Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Di ruang kerja apartemennya yang luas namun terasa dingin, Reynand berdiri membelakangi pintu, menatap jendela gelap yang memantulkan bayangannya. Jam di dinding sudah menunjuk angka sembilan malam, Hansen baru saja tiba, meletakkan berkas-berkas di atas meja dengan wajah serius.
"Seperti yang Anda minta, saya sudah menyelidiki tentang Nyonya Gisella. Tuan..." suara Hansen rendah dan tegas, memecah keheningan. "Ada sesuatu yang perlu Tuan ketahui."
Reynand berbalik perlahan, dahinya berkerut. "Apa itu?"
"Sejak tiga tahun lalu," lapor Hansen, matanya tak berkedip sedikit pun, "Nyonya Gisella tercatat membeli sebuah unit apartemen di kawasan elit kota. Transaksinya tertutup, tidak banyak yang tahu. Dan beberapa hari yang lalu... hak milik apartemen itu resmi dialihkan namanya menjadi atas nama Gavin Saputra."
Darah Reynand seketika mendidih, namun bukan amarah semata yang menyergap hatinya. Dadanya terasa sesak luar biasa.
"Gavin Saputra..." gumamnya pelan, nama itu terasa asing namun kini tersambung semuanya. "Jadi selama ini..."
"Sepertinya hubungan itu sudah berlangsung lama, Tuan," Hansen menunduk sedikit, suaranya lembut namun tajam. "Dan pemberian hak milik itu... bisa dibilang sebagai bentuk pembayaran kesepakatan di antara mereka."
Reynand mengepalkan tangannya di sisi tubuh, buku jarinya memutih. Pernikahan yang ia jalani selama tiga tahun ini bukan sekedar hampa, ia sepenuhnya dibohongi dari awal sampai akhir. Gisella yang selalu bilang mencintainya, diam-diam telah membangun kehidupan lain di belakang punggungnya.
Reynand menarik napas panjang, berusaha menahan gejolak yang mengamuk di dadanya. Ia berjalan mendekati meja, menatap peta kota yang tertera di layar perangkat, lalu menunjuk satu titik tertentu dengan jari yang masih sedikit bergetar.
"Ada satu hal lagi yang harus kamu selidiki, Hansen," ucapnya rendah, matanya tajam menatap asistennya. "Seorang wanita. Tadi siang aku melihatnya keluar dari kamar hotel bersama Ayah Gisella. Aku mengikutinya, dan dia tinggal di rumah ini..."
Reynand menuliskan alamat lengkap di selembar kertas, lalu menyerahkannya kepada Hansen.
"Cari tahu siapa dia. Sejak kapan mereka saling mengenal, dan hubungan apa yang sebenarnya terjalin di antara mereka. Semuanya, Hansen, jangan ada yang terlewat."
Hansen menerima kertas itu, menatapnya sekilas lalu mengangguk tegas. "Baik, Tuan. Segera akan saya kerjakan."
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan itu. Reynand kembali berdiri mematung, pikirannya tak lepas dari satu nama. Ia menoleh lagi ke arah asistennya.
"Hansen..." suaranya terdengar pelan, penuh keraguan yang tak disembunyikan. "Tadi sore... kamu mengantar Anindya sampai ke rumahnya, bukan? Seperti yang aku minta?"
Hansen mengangguk mantap.
"Benar, Tuan. Saya mengantarnya tepat di depan pagar, memastikan dia masuk ke dalam dengan selamat sebelum saya pergi."
Napas Reynand sedikit tenang mendengar jawaban itu, namun kegelisahan di hatinya belum sepenuhnya surut. Ia segera meraih ponsel di atas meja, menekan nomor Anindya dengan jari yang tergesa. Terdengar nada sambung berulang kali, namun tak ada jawaban. Hingga akhirnya sambungan terputus sendiri.
Ia mencoba sekali lagi, dan sekali lagi. Sama saja, tak diangkat, tak tersambung.
Wajahnya perlahan mengeras, kerut di keningnya makin dalam. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Biasanya pada jam seperti ini Anindya sudah santai di rumah, ponselnya tak jauh dari jangkauan. Mengapa tidak diangkat? Apakah ada hal buruk terjadi?
