Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yura Pingsan
Liam mematung memandangi Yura yang masih menangis keras. Ia hampir tidak merasakan kakinya menapak diatas pasir karena terlalu fokus melihat gadis itu.
Bahkan angin pun seolah berhenti berhembus,_ padahal kenyataannya angin tidak pernah berhenti berhembus. Hanya saja hati dan pikirannya yang begitu fokus memperhatikan Yura sehingga ia tidak merasakan hembusan angin yang semakin menusuk kulitnya itu.
Hingga tak sadar dirinya sudah berada didekat gadis itu. Tatapannya nanar hampir ikut mengeluarkan air mata.
Beberapa detik kemudian, ia segera mendekat dan semakin dekat hingga tak sadar tangan nya sudah bergerak menelisik dibelakang kepala Yura.
Pergerakannya sangat cepat, pasti dan tepat pada sasaran. Yura yang tidak siap hanya bisa membulatkan matanya lebar-lebar.
Ia terpaku seakan lupa pada apa yg sebelumnya ia lakukan saat Bibir nya bertemu dengan bibir Liam.
Tiba-tiba intuisi nya menemukan kembali ingatan samar tentang apa yg sebelumnya ia tangisi. Ditambah angin yang berhembus semakin kencang semakin mengantar nya ke kesadaran yang akan membuat nya malu, _atau mungkin marah?.
Ia mendorong keras tubuh pria itu dan menyentuh bibirnya. Bahkan air matanya masih mengalir dengan deras tapi sudah dipaksa harus terhenti.
"Apa yang kau lakukan...!! " Pekik nya.
Ia sudah lupa atas kesedihannya waktu lalu, berganti menjadi amarah dan merasa direndahkan.
"Apa aku semudah itu bagimu? "
Liam yang sepertinya juga tidak menyangka akan tindakan nya sempat mematung. Ia mengusap wajahnya dengan gusar.
"maafkan aku Yura, aku hanya tidak tahan melihatmu terluka begitu.. "
"Aku ingin ada disampingmu, menggantikan pria itu untuk menjagamu. "
Perkataan nya itu tentu semakin membuat darah Yura mendidih. Ia mendekat lalu memukul dada pria itu dengan tangan kecil nya.
"Kau brengsek Liam, aku benci kau...! "
Melihat raut kekecewaan diwajah Yura, Liam segera berlutut dihadapan gadis itu. "Maaf, aku tidak sadar, aku khilaf... "
Yura memalingkan wajahnya memandangi lautan. Air matanya kembali mengucur perlahan,_itu karena harga dirinya berhasil tersenggol.
"Ra, sumpah. aku tidak bermaksud lain. Aku sungguh menyukaimu, hatiku selalu berdebar saat melihat kehadiranmu. Baru kali ini jantungku berdebar keras saat pertama kali bertemu dengan seorang gadis..."
Mendengar itu entah mengapa perasaan Yura menjadi tenang bahkan menghangat. Ia jadi membenci hatinya yang lagi-lagi mengubah pendirian sesuka hatinya.
"Ya sudahlah. Mau marah juga percuma. Berdiri lah... " ucapnya malas.
Ia kemudian merapikan rambut nya sudah berantakan itu.
"Kita tidur dimana? "
Liam tidak menjawab, melainkan langsung berlutut membelakangi gadis itu. "Naiklah ucapnya.
"Kau bahkan tidak sadar kakimu terluka. Bagaimana mungkin hatiku tidak sakit melihat mu seperti itu. Karena itu aku menc_aww... "
Yura menarik rambut Liam hingga pria itu tidak berhasil melanjutkan kalimat maut nya. Kalimat itu entah mengapa membuat dirinya tiba-tiba malu.
"Naik lah, aku akan menggendongmu... " titah pria itu.
Yura masih berdiri mematung sambil memandangi punggung Liam. Seolah Ada sesuatu yang mendorong dirinya hingga ia menurut dan memeluk pria itu dari belakang.
Jika Steven yang biasa menggendong nya dipunggungnya, kini entah karena waktu yang seolah tidak berpihak, secepat itu telah berganti menjadi punggung pria lain.
"Perasaan apa ini?..."
Kegundahan Yura semakin bertambah saat dirinya berhasil merasakan hangat dari punggung lebar Liam.
