Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Malam itu, Aurora dan sang jiwa. Tidak bertemu.
Aurora tidur dengan hati yang gelisah, sedangkan jiwa itu tengah menangis dan terpuruk entah di mana. Ia sadar akan satu hal, berteman dengan Anne adalah hal paling bodoh yang pernah ia lakukan.
***
Mentari pagi bersinar menyinari seluruh negeri, di sebuah kamar. Terpaan cahaya itu menembus celah-celah jendela.
"Hoam..." Membangunkan seorang wanita cantik yang tengah tertidur pulas. Wanita itu kini bangun dari tidurnya.
Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah tidur semalaman. Wanita turun dari kasur, menatap kaca lalu bergaya di depan cermin.
"Anne, kau memang sangat cantik." Ya, dia adalah Anne. Wanita itu kini memakai kemeja putih polos dan celana putih di atas lutut. Terlihat sederhana, namun cantik.
SRAAAKKK!
Suara pintu kamar mandi yang terbuka, membuat Anne menoleh. Kris keluar, dengan kaos oblong dan celana sporty.
Anne hanya menatap sesaat, dan setelahnya ia kembali bersolek di depan cermin. Kris mendekati Anne, pria itu kemudian memeluknya dari belakang dan membenamkan wajahnya di leher Anne.
"Sayang, keringkan dulu rambutmu!"
Bukannya menjawab, Kris malah semakin mempererat pelukan itu.
Kris kemudian menatap cermin, terlihat dengan jelas ia tengah menatap memeluk Anne dengan sangat mesra.
"Sayang, kapan kau akan menikahiku?" Tanya Anne dengan nada manja.
"Sabar, semua butuh proses. Tenanglah, Aurora itu payah. Sangat mudah tertipu."
Anne kini berbalik badan, lalu kembali memeluk Kris.
"Jujur aku tidak percaya, kau pasti berbohong. Nyatanya kemarin kau malah mencium dia."
Kris kemudian teringat kemarin, ia syok karena Anne ternyata melihat hal itu.
"Ciuman apanya, aku malah di pukul." Batin Kris dengan rasa kecewa.
***
Di ruang tengah, Aurora tengah bersama dengan Luna. Ia menemani anak kecil itu lantaran ibunya yang harus berjaga di rumah sakit.
"Kakak, lihat. Aku membuatkan mahkota bunga untukmu. Aku sudah menunggumu sejak kemarin, sekarang mahkota bunganya sedikit layu." Luna memakaikan Mahkota karangan bunga yang ia buat untuk kakaknya. Anak kecil itu, sangat-sangat menyayangi Aurora.
Aurora terlihat sangat terharu melihat ketulusan adik kecilnya itu.
"Oh Luna sayang, terima kasih anak cantik." Aurora mencolek hidung Luna, karena sangat gemas dengan bocah satu itu.
Namun tetap saja, Luna masih tampak sedih, sejak kemarin. Anak itu terus menyendiri, ia tak punya teman bicara lantaran semua orang pergi. Biasanya akan ada Grace, namun mamanya sekarang malah sedang sibuk.
"Kakak, kapan papa akan pulang? Mama masih di sana ya? Apa masih lama?" Luna memanyunkan bibirnya dan tak lupa. Mata yang berkaca-kaca yang membuat Aurora semakin tak tega melihat anak itu.
"Luna yang malang, tenanglah anak manis. Sebentar lagi, mama akan pulang. Bagaimana jika kamu ikut kakak, kakak hari ini akan bolos dan tidak ke kantor. Bagaimana?"
Mendengar ucapan Aurora, seketika membuat Luna yang semula tampak lesu, kini menjadi sangat ceria.
"Yeyyyyy jalan-jalan sama kak Rora.... Hore..." Luna berteriak kegirangan, ia berjingkrak-jingkrak dan sesekali berputar sambil bermenari.
"Baguslah, aku juga perlu mencerna hal yang tak masuk akal ini. Lagi pula ini aku bukan Aurora, mengapa juga aku harus baper. Lagian, mau aku di kantor atau tidak? Memang apa peduliku?" Batin Aurora.
***
Alex tengah duduk di kursi kerjanya, kantong mata hitam yang sudah terlihat seperti mata panda benar-benar terjadi.
Rambutnya acak-acakan, ia terlihat berantakan, tangannya masih mengetik di atas laptop, dan matanya yang terus terbuka.
