NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Ujian di Jalan Pulang

Setelah meninggalkan Alas Jati Mulya dan pesan Mbah Jati, langkah Cepot dan Dawala terasa lebih ringan meski arah yang mereka tuju adalah jalan yang sudah dilalui sebelumnya. Kali ini mereka tidak lagi merasa bingung atau ragu, karena sudah memiliki tujuan yang jelas dan petunjuk yang pasti.

Namun, saat mereka baru saja sampai di jalur sempit yang dulu dipenuhi bisikan gaib, suasana tiba-tiba berubah. Udara yang tadinya sejuk dan segar berubah menjadi terasa pengap, seolah terperangkap di dalam ruangan tertutup. Cahaya matahari pun terlihat redup, seolah tertutup awan tebal yang tidak bergerak.

“Kang… rasanya ada yang aneh. Padahal tadi masih terang benderang, sekarang jadi gelap seperti senja saja,” kata Dawala sambil mengangkat galah bambunya, siap siaga menghadapi apa pun yang datang.

Cepot berhenti sejenak, mengamati sekeliling dengan pandangan tajam. “Ini pasti ujian pertama yang dikatakan Mbah Jati—ujian kesabaran. Jangan terburu-buru, jangan panik. Kita jalan perlahan saja, lihat apa yang akan terjadi.”

Baru saja ia selesai bicara, jalan di depan mereka tiba-tiba terlihat sangat panjang, seolah tidak ada ujungnya. Setiap langkah yang diambil terasa berat seperti menginjak tanah berlumpur, padahal tanahnya kering dan padat. Jam terasa berjalan sangat lambat, bahkan mereka merasa sudah berjalan berjam-jam padahal jaraknya hanya beberapa langkah saja.

Dawala mulai gelisah, napasnya memburu. “Kang, ini tidak wajar! Rasanya kita berjalan di tempat saja. Kalau begini terus, kapan sampai ke Gunung Karang? Apakah kita sudah terjebak sihir lagi?”

Cepot mengusap dahinya yang berkeringat, lalu tersenyum mencoba menenangkan adiknya. “Ingat ujian kesabaran, Da. Kalau kita marah, tergesa-gesa, atau menyerah, berarti kita gagal. Coba bayangkan saja seperti menunggu air mendidih atau menunggu buah ranum—tidak bisa dipercepat, harus dinikmati prosesnya.”

Ia lalu duduk sebentar di atas akar pohon yang besar, memberi contoh. “Kalau kita lelah, istirahat sebentar saja, tidak perlu memaksakan diri. Sambil duduk, kita hitung kicauan burung atau hitung daun yang jatuh. Biarkan waktu berjalan apa adanya, jangan dilawan.”

Melihat sikap tenang kakaknya, Dawala pun menarik napas panjang dan mencoba menenangkan diri. Ia ikut duduk, memejamkan mata sebentar, dan berusaha tidak memikirkan seberapa jauh perjalanan yang harus ditempuh. Anehnya, begitu mereka berhenti memikirkan kecepatan dan hanya fokus pada ketenangan hati, rasa berat di kaki perlahan menghilang. Jalan yang terasa tak berujung itu perlahan kembali terlihat normal.

“Lihat, Da! Sudah membaik,” kata Cepot sambil berdiri lagi. “Kuncinya memang bukan seberapa cepat kita jalan, tapi seberapa tenang hati kita saat melangkah. Ayo lanjutkan, ujian ini sudah lewat.”

Mereka baru saja melangkah beberapa ratus langkah, tiba-tiba pemandangan di depan berubah total. Alih-alih hutan lebat, yang terlihat adalah halaman rumah mereka di kaki Gunung Karang. Asap tipis mengepul dari cerobong dapur, terdengar suara ibunya memanggil nama mereka dengan lembut, dan di bawah pohon besar terhidang makanan kesukaan mereka: nasi hangat, lauk ikan asin, dan sayur lodeh yang masih mengepulkan uap.

Dawala melongo terkejut, matanya berbinar rindu. “Kang… itu rumah kita! Suara Ibu juga benar-benar terdengar jelas. Akhirnya kita sampai pulang juga!” Ia hendak berlari mendekat, tapi tiba-tiba tangannya ditarik kuat oleh Cepot.

“Tunggu dulu, Dawala! Jangan terburu-buru masuk!” seru Cepot dengan nada tegas.

Dawala menoleh bingung. “Kenapa, Kang? Itu kan rumah kita sendiri, makanannya sudah siap, Ibu juga sudah menunggu. Bukankah ini yang kita rindukan selama perjalanan?”

