menarik tangan bara.