KRIETTTTT!
Seseorang membuka pintu, ia masuk dan memberikan setumpuk laporan kepada Alex. Siapa lagi yang bisa melakukannya jika bukan Jordan.
Alex yang melihat hal itu langsung membenamkan wajahnya di meja. "Roy, kembalilah, bertukar lah denganku. Biar aku yang urus projek di LN..."
Jordan sangat ingin tertawa melihat temannya, salahnya sendiri karena sangat mudah menyepelekan sesutu.
"Yang ikhlas, lemburanmu 5 kali lipat hari ini." Ucap Jordan dengan entengnya. Padahal pria itu juga saat ini sangat mengantuk.
"Sudah ya, kau kerjakan, aku ingin tidur. Nanti siang aku ingin jalan-jalan. Selamat bertugas Alex." Ucapan Jordan terdengar sangat jahat bagi Alex.
Memang salahnya sendiri, seharusnya ia tidak meminta bertukar tempat dengan Roy.
Alex kini duduk di lantai, ia memeluk lantai di bawah meja kerjanya. "Persetan dengan lemburan, kapan ini akan selesai, oh bantal. Aku sangat merindukanmu, kejam sekali kau Jordan."
Jika Aurora adalah ratu drama, maka pria ini juga cocok di juluki sebagai raja drama.
Di sisi lain, negara belahan barat, tepatnya di Los Angeles, santa monika beach. Roy tengah menikmati harinya yang indah di tepi pantai, dengan deburan ombak yang tipis, serta pasir putih yang indah di tambah dengan air kepala muda di tangannya. Ia benar-benar sangat santai hari ini. Seperti tiada beban apalagi tugas laporan yang harus ia kerjakan.
"Alex, Alex, rugi, rugi..." Roy kembali menyeruput air kepala.
***
Gaun mekar berwarna pink selutut, sangat cocok di pakai Luna. Anak kecil itu keluar dari kamar bersama dengan pelayan.
Aurora menunggunya di depan kamar, "Kakak...." Teriak Luna sambil berlari dan memeluknya.
"Oh my sweety pie..." Aurora berkata seperti seperti itu, merasa sangat kegemasan dengan anak kecil di hadapannya.
"Apa aku cantik?" Ucap Luna sambil memutar badannya, tak hanya Aurora yang merasa sangat kegemasan dengan bocah kecil satu ini. Bahkan para pelayan juga.
"Awwww, adik kesayangan kakak. Kamu itu selalu cantik, o iya kakak punya sesuatu untuk kamu." Aurora membuka tasnya, dan mengambil sesuatu dari dalam tas.
"Ta daaaa..." Aurora mengeluarkan penjepit kupu-kupu, ia lalu memasangkan jepit rambut itu, di kepala Luna.
"Ohhh, adikku kamu manis... Sekali..."
Luna yang mendengar itu menjadi semakin merasa senang.
"Kakak adalah yang terbaik di dunia... I miss you older sister." Selain dia cantik, Luna juga pintar. Sangat pintar memuji orang sampai membuat mereka kegemasan padanya.
"Ya ampun, mulutnya manis banget ya kamu ini."
Luna seketika langsung berkacak pinggang. "Kakak, Luna nggak suka sama Qr itu. Luna maunya kakak Johan."
"Qr? Keris maksud kamu? Johan siapa? Ikan lohan?" Aurora mencoba mencerna perkataan bocah 5 tahun itu.
"Hah, maksud kamu apa si dek?" Tanya Aurora sekali lagi.
Luna seketika langsung tepuk jidat. "Haduh, kakak ini ya... Capek deh."
"O maksud kamu kak Kris, terus Kak Jordan?"
"Nah itu maksud Luna."
Aurora seketika terkekeh, ia kemudian mengajak Luna turun ke lantai bawah. Aurora sudah berjanji pada bocah itu, ia akan pergi menemaninya bermain, lalu jalan-jalan dan pergi ke mall.
"Hore, kita jalan-jalan." Luna benar-benar sangat semangat kali ini.
Aurora kini menggendong adik kecilnya, turun ke bawah. Baru saja sampai, dan masih kurang beberapa anak tangga. Wanita itu sudah di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang sangat-sangat tidak ia harapkan.
"Hai"
BERSAMBUNG