Cepot menggeleng pelan, matanya menatap tajam ke arah pemandangan indah itu. “Ingat pesan Mbah Jati: ujian kebenaran akan menampakkan apa yang paling kita inginkan dan takuti. Memang benar kita rindu rumah, rindu Ibu, rindu makanan enak. Tapi pikirkanlah—apakah mungkin kita sampai pulang secepat ini? Kita baru saja keluar dari hutan, belum sampai ke kaki gunung sama sekali.”

Ia lalu mengangkat Golek Pancasona sedikit ke depan. “Kalau ini benar nyata, pusaka ini tidak akan terasa dingin seperti sekarang. Kalau ini hanya ilusi, cahayanya akan membongkar kedoknya.”

Begitu ujung Golek Pancasona menyentuh udara di depan, pemandangan indah itu bergetar hebat. Suara lembut berubah menjadi suara mendesis, asap makanan berubah menjadi kabut kelabu, dan wajah ibunya perlahan berubah menjadi sosok bayangan tanpa wajah yang melotot tajam.

“Kalian sangat pandai berpikir,” suara itu bergema, dingin dan kosong. “Mengapa tidak tinggal saja di sini? Semua keinginanmu terpenuhi, tidak ada bahaya, tidak ada perjuangan yang melelahkan. Apa gunanya terus berjalan menuju bahaya yang pasti ada?”

Dawala mundur selangkah, wajahnya pucat menyadari bahwa tadi nyaris terjebak. Ia menggenggam erat galah bambunya. “Kau bukan rumah kami! Kau hanya sihir yang ingin membuat kami lupa tugas dan tujuan!”

Cepot melangkah maju dengan gagah. “Kami memang ingin pulang, tapi kami ingin pulang dengan selamat dan membawa kedamaian untuk semua orang, bukan pulang dalam mimpi dan kebohongan. Kalau ini yang terbaik, mengapa rasanya hati ini terasa berat dan tidak tenang? Pergilah! Kami tidak akan tergoda!”

Ia mengangkat Golek Pancasona lebih tinggi, dan cahaya putih keemasan kembali memancar terang. Cahaya itu menyapu seluruh pemandangan palsu itu, membuatnya terurai menjadi kabut tipis dan hilang tertiup angin. Sekali lagi, yang terlihat hanyalah hutan jati dan jalan setapak yang biasa saja.

Setelah suasana kembali normal, Dawala menghela napas panjang sambil mengusap keringat dingin di dahinya. “Wah, nyaris saja kita tertipu, Kang! Rasanya sangat nyata, sampai hati ini terasa ingin langsung berlari masuk. Untung saja Kakak mengingatkan.”

Cepot tersenyum sambil menepuk pundak adiknya. “Itulah gunanya saling mengingat. Ketika salah satu mulai tergoda, yang lain harus mengingatkan apa yang benar. Ingat, keinginan yang terasa terlalu mudah didapat dan terlalu sempurna itu biasanya bukan kenyataan, melainkan jebakan.”

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang semakin waspada namun tetap tenang. Kedua ujian yang mereka lalui telah menguatkan keyakinan mereka. Sekarang, tidak ada lagi keraguan yang bisa mengganggu pikiran mereka.

Saat matahari mulai tergelincir ke barat, mereka akhirnya tiba di daerah yang sudah mereka kenal—lereng bawah Gunung Karang. Di kejauhan, terlihat puncak gunung yang menjulang tinggi, dan di lereng yang curam itu tersembunyi jalan masuk menuju Gua Akar Dunia, tempat pertarungan terakhir akan dimulai.

“Ini dia, Da. Akhirnya sampai juga di tempat asal,” kata Cepot sambil menatap puncak gunung dengan pandangan tegas. “Besok pagi, saat matahari baru terbit, kita akan masuk ke dalam gua itu. Malam ini kita istirahat sebaik-baiknya, kumpulkan tenaga dan ketenangan hati.”

Dawala mengangguk setuju, matanya penuh semangat. “Siap, Kang! Kita sudah melewati banyak hal, tinggal satu langkah terakhir saja. Semoga kita berhasil menghentikan Ki Burak selamanya, sehingga kedamaian bisa kembali seperti semula.”

Malam itu mereka beristirahat di bawah pohon besar yang rindang, mendengarkan suara alam yang tenang, bersiap menyongsong hari esok yang akan menentukan nasib banyak orang dan makhluk di sekitar mereka.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!