NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: SALAH PAHAM DI TENGAH MALAM

Hadiah kecil berupa bola kristal bening pemberian dari Arkan tempo hari entah mengapa terasa teramat istimewa bagi seorang Kolonel Victor. Benda kaca sederhana yang di dalamnya menampilkan miniatur figur keluarga kecil itu seolah memiliki daya magis tersendiri yang mampu melunakkan kerasnya hati sang perwira menengah. Kebetulan, karena selama beberapa hari terakhir ini Victor harus bolak-balik keluar masuk kota pesisir demi menghadiri rapat koordinasi darurat, di sela-sela perjalanan dinasnya yang padat ia sengaja meminta Johan untuk menghentikan mobil jabatan di depan sebuah toko kerajinan kayu estetis.

Di toko tersebut, Victor memesan dan membeli sebuah bingkai penyangga dari kayu jati pilihan yang dipelitur halus untuk menjadi dudukan bola kristal tersebut, agar benda berharga itu bisa diletakkan dengan gagah di atas meja kerja utamanya di Mako. Bagi Victor, Arkan benar-benar anak kecil yang sangat manis dan penuh kejutan.

Kedekatan emosional yang terjalin singkat itu rupanya terus membekas di benak sang Kolonel. Entah mengapa, saat melewati sebuah pusat pertokoan besar di kota pusat pesisir, Victor tiba-tiba saja kepikiran dan memiliki keinginan kuat untuk membelikan Arkan sebuah mainan baru. Pilihan matanya jatuh pada sebuah mobil mainan bertenaga aki berukuran sedang, yang walaupun tidak terlalu besar namun memiliki kapasitas muat yang kokoh untuk dinaiki oleh anak-anak usia tiga sampai sepuluh tahun.

Harga mobil aki tersebut lumayan menguras kantong untuk ukuran sebuah mainan, menyentuh angka dua digit mendekati dua juta rupiah—sebuah nominal yang bagi sebagian orang mungkin terlalu berlebihan untuk dihadiahkan kepada anak orang lain. Namun bagi Victor, nominal itu tidak ada artinya sama sekali.

Menurut pandangan mata Sersan Satu Johan yang mendampingi sepanjang hari, komandannya ini sejatinya memang memiliki sisi hangat yang sangat penyayang bagi anak-anak di balik seragam lorengnya yang menakutkan. Bukti nyatanya bukan hanya kepada Arkan; kedua keponakan kembar Victor—Rayyan dan Rania, putra-putri dari Lettu dr. Shaneen dan Letkol Reyes—hampir setiap hari jika Victor memiliki waktu senggang di ksatrian pasti akan dibelikan mainan baru oleh paman raksasa mereka itu.

Bahkan, Shaneen sendiri sudah sering kali mengomel panjang lebar di koridor rumah sakit atau via telepon, meminta kakaknya itu untuk tidak terlalu memanjakan anak-anaknya agar tidak ketergantungan barang mewah. Namun, dasar watak Victor yang keras kepala, setiap kali diomeli oleh adiknya, ia pasti akan balas mengomeli Shaneen kembali dengan dalih bahwa menyayangi keponakan adalah hak mutlak seorang paman.

Malam semakin larut menjemput sunyi, dan jarum jam dinas ksatrian Bukit Raya sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Suasana di sekitar kompleks perumahan perwira sudah tampak sangat sepi, hanya menyisakan gemerisik daun dan sorot lampu merkuri pos ronda yang temaram. Setelah menyelesaikan sisa administrasi triwulan di kantor, Victor mengarahkan Johan untuk memutar kemudi mobil jabatan, langsung saja menuju ke arah blok belakang ksatrian tempat rumah dinas Kapten Ayu berada. Pria raksasa itu sengaja memilih waktu malam mumpung situasi sekitar sedang sepi dan tidak akan memicu desas-desus di antara jajaran anggota lain.

Begitu mobil berhenti di depan pagar pembatas, Victor turun dengan langkah tegap, diikuti Johan yang dengan sigap membongkar muatan mobil mainan aki dari bagasi belakang. Victor melangkah mantap ke teras rumah Ayu, lalu mengetuk pintu kayu tipis itu sebanyak tiga kali dengan ketukan yang konstan.

