"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 (Konfrontasi di rumah utama)
Jalanan asri di salah satu kawasan perumahan elite Surabaya pagi itu tampak tenang, bertolak belakang dengan gemuruh ketegangan yang merayap di dalam kabin mobil sedan mewah yang dikendarai oleh Mike Raharja. Di kursi penumpang depan, Alisha terus menggenggam jemari suaminya, sesekali mengusap perutnya yang masih rata demi menenangkan rasa mual yang mendadak kembali menyapa akibat ketegangan atmosfer di sekitar mereka. Sementara di kursi belakang, Alvin duduk dalam keheningan yang kaku, merangkul bahu Anita yang sejak keluar dari hotel tadi terus menundukkan kepala dengan wajah pucat pasi.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan teras megah sebuah rumah bergaya kolonial modern dengan pilar-pilar putih yang menjulang tinggi—rumah utama keluarga besar Alvin. Begitu mesin dimatikan, keheningan yang pekat sempat menyergap mereka selama beberapa detik.
"Ingat rencana kita," Mike membuka suara, baritonnya yang berat memecah kesunyian. Ia menoleh ke belakang, menatap Alvin dan Anita secara bergantian dengan tatapan elang yang mutlak. "Jangan ada yang terpancing emosi. Hari ini, akulah yang akan menjadi juru bicara atas skenario masa lalu yang kuciptakan sendiri."
Alisha memberikan senyuman penguat pada Anita. "Kita hadapi ini bersama, Kak."
Dengan langkah yang mantap dan kepala tegak, keempat orang itu—termasuk Kevin yang sudah menunggu di teras—melangkah memasuki pintu jati besar yang terbuka lebar. Mereka digiring oleh kepala pelayan menuju ruang tamu utama yang luas, di mana kedua orang tua Alvin sudah duduk menunggu dengan ekspresi wajah yang masam dan penuh dengan keangkuhan yang kental.
Ibunda Alvin, Ibu Retno, melirik kedatangan mereka dengan sebelah alis yang terangkat tinggi. Tatapan matanya yang tajam bagai silet seketika terkunci pada sosok Anita, sebelum akhirnya beralih dan melembut saat menatap Mike Raharja. Di dunia bisnis Jawa Timur, siapa yang tidak mengenal nama besar sang penguasa tunggal Raharja Group?
"Selamat pagi, Mike. Tante tidak menyangka kamu akan repot-repot terbang ke Surabaya hanya untuk urusan... anak ini," ujar Retno dengan nada suara yang sengaja dilembutkan saat menyebut nama Mike, namun seketika berubah sinis di akhir kalimat sembari melirik Alvin.
Ayah Alvin, Pak Baskoro, ikut memperbaiki posisi duduknya, berdeham formal. "Duduklah, Mike. Dan... Ibu di sebelahmu ini?"
"Ini Alisha Raharja, istri sah saya," jawab Mike dengan nada suara yang datar namun sarat akan penekanan yang mutlak. Ia menuntun Alisha untuk duduk di sofa tunggal di sampingnya, sementara Alvin dan Anita duduk bersisian di sofa seberang orang tua Alvin.
Mendengar kata 'istri sah', Pak Baskoro dan Ibu Retno sempat saling lirik dengan kerutan di kening. Mereka tentu sudah melihat konferensi pers nasional kemarin, namun menyembunyikan rasa gengsi mereka.
"Tante Retno, Om Baskoro," Mike membuka suara kembali, melipat kedua tangannya di dada dengan aura intimidasi khas seorang alpha-CEO yang langsung memenuhi ruangan. "Saya datang kemari bukan sebagai sahabat Alvin, melainkan sebagai pimpinan tertinggi Raharja Group yang ingin mempertanggungjawabkan sebuah kesepakatan bisnis di masa lalu."
"Maksudmu apa, Mike?" tanya Pak Baskoro dengan kening berkerut.
"Empat tahun lalu, akulah yang merancang pernikahan kontrak dengan Anita," ucap Mike dingin, matanya mengunci pandangan kedua orang tua Alvin tanpa cela. "Aku memalsukan dokumen medis kemandulanku dan membayar firma hukum yang menaungi Anita dengan nilai investasi fantastis. Tujuan tunggal dari kontrak itu adalah untuk mengamankan posisi sahamku dari sabotase internal keluarga besar Raharja, sekaligus menjaga agar kursi di sampingku tetap kosong sampai Alisha—istriku saat ini—tumbuh dewasa."
Mike memajukan tubuhnya, menopang kedua tangannya di atas meja kaca. "Anita menerima kontrak itu murni sebagai pengacara profesional yang mengejar modal untuk firma barunya. Selama empat tahun tinggal di bawah atap yang sama denganku, kami tidur di kamar yang terpisah, memiliki privasi masing-masing, dan tidak pernah ada satu pun sentuhan fisik secara biologis di antara kami. Anita menjaga kehormatannya sebagai wanita dan integritasnya sebagai pengacara dengan sangat sempurna."
"Tapi tetap saja, Mike! Publik tahu dia mantan istrimu!" bantah Ibu Retno dengan nada ketus, melirik Anita dengan pandangan menghina. "Bagaimana bisa keluarga kami menerima wanita yang rekam jejaknya dicap sebagai janda kontrak demi uang? Di mana kami harus menaruh muka di depan kolega bisnis kami di Surabaya?"
"Di atas takhta yang terhormat, Tante," sela Alisha tiba-tiba. Suaranya yang jernih dan mantap memecah perdebatan, membuat seluruh pasang mata di ruangan itu seketika terpusat padanya.
