NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 11 Berangkat Berburu

Drap drap drap…!

Dua peserta berburu yang sedang ditunggu akhirnya tiba. Kedua orang itu adalah Lintha dan suami manusianya yang bernama Purwasaga. Saat itu Purwasaga dibekali panahan dan dua batang tombak yang dipasang di badan kuda. Lintha hanya berbekal panahan.

Pemuda tampan dan wanita cantik itu datang dengan menunggangi kuda yang besar lagi bagus. Karena ukuran kuda yang besar, sampai-sampai Purwasaga terlihat seperti anak kecil yang naik kuda.

Sebenarnya ukuran badan Purwasaga tidak jauh berbeda dengan Azhmar yang sudah hadir lebih dulu, tetapi kuda yang telah diduduki oleh gadis berambut keriting itu posturnya lebih kecil, jadi proporsional.

Di halaman besar dari rumah megah Pangeran Bebalon itu telah berkumpul para lelaki berseragam hitam-jingga. Mereka menyandang senjata panahan. Ada pula kelereng-kelereng besi sebesar bola pingpong yang menggantung di sabuk pinggang mereka. Mereka yang berjumlah lebih dari dua puluh orang itu masing-masing telah memegang tali kendali kudanya.

Terpisah dari mereka, ada Pangeran Bebalon, Azhmar, dan dua orang pemuda lain. Pemuda tampan berambut hijau gelap model keriting diberi nama Zonk dan pemuda berambut abu-abu bernama Monek.

Sekedar bocoran, Zonk adalah perwakilan Istana alias pengawas dari Istana. Pasalnya, dua dari mereka yang hendak berburu adalah mantan pelaku kejahatan, yaitu Pangeran Bebalon dan Azhmar. Sedangkan Monek adalah sahabat kental Pangeran Bebalon yang merupakan anak seorang pejabat Istana.

“Pasukaaan!” teriak Pangeran Bebalon saat kedua orang yang mereka tunggu sudah datang.

“Yiiiaaarrr!” teriak para lelaki berseragam hitam-jingga sambil mengangkat tinggi tangan kanan mereka, seperti para siluman melolongi bulan purnama di langit.

Setelah berteriak garang sepeti itu, mereka semua naik duduk di atas pelana kuda masing-masiing. Tidak ada seekor kuda yang diduduki bersama.

“Hae hae hae!”

Yang lebih dulu menggebah kudanya adalah Pangeran Bebalon, Zonk, Monek, dan Azhmar. Lintha dan Purwasaga cukup membelokkan kepala kudanya lalu ikut bergabung bersama rombongan para pemimpin. Setelahnya, barulah kelompok berseragam mengikuti dengan memberi jarak spasi dari rombongan depan.

“Kenapa tidak ada acara makan dan minum lebih dulu?” tanya Purwasaga kepada Lintha yang berkuda lebih belakang dari rekan-rekannya.

“Hihihik! Apa yang kau harapkan, Suamiku?” tawa Lintha lalu balik bertanya.

“Seteguk jahe dingin,” jawab Purwasaga. Lalu tanyanya, “Apakah kau dan Azhmar berteman dekat?”

“Kami bersahabat.”

“Apakah sebelum dia jadi pemberontak atau sesudah diampuni oleh Raja Elindra?” tanya Purwasaga lagi.

“Kami bersahabat sejak kecil.”

“Berarti kau tahu bahwa Azhmar pemimpin pemberontak?”

“Iya. Aku adalah komandannya.”

Terkejut Purwasaga mendengar jawaban itu.

“Apakah Pangeran juga pemberontak?” tanya Purwasaga kian penasaran karena merasa berada di tengah-tengah para pemberontak.

“Tidak, tetapi Pangeran Bebalon adalah pangeran yang dikucilkan dari Istana karena telah melakukan dosa besar.”

“Apa?”

“Tidur bersama selir ayahnya selama satu tahun.”

Kembali terkejut Purwasaga mendengar dosa orang-orang yang kini bersamanya.

“Kau lihat lelaki berambut hijau itu!” Lintha menunjuk Zonk yang berkuda di depan. “Dia adalah pengawas dari Istana. Tugasnya saat ikut bersama kita adalah mengawasi kegiatan kita untuk memastikan kita tidak melakukan gerakan pemberontakan.”

