NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:979
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

His Obsession

Asap abu-abu dari sisa ledakan granat taktis merayap rendah di atas lantai marmer Aula Utama, bergerak lambat seperti hantu yang melintasi tumpukan mayat para pengkhianat. Di luar benteng kastil Isla de la Rosa, raungan sirene militer yang semula memekakkan telinga perlahan-lahan berubah menjadi desis statis yang kacau. Melalui dinding-dinding batu gotik yang tebal, gema ledakan sekunder terdengar dari arah lepas pantai, suara dari sistem pertahanan rudal otomatis pulau yang berhasil mengunci dan menghancurkan helikopter intai pertama armada taktis setelah Kael melumpuhkan radar pertahanan udara mereka.

Di dalam ruangan, barisan bos mafia tertinggi dari lima benua berdiri membeku. Nikolai Volkov, Tanaka, dan Alejandro menatap konsol navigasi utama dengan ekspresi yang berada di ambang batas antara rasa tidak percaya dan kengerian murni.

Layar monitor raksasa di hadapan mereka tidak lagi menampilkan koordinat taktis armada militer; layar itu kini dipenuhi oleh visualisasi grafik bursa saham yang terjun bebas ke titik nadir, berdampingan dengan siaran berita darurat dari berbagai stasiun televisi internasional yang menampilkan kepanikan massal di gedung parlemen. Kebocoran data absolut yang dilepaskan oleh Kael Arden telah memicu badai anarki yang meremukkan fondasi pemerintahan dalam hitungan menit.

Kael Arden masih berdiri di tengah aula, mengunci tubuh Aurelia Vane dalam dekapannya. Tangan kanannya yang besar meremas pinggang wanita itu dengan cengkeraman yang begitu erat, mengabaikan fakta bahwa darah dari luka tembak di bahu kirinya kini telah merembes sepenuhnya, menodai kain satin hitam pada gaun Aurelia.

"Kau gila, Kael," bisik Aurelia. Suaranya serendah desiran angin, namun sepasang netra obsidiannya berkilat dengan intensitas yang teramat sensual. Ia mengangkat tangan kanannya yang terbalut sarung tangan brokat, menempelkan jemarinya yang dingin pada rahang tegas Kael yang mengencang. "Kau melepaskan seluruh hidupmu. Reputasi, kehormatan, dan sejarah kekuasaan yang kau bangun dari titik nol di panti asuhan... kau membakarnya menjadi abu hanya dalam satu ketukan jari."

Kael menundukkan kepalanya, memotong jarak yang tersisa di antara mereka hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Napasnya yang memburu dan terasa panas menerpa bibir Aurelia yang ternoda darah.

"Aku tidak melepaskan hidupku, Aurelia," desis Kael parau, suaranya bergetar oleh obsesi murni yang telah bermutasi menjadi kegilaan religiosis. "Aku justru baru saja memulainya. Selama ini aku mengira kekuasaan di parlemen adalah segalanya. Namun saat melihatmu berdiri di atas kepala para serigala ini, aku sadar... semua hukum yang kutulis di atas meja hijau tidak ada artinya jika aku tidak bisa memilikimu secara utuh. Jika dunia menolak keberadaanmu di sisiku, maka dunia tidak lagi memiliki hak untuk tetap berdiri tegak."

Kael tidak lagi peduli dengan konsekuensi hukum internasional atau label "Pengkhianat Negara" yang kini melekat pada namanya di seluruh jaringan berita bumi. Obsesinya pada Aurelia telah menghancurkan insting pertahanan dirinya sendiri. Pria itu menuntut penyerahan diri yang total, bukan hanya dari dirinya kepada Aurelia, tetapi dari seluruh dunia kepada aliansi gelap mereka.

Kael meraup bibir Aurelia dalam sebuah ciuman yang brutal, posesif, dan penuh dengan kepemilikan yang murni. Tidak ada ruang untuk negosiasi atau kelembutan di antara mereka. Itu adalah ciuman dua predator tertinggi yang merayakan kehancuran tatanan dunia di sekeliling mereka. Aurelia membalas ciuman itu dengan keliaran yang sama, membiarkan dominasinya menyatu dengan kegilaan Kael, mengunci takdir mereka berdua dalam pakta darah yang tidak akan pernah bisa diuraikan oleh siapa pun.

"Ratu," suara Lucian Volkov, kepala keamanan pribadi Aurelia memecah keheningan intim di antara mereka. Ia itu melangkah maju satu langkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengabaikan asap yang membuat matanya perih. "Armada militerdi luar sana kini mengalami kebutaan taktis akibat sabotase Perdana Menteri... maksud saya, Tuan Arden. Namun, sisa-sisa pasukan infanteri darat mereka masih mencoba melakukan pendaratan menggunakan sekoci taktis di lambung barat pulau. Kita harus bergerak ke bunker bawah tanah sekarang."