Tok! Tok! Tok!

Pintu perlahan terbuka beberapa saat kemudian, menampakkan sosok Kapten Ayu yang berdiri di ambang pintu sembari mengucek sebelah matanya yang memerah. Wajah cantiknya tampak kuyu, menyiratkan rasa kantuk yang teramat sangat akibat baru saja terlelap setelah seharian menatap dokumen intelijen. Di dalam benaknya, Ayu sempat menggerutu kesal. Siapa manusia kurang kerjaan yang tega mengganggu di waktu malam seperti ini, di saat semua orang sudah harus beristirahat total? Namun, begitu fokus matanya menangkap siluet tubuh raksasa berseragam PDL lengkap di depannya, kantuk Ayu seketika sirna digantikan oleh keterkejutan.

"Ah... Komandan? Ada yang bisa saya bantu malam-malam begini?" ucap Ayu, mencoba menata suaranya agar tetap terdengar formal di bawah naungan protokol militer.

"Tidak ada. Saya hanya ingin memberikan ini pada Arkan," jawab Victor dengan nada suara baritonnya yang datar, sembari menggeser sedikit tubuhnya dan menunjuk pada mobil mainan aki di belakangnya yang tidak terlalu besar namun memiliki kapasitas muat dua orang anak kecil untuk diduduki bersama.

Menatap mainan mewah yang teronggok di teras rumahnya, entah mengapa, ego dan perasaan Ayu yang belakangan ini sedang hancur lebur pasca-perceraian mendadak bergejolak hebat. Di dalam benaknya yang sedang didera trauma, Ayu merasa sangat tersinggung. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang ibu tunggal sedang diinjak-injak oleh kemurahan hati pria di depannya.

"Komandan... Anda tidak perlu melakukan hal sejauh ini. Saya bisa kok membelikan anak saya sendiri mainan seperti itu," ucap Ayu dengan nada suara yang mendadak mendingin dan sarat akan penolakan tajam.

Victor yang mendengar respons defensif tersebut langsung terheran-heran di tempatnya berdiri. Alisnya bertaut rapat. Padahal, demi Tuhan, niat tulusnya sama sekali tidak bermaksud lain atau memiliki tendensi terselubung. Ia hanya kebetulan mengingat momen manis saat Arkan memberikan bola kristal padanya siang itu, jadi ia membelikan mobil mainan itu murni sebagai hadiah balasan untuk bocah kecil tersebut. Namun, sepertinya sang ibu di depannya ini sedang salah paham dan terlanjur tersinggung berat.

"Ayu, dengarkan aku. Aku hanya membelikan ini murni untuk Arkan, tidak ada maksud lain di baliknya. Lagian, bukan cuma Arkan yang aku belikan barang seperti ini. Kemarin aku juga membelikan mainan baru untuk Rayyan dan Rania—"

"Iya! Saya tahu, Komandan!" potong Ayu dengan nada bicara yang meninggi satu oktav, memutus kalimat sang Kolonel tanpa memedulikan hierarki pangkat mereka malam itu. "Mereka berdua, Rayyan dan Rania, kan keponakan kandung Anda sendiri! Jelas Anda punya hak! Sedangkan anak saya? Arkan hanya orang lain di hidup Anda! Tolong... berhenti bersikap seakan-akan Anda adalah ayahnya!"

Ayu benar-benar telah tersulut emosi yang meledak-ledak. Sementara Victor yang sejak tadi berusaha menahan diri, kini mulai merasakan rahangnya mengeras karena ikut terbawa emosi yang memuncak. Pria raksasa itu menatap Ayu dengan kilat mata yang tajam dan berbahaya. Apa maksud dari rentetan perkataan ketus Ayu ini?

Sesungguhnya, Victor sama sekali tidak tahu-menahu soal urusan perceraian kilat Ayu di Pengadilan Agama beberapa hari lalu. Bahkan perihal kepergian Ayu yang pulang kampung ke ibu kota bagian timur pun Victor tidak tahu sama sekali saking sibuknya dia bolak-balik menghadiri rapat darurat alutsista di kota pusat pesisir.

