Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Xena Masih Tidak Percaya
Rumah tanggaku harmonis karena sikap suami yang perhatian dan romantis padaku. Tapi tak disangka, akhirnya hancur karena diam-diam suamiku menikahi tetangga.
...🍓🍓🍓...
Namaku Xena. Aku menikah dengan seorang laki-laki yang sangat aku cintai bernama Reyhan. Dia adalah pria sederhana yang begitu perhatian padaku.
Selama membina rumah tangga bersamanya, tidak pernah sedikit pun aku merasa kecewa pada sikapnya, sebuah hal yang biasanya sering dikeluhkan oleh para istri tentang suami mereka. Ketulusan dan kelembutan Reyhan bahkan sampai membuat wanita-wanita lain merasa iri padaku.
Kata mereka, suamiku adalah tipe pria idaman. Dia selalu bersikap cuek dan menjaga jarak dengan wanita lain, tetapi kalau sudah dengan istrinya sendiri, manisnya bukan main.
Pernah suatu ketika, aku memiliki tetangga seorang wanita yang belum menikah bernama Nadine. Orangnya cantik, dan aku bertetangga baik dengannya. Nadine cukup sering berkunjung ke rumah kami untuk sekadar mengobrol atau berbagi makanan.
Selama interaksi itu, aku memperhatikan dengan jeli bagaimana sikap Reyhan. Dia tetap memperlakukan Nadine dengan biasa saja, bahkan cenderung cuek dan tidak terlalu meladeni hal-hal yang tidak penting. Hal itu membuatku merasa sangat aman dan dicintai.
Meskipun begitu, ujian ku ada satu, yaitu di mertua. Ibunya selalu memojokkanku karena kami belum dikaruniai anak. Reyhan selalu berada di garda terdepan untuk membelaku, alih-alih berpihak pada ibunya sendiri. Dia rela menentang sang ibu demi melindungiku dari kata-kata menyakitkan.
Melihat ketulusan dan keberaniannya dalam menjagaku, aku pun rela melakukan banyak pengorbanan untuk Reyhan. Apa pun akan kulakukan demi kebahagiaan pria yang selalu menjadikanku ratu di hidupnya ini.
Hingga akhirnya, setelah sekian lama menanti momongan, aku dan Reyhan memutuskan untuk memeriksakan kondisi kesuburan kami ke sebuah klinik infertilitas terkemuka. Kami menjalani serangkaian tes yang cukup menguras energi.
Hasil pemeriksaan baru keluar setelah kami menunggu beberapa jam di ruang tunggu yang dingin. Saat sedang menunggu hasil, ponsel Reyhan berdering. Dia tiba-tiba mendapat panggilan pekerjaan yang sangat mendesak dari kantornya dan harus segera pergi. Mau tak mau, aku harus tinggal dan menunggu hasil pemeriksaan tersebut sendirian.
Begitu amplop hasil pemeriksaan berada di tanganku, aku membukanya dengan jantung berdebar sekaligus penasaran. Seketika itu juga kenyataan pahit terungkap di depan mataku.
Berdasarkan lembar laboratorium, ternyata suamiku yang memiliki masalah kesuburan, sedangkan aku dinyatakan sehat-sehat saja dan normal.
Seketika rasa kasihan yang teramat sangat melingkupi hatiku. Logikaku berputar cepat, dibayangi oleh rasa tidak tega untuk memberitahukan hasil yang sebenarnya kepada Reyhan.
Bagaimana jika dia langsung down, merasa tidak berguna, dan menyalahkan dirinya sendiri atas garis keturunan kami yang belum berlanjut? Pria sebaik dia tidak pantas menerima pukulan batin seberat ini.
Dalam kepanikan dan rasa iba itu, sebuah ide gila terlintas di benakku. Apa aku tukar saja ya hasilnya, agar Reyhan tidak merasa minder? pikirku saat itu.
Saat aku sedang bimbang menatap dua lembar kertas di tangan, tiba-tiba ibuku menelepon. Beliau menanyakan bagaimana hasil pemeriksaan kami, karena sebelumnya aku sempat mengabari tentang agenda hari ini. Aku pun menjawabnya dengan jujur dan terbuka kepada ibu.
Aku bahkan menceritakan niatku untuk menukar hasil lab tersebut demi menjaga perasaan suamiku, meski di dalam hati kecil aku juga mengutarakan keraguan. Aku tahu betul konsekuensinya. jika hasilnya ditukar, nanti pengobatan medis tentu tidak akan tepat sasaran karena dokter akan mengobati orang yang salah.
Mendengar penjelasanku, di luar dugaan, ibuku menjawab begini, "Tukar saja. Tapi bukan karena tidak ingin laki-laki itu sedih atau minder. Kita lihat, apakah laki-laki pilihanmu itu benar-benar setia atau tidak."
Kalimat ibu terdengar sangat meremehkan Reyhan yang selama ini sudah terbukti setia di mataku. Tapi karena didorong oleh rasa cinta dan protektif yang berlebihan, aku tetap menukar hasil itu demi Reyhan, semata-mata agar dia tidak sedih, tidak minder, atau menjadi bahan olok-olok serta dikambinghitamkan oleh orang-orang di kemudian hari.
Aku rela menanggung beban sebagai pihak yang bermasalah di mata medis demi melindunginya.
Benar saja, saat Reyhan pulang dan aku memberitahunya dengan wajah sedih bahwa hasil pemeriksaanku yang kurang bagus sedangkan dia normal, responsnya sungguh menyentuh hati.