Alisha menatap Ibu Retno dengan binar mata yang sarat akan kedewasaan dan keberanian yang murni. "Saya adalah wanita yang paling berhak merasa cemburu atau terhina jika pernikahan masa lalu mereka adalah sebuah kebenaran emosional. Tapi hari ini, saya berdiri di sini untuk membela Kak Anita. Tanpa pengorbanan profesionalitas Kak Anita selama empat tahun itu, saya tidak akan pernah bisa berdiri di sini sebagai istri Mike yang aman dari bahaya luar. Kak Anita bukan wanita oportunis. Dia adalah wanita mandiri yang cerdas, yang membiayai impian masa depannya dengan kerja keras, bukan dengan menjual harga diri."
Alisha menggenggam tangan Mike, lalu kembali menatap kedua orang tua Alvin. "Dan saat ini, firma hukum milik Kak Anita-lah yang memegang kendali atas seluruh aset perlindungan hukum yayasan pendidikan keluarga kami di Jakarta. Jika konglomerat nomor satu di ibu kota saja begitu menghormati dan memercayakan hukum perusahaan pada Kak Anita, atas dasar apa Tante dan Om menganggap rekam jejaknya kotor?"
Kata-kata Alisha yang terstruktur rapi, logis, namun sarat akan pembelaan emosional yang kuat seketika menghantam telak ego dan keangkuhan Pak Baskoro dan Ibu Retno. Ruang tamu itu mendadak hening mencekam. Keduanya kehilangan kata-kata untuk mendebat, menyadari bahwa posisi tawar Anita saat ini disokong penuh oleh dua orang paling berkuasa di dinasti Raharja.
Alvin yang melihat pembelaan luar biasa dari Mike dan Alisha merasa matanya memanas oleh haru. Ia mempererat genggaman tangannya pada jemari Anita yang kini air matanya mulai menetes dalam diam—kali ini bukan karena rasa sakit hati, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa karena harga dirinya telah dikembalikan dengan sangat terhormat di depan calon mertuanya.
Alvin bangkit dari kursinya, menarik Anita untuk ikut berdiri di sampingnya. Pria itu menatap kedua orang tuanya dengan tatapan paling serius dan penuh komitmen yang pernah ia miliki seumur hidupnya.
"Ayah, Ibu..." suara Alvin terdengar berat dan bergetar hebat. "Empat tahun aku memendam perasaan ini dalam diam demi menghormati kontrak Mike. Dan sekarang, saat Anita sudah bebas, aku tidak akan pernah melepaskannya lagi. Aku mencintainya bukan karena statusnya, bukan karena pekerjaannya, tapi karena dia adalah Anita. Jika Ayah dan Ibu tetap bersikeras menolaknya hanya karena gengsi sosial yang semu... maka hari ini juga, aku siap melepaskan nama besar keluarga ini. Aku siap keluar dari rumah ini dan membangun masa depanku sendiri dari nol bersama Anita di Jakarta tanpa sepeser pun harta warisan."
"Alvin! Kamu berani mengancam orang tuamu sendiri?!" bentak Pak Baskoro, ikut berdiri dengan napas memburu, terkejut dengan keteguhan putranya yang siap membuang segalanya demi satu wanita.
"Ini bukan ancaman, Ayah. Ini adalah keputusan seorang pria dewasa yang sedang memilih masa depannya," jawab Alvin dengan ketegasan mutlak yang tidak bisa ditawar lagi.
Ibu Retno menatap putranya, lalu beralih menatap Anita yang berdiri dengan kepala tegak di samping Alvin, dan terakhir menatap Mike serta Alisha yang memberikan pandangan mengunci yang penuh dengan tuntutan restu. Setelah perang batin yang melelahkan di dalam dadanya, sisa-sisa keangkuhan wanita paruh baya itu akhirnya runtuh. Sebagai seorang ibu, ia tahu... jika hari ini ia bersikeras mengatakan tidak, ia akan kehilangan putra tunggalnya seumur hidupnya.
Ibu Retno mengembuskan napas panjang yang sangat berat, bahunya melendot pasrah. Ia menatap Anita dengan pandangan yang tidak lagi setajam tadi. "Duduklah kembali, Alvin... Anita. Jangan membuat keributan di rumah ini pagi-pagi."
Ia melirik suaminya, Pak Baskoro, yang akhirnya mengembuskan napas panjang dan kembali duduk di kursinya dengan pasrah, sebuah isyarat kekalahan yang mutlak.
"Persiapkan pernikahan kalian di Jakarta bulan depan," ucap Ibu Retno dengan nada suara yang melunak, meski sisa gengsinya masih terdengar. "Tante... tidak ingin melihat putra tunggal Tante menjadi gelandangan di ibu kota hanya karena keras kepala. Dan untukmu, Anita... buktikan pada kami bahwa semua kalimat pembelaan dari Alisha tadi adalah sebuah kebenaran."
Mendengar kalimat persetujuan itu keluar dari mulut Ibunda Alvin, bendungan air mata di pelupuk mata Anita akhirnya pecah sepenuhnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis haru di dalam pelukan hangat Alvin yang langsung mendekapnya dengan sangat erat sembari mengecup puncak kepalanya berkali-kali.
Konfrontasi di rumah utama Surabaya pagi itu berakhir dengan sebuah kemenangan besar bagi cinta mereka. Benang-benang kusut masa lalu yang sempat menggoreskan luka kini telah resmi diurai, menyisakan akhir yang bersih dan sebuah restu sejati yang telah lama mereka nantikan dalam sunyi.