"Ada apa, Tuan?" tanya Hansen pelan, melihat perubahan raut wajah tuannya.
Reynand menggeleng pelan, menyimpan ponselnya kembali ke saku. Matanya menatap lurus ke arah pintu, tekad di matanya membara.
"Aku akan pergi ke tempat Anindya sekarang. Tidak biasanya dia tidak mengangkat teleponku. Kamu segera kerjakan penyelidikan yang aku perintahkan."
"Baik, Tuan," angguk Hansen.
Reynand meraih jaketnya, mengenakannya dengan gerakan cepat. Langkahnya mantap meski hatinya dipenuhi kekhawatiran yang tak kunjung mereda.
Pintu tertutup. Di lorong yang sepi, Reynand berhenti sejenak, kembali menatap layar ponselnya yang kosong.
"Tunggu aku, Anindya..." bisiknya pelan, sebelum bergegas menuju lift.
-
-
-
Senyum yang sempat terukir di bibir Anindya seketika membeku. Wajahnya pucat. Kakinya terasa lemas seketika.
"Maaf... si-siapa kalian?"
Tak ada jawaban yang ramah. Salah satu dari mereka langsung melangkah maju, tangan kasarnya menekan selembar kain lembap tepat ke hidung dan mulut Anindya.
Anindya tersentak hebat, meronta sekuat tenaga, namun napasnya tertahan. Kepalanya seketika terasa pening, anggota tubuhnya kehilangan kekuatan pelan-pelan. Suara di sekelilingnya makin menjauh, samar-samar, hingga akhirnya pandangannya menggelap sepenuhnya. Tubuhnya terkulai lemas di lengan orang-orang itu.
Dengan gerakan cepat dan kasar, mereka mengangkat tubuhnya yang tak sadarkan diri, membawanya masuk ke dalam mobil yang menunggu diam di depan pagar. Pintu tertutup rapat, kendaraan melesat pergi membelah malam yang sepi, meninggalkan rumah kecil itu dalam kesunyian yang mencekam.
Anindya terbangun sesaat di tengah perjalanan, kepalanya terasa berat luar biasa. Ia mendengar suara-suara rendah di dekatnya, namun matanya tak mampu dibuka sepenuhnya.
"Pastikan tidak ada jejak," bisik salah satu suara. "Tidak ada yang boleh tahu."
"Baik. Kami mengerti." jawab yang lain dingin.
Kesadaran Anindya kembali hilang sebelum sempat ia memahami makna kata-kata itu.
Ketika ia dibangunkan lagi, udara di sekelilingnya sudah dingin dan menusuk. Ia merasakan tanah berbatu di bawah tubuhnya. Samar-samar terdengar deru angin yang menderu tajam. Matanya terbuka sedikit, menatap langit malam yang kelabu tanpa bintang.
Di depannya berdiri tiga bayangan gelap. Di belakang mereka... jurang yang gelap dan dalam, tebing yang curam menurun ke kegelapan yang tak berdasar.
"Tolong..." suaranya hanya gumaman lemah, nyaris tak terdengar. Kakinya tak mampu digerakkan, tubuhnya masih terasa berat.
Orang-orang itu tak bicara lagi. Satu di antaranya mencengkeram lengannya dengan kasar, menariknya mendekati tepi tebing yang berbahaya. Anindya meronta dengan sisa tenaga yang ada, namun tubuhnya terlalu lemah. Ia hanya bisa menatap mereka dengan mata basah, memohon tanpa kata.
"Maafkan kami, Nona," ucap salah satu dengan nada datar, tanpa belas sedikit pun. "Ini bukan kehendak kami."
Bersamaan dengan itu, dorongan kuat menghantam punggungnya. Tubuh mungil itu terangkat, melayang sejenak di udara dingin, lalu jatuh menjauh... menjauh... menembus kabut gelap di bawah sana.
Tidak ada teriakan panjang. Hanya satu suara pendek yang lenyap ditelan angin malam.
Orang-orang itu tak menunggu lebih lama. Mereka segera pergi, meninggalkan tepi tebing yang kembali sunyi, seolah tak ada apa-apa yang terjadi di sana.
-
-
-
Bersambung...