Tidak berapa lama, mereka keluar dari Kota Bariah dan berkuda di jalanan yang sudah mulai jarang permukiman.

Di luar benteng Kota Bariah masih ada permukiman, seperti rumah milik Azhmar yang tidak jauh dari pantai, tetapi tidak seramai dan sepadat di dalam kota. Semakin jauh dari kota, maka semakin jarang ada bangunan tempat tinggal.

Untuk alam, nyaris tidak ada bedanya alam bangsa manusia dengan Bangsa Penjaga Biru.

“Apakah kau jatuh hati kepada Azhmar, Suamiku?” tanya Lintha.

“Tidaaak!” jawab Purwasaga dengan nada yang panjang, seperti orang yang nyaris ketahuan melakukan penyimpangan.

“Jika kau jatuh hati kepada sahabatku, aku tidak keberatan jika kau mau menikah dengannya.”

Terkejut lagi Purwasaga mendengar perkataan istrinya.

“Segampang itukah perempuan Bangsa Penjaga Biru menawarkan suaminya ke wanita lain? Sebenarnya apa isi kepala perempuan-perempuan di negeri ini?” tanya Purwasaga di dalam hati. Ia merasa sulit memahami karakter Lintha dan perempuan Bangsa Penjaga Biru lainnya.

“Hihihik!” tawa Lintha melihat keterkejutan dan keterdiaman suaminya.

“Kenapa kau menawarkan aku di saat aku ini suamimu? Apakah semudah itu?” tanya Purwasaga dengan ekspresi memprotes.

“Seorang lelaki di kalangan Bangsa Penjaga Biru akan dianggap rendah dan tidak berguna jika tidak memiliki jabatan atau kedudukan tinggi,” jelas Lintha.

“Jadi selama ini kau menganggapku rendah dan tidak berguna?” tanya Purwasaga dengan mata mendelik marah.

“Iya,” jawab Lintha dengan santai, tanpa merasa terganggu dengan reaksi Purwasaga.

“Aku tidak sudi lagi menjadi suamimu!” teriak Purwasaga kencang yang menunjukkan kemarahannya.

Kencangnya suara Purwasaga sampai-sampai mereka yang posisinya berkuda di depan menengok karena mendengar suara keras si manusia.

“Heah heah!” teriak Purwasaga jadi menggebah keras kudanya. Itu menambah daya lari si kuda menjadi lebih kencang.

“Suamiku, kau mau ke mana?!” teriak Lintha terkejut melihat suaminya mengambek.

Purwasaga tidak menjawab. Dia dan kudanya dengan cepat melewati kuda-kuda di depan.

“Monek, cepat kejar suamiku, nanti dia tersesat!” teriak Lintha.

“Baik!” sahut Monek, sahabat Pangeran Bebalon. Lalu gebahnya, “Hae hae!”

Kuda Monek pun segera bertambah kecepatan larinya dan pergi mengejar Purwasaga.

“Apa yang kau katakan kepadanya sehingga dia menjadi marah?” tanya Azhmar yang memposisikan kudanya sejajar dengan kuda Lintha.

“Aku mengatakan bahwa lelaki di bangsa kita dianggap rendah oleh kaum wanita jika tidak memiliki kedudukan yang tinggi,” jawab Lintha.

“Biar aku mengejarnya juga,” kata Azhmar. “Hae hae!”

Azhmar pun segera melesat lebih kencang bersama kudanya dan meninggalkan rombongan untuk mengejar Purwasaga dan Monek.

Pangeran Bebalon membiarkan ketiga orang itu memisahkan diri dari rombongan. Lintha pun bergabung dengan Pangeran Bebalon dan Zonk.

“Semuanya akan baik-baik saja jika Azhmar sudah turun tangan,” kata Lintha kepada sang pangeran.

“Ya. Kita tetap ke arah tujuan semula,” kata Pangeran Bebalon tetap tenang.

“Sepertinya suami manusiamu akan membuat masalah, Lintha,” kata Zonk yang berambut hijau.

“Dia hanya manusia, jauh lebih lemah dari orang-orang Bangsa Penjaga Biru. Tidak perlu kau khawatirkan, Zonk,” kata Lintha.

“Jika suamimu menimbulkan masalah yang mengancam, aku tidak akan segan,” ancam Zonk.

“Dia hanya suami manusia. Kau bisa bertindak apa pun jika dia berbuat salah,” kata Lintha enteng.

