Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau busuk yang menyengat!
Keesokan paginya, Pak Nanang kembali bersiap sejak matahari belum terlalu tinggi.
Dia mengenakan pakaian kebunnya seperti biasa.
Di teras rumah, pria tua itu sedang memeriksa alat semprot yang akan digendong di punggungnya.
Saat itulah Darmia, anak perempuannya yang tinggal serumah dengannya, keluar dari dapur.
Melihat ayahnya yang sudah siap berangkat, dia langsung mengernyit.
"Bapak mau ke kebun lagi?"
"Iya." Jawab Pak Nanang singkat.
Darmia lalu melihat alat semprot yang berada di dekat kaki ayahnya.
"Mau meracun lagi?"
"Iya."
Darmia menghela napas.
"Pak, bukankah kemarin sudah ke kebun?"
Pak Nanang menggeleng.
"Kemarin nda jadi."
"Nda jadi?"
"Iya." Ucap Pak Nanang.
Darmia tampak heran.
"Lho, kenapa?"
Pak Nanang mengambil topinya lalu memakainya.
"Air sumurnya bau."
"Bau?"
"Iya."
"Bau bagaimana?"
Pak Nanang berpikir sejenak.
"Bau busuk bangkai."
Darmia langsung mengernyit.
"Mungkin cuma lumpur."
"Nda."
Pak Nanang menggeleng pelan.
"Baunya aneh. Mungkin ada binatang yang mati." Kata Pak Nanang.
Darmia tampak sedikit bingung mendengarnya.
"Terus akhirnya Bapak nda jadi meracun?"
"Nda jadi."
Pak Nanang mengangkat alat semprot itu.
"Kalau begitu hari ini istirahat saja, Pak, nanti saja kebunnya."
Namun Pak Nanang hanya tersenyum.
"Rumputnya nda mau menunggu."
"Bapak ini..."
Darmia menggeleng-gelengkan kepala.
"Usia sudah tujuh puluh tahun masih saja keras kepala."
Pak Nanang tertawa kecil.
"Kalau nda ke kebun, badan Bapak malah sakit semua."
"Itu alasan Bapak setiap hari."
"Soalnya memang begitu."
Darmia akhirnya menyerah.
Dia tahu percuma berdebat dengan ayahnya.
Kalau Pak Nanang sudah memutuskan sesuatu, biasanya sulit diubah.
"Ya sudah."
"Tapi hati-hati."
"Iya."
"Kalau air sumurnya masih bau, jangan dipakai."
Pak Nanang mengangguk.
"Iya."
"Dan jangan terlalu lama di bawah matahari."
"Iya."
Darmia tersenyum tipis.
Meski sering mengomel, dia sebenarnya hanya khawatir.
Pak Nanang sudah tidak muda lagi.
Sementara Pak Nanang sendiri mengambil alat semprotnya dan mulai berjalan meninggalkan halaman rumah.
Sesampainya di kebun, Pak Nanang langsung berjalan menuju sumur tua yang berada di pinggir lahannya itu.
Pagi itu matahari sudah mulai naik. Di pundaknya tergantung alat semprot yang masih kosong.
Sementara di tangannya, dia membawa jeriken berisi cairan racun rumput.
Dia berharap hari ini bau itu sudah hilang.
Namun harapan itu langsung sirna begitu dia semakin mendekat.
Pak Nanang mendadak berhenti melangkah.
Dahinya berkerut.
Hidungnya mengendus pelan.
Bau itu kembali tercium. Dan, kali ini jauh lebih kuat.
Bahkan sebelum dia sampai di bibir sumur.
"Astagfirullah..." gumamnya.
Pak Nanang menutup hidungnya dengan punggung tangan.
Bau busuk itu menyengat, membuat perutnya terasa tidak nyaman.
Semakin dekat dia melangkah, semakin kuat pula baunya.
Kini tidak ada keraguan lagi.
Pak Nanang berjalan perlahan mendekat.
Saat sampai di bibir sumur, dia langsung menoleh ke bawah.
Namun karena sumur itu cukup dalam dan cahaya matahari belum masuk sepenuhnya, bagian dasar sumur terlihat gelap.
Pak Nanang kembali mengendus.
Seketika wajahnya berubah, bau busuk itu kini begitu menyengat.
Mirip bau sesuatu yang sudah lama membusuk.
Membuat tenggorokannya terasa pahit, dia sampai harus memalingkan wajah karena mual.
"Ya Allah, binatang apa yang mati di dalam sumurku ini."
Pak Nanang masih berdiri di dekat bibir sumur. Bau busuk itu terus menusuk hidungnya.
Semakin lama semakin membuat dia merasa mual.
Dia mencoba berpikir apa yang mungkin menyebabkan bau tersebut.
Awalnya dia mengira hanya bangkai tikus atau biawak yang jatuh ke dalam sumur.
Namun baunya terlalu menyengat, terlalu kuat untuk ukuran hewan kecil.
Pak Nanang mengusap tengkuknya pelan.
Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. Seminggu yang lalu, Pak Darmin pernah mengeluh, salah satu sapinya hilang.
Saat itu mereka bahkan sempat mencari ke beberapa kebun di sekitar desa, tetapi tidak menemukannya.
Mata Pak Nanang langsung membesar.
"Jangan-jangan..."
Dia kembali menatap ke dalam sumur.
