NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit dan Kebebasan yang Diimpikan

"Halo... tolong aku... di lobi mess..." Bisik Pradika parau sebelum pandangannya benar-benar menggelap.

Dalam sekejap mata yang terasa buram, Pradika merasakan tubuhnya digotong dengan panik. Menggunakan mobil operasional site, tubuhnya dilarikan membelah jalanan Kota Muarateweh menuju rumah sakit daerah.

Ketika ia membuka mata kembali, dirinya kini sudah berbaring lemah di atas brankar unit gawat darurat dengan selang infus yang menusuk pembuluh darah di pergelangan tangan kanannya.

Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan fisik yang intensif dan pengambilan sampel darah di laboratorium, seorang dokter berpakaian putih membuka tirai dengan membawa selembar kertas hasil diagnosis.

"Bagaimana kondisi teman saya, Dok?" tanya Randi dengan suara panik.

Randi adalah orang yang ia hubungi dan Randi membawanya ke rumah sakit bersama seorang driver, Onyil.

"Berdasarkan hasil uji laboratorium darah, pasien Pradika dinyatakan positif terkena penyakit typus dengan kadar infeksi yang cukup tinggi," jelas dokter tersebut dengan nada tenang namun tegas.

"Kemungkinan besar ini disebabkan oleh faktor kelelahan yang ekstrem dikombinasikan dengan sanitasi air atau makanan yang dikonsumsi beberapa hari ini. Bakteri Salmonella typhi menyerang saat daya tahan tubuhnya melemah." Dokter itu berhenti sejenak sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Untuk mencegah komplikasi yang lebih serius pada pencernaan, pasien harus menjalani rawat inap selama beberapa hari ke depan sampai kondisi fisik dan suhu tubuhnya benar-benar kembali stabil."

Randi menganggukkan kepalanya mengerti dan segera mengabari pihak HRD untuk mengurus rawat inap Pradika sesuai dengan kebijakan perusahaan, sedangkan Pradika yang sedari tadi mendengarkan penjelasan dokter hanya bisa mengembuskan napas pasrah, menatap botol cairan infus yang menggantung di atas kepalanya. Rencana cuti yang tertunda, niat untuk mendekati Rana, dan janji pada adiknya terpaksa harus tertahan lagi di sekat dinding putih ruang perawatan rumah sakit.

Sementara itu, di sudut lain kawasan mess karyawan perempuan yang letaknya terpisah, Rana yang baru saja menempuh perjalanan melelahkan dari bandara akhirnya tiba di kamarnya sendiri. Begitu pintu kamar kayu itu tertutup rapat, ia langsung menjatuhkan tubuh kurusnya ke atas kasur busa yang empuk. Rasanya seluruh persendian dan tulang-tulangnya remuk redam akibat guncangan perjalanan jalur darat Kalimantan yang tidak rata.

Rana memejamkan matanya sejenak, menikmati keheningan kamar yang selama beberapa minggu ini ia tinggalkan. Setelah detak jantungnya kembali normal, ia meraih ponsel pintar dari dalam tas ranselnya dan menyalakan daya perangkat tersebut.

Begitu layar menyala dan tersambung ke jaringan internet mess, beberapa notifikasi pesan singkat dari aplikasi hijau segera masuk beruntun. Di antara jajaran pesan dari rekan kerja, perhatian Rana langsung tertuju pada sebaris pesan singkat yang dikirimkan oleh ibunya, Bu Retno, beberapa jam yang lalu.

Ibu: Rana, kamu kan sudah kembali bekerja di sana selama seminggu ini. Apa kamu bisa kirimkan uang lima ratus ribu rupiah ke rekening Ibu sekarang? Rani sedang sakit.

Rana menatap baris kalimat itu dengan tatapan mata yang dingin dan hambar. Tidak ada lagi rasa panik, cemas, atau rasa bersalah yang biasa berkecamuk di dalam dadanya seperti dulu jika mendengar kabar tentang anggota keluarganya yang sakit. Logika sehatnya kini bekerja dengan sangat jernih. Baru seminggu dirinya memberikan lima ratus ribu tunai di depan televisi sebelum pergi, dan sekarang Bu Retno sudah meminta lagi dengan alasan yang sama.

Rana membuka aplikasi perbankan digital di ponselnya untuk memeriksa sisa saldo tabungan yang tertera di sana. Angka yang tertulis di layar adalah hak mutlak atas hasil keringatnya sendiri yang harus ia jaga dengan ketat demi masa depannya kelak.

Dengan gerakan tenang tanpa keraguan, Rana hanya mengirimkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah saja ke nomor rekening Bu Retno; sebuah nominal yang ia anggap sudah lebih dari cukup untuk ukuran berobat di fasilitas kesehatan desa. Setelah proses transfer selesai, ia mengetikkan balasan singkat yang lugas.

Rana: Aku hanya bisa mengirimkan uang 200 ribu rupiah, Bu. Gaji bulan depan aku hanya akan menerima sedikit karena karena cuti. Bawa Rani berobat ke Puskesmas saja.

Setelah pesan itu terkirim dengan tanda centang dua, tidak ada lagi balasan lanjutan dari pihak seberang. Sunyi. Sepertinya Rani memang benar-benar sedang mengalami sakit fisik kali ini, atau mungkin Bu Retno sedang mengamuk di kamarnya karena jumlah uang yang dikirimkan tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Namun, Rana benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan drama apa pun yang terjadi di dalam rumah Bojonegoro tersebut. Tekad dan benteng pertahanan di dalam dirinya untuk bisa lepas sepenuhnya dari cengkeraman Bu Retno sudah bulat dan tidak akan bisa digoyang lagi oleh trik rasa bersalah mana pun.

Rana kemudian beralih membuka ruang obrolan pribadinya dengan Teguh. Kakak sepupunya itu baru saja mengirimkan sebuah kabar gembira yang luar biasa melalui pesan singkat beberapa menit yang lalu. Teguh mengabarkan bahwa seluruh berkas, dokumen, dan proses birokrasi yang ia mintai tolong secara diam-diam melalui bantuan Ismail, perangkat desa sudah berjalan lancar. Rana dipastikan dan dijamin bisa segera keluar dan memisahkan namanya dari Kartu Keluarga (KK) milik Bu Retno untuk membuat dokumen kependudukan mandiri yang baru.

Membaca kabar keberhasilan dari Teguh, Rana memeluk ponselnya di atas dada dengan senyuman lega yang merekah dari bibirnya. Air mata haru menetes perlahan di sudut matanya. Di atas kasur mess ini, di bawah langit Kalimantan yang mulai meredup menyambut malam, Rana tahu bahwa dirinya kini telah resmi melangkah keluar dari neraka masa lalunya, dan siap menyongsong fajar kebebasan hidup yang seutuhnya.

1
indy
Kasihan juga Veri dijebak bu retno. semoga kondisi rani terbuka sebelum ijab kabul.
indy
Walah jadi bukan Veri pelakunya
indy
Betul Rana, jangan pulang ke Bojonegoro
Wiwik Susilowati
lanjut kk
indy
Semangat Rana...
Meymei
sama kak 🥹
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!