Reyhan langsung memelukku erat dan menguatkanku. Dia berbisik bahwa anak bukanlah segalanya dan dia tetap berada di sampingku. Perhatiannya tidak berubah sedikit pun, bahkan terasa semakin manis dan protektif. Aku merasa pengorbananku menukar kertas lab itu tidak sia-sia.
Tapi...
Semua kebahagiaan itu mendadak berubah ketika ibu mertuaku datang berkunjung tanpa diundang.
Begini ceritanya...
.
.
.
Selamat Membaca~
"Ibu tidak mau berbasa-basi lagi padamu, Xena. Kedatanganku ke sini hanya ingin memberitahukan sesuatu yang seharusnya kau ketahui sejak dulu. Reyhan telah menikah dengan Nadine, tetangga kalian yang pindah ke luar kota beberapa bulan lalu."
Xena membatin, betapa segigih ini ibu mertuaku hendak memisahkan kami dengan menyebar fitnah murahan.
"Bu, sudahlah hentikan. Aku tetap percaya dengan suamiku."
Si ibu mertua tertawa sumbang, "Kamu ini gimana sih. Dikasih tahu kok ngeyel! Kalau tidak percaya, kamu datanglah ke Kota Kelapa Muda, perum es campur. Kamu akan melihatnya sendiri dengan mata kepalamu di sana!"
"Reyhan sedang izin pergi ke luar kota padamu bukan?" lanjut ibu mertua.
"Iya, benar."
"Alasannya, dia bilang apa padamu?"
"Itu urusan pekerjaan, Bu."
"Hahaha, halah,Tahu tidak, Nadine sedang melahirkan bayi mereka sekarang. Tentu saja Reyhan saat ini sedang menemaninya. Akhirnya Reyhan bisa punya anak untuk meneruskan keturunan kami. Tidak seperti mu, yang dipelihara bertahun-tahun tapi tidak menetas juga."
"Anak itu urusan Tuhan, Bu."
Si ibu berdecak sinis, "Ck, kamu ini jawab saja bisanya. Xena, sebenarnya aku kasihan padamu karena sudah dibohongi bulat-bulat. Tapi karena Nadine punya karier cemerlang dan bahkan jabatannya lebih tinggi dari Reyhan, aku jadi suka dia saja yang jadi menantuku sekarang, ehehehe. Syukur-syukur kau bercerai dengan Reyhan setelah tahu kenyataan ini. Karena Nadine jelas lebih menjanjikan masa depan yang cerah buat Reyhan."
"Selama ini aku sudah menyuruhnya menceraikanmu, tapi Reyhan memang keras kepala dan selalu bilang tidak mau melepaskanmu."
Ibu mertua menjeda kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan dengan nada sombong, "Reyhan itu lagi merintis karier dan pelan-pelan berangsur-angsur naik jabatannya. Kalau bisa sih, nanti diangkat jadi wakil direktur atau direkturnya sekalian, ahaha. Kalau sama Nadine, kan hal itu bisa cepat terjadi karena ada potensi dan jaringan. Sedangkan kamu... hadah, kerjaannya hanya di rumah saja, menerima semua uang suami secara cuma-cuma."
Mendengar ucapan terakhirnya, Xena meradang. Dia bilang aku menerima uang suami dengan cuma-cuma? Ck, dia tak tahu saja bahwa selama ini aku selalu menyokong kekurangan kebutuhan rumah tangga dengan uangku sendiri demi menjaga nama baik Reyhan agar tidak terlihat kesulitan di depan keluarganya.
Karena sudah tidak tahan lagi dengan suasana beracun ini, Xena berdiri dan menunjuk ke arah pintu. "Sebaiknya ibu pulang saja. Aku pusing mendengar ocehanmu."
"Dasar menantu durhaka! Siap-siap saja kau dicerai oleh putra kebanggaanku!" teriaknya tidak terima.
Ibu mertua yang bernama Mirna itu akhirnya didorong-dorong Xena agar segera keluar dari rumah. Setelah berhasil mengunci pintu dari dalam, Xena langsung memijat kepala.
Rasanya benar-benar pening dan berputar. Ibu mertuanya memang tidak pernah akur dengan Xena sejak awal pernikahan. Selalu ada saja bahan yang ia bahas yang sengaja diciptakan untuk membuatku kesal dan tidak betah.
Selama ini, untunglah Reyhan selalu memberikan perhatian penuh dan selalu memihak pada Xena saat ibunya mulai berulah. Itulah alasan utama yang membuat Xena bertahan dengan Reyhan. Karena prinsip Xena, rumah tangga itu dijalani berdua saja. Tak peduli dengan omongan atau gangguan dari orang lain, termasuk mertua sendiri.
Dan kini Mirna lagi-lagi mempengaruhinya agar dirinya bertengkar dengan Reyhan dan berharap bercerai. Tapi bagi Xena, Sory ye, tak mempan, dan Xena anggap itu hanya gangguan tak penting karena ia percaya pada Reyhan.
Tak lama hp nya berdering dapat panggilan dari teman lamanya yang mengabarkan bahwa ia baru saja pindahan ke kota Kelapa Muda, kawasan es campur. Xena diminta ke rumahnya untuk bersilaturahmi.
Maka ia pun bergegas pergi menghampiri tempat temannya, yang tanpa ia sadari alamatnya sama dengan yang sempat disebutkan ibu mertuanya tadi.
Bersambung.