Aurelia perlahan menarik bibirnya dari ciuman Kael, meskipun matanya tidak sedetik pun lepas dari manik mata pria itu. Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan otoritas mutlaknya sebagai penguasa ekonomi bawah tanah.

"Bunker adalah untuk tikus yang ketakutan, Tanaka," ujar Aurelia dingin, suaranya bergema mematikan di seluruh aula. "Vane Group tidak pernah bersembunyi di atas tanah miliknya sendiri. Kael telah melumpuhkan otak mereka di dunia atas, sekarang giliran kita untuk memotong tangan-tangan mereka yang mencoba meraih pulau ini."

Aurelia berbalik, menatap ratusan pengawal taktis luar yang kini berhasil mendobrak pintu besi aula dari luar setelah Kael membuka sistem penguncian daruratnya. "Aktifkan unit artileri berat di tebing barat. Biarkan armada gabungan itu tahu bahwa Isla de la Rosa adalah kuburan bagi siapa saja yang datang tanpa undangan tertulis dariku."

"Siap, Ratu!" seru seluruh pengawal secara serentak, suara mereka bergemuruh dipenuhi loyalitas buta yang semakin pekat setelah menyaksikan bagaimana bahkan pemimpin tertinggi dunia atas pun rela menghancurkan negaranya demi wanita itu. Aura reverse harem di dalam kastil itu mengkristal menjadi sebuah kekuatan militer swasta yang mengerikan.

Kael Arden melangkah ke samping Aurelia, mengambil posisi tepat satu jengkal di belakang bahu kanan wanita itu, bukan sebagai pengawal biasa, melainkan sebagai pedang eksekutor yang siap mencabut nyawa siapa saja. Dengan tangan kanan yang memegang Glock 19 yang masih panas, dan mantel hitam yang berkibar tertiup angin badai yang menyelinap masuk dari jendela-jendela yang hancur, Kael memancarkan aura intimidasi yang menakutkan.

"Nikolai, Alejandro, Tanaka," Kael memanggil nama ketiga bos mafia itu dengan nada dingin yang biasa ia gunakan saat mendikte anggota kabinetnya. "Kumpulkan sisa pasukan faksi kalian. Ikuti jalur logistik bawah tanah menuju dermaga selatan. Amankan helikopter cadangan dan kapal selam taktis milik Aurelia. Malam ini, kita tidak hanya akan bertahan... kita akan memastikan bahwa sisa-sisa elite militer yang mendarat di pulau ini tidak akan pernah kembali untuk menceritakan apa yang mereka lihat."

Ketiga gembong kriminal terbesar di bumi itu saling pandang sejenak. Pria yang selama ini mereka benci sebagai simbol hukum pemerintahan, kini berdiri di hadapan mereka sebagai arsitek dari kehancuran militer mereka sendiri. Dengan patuh, ketiganya menundukkan kepala serentak ke arah Kael dan Aurelia.

"Sesuai perintahmu... Tuan Arden," ujar Nikolai Volkov dengan seringai kejamnya yang kembali muncul.

Ketika para bos mafia dan pasukan taktis mulai bergerak keluar menuju titik-titik pertahanan pulau, meninggalkan Aula Utama yang sunyi, Kael kembali menoleh ke arah Aurelia. Wanita itu berdiri di bawah sorotan lampu darurat merah yang kian temaram, menatap jasad Marcus yang terbujur kaku di atas lantai.

"Apakah kau menyesali keputusanku, Aurelia?" tanya Kael rendah, melangkah mendekat hingga bayangannya yang besar membungkus tubuh ramping wanita itu.

Aurelia menoleh, matanya berkilat penuh dengan api gairah yang gelap. Ia meraih kerah jas Kael, menarik pria itu mendekat hingga dahi mereka kembali saling bertumpu.

"Menyesal?" Aurelia tertawa rendah, sebuah tawa sensual yang memabukkan saraf Kael. "Aku menghabiskan seluruh hidupku mencari seorang pria yang cukup kuat untuk berdiri di samping takhtaku tanpa gemetar oleh kekejamanku. Dan malam ini, kau tidak hanya berdiri di sana, Kael... kau membakar seluruh duniamu hanya untuk membuktikan bahwa kau layak memilikiku. Mulai detik ini, tidak ada lagi jalan kembali bagi kita berdua. Kau adalah kegilaanku, dan aku adalah obsesimu."

Di atas tanah Isla de la Rosa yang basah oleh darah pengkhianat dan air hujan badai, karier politik Kael Arden telah resmi berakhir dalam kehancuran yang megah. Namun di atas puing-puing sistem pemerintahan yang ia bakar sendiri, sebuah dinasti baru yang jauh lebih mengerikan, gelap, dan tak terkalahkan baru saja lahir di bawah kendali mutlak mereka berdua

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!