Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Keraguan Seorang Ayah
Bramasta menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan berat. Dia menepuk bahu istrinya, mencoba memberikan ketenangan yang sebenarnya juga tidak dia rasakan sepenuhnya.
"Aku tahu, Amelia. Aku juga merasakan kejanggalan yang sama," ujar Bramasta.
"Zarlin adalah anak yang jujur. Dia tidak akan sedekat ini dengan pria lain kalau rumah tangganya dengan Theo Falcon baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang terjadi yang sedang mereka sembunyikan dari kita." lanjutnya.
Amelia merasa begitu juga, matanya mulai berkaca-kaca karena insting ibunya merasa ada yang tidak beres dengan putri kesayangannya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Bram? Aku tidak mau Zarlin menderita sendirian."
"Besok pagi, aku akan menyuruh orang kepercayaan kita untuk menyelidiki secara diam-diam bagaimana kondisi Theo Falcon dan bagaimana mereka memperlakukan putri kita selama ini," jawab Bramasta tegas.
"Walaupun Zarlin sudah menikah, kita sebagai orang tua tidak akan luput untuk memperhatikan dan melindungi putri kesayangan kita."
Setelah menyelesaikan obrolan serius mereka di balik tirai, Pak Bramasta dan Ibu Amelia akhirnya menemui putri kesayangan mereka.
Suara langkah kaki kedua orang tua itu membuat Zarlin dan Tristan yang sedang berbincang akrab langsung menoleh.
"Tristan," panggil Pak Bramasta dengan suara beratnya yang berwibawa namun tetap terdengar ramah.
Tristan segera menegakkan posisi duduknya, menaruh gelas keramik yang dipegangnya ke atas meja.
"Iya, Pak Bram."
Bramasta melirik jam dinding besar di yang sudah berdentang menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima malam.
"Ini sudah hampir tengah malam, Nak. Tidak baik untuk kesehatanmu kalau terus berjaga. Lagipula, Zarlin juga butuh istirahat karena besok kalian harus mengurus proyek besar pelabuhan itu, bukan?"
Amelia ikut tersenyum tipis, meskipun matanya menatap Tristan dan Zarlin bergantian dengan tatapan lain.
"Benar, Tristan. Sebagai ibu, saya hanya tidak ingin tetangga atau orang luar salah paham melihat seorang pria bertamu hingga larut begini di rumah seorang wanita yang statusnya sudah bersuami."
Kalimat terakhir Amelia yang menekankan kata "sudah bersuami" terasa seperti hantaman tak kasatmata yang membuat hati Tristan merasa aneh.
Tristan yang cerdas langsung menangkap maksud dan kekhawatiran terselubung dari kedua orang tua Zarlin.
Alih-alih merasa tersinggung, pria itu justru tersenyum sopan, memancarkan aura pria sejati yang sangat menghormati batas.
"Ah, maafkan saya, Pak, Bu. Saya terlalu fokus membahas persiapan besok sampai tidak tahu waktu," ujar Tristan dengan nada sopan santun sembari berdiri dari kursinya.
"Zarlin, aku pulang dulu. Habiskan air hangatmu dan langsunglah tidur."
"Iya, Tristan. Hati-hati di jalan. Terima kasih untuk malam ini," jawab Zarlin lirih, ada semburat rasa bersalah sekaligus haru di hatinya karena Tristan selalu bersikap begitu manis di depan orang tuanya.
Setelah Tristan berpamitan dan berjalan turun diantar oleh Pak Bramasta, Amelia mendekati Zarlin, lalu mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Masuklah ke kamar, Sayang. Ibu tahu kamu lelah."
Zarlin hanya mengangguk pelan, menyembunyikan getaran di dadanya saat masuk ke dalam kamar tidurnya yang terasa jauh lebih damai daripada kamar di rumah Theo Falcon dulu.
Begitu Tristan pergi dan suasana rumah kembali sepi, Bramasta kembali ke dalam kamarnya bersama istrinya.
Kata-kata istrinya tentang status Zarlin yang masih menjadi istri sah Theo Falcon terus berdengung di telinganya.
Insting tajamnya sebagai seorang kepala keluarga konglomerat mengatakan bahwa ada sesuatu yang hancur di dalam pernikahan putrinya.
Dengan wajah yang mengeras, Bramasta mengambil ponselnya dan langsung menghubungi sebuah nomor khusus yang sangat rahasia.
"Hendra, ini aku," ucap Bramasta dengan suara rendah yang dingin begitu panggilan tersambung ke orang kepercayaan tertingginya.
"Iya, Tuan Besar. Ada perintah?" sahut suara di sana dengan penuh hormat.
"Mulai malam ini juga, kerahkan tim terbaikmu untuk mengintai Theo Falcon. Cari tahu di mana keberadaan dia sekarang, bersama siapa dia menghabiskan malamnya, dan selidiki secara menyeluruh bagaimana dia memperlakukan putriku, Zarlin, selama tiga tahun ini!" Perintah Bramasta terdengar sangat mutlak, tidak menerima bantahan apa pun.
"Aku ingin laporan lengkapnya sudah ada di mejaku besok pagi tanpa kurang satu kata pun. Kerjakan dengan rapi."
"Dimengerti, Tuan Besar. Segera dilaksanakan."
Bramasta memutus sambungan telepon, lalu menatap kosong ke arah luar jendela malam.
"Jika Theo Falcon berani membuat putri tunggal keluarga Rahesa meneteskan air mata setetes saja, aku akan meratakan Falcon Corp langsung didepan matanya," batin Bramasta penuh ancaman yang mematikan.
...****************...
Sementara itu, kembali ke apartemen Bianca pada jam yang sama. Setelah Theo berhasil ditenangkan oleh kebohongan manis Bianca, suasana apartemen mewah itu berubah menjadi sunyi yang intim.
Bianca yang melihat kecurigaan Theo sudah memudar, langsung mengambil kesempatan untuk bermanja-manja demi mengunci hati pria itu.
Bianca bergeser pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Theo sambil memainkan kancing kemeja pria itu dengan jemari lentiknya.
"Theo... terima kasih ya sudah datang malam-malam begini dan membawakanku makanan. Kamu memang calon suami yang paling perhatian."
Theo tersenyum manis, mengelus rambut Bianca dengan penuh kasih sayang. Tatapan manja wanita itu seketika menaikkan hasrat yang sempat tertahan di dadanya.
Perlahan, Theo menundukkan kepala, meraih dagu Bianca, dan langsung menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang menuntut.
"Mmph..." Bianca mengerang pelan, melingkarkan lengannya di leher Theo dan membalas ciuman itu dengan tidak kalah panasnya.
Ciuman mereka semakin dalam dan panas di bawah lampu apartemen. Hasrat Theo kian membumbung tinggi, tangannya mulai memegang pinggang Bianca dengan posesif.
Namun, tepat saat gairah itu hampir meledak, Theo teringat akan prinsipnya. Dia menarik dirinya perlahan dari bibir Bianca dengan napas yang ngos-ngosan. Bagaimanapun, Theo tidak ingin kebablasan sebelum mereka resmi menikah.
"Bianca... maaf," bisik Theo serak, mencoba menata kembali detak jantungnya yang menggila.
"Aku tidak mau kita melangkah terlalu jauh sebelum kita menjadi satu."
Bianca yang sebenarnya juga takut rahasianya ketahuan, langsung memasang senyum manis yang tampak mengagumi prinsip Theo.
"Tidak apa-apa, Theo. Justru karena ini aku semakin menghormatimu."
Theo mengusap wajah Bianca yang tampak pucat, lalu menatap jam tangan yang sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam.
"Malam ini, bagaimana kalau aku menginap saja di sini? Aku ingin menemanimu dan menjagamu sampai besok pagi, Bianca. Kondisimu masih lemas karena sakit."
Mendengar tawaran Theo, jantung Bianca rasanya seperti mau copot. Matanya membelalak panik sebelum dia berhasil menguasai ekspresi wajahnya kembali.
"Menginap?! Sialan, kalau dia menginap di sini, lalu bagaimana nasib Reno yang sekarang masih menggigil sembunyi di balkon luar?! " batin Bianca menjerit histeris.
Bianca buru-buru memegang tangan Theo, menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang dibuat selembut mungkin.
"Eh... tidak usah, Theo. Kamu tidak perlu menginap di sini."
Theo mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa? Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."
"Bukannya aku tidak mau, Sayang," potong Bianca
"Tapi besok pagi-pagi sekali kamu kan harus memimpin rapat penting di Falcon Corp setelah masalah dana 20 miliar ini selesai. Kalau kamu menginap di sini, pakaian kerjamu tidak ada yang siap. Aku tidak mau menjadi penghambat kariermu hanya karena keegoisanku yang sedang sakit."
Bianca mengelus pipi Theo dengan tatapan penuh pengertian palsu.
"Pulanglah ke rumahmu, Theo. Istirahat yang cukup. Aku berjanji besok pagi aku akan langsung menyusul ke kantor jika kondisiku sudah membaik."
Theo tersenyum mendengar kalimat yang begitu perhatian dari mulut Bianca. Di dalam benaknya, dia merasa sangat tersentuh karena Bianca selalu memikirkan kepentingan perusahaannya.
Theo mengembuskan napas panjang, lalu mengecup kening Bianca sekilas.
"Baiklah kalau begitu. Kamu benar-benar wanita yang pengertian, Bianca. Istirahatlah, aku pulang sekarang."
Tepat tengah malam, Theo akhirnya keluar dan menutup pintu apartemen Bianca untuk perjalanan pulang.
Dia sama sekali tidak menyadari bahwa begitu pintu tertutup, Bianca langsung mengunci pintu dengan panik dan bergegas membuka pintu balkon untuk menyelamatkan Reno yang sudah hampir mati menahan suara.
Tanpa Theo ketahui, penyelidikan dari keluarga Rahesa sudah mulai bergerak untuk melacak kehidupan Theo Falcon.
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!