"Ya Tuhan, jangan sampai aku jatuh cinta... "
Tak lama kemudian, keduanya telah tiba didepan sebuah hotel yang masih berada didalam area pantai.
Liam masih membawa Yura didalam gendongannya saat dirinya memesan kamar pada resepsionis.
"Maaf pak, kamar nya tinggal satu.. " Sengaja resepsionis itu mengatakan demikian karena melihat seragam sekolah Yura.
"Turunkan aku.. " ucap Yura.
Keduanya masih tidak sadar jika resepsionis itu sejak tadi memandangi mereka dengan heran. Siapapun itu pasti akan berpikir yang lain-lain saat melihat sepasang manusia itu.
"Gimana kalau kita pesan yang itu aja... " usul Liam semakin membuat mata petugas itu melotot.
"Mana mungkin,, " ucap Yura pelan.
"Kita cari tempat lain saja... " tambahnya.
Namun mengingat hari yang sudah semakin larut, ditambah taksi yang mungkin susah didapat membuat Liam berusaha membujuk supaya Yura ikut maunya saja.
"Yaudah deh... "
Yura yang merasa kelelahan dan rasa perih dikakinya semakin mengganggu membuatnya tidak ingin berpikir lagi.
ia hanya mengangguk dan menyerahkan semua nya pada Liam.
"Tapi pasangannya masih dibawah umur, peraturan dari atas meminta untuk meninggalkan kartu Identitas anda.. " ucap sang resepsionis.
"Tapi mbak,,,
Belum sempat Liam menyelesaikan kalimatnya, tubuh Yura sudah ambruk dan dengan sigap segera ia tangkap dengan tangan nya.
"Ya ampun ra? "
Dengan sigap resepsionis itu segera menghubungi layanan medis untuk segera datang.
"Apa yang anda lakukan padanya? " Ia merasa iba saat melihat teman sesama perempuan nya tergeletak tak berdaya seperti itu apalagi gadis itu masih sangat muda.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh deh mbak, saya orang baik... " ucap Liam membela diri.
Ia kemudian mengenggam tangan Yura sambil sesekali menciuminya. "Seharusnya aku sadar kalau kamu pasti kelelahan menghadapi semuanya sekaligus satu harian ini... "
Tak sampai menunggu lama, mobil medis datang dan segera membawa kedua nya kerumah sakit terdekat.
Yura dengan sigap ditangani oleh para petugas yang telah bersiaga sebelumnya. Liam duduk menunggu sambil mengusap-usap wajah dan rambutnya yang berantakan.
Lima menit kemudian, ruangan tempat Yura terbuka dan dokter yang memeriksa segera mengatakan jika gadis itu kelelahan dan juga perut nya yang sangat kosong membuat daya tahan tubuhnya semakin melemah.
"Hubungan dengan pasien? "
pertanyaan dokter membuat Liam mau tak mau menyebut dirinya sebagai pacar. Ia juga menjelaskan jika kekasihnya nya itu baru saja menjalani hari yang sangat melelahkan baik secara fisik maupun mental nya.
"Baiklah, ditunggu saja untuk malam ini. Besok sudah bisa pulang. Pasien hanya kelelahan biasa. . " ucap dokter itu menenangkan.
Liam akhirnya memesan sebuah kamar vip, sebagai tempat untuk dirinya dan Yura menginap malam ini.
Aksebilitas keluarganya yang termasuk kalangan orang berada membuat dirinya dengan mudah mendapatkan kamar hanya dengan mengeluarkan sebuah kartu hitam saja.
"Aaah,, akhirnya..."
ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur setelah dirinya selesai membersihkan tubuhnya.
Ia kemudian memiringkan tubuhnya untuk melihat Yura yang masih tertidur dengan nyenyaknya.
Jika biasanya Yura a lah yang selalu ia temani, kali ini ia menemani Yura yang berbeda. Yura yang benar-benar ingin ia miliki disisinya untuk seumur hidupnya.
"Andaikan kita bertemu lebih awal.. " ucapnya sambil matanya terus memandang lekat gadis itu.
Karena tak bisa tidur, akhirnya ia kemudian bangkit lalu mengambil kursi untuk nya duduk disamping ranjang Yura.
ia kembali menggenggam tangan mungil nan dingin itu sambil sesekali menghembuskan nafas hangat dari mulutnya.
"Semoga besok semua nya membaik ya ra... "
.
.
.
.
Bersambung...