Purwasaga, Monek dan Azhmar sudah hilang dari pandangan mereka.

Drap drap drap…!

Meski Purwasaga menunggangi kuda yang tidak biasa karena perawakannya nan besar, tetapi ternyata pemuda itu bisa mahir dalam memacu kudanya. Karena itulah Monek tidak mudah menyusulnya. Terbukti bahwa Purwasaga belum tersusul.

Purwasaga yang tidak hafal jalan memilih secara acak ketika dia dan kudanya dihadapkan oleh jalan yang bercabang. Kejar-kejaran terus terjadi.

Ketika Purwasaga dihadapkan oleh jalan bercabang tiga, tanpa ragu ia memilih belok ke kanan dengan perkiraan jalan itu akan menuju ke pantai atau laut. Ujung niat Purwasaga adalah dia ingin pulang demi melanjutkan rencana hidupnya di Karangilo.

Terkejut Monek melihat Purwasaga belok kanan, memasuki jalan yang kanan dan kirinya ada dua bongkahan batu raksasa, sehingga menyerupai gerbang alam. Di sisi kanan jalan adalah bukit hijau berhutan.

“Manusia! Jangan lewat jalan itu!” teriak Monek yang masih bisa didengar oleh Purwasaga.

Azhmar yang paling belakang masih dapat melihat Purwasaga berbelok ke kanan lalu hilang di balik batu besar.

Tidak seperti Monek yang terus berkuda mengejar Purwasaga dan ikut masuk ke jalan paling kanan, Azhmar memilih cara lain. Gadis berambut kuning keriting itu tiba-tiba melompat terbang dari pelana kudanya.

Azhmar berkelebat ke kanan dan mendarat di tanah bukit. Setelahnya, dengan kecepatan seperti seekor hewan, dia berlari naik menerabas ilalang dan melewati celah-celah pepohonan. Pergerakannya seperti kijang berlari kencang, seperti bukan manusia saja. (RH)

1
rajes salam lubis
zonk udah kena suap,ciri khas warga +62
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
burung yang suka menggelitik sampai ketawa Kik Kik Kik 🤣🤣🤣😁😆
Om Rudi: burung apakah itu?
total 1 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
wahhhh kendaraan yang di pakai cukur , pakai rem cakram om 🫢😃
Om Rudi: kayaknya 🤭
total 1 replies
rajes salam lubis
pinisirin
rajes salam lubis
alamak
rajes salam lubis
gak perlu di jelaskan la om,buang buang tenaga..bukan buang hajat y!
Om Rudi: 🤣🤣🤣 biar jumlah katanya cepat terpenuhi
total 1 replies
rajes salam lubis
terong ungunya y terang om
Om Rudi: heheheheh
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
oseng kates wae om dr pada kol wes lah mboh om mumet aq enek rendang enek oon
hahhhh
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: iyo maosk zonk barang 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
gak handukan dulu om kan masih basah kuyup abis berenang 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: widihhhh 🤣🤣
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
terong dicabein maknyuzzz 🤤😂😂
Om Rudi: jiahahahah
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Selabak level berapa om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: pedes cukupan 😃😄
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
kalo pepatah negeri Konoha " walau bapak salah asal bahagia kita diam saja" 🤣🤣🤣😁😆🤪
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: ok gas polll mpe jeboll 😂😂😂
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
nama singa jantannya siapa om 🤔🤔😆
Om Rudi: aduh, lupa Om kasih nama
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Ozeng Bazo lebih enak om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: minta tolong istri suruh masakin 😉
total 2 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
Azhmar itu bangsa Demit om
Om Rudi: Om juga belum tahu🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
hatiku gak sedalam itu lho Om. cukup dengan menyentuh dadaku, pasti Om dapatkan hatiku 🙄😘🤣
Om Rudi: hihihihi 🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ingat, Om. yg oon nya gak boleh nular ke authornya itu kan?😂
Om Rudi: kenapa?
total 1 replies
👣Sandaria🦋
asli ini pasangan kodok, Om🙄😂
Om Rudi: asli dong🤣🤣
total 1 replies
👣Sandaria🦋
anak didiknya Rajes Salam pasti🙄
👣Sandaria🦋
plus tali pengikat burungnya kemarin 🤣
Om Rudi: Om mah sudah lupa, Mak Imut mah ingat aja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!