Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.
"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Pergi Ke Aula Misi.
Bab 6. Pergi ke Aula Misi
Apakah seorang kultivator di ranah Raja benar-benar sekuat itu?
Dia benar-benar menanggung sembilan ratus lima puluh ribu jiwa di dalam dantian batunya tanpa kehilangan kendali atas jiwanya sendiri.
Satu hal yang tidak disadari oleh Wang Fei adalah sejak saat dia menyatu dan menerima ribuan jiwa pendendam tersebut, seluruh niat membunuh dan juga aura kematian yang ada pada mereka sepenuhnya telah masuk ke dalam tubuhnya sendiri.
Jika dia mau, hanya dengan satu pikiran atau ketika dia marah, maka niat membunuh itu akan langsung meledak dan terungkap semuanya.
Bahkan jika disatukan, aura membunuh dan kekuatan jiwa mereka semua juga tidak kalah dari ranah Raja, atau lebih tepatnya setara.
Artinya sekarang, tanpa dia sadari, dia telah memiliki kekuatan jiwa dan aura membunuh dari seorang kultivator yang setara dengan ranah Raja. Untungnya, Dantian Batu miliknya meredam itu semua dengan kekuatan penelan sehingga auranya sama sekali tidak bocor, kecuali Wang Fei sendiri yang berniat untuk melepaskannya.
Seandainya dia tidak memiliki Dantian Batu tipe pelahap, bisa dipastikan tubuhnya akan meledak dan mati.
Dua minggu kemudian.
Pagi hari, matahari bersinar terang. Sinarnya yang keemasan menyelimuti rimbunan pohon hijau di Sekte Daehan. Di salah satu sudut terpencil, ada sebuah gubuk sederhana yang agak jauh dari keramaian.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang menggelegar.
"Tinju Sembilan Matahari!
Hancurkan!"
"WUSH!"
Udara bergetar, angin kencang menderu dengan dahsyat. Ketika pukulan itu dilepaskan, seberkas energi memadat membentuk tiga matahari sebesar buah kelapa yang langsung menerjang lurus ke sebuah pohon yang diameter batangnya hampir satu meter.
Lalu...
"BOOM! BOOM! BOOM!"
"DUAR!"
Bola-bola matahari itu menghantam tiga kali berturut-turut hingga akhirnya pohon tersebut berlubang dan jatuh ke samping dengan bunyi "Brak!", menyebabkan suara gemuruh yang menggetarkan tanah.
"Hahaha! Bagus! Akhirnya Teknik Tinju Sembilan Matahari juga sudah melangkah ke tahap awal."
Seorang pemuda tampan berusia lima belas tahun bersimbah peluh. Napasnya terengah-engah, namun ada senyum puas yang terukir di bibirnya. Pemuda itu tidak lain adalah Wang Fei.
Setelah bekerja keras hampir satu bulan penuh, akhirnya dia memiliki dua teknik yang bisa menjadi andalannya. Sekarang semua persiapannya sudah matang. Dia yakin pada ujian bulan depan pasti bisa lulus dan menjadi murid luar.
"Sekarang saatnya pergi ke Aula Misi untuk mengumpulkan poin prestasi. Kali ini aku tidak akan lagi mengumpulkan herbal, melainkan mencoba untuk berburu binatang buas," ucapnya dengan gembira.
Pada kondisi ini, terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara mengumpulkan herbal dan berburu binatang buas.
Mengapa demikian? Jawabannya sederhana. Memburu binatang buas akan memberikan poin yang lebih besar. Itu karena daging, organ dalam, dan juga kulit dari binatang buas tersebut bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam kegunaan seperti meramu pil, menciptakan senjata, atau bahkan darah mereka juga bisa dimanfaatkan untuk membuat jimat formasi.
Intinya, memburu binatang buas akan sangat menguntungkan dan yang pasti memberikan poin prestasi yang jauh lebih besar daripada hanya mengumpulkan bahan herbal.
Saat dia baru saja menutup pintu dan hendak bergegas, tiba-tiba terdengar suara ejekan yang sangat familiar.
"Hei, sampah! Mau pergi ke mana kau?" ucap suara itu dengan angkuhnya.
Seketika mata Wang Fei langsung menyipit. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya.
Jika itu dirinya yang dulu, dipanggil seperti itu pasti akan membuatnya marah. Tetapi sekarang berbeda. Dia bukan sampah. Dia memiliki kekuatan, dan justru karena dia memiliki kekuatan sekarang, ejekan semacam itu sudah tidak lagi mempan padanya.
Ya... pria yang datang tidak lain adalah Lin Dan dan dua anteknya, yaitu Chu Rong dan Song Heng.
Mengabaikan ketiga orang tersebut layaknya kentut tak terlihat, Wang Fei pun terus melangkah. Baginya, hanya membuang-buang waktu meladeni tiga orang bodoh ini. Lebih baik dia segera pergi ke hutan untuk berburu monster agar mendapatkan lebih banyak poin prestasi guna menunjang kultivasinya.