Kebun miliknya memang berbatasan langsung dengan kebun Pak Darmin.
Bukan hal yang mustahil jika sapi itu lepas lalu berkeliaran sampai ke lahannya.
Mungkin hewan itu datang untuk minum.
Kemudian jatuh ke dalam sumur, semakin dipikirkan, semakin masuk akal dugaan tersebut.
Kalau memang benar ada bangkai sapi di dalam sumur, pantas saja baunya seperti itu.
Pak Nanang tidak berani berlama-lama.
Dia tahu dirinya tidak mungkin memeriksa sumur itu sendirian.
Apalagi usianya sudah tidak muda lagi.
Tanpa berpikir panjang, dia langsung meninggalkan alat semprot yang dibawanya di dekat pondok kebun.
Kemudian berjalan cepat keluar dari kebun.
Tujuannya mencari Pak Darmin. Sesampainya di kebun milik Pak Darmin, Pak Nanang menoleh ke sana kemari.
Namun tidak ada tanda-tanda pemilik kebun itu berada di tempat.
Biasanya pagi-pagi seperti itu Pak Darmin sudah mulai bekerja.
Tetapi hari itu kebunnya tampak sepi.
Pak Nanang menghela napas.
"Berarti masih di rumah."
Dia pun berbalik arah.
Langkahnya kini menuju rumah Pak Darmin yang berada di ujung desa mencari Pak Darmin.
Dugaan bahwa mungkin saja sapi milik Pak Darmin yang hilang seminggu lalu berada di dalamnya.
Dengan langkah yang sedikit tergesa, pria tua itu terus berjalan menyusuri jalan desa.
Tak lama kemudian, Pak Nanang pun sampai di rumah Pak Darmin.
Rumah panggung sederhana itu berdiri di tepi jalan desa, dikelilingi beberapa pohon buah yang tumbuh rindang di halaman.
Pak Nanang berdiri di bawah rumah lalu menengadah ke atas.
"Assalamualaikum..." Ucapnya.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah.
Pak Darmin muncul di pintu.
Pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Pakde Banyu itu tampak heran melihat kedatangan Pak Nanang pagi-pagi.
"Waalaikumsalam."
"Pakde Nanang?"
"Ada apa, Pakde?" tanyanya sambil menuruni tangga rumah.
Pak Nanang menunggu hingga Pak Darmin benar-benar sampai di bawah.
Lalu dia langsung bertanya,
"Min, sapi yang hilang itu sudah ketemu?"
Pak Darmin menggeleng pelan.
"Belum."
"Wong sudah dicari ke mana-mana, nda tahu ke mana perginya."
Wajahnya tampak kesal saat mengingat sapinya yang hilang.
Bagaimanapun juga, sapi itu bukan barang murah.
Pak Nanang mengangguk pelan.
Lalu dia berkata,
"Di sumurku bau sekali."
Pak Darmin mengernyit.
"Bau?"
"Iya."
"Bau apa?"
"Bau bangkai."
Mendengar itu, Pak Darmin langsung memperhatikan wajah Pak Nanang dengan serius.
"Bangkai apa?"
"Nah itu yang aku nda tahu."
Pak Nanang menghela napas.
"Tapi baunya kuat sekali."
"Lebih kuat dari kemarin."
Pak Darmin masih mendengarkan.
Lalu Pak Nanang melanjutkan,
"Aku jadi ingat sapimu yang hilang."
Pak Darmin terdiam.
"Jangan-jangan sapi itu jatuh ke dalam sumurku."
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Wajah Pak Darmin perlahan berubah.
Dia tampak memikirkan kemungkinan tersebut.
"Kebun kita memang berbatasan."
"Iya."
"Kalau sapi itu lepas, memang bisa saja sampai ke sana."
Pak Nanang mengangguk.
"Itu juga yang kupikirkan."
Pak Darmin mengusap dagunya.
Kalau memang sapinya jatuh ke dalam sumur dan mati di sana, setidaknya misteri hilangnya hewan itu akan terjawab.
Meski tentu saja dia tetap rugi besar.
"Baunya separah itu, Pakde?"
Pak Nanang langsung mengangguk.
"Bahkan sebelum sampai ke sumur sudah tercium."
Pak Darmin langsung mengernyit.
"Itu berarti sudah beberapa hari."
"Nah, itu yang membuatku curiga."
Pak Darmin terdiam sesaat, lalu menoleh ke arah rumahnya.
Setelah itu dia kembali memandang Pak Nanang.
"Kalau begitu kita lihat saja sekarang."
Pak Nanang mengangguk setuju.
"Iya."
Pak Darmin masuk sebentar ke dalam rumah untuk mengambil topi dan seutas tali.
Tak lama kemudian ia kembali keluar.
"Ayo, Pakde."
Pak Darmin mengangguk.
"Tapi kita minta tolong yang lain dulu."
Pak Nanang menoleh.
"Kalau memang itu sapiku, nda mungkin kita berdua bisa mengangkatnya." Sambungnya.
"Sapi sebesar itu berat sekali."
"Benar juga."
"Lagipula kalau memang jatuh ke dalam sumur, pasti sudah membengkak."
Pak Nanang mengangguk setuju.
Dia sendiri tidak sanggup membayangkan bagaimana cara mengeluarkan bangkai sapi dari dalam sumur hanya dengan tenaga dua orang saja.