Namun, posisi Ayu saat ini sedang terjebak dalam salah paham yang teramat besar. Di dalam benaknya yang terluka, Ayu mengira Victor sedang sengaja menginjak-injak harga dirinya, sengaja ingin mengundang badai gosip di tengah status barunya sebagai janda baru, atau merasa Victor sedang mengejeknya secara halus bahwa ayah kandung Arkan bahkan untuk membelikan Arkan mainan murah pun tidak pernah manusia bajingan itu lakukan selama lima tahun ini.

"Tolong, Komandan Victoria... Lebih baik ambil kembali hadiah mewah Anda ini sekarang juga. Besok pagi, saya sendiri yang akan mengajari anak saya dengan baik, agar dia paham kalau Anda itu bukan ayahnya! Jadi silakan—"

"CUKUP!"

Bentakan bariton Victor menggema rendah namun sarat akan getaran intimidasi yang mutlak, seketika memotong kalimat Ayu dan membungkam keheningan malam di teras tersebut. Sersan Satu Johan yang berdiri di dekat mobil bahkan sampai harus menahan napas, menundukkan kepala sedalam-dalamnya karena tahu sang Kolonel telah mencapai titik batas kesabarannya.

"Dengarkan saya baik-baik, Kapten Ayuni Ameera Bakri!" ucap Victor dengan nada suara yang merendah namun terdengar teramat dingin dan menusuk, menatap lurus ke dalam manik mata Ayu yang bergetar. "Saya tidak memiliki maksud lain yang rendahan seperti yang ada di dalam kepala Anda, apalagi saya sama sekali tidak paham dengan segala arah perkataan ketus Anda malam ini! Apakah menurut Anda saya melakukan ini semua hanya untuk menarik perhatian atau mencari simpati dari Anda? Buka telinga Anda baik-baik, Kapten!"

Victor maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh raksasanya mengurung sosok Ayu sepenuhnya di bawah lampu teras.

"Bahkan sebelum Anda mulai menginjakkan kaki dan bekerja di ksatrian ini sebagai staf Intel di bawah naungan Letkol Reyes, di Pusdikmil ini sudah ada program kesejahteraan keluarga yang berjalan hampir satu tahun lamanya, yang dirancang dari masa komandan sebelum saya bertugas di sini! Dimana anak-anak anggota yang sedang ditinggal tugas operasi satgas oleh ayahnya, atau anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus, akan—atau paling lambat setiap sebulan sekali—diberikan fasilitas mainan dan gizi secara cuma-cuma dari komando rumah tangga mak ksatrian! Apalagi setiap kali kegiatan posyandu bulanan dilaksanakan di aula, tujuan program ini murni demi dampak psikologis untuk mengurangi tingkat tantrum pada anak-anak balita di asrama, atau kebutuhan sosial sejenisnya! Jadi, Anda sebagai perwira intelijen tidak perlu berpikiran pendek dan sepicik itu terhadap komandan Anda sendiri!"

Belum sempat Ayu membuka mulutnya untuk membalas, ia mendadak tertegun seketika di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu, dan seluruh argumen kemarahannya menguap ke udara. Otak intelijennya baru saja tersadar setelah mencerna kalimat Victor; sepertinya ia telah melakukan kesalahan analisis yang fatal. Ia telah terlanjur salah paham dan mengizinkan trauma pribadinya membutakan logika kedinasan. Victor melakukan ini murni karena urusan program ksatrian dan kedekatannya dengan Arkan, bukan karena ingin mengejek status barunya.

"Johan! Ambil kembali mobil mainan itu, masukkan ke dalam bagasi, dan bawa langsung ke gudang belakang Mako!" perintah Victor dengan nada suara yang tidak menerima bantahan apa pun.

Bahkan sebelum Johan sempat melangkah maju untuk membukakan pintu mobil jabatan untuknya, pria raksasa itu sudah membalikkan tubuh tegapnya dengan kasar, melangkah lebar meninggalkan teras rumah Ayu dengan aura kemarahan yang teramat pekat. Pintu mobil ditutup dengan debuman keras, meninggalkan Kapten Ayu yang hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu dalam penyesalan yang mendalam.

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!