Namun, kata-kata yang dikeluarkan oleh Lin Dan membuatnya berhenti di tempat.
Dia berkata,
"Dasar anak jalang, apa kau tuli? Aku sedang berbicara dengan..."
Belum sempat kata-kata itu selesai diucapkan, Wang Fei sudah tiba di hadapannya dengan Langkah Petir. Tangannya yang membentuk cakar dan dipenuhi oleh energi spiritual mencengkeram wajahnya dengan keras.
Lin Dan membeku. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Gerakan Wang Fei terlalu cepat.
Wang Fei sendiri tidak mengatakan apa-apa, namun tindakannya sudah berbicara. Dia mengangkat Lin Dan ke atas lalu dengan satu gerakan yang menggelegar membantingnya ke bawah dengan penuh kekuatan.
"WUSH! BRUAK!"
Seketika... tanah tempat tubuh Lin Dan berbaring pecah dan hancur berantakan. Retakan-retakan seperti jaring laba-laba menjalar ke segala arah saat tubuhnya pingsan bersimbah darah.
"Bawa bajingan ini pergi dari sini, atau kalian berdua juga akan mengalami nasib yang sama seperti dirinya," kata Wang Fei dengan dingin.
Tanpa sadar, niat membunuhnya sedikit bocor dan aura membunuh dari ribuan jiwa pendendam pun menguar ke udara.
Merasakan tekanan yang begitu mengerikan itu, Chu Rong dan Song Heng menjadi pucat. Tubuh mereka bergetar hebat saat menjawab,
"B-Baik."
Kemudian keduanya segera mengangkat tubuh Lin Dan untuk segera dibawa ke kediamannya.
Niat membunuh itu memang tidak berlangsung lama, hanya dua detik. Namun meskipun hanya dua detik, bagi mereka itu seperti terjebak di dalam neraka pembantaian yang penuh darah. Ketakutan yang begitu mendalam pun langsung menyelimuti hati mereka.
Setelah keduanya pergi, barulah Wang Fei bisa menenangkan diri. Dia sangat terkejut.
"Untung saja aku segera menahan niat membunuhku. Jika tidak, mereka semua pasti akan mati," ucapnya dengan jantung berdebar-debar.
Barulah saat ini dia menyadari bahwa di dalam tubuhnya terkandung niat membunuh yang begitu pekat dari ribuan jiwa pendendam itu. Atau lebih sederhananya, jika dia marah atau niat membunuhnya bocor, maka seluruh niat membunuh dari para jiwa pendendam itu akan ikut terlepas keluar.
"Untuk ke depannya, sepertinya aku harus berhati-hati," gumamnya.
Setelah itu dia pun melangkahkan kaki untuk meninggalkan kediamannya. Tujuannya jelas, dan itu tidak lain adalah gedung Aula Misi.
Tidak lama kemudian, Wang Fei pun tiba di Aula Misi. Pada saat itu, Aula Misi ternyata sudah sangat ramai. Saat dia datang, beberapa pasang mata menatapnya, namun itu tidak berlangsung lama sebelum akhirnya mereka semua mengabaikannya.
Wang Fei bukanlah wajah baru. Dia adalah orang terkenal, bukan terkenal karena kekuatannya, melainkan karena mendapat julukan sebagai Tukang Obat. Itu karena misi-misi yang dilakukannya selama lebih dari tiga tahun hanyalah mengumpulkan rumput-rumput herbal yang poin prestasinya sangat kecil.
Dari sudut ruangan, tiba-tiba ada seseorang yang mengejek dengan senyum main-main. Dia adalah Lei Hun, murid pelayan sama seperti dirinya yang sudah mencapai ranah Penempaan Tubuh level lima tahap awal.
"Oh... lihatlah, bukankah ini adalah Wang Fei si Tukang Obat? Tumben sekali kau baru datang? Aku kira dirimu sudah mati dimakan binatang buas di Hutan Kabut!"
Mendengar sindirannya itu, Wang Fei pada awalnya hanya diam dan tidak mau meladeni. Namun untuk pertama kalinya, dia membuka mulut dan menjawab dengan acuh tak acuh.
"Anjing yang baik tidak menghalangi jalan," ucapnya dengan datar.
Pada saat itu, matanya yang tajam memancarkan sedikit niat membunuh.
Dan...
"WUSH!"
Seketika sejumlah kecil niat membunuh dari jiwa pendendam pun langsung keluar dan menerjang tepat ke jiwa Lei Hun.
Menggigil dan gemetar, Lei Hun tanpa sadar langsung memberi jalan dan minggir ke samping.
"A-Apakah itu tadi?" ucapnya terbata-bata.
Wajahnya menjadi sangat pucat dan tanpa sadar kini tubuhnya sudah basah oleh keringat dingin.
Tatapan membunuh itu begitu mengerikan, seolah jika sekali lagi dia berani membuka mulut untuk mengeluarkan ejekan, maka saat itulah kematian akan menjemputnya.
utk itu